JAUH DI MATA DEKAT DI HATI


“Maaf, aku br bs krm kbr, bgt datang lgsg sibuk sih. Ini aku sambil mendandani anakku, mau ikut takbir keliling” Bunyi SMS dari Denox, temanku.
Takbir keliling? Mendandani anak? Ah, betapa indah suasana itu. Sementara aku yang disini, dimalam takbir ini, sibuk menjaga majikan di rumah sakit. Mama, begitu aku memanggilnya. Sedang menunggu waktu oprasi. Lubang diperutnya, yang dimasukin selang sonde infeksi.



Disamping Mama, aku termenung. Kupandangi wajah majikanku itu. Matanya yang sendu menatapku. Tiada sepatah katapun terucap dari bibirnya. Sudah tiga tahun lebih dia tidak bisa bicara. Dari sorot matanya aku tahu dia menyayangiku, sebagaimana aku menyayanginya.

Terus saja kupandangi wajah keriput itu. Sekilas wajah Ibuku menjelma di sana. Perempuan mulia yang dengan kasih sayangnya telah merawatku dan mengiringi langkahku dengan doanya. “Ibu” desahku tertahan. Dia tersenyum tulus padaku. Membentangkan tangannya dan akupun segera menghamburkan diri kedalam pelukannya.

“Ibu aku rindu padamu. Maafkan anakmu ini, yang sering kali membuatmu kawatir dan memaksa air matamu menitik.” Kataku dengan suara sangau. Kutelusupkan kepalaku kedalam hangat depakannya. Dengan lembut tangannya mengusap kepalaku. Napasnya yang harum menghembus lembut diubun-ubunku. “Istiqomah ya sayang” bisiknya.

Disela rengkuhan Ibu, kusaksikan kedua buah hatiku yang sedang asik membakar kembang api di depan rumah. Rahmat, anakku yang besar sedang memasang kembang kates, semacam kembang api warnanya silfer. Dipasang diujung pelepah pisang. Disulut dan diangkatnya tinggi-tinggi.

“Dik, geser, minggir sedikit, nanti kalau kena tetesannya sakit lo.” Kata Rahmat pada adiknya. Fawwaz menurut. Dia minggir sambil berteriak girang.

“Terang sekali Mas… tinggiin, tinggiin lagi.” Teriak Fawwaz. Sementara anak-anak tetangga juga ikut bersorak senang. Melihat mainan yang hanya ada kalau mendekati lebaran itu. Suasana semakin meriah.

“Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar. laaaaaaaaa illahaillalloohu Allohu akbar…” Suara takbir bersaut-sautan dari pengeras suara mushola kampung. Sebuah rombongan membawa obor, galon, kaleng bekas dan sejenisnya. Dipukul-pukul sebagai musik pengiring. Mereka adalah rombongan takbir keliling. Kedua anakku berlarian masuk rumah mencariku.

“Mak, kami mau ikut takbir keliling.”

“Mereka kelilingnya jauh, nggak usah ikut ajalah.”

“Enggak kok mereka Cuma mau keliling dir rw 2, rw 3, rw 4 lalu kembali lagi. Boleh ya Mak.” Aku tidak tega untuk melarangnya.

“Baiklah, tapi jangan nakal ya. Mas, jaga adik, jangan biarkan dia berlari-larian. Dan adik juga gitu, jangan pisah dari Mas ya. Kalau dibilangin nurut!” Pesanku pada mereka berdua.
“Baik Mak. Kami akan baik-baik saja.” Jawab mereka hampir serempak.

Kedua anakku sudah pergi bersama rombongan takbir. Ibu masih saja merangkulku. Bapak dan suamiku masih belum pulang dari membagi-bagikan zakat fitrah. Dimeja ruang tamu telah berjajar toples berisi macam-macam kue lebaran. Kelambu-kelambu telah didekorasi sedemikian rupa, hingga kesannya mewah biarpun sebenarnya harga murah.

“Siuce, nenekmu sudah minum susu belum?”

Suara suster merenggut keindahan yang sedang aku rasakan. Merampas semua yang sedang menelusup di sela-sela kerinduanku. Aku baru sadar kalau yang sedang aku dekap itu ternyata bukan ibuku. Tapi Mama. Dengan tangannya yang lemah dia mempermainkan rambutku.

“Haaaai, kamu dimanasih? Kok g balas smsku?” Sebuah sms lagi dari Denox lagi. Aku bangkit dari pelukan Mama. Kukecup pipinya, kubelai rambutnya dan dia tetap mengawasiku tanpa kata-kata.

“Mama, ngo ngoi lei”[]
dikopipaste dari mp-ne Nadia Cahyani

0 tanggapan: