Tampilkan postingan dengan label INI DIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INI DIA. Tampilkan semua postingan

ANI EMA SUSANTI

Saya sudah mengenal Ani sejak satu tahun yang lalu. Akhir tahun 2011 silam, ketika kami baru berkenalan di Facebook, Ani meminta bantuan saya untuk menggarap English subtitle untuk film pendeknya, Donor ASI. Film ini kemudian dinobatkan sebagai film terbaik untuk kategori film documenter di FFI 2012. Tentu saja kemenangan ini tidak ada kaitannya dengan bantuan yang saya berikan. Ani sudah meraih sederetan penghargaan di berbagai festival film di tingkat nasional dan internasional. Selengkapnya di sini

Usaha BMI Hongkong Mencerdaskan Masyarakat Desanya


Muntamah Sekar Cendani

Taman Bacaan “Pondok Maos Cendani” di Desa Cendono, Kandat, Kabupaten Kediri


Buku adalah jendela dunia. Metafora ini sangat po¬puler karena sangat pas menggambarkan pen¬ting¬nya buku dalam kehidupan kita. Buku dapat membuat kita tak seperti katak dalam tempurung. Bahkan, lewat buku, wawasan seseorang menjadi luas tanpa harus keliling dunia.


SAYANGNYA, selama ini ma¬sya¬ra¬¬kat Desa Cendono, Kecamatan Kan¬dat, Kabupaten Kediri, Jawa Ti¬mur, termasuk sulit untuk menda¬pat-kan buku-buku, apalagi buku yang ber¬mutu, karena di desa tersebut be-lum ada perpustakaan umum sehingga kebutuhan masyarakat akan buku kurang terpenuhi.

Kondisi desanya itu membuat Muntamah, BMI Hongkong yang memang pecinta buku, membuka taman bacaan di rumahnya, yang diberi nama Pondok Maos Cendani (PMC). Secara resmi, PMC dibuka pada Kamis (12/1) malam lalu de¬ngan acara pembacaan Surat Yasin, pemotongan tumpeng, dan doa bersama. Selain dihadiri oleh warga sekitar, acara tersebut juga dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat.

PMC dibuka oleh Turmudi, tokoh masyarakat dan salah seorang perangkat Desa Cendono. Saat dibuka, koleksi PMC sudah mencapai 1.200-an. Terdiri dari aneka judul dan jenis buku, majalah, dan suratkabar. Koleksi sebanyak itu mayioritas adalah koleksi pribadi Muntamah sendiri, sebagian lagi merupakan sumbangan dari berbagai pihak yang concern terhadap pencerdasan dan pemberdayaan masyarakat.

Hadirnya taman bacaan tersebut disambut positif oleh masyarakat Cendono. Usai acara peresmian, warga yang terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, sampai anak-anak menyerbu buku-buku koleksi PMC, yang tertata rapi di rak. “Ma¬sya¬ra¬kat Cendono ini adalah masyarakat re¬li¬gius. Oleh karena itu, buku-bu¬ku keagamaan sangat diminati,” ujar Supriyadi, warga Cendono yang juga dosen Uniska, Kediri, ke¬pada Berita Indonesia usai peresmian PMC.

Buku anak-anak, seperti buku cerita dan buku pelajaran, juga sangat penting disediakan oleh PMC. Mengingat, di depan rumah peninggalan orangtua Muntamah tersebut, berdiri sebuah sekolah yang cukup mentereng, yakni Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Hal itu disampaikan oleh Agus Wahyudi, salah seorang guru di MI tersebut kepada Berita Indonesia. “Namun, setelah buku-buku bisa dipinjam secara gratis dari PMC, tinggal bagaimana kita kemudian meningkatkan minat baca di kalangan anak-anak sekolah ini maupun masyarakat umum,” ujar Agus Wahyudi.

Menurut guru MI tersebut, banyak yang minat bacanya masih perlu ditingkatkan. “Dan untuk meningkatkan minat baca itu sulit,” tambah Agus Wahyudi.

Namun, dengan upaya yang sungguh-sungguh, Agus Wahyudi optimis bahwa budaya membaca itu bisa dimasyarakatkan di Desa Cendono.

Belum 1 Bulan Sudah 600 Pengunjung


Saat ini, Muntamah masih di Hongkong. Kesehariannya, PMC dikelola oleh Khusnul Khotimah dan suaminya, Rokimi. Berbagai hal seputar PMC dibicarakan Khusnul dengan Muntamah lewat telepon.

Hingga Jumat (2/2), menurut Muntamah saat diwawancara Berita Indonesia via chat facebook, sudah ada 600 orang pengunjung PMC, padahal usia PMC belum satu bulan.

“Tambah rame, pengunjung mulai tambah. Anak kelas 1 sudah berani datang minjam buku, awalnya belum berani. Tetangga desa juga sudah mulai banyak yang datang dan pinjam,” ujar Muntamah yang bisa dihubungi di nomor HP 852 92027579.

Muntamah menjelaskan, PMC terus dikembangkan sambil jalan, termasuk penambahan sarana dan prasarana untuk lebih memberikan kemudahan dan menyamanan bagi para pengunjung PMC.

"Kemarin sdh dibelanjakan crayon/alat mewarnai gambar dan alat tulis, kertas hvs aku sdh ada, ke depan, para pengunjung akan kami tawari menggambar atau menuliskan puisi, nanti karya itu akan ditempel di PMC."

Yang agak membuat Muntamah saat ini kuwalahan adalah permintaan buku-buku dari para pengunjung karena di PMC belum tersedia. Permintaan terus mengalir, tetapi Muntamah tidak dapat menyediakan dengan segera karena keterbatasan finansial. Oleh karena itu, PMC juga membuka diri bagi siapa saja yang ingin menyumbangkan buku ke PMC demi kemajuan masyarakat. (ks)

Berita Indonesia, Edisi 126, Februari 2012

PIDATO ANAK 12 TH YANG MEMBUNGKAM PARA PEMIMPIN DUNIA DI PBB

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki, seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children's Organization ( ECO ). ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yg mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak" lain mengenai masalah lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana pada saat itu Severn yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka.

Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang terkemuka yg berdiri dan memberikan tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun. Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber: The Collage Foundation):

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O – Enviromental Children Organization
Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda
sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita. Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya. Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi - dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan. Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: " Aku berharap aku
kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang " .

Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk
berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda melakukan hal ini - kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan
mengatakan, " Semuanya akan baik-baik saja , 'kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya.”

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu”.

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

[]

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konperensi PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan
yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu.

Dan setelah itu, ketua PBB mengatakan dalam pidatonya:

" Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya linkungan dan isinya disekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun, yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato. Sedangkan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh asisten saya kemarin. Saya ... tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun "

*Tolong sebarkan tulisan ini ke semua orang yang anda kenal, bukan untuk mendapatkan nasib baik atau kesialan kalau tidak mengirimkan, tapi mari kita bersama-sama membuka mata semua orang di dunia bahwa bumi sekarang sedang dalam keadaan sekarat dan kitalah manusia yang membuatnya seperti ini yang harus bertindak untuk mencegah kehancuran dunia. *(Copyright from: Moe Joe Free)*

Kesunyian Siter di Kaki Senja

Oleh: Teguh Budi Utomo

Baginya berkesenian bagai memintal helai kehidupan. Jika memanggul siter di tengah terik pun dia anggap garis takdir. Pasrah dalam kaffah Rukini menyusuri lorong waktu yang bernama kehidupan. “Saya ya begini ini, Mas,” demikian ungkap Rukini. Kalimat-kalimatnya tak panjang. Sakleg tanpa pemanis. Tanpa basa basi ketika mengungkapkan perjalanan melakoni seni siter. Pemain kecapi berusia 53 tahun yang sejak perawan keliling kampung mengamen.

Bermain siter telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Ibu dua putra ini. Apalagi seni tradisi yang biasanya menjadi pasangan dari gelaran pertunjukan Cokekan ini, telah menemani perjalanan hidupnya. Dari siteran pula ia merasakan hitam putihnya perjalanan.

Posturnya memang tak tinggi, namun istri Asmuji demikian kuat. Sekuat jemarinya ketika memetik dawai siter. Kuat dan keras suaranya, namun lembut terasa. Serenada yang dihasilkan menjadikan burung kutilang di hutan wisata Dander, Bojonegoro, enggan terbang.

“Menjadi pemain siter memang susah, jarang yang mau nglakoni” kata Rukini usai manggung dalam Kemah Budaya Jawa di tempat wisata Dander, Kabupaten Bojonegoro, siang di penghujung Oktober 2009.

Bisa jadi di wilayah Kabupaten Bojonegoro dan Tuban, hanya seorang Rukini yang masih bertahan. Sulit menemukan generasi baru yang rela menggeluti siter. Terlebih sampai melakoni ngamen hingga njajah deso milangkori. Sebagaimana yang dilakoni seorang Rukini. Sebagai pemetik senar dan sindhen (vokal) perhelatan siter.

Terkadang Rukini tak sendiri ketika mengamen. Jika muncul di kantor-kantor pemerintah, hotel, perempatan jalan, Pasar Kebo Bojonegoro atau bahkan sampai di Pantai Boom Tuban bersama pemain kendang, gong bumbung, bukan lagi siteran tetapi Cokekan. Kalau sudah pentas Cokekan biasanya dia menyertakan seorang sindhen. Tentunya di samping dia sendiri sebagai vokalisnya.

Gending-gendingnya pun tak sebatas gending klasik, semacam, Asmorodono, Sinom Parijoto, atau Perkutut Manggung. Tapi juga gending kasaran, sebangsa, Ali-ali, Caping Gunung, Sri Huning bahkan Kembang Kemangi.

“Kalau cokekan, biasanya ditanggap orang sampai Rp 2 juta semalam,” ungkap Rukini menyoal honor yang dia terima ketika pentas Cokekan. Duit sebesar itu, dibagi berempat bersama dua penambuh gamelan dan seorang Sindhen. Mereka bukan satu grup, namun sesekali sepakat pentas bersama dalam gelaran tikar pandhan di sembarang tempat dan waktu berbeda.

Jika sepi tanggapan Cokekan, Rukini ngamen di jalanan. Bahkan sampai ke wilayah Solo, Yogjakarta, Surabaya hingga sampai merambah ke Jakarta.

“Teman saya banyak, makanya bisa ngamen sampai Jakarta.”

Ngamen dengan honor seiklasnya dari penikmatnya biasa ia lakoni hingga sebulan baru pulang. Ia terbiasa tidur di emperan toko dan lapak-lapak pasar yang ditinggal pedagang di malam hari. Dan terkadang jika mendapat rejeki besar juga tidur di losmen murah.

Pekerjaan ngamen, bagi warga Desa Kuncen, Kecamatan Padangan, Bojonegoro ini, bukanlah pekerjaan mudah. Ia musti memanggul sendiri siter. Perangkat musik tradisi yang biasa menjadi pelengkap pertunjukan gamelan Jawa. Kotak seukuran 50 Cm x 1 meter itu, telah menemani Rukini sejak lajang.

Panjang pula goresan hidup yang dijalani putri dari pasutri almarhum Saeran dan almarhumah Diyem asal Solo (Jawa Tengah), selama menjadi pengamen siter. Dia mengenal dunia siter bukan dari seorang guru. Buta huruf yang dialaminya menjadikan rasa dan daya serap suara di telinganya demikian kuat. Ia hanya mendengar dari lantunan siter yang dimainkan almarhum orangtuanya Saeran, untuk kemudian diterjemahkan dalam petikan jemari lentik gadis Rukini semenjak usianya 11 tahun.

“Saya belajar dari alam,” ujar perempuan yang selalu tersenyum sebelum berkata-kata ini. Suaranya renyah ketika tertawa. Halus tutur katanya. Khas seniman tradisional Jawa. Namun, begitu indah dalam nada tinggi ketika melantun.

Bagi seorang Rukini, bergulat dengan siter tak ubahnya memahami perjalanan hidup. Perjalanan nan panjang berkelok. Dari ngamen siter pula ia mengenal beragam sifat orang. Terkadang dilecehkan. Terkadang disanjung. Sering pula dianggap perempuan tak benar, karena dimana dia berpijak disitu pula merebahkan tubuh ringkihnya karena lelah.

Dia sadari tak memiliki tempat berteduh pasti ketika mengamen. Pasrah melakoni hidup berkesenian, tak membuat hatinya kelu. Baginya setiap makluk sudah memiliki takdir. Kalaupun takdir dia sebagai seniman, telah dia terima dengan ikhlas. Dan totalitas seorang Rukini melakoni profesi pengamen siter, telah menjadi khasanah tersendiri para pelaku seni tradisional di Bumi Angling Darmo dan sekitarnya.

Sekalipun begitu, perempuan berumur ini masih terlihat brigas. Nada bicaranya tegas. Setegas cengkok sindhen berpengalaman kala melantunkan gending. Rambutnya yang andan-andan disanggul jatuh ke belakang. Gurat di wajahnya yang sawo matang demikian tegas, menyimbulkan sikap yang kuat menjalani hidup berkesenian.

Baju kebaya merah jambu berornamen lobang, demikian pas memadu kain jarik parang. Sandalnya yang merah muda dan tas perempuan warna serupa, tergeletak di samping kanan dan kiri agak ke belakang siter. Perempuan seniman tradisi ini pun terlihat anggun di atas panggung. Panggung yang dikemas menyatu dengan alam.

Dan dawai asmara pun mengalir seiring bait demi bait gendhing. Dari bibir titis berginju Rukini. Sesekali tampak tersenyum ketika syair gendingnya disenggak para penonton. Ratusan pegiat budaya Jawa pun hanyut dalam ritme petikan siter. Naik turun mengombang-ambingkan emosi jiwa.

Manuk manyar ...
Cucuke dawa...
Entuk anyar ...
Sing tuwa disiya-siya ...


Penggalan bait tembang kasaran dari Gending Sambel Kemangi ini, yang bisa berarti burung manyar paruhnya panjang, dapat yang baru istri tua disia-siakan, begitu ngelangut dan memelas. Iramanya pelog pathet enam demikian kuat. Senggakan para pengunjung pun kian menghidupkan perhelatan. Dan Rukini pun demikian asyik mencandakan nasibnya melalui petikan dawai siternya. (*)

*Naskah ini termuat di rubrik Humaniora, Duta Masyarakat (www.dutamasyarakat.com) 1 November 2009.

Membangun Rumah dari Para Penyumbang

Yainem, Janda Termiskin di Kecamatan Ngrayun

Mbok Yainem, janda miskin di Desa Mrayan, Kecamatan Ngrayun, Ponorogo, Jawa Timur, yang hidup bersama 2 orang anak [dari keempat anaknya] lumpuh itu ternyata kini sudah membangun rumah baru. Inilah laporan Bonari Nabonenar yang ditugasi BI mengantarkan sumbangan barang-barang dan uang dari para pembaca BI di HK untuk keluarga janda termiskin itu.


Malam itu belum terlalu larut. Masih sekitar pukul 20.00. Malam lebaran 1427 H (Minggu 22 Oktober 2006). Tetapi, suasana Dusun Krajan, Desa Mrayan, Kecamatan Ngrayun, Ponorogo, Jawa Timur, sudah tampak senyap. Sepanjang perjalanan sejak Kecamatan Bungkal, sekitar 25 km sebelum Ngrayun, hanya sesekali berpapasan dengan kendaraan lain, motor atau truk. Jalan berkelok-kelok, cenderug terus menanjak. Bahkan ada salah satu tanjakan yang disebut-sebut sebagai tanjakan 23, rasanya nyaris tegak lurus dengan langit. Jika pengendara tak berpengalaman di pegunungan, sekali salah oper kendaraan sebagus apapun dijamin mogok di tengah-tengah tanjakan. Jurang di sisi kiri jalan yang tertusuk lampu motor, menawarkan kengerian.

Kami berdua [Bonari Nabonenar dan Purwo Santoso, Red] baru kali ini melintasi jalan ini, apalagi dengan mengendarai motor sendiri. Beras 50 kg ada di motor yang dikendarai Purwo, sedangkan barang-barang lain [semuanya dibeli dari sumbangan para pembaca BI untuk diteruskan kepada keluarga Yainem] ada di motor yang saya kendarai. Ditambah uang kontan Rp 300 ribu, nilai total bantuan itu Rp 1 juta.

Setelah dua kali bertanya, sampailah juga akhirnya kami di Desa Mrayan. Karena dingin membuat otot-otot kami seolah mengkerut, kami memutuskan mampir dulu di sebuah warung kopi, persis di sebelah masjid kecil. Ada puluhan anak agaknya baru menyelesaikan pelajaran mengaji. Tetapi samasekali tidak terlihat tanda-tanda bahwa mereka akan merayakan Lebaran keesokan harinya. Belum ada takbir berkumandang. Sambil menikmati kopi, kami mendengar dari RRI [Radio Republik Indonesia] Menteri Agama menyiarkan bahwa Hari Raya Idul Fitri 1427 H jatuh pada hari Selasa, 24 Oktober 2006, dengan tambahan kalimat bahwa Pemerintah tetap menghormati mereka yang merayakannya pada hari Senin, 22 Oktober 2006.

Pemilik warung memberi cukup banyak informasi mengenai Desa Mrayan, kehidupan mayarakatnya yang sebagian besar petani, dan tanahnya yang cukup tandus. Bahkan hutan pun banyak yang gundul, dan kalaupun ada tanamannya adalah pinus. Tetapi, saat ditanya di mana persisnya alamat rumah Mbok Yainem, pemilik warung [suami dan istri] tidak bisa memberikan jawaban yang tepat. Mereka hanya mengatakan bahwa memang ada nama Mbok Yainem, bahkan beberapa orang dari luar daerah, yang bermaksud mengantarkan sumbangan kepada janda miskin itu sempat mampir di warung mereka.

Untuk tidak memperpanjang kebingungan dan keburu malam melarut, kami memutuskan untukmampir saja ke rumah Kepala Desa. Tak susah mencari alamat rumah Kepala Desa, karena semua orang di sini pasti bisa menunjukkannya. Lebih dari itu, Purwo Santosa pernah menemui Pak Bandi [Kepala Desa itu] di rumahnya beberapa waktu lalu saat meliput pemakaman jenasah Suprihatin [almarhumah] TKI yang meninggal karena jatuh dari apartemennya di HK.

Rumah Baru
Pak Bandi pas ada di rumah. Takut keburu malam larut, kami tidak berlama-lama, dan segera minta alamat rumah Mbok Yainem. Pucuk dicinta ulam tiba. E, ternyata kami malah diantar bersama beberapa orang tetangga yang malam itu sedang nonton [TV] bareng di kelurahan [sebutan mereka untuk rumah Kepala Desa]. Lhadalah, ternyata rumah Mbok Yainem hanya beberapa meter [sekita 50 m] dari rumah Kepala Desa.

’’Ini, Mas, rumahnya,’’ kata Pak Bandi.

Maka, kami memarkir motor dan beberapa orang membantu menurunkan barang-barang bawaan kami.

’’Oh, rumah baru!’’ batin saya hampir memekik. Memang terkejut, tiba-tiba mendapati pemandangan rumah baru itu, walau sangat jauh dari sebutan megah. Sebab, gambaran yang ada di dalam benak sebelumnya jauh lebih buruk daripada kenyataannya sekarang.

Seolah membaca keterkejutan kami, Pak Bandi segera menjelaskan, bahwa rumah ini memang belum lama dibangun.

’’Ini semua berkat para dermawan yang menyumbang, Mas.’’

’’Dari warga desa, para tetangga sini ya, Pak?’’

’’O, begini, Mas. Para tetangga di sini hanya bisa membantu menyumbang tenaga saja. Yang mengerjakannya memang mereka. Tetapi biayanya, dananya, ya dari para penyumbang, ada yang dar Singapura, ada yang dari Malaysia, dari Hong Kong juga ada. Mereka kebanyakan mengantarkan sendiri sumbangan itu ke sini,’’ demikian penjelasan Pak Bandi.

Lalu, Pak Bandi seolah dapat kesempatan untuk semacam curhat, mengadu [karena tahu setelah perkenalan bawa kami mewakili media: Grup Berita Indonesia].

’’Terus terang, Mas, saya kadang jadi terharu, melihat orang-orang dari jauh berbondong-bondong ke sini untuk menunjukkan simpatinya kepada warga desa kami khususnya, memberkan sumbangan, sedangkan Pak Bupati baru belum lama ini menyematkan datang setelah sekian tahun seolah desa ini tidak pernah bisa melihat siapa Bapak [Bupati]-nya. Dan itu tampaknya berkat gencarnya media. Penderitaan Mbok Yainem ini, misalnya, pernah dimuat di Majalah Liberty, lalu di tayangan Kejamnya Dunia [Trans TV]. Tapi mereka kadang salah menyebut nama, ada yang Yatinem, ada yang Yaitem, padahal yang benar Yainem.’’

Lalu, Pak Bandi untuk kesekian kali mengucapkan terima kasih kepada para penyumbang dan kepada pihak media yang telah menampilkan potret nyata [walau sebegitu buramnya] kehidupan masyarakat pedesaan yang selama ini nyaris luput dari jangkauan penguasa.

Lumpuh
Rumah baru itu berukuran 7 x 5 m, beratap seng, berdinding papan, dan masih berlantai tanah. Tidak ada kamar tidur di dalamnya. Yang ada hanyalah sekat dinding papan yang memisahkan ruang dapur dengan ruang utama.

Di ruang dapur ada berbagai perabotan dapur sederhana, kemudian tungku pembakaran untuk memasak dengan bahan bakar kayu, dan sebuah amben. Di ruang utama ada sebuah meja dan beberapa kursi. Jika ada tamu melebihi kapasitas kursi yang tersedia, digelarlah tikar.

Di rumah itu Mbok Yainem hidup bersama dua orang [dari 4 orang] anaknya. Keduanya lumpuh karena [sepertinya folio –karena belum ada keterangan resmi dari dokter] sejak kecil dan samasekali tidak bisa bekerja. Anak Mbok Yainem seharusnya ada 5 orang, tetapi anak pertama meninggal saat usia belasan tahun. Anak pertama ini seandainya bisa terus hidup hingga sekarang, akan menambah berat beban, sebab ia juga penderita folio.
Anak kedua, yang kemudian menjadi paling tua adalah perempuan bernama Tumini, ia sudah menikah, sudah membangun rumah sendiri persis di depan rumah Mbok Yainem. Tumini sendiri bekerja di Kota Ponorogo, dan rumahnya ditunggu suami bersama 2 orang anaknya yang masih kecil.

Anak kedua Wijiyanto [lihat fotonya yang sedang di amben di ruang dapur]. Ia lumpuh. Anak ketiga Jaswadi, sudah menikah dan dikaruniai seorang anak yang sehat. Sedangkan si bungsu, Supriyanto, lumpuh juga.

Jadi, Mbok Yainem, janda tua itu harus hidup bersama 2 orang anaknya yang tidak bisa bekerja, yang makan pun masih perlu disuapi.

Terharu
Menerima bantuan teman-teman pembaca BI, Mbok Yainem tampak nyaris menitikkan air mata. Suaranya bergetar ketika berucap, ’’Maturnuwun sanget nggih, Mas, mugi Gusti Allah ingkang maringi ganjaran.’’ [Terima kasih sekali ya, Mas, semoga Tuhan memberikan balasannya.]

Pak Bandi, sebelum kami berpamitan juga tak lupa ikut menyampaikan rasa terima kasih kepada para pembaca BI, kepada BI yang membantu mengimpun dana sumbangan, dan berdoa semoga kawan-kawan lancar bekerja, dan kelak bisa pulang ke tanah air dalam keadaan selamat dengan membawa hasil seperti yang mereka cita-citakan.

Di banyak tempat yang kami lewati sepanjang perjalanan pulang, ternyata takbir sudah sebegitu ramai, pertanda bahwa esok [Senin, 23 Oktober 2006] mereka akan merayakan Hari Lebaran. [BI]

Dari Penggusuran hingga Kekerasan terhadap Istri

Menjadi pengacara sebenarnya bukanlah cita-cita Puji Utami. Saat masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, ia justru berkeinginan menjadi notaris. ’’Aku dulu mau jadi notaris,’’ katanya. Keinginan tersebut mulai berubah ketika pada tahun 1987 terjun sebagai relawan di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta.

Di LBH inilah ia banyak bersinggungan dengan kasus-kasus yang menghadapkan pemerintah dengan rakyat yang biasa disebut sebagai kasus struktural, seperti penggusuran. ’’Tanah dibeli dengan harga murah sekali. Bagaimana mungkin mereka bisa memulai hidup baru dengan uang sekecil itu,’’ kenang Utami.

Tahun 1989 Utami mengundurkan diri dari LBH dan menjadi asisten pengacara Artidjo Alkostar yang saat ini menjabat sebagai hakim di Mahkamah Agung Republik Indonesia. Tak lama kemudian, tahun 1993, Utami kembali bergabung dengan lembaga sosial yaitu Rifka Annisa Women’s Crisis Center Yogyakarta (yang sekarang berubah nama menjadi Pusat Pengembangan Sumber Daya Rifka Annisa). Sebuah lembaga yang memiliki kepedulian akan masalah kekerasan terhadap perempuan.

Keterlibatannya di lembaga ini semakin mengukuhkan pilihan hidupnya sebagai pengacara. Tahun 1996, ia pun mengantongi izin untuk beracara di wilayah hukum DI Yogyakarta. Empat tahun kemudian, ia mendapatkan sertifikat advokat sehingga bisa beracara di wilayah hukum yang lebih luas.

Merasa sudah cukup belajar dan berkiprah di lembaga sosial, tahun 2004 Utami mengundurkan diri dari Rifka Annisa. Terhitung sejak tahun 2005, ia memilih membuka kantor pengacara secara mandiri. Meski demikian, persinggungannya dengan lembaga-lembaga sosial di mana ia pernah berkiprah tetap mewarnai kerja-kerjanya.

Utami mengaku tak mau mengambil keuntungan dari kasus yang dihadapi oleh orang yang tak mampu. Sehingga ia memilih merujukkan klien dengan kondisi tersebut ke lembaga non-profit yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya, seperti LSM atau lembaga independen lainnya. Termasuk di dalamnya kasus yang menimpa buruh migran. ’’Tidak tega minta ongkos transport. Seperti PRT (pekerja rumah tangga) itu gajinya berapa, kan kasihan,’’ katanya.

Diakui Utami bahwa dengan beracara mandiri seperti sekarang ini, keragaman kasus yang ditangani tidak lagi seperti saat dirinya masih terlibat dengan lembaga-lembaga sosial. Saat di LBH Yogyakarta, ia banyak terlibat dengan kasus yang ia sebut, ’’Kasus serius, (klien) tidak punya banyak uang, melibatkan banyak orang.’’ Sedangkan ketika di Rifka Annisa ia memiliki pengalaman berharga, berhadapan dengan perempuan yang mendapatkan kekerasan dari pasangannya. Hal ini benar-benar membukakan mata Utami bahwa, ’’Isteri dipukuli benar-benar terjadi.’’

Saat ini lebih banyak menangani masalah keluarga seperti perceraian, gono-gini, warisan, dan sejenisnya. Dibantu dua orang staf, Utami mengerjakan tugas kesehariannya. Pendekatan yang tidak melulu dari aspek hukum, melainkan juga sosial dan personal yang dilakukannya pada setiap kasus menjadikan hubungan Utami terjalin tak hanya dengan klien tetapi juga dengan lawan hukumnya. Bahkan tak jarang di belakang hari, lawan hukumnya justru merujukkan klien padanya.[am]

Catatan dari Jakarta: Selamat Datang di Negeri Johnnie Walker

Pesan-pesan dari Johnnie Walker begitu dominan di koridor Terminal 2 kedatangan dari luar negeri, menjelang check point imigrasi, Bandara Internasional Soekarno - Hatta.
Seperti diketahui, Johnnie Walker adalah bukan salah satu bapak pendiri bangsa atau putera bangsa Indonesia yang telah banyak berjasa, melainkan merk whisky. Membaca pesan dari Oom Johnnie kesan dan interpretasi bisa sangat beragam. Entah apa yang menjadi pertimbangan manajemen Angkasa Pura.

Eddi Santosa - detikNews-selanjutnya...

Nurani Soyomukti, Pemuda Trenggalek yang Terbitkan Dua Belas Buku

Berawal dari Broken Home, Luapkan Perasaan dengan Menulis Puisi


Berawal dari senang menulis puisi, Nurani Soyomukti, warga Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo, Trenggalek, berhasil mengeluarkan dua belas buku. Bagaimana perjalanan pemuda usia 29 tahun itu hingga memantapkan hati menjadi penulis? Dua hari lalu, bertempat di aula STKIP PGRI Trenggalek, Nurani didampingi dua pembicara lain. Yaitu Mamik Nuriyah yang juga penulis, serta Suparlan (Kasi Kebudayaan Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek).


Ketiganya terlihat gayeng menghadapi mahasiswa dalam acara ngaji buku berjudul Memahami Filsafat Cinta dengan tema Menggugat Cinta Palsu, Mewujudkan Cinta Sejati. Buku tersebut merupakan buku ketujuh Nurani yang diterbitkan pada Juni 2008 lalu.

“Buku ini sempat tidur selama lima tahun. Isinya memang agak sentimentil, dengan landasan filasafat yang sampai sekarang sebenarnya saya masih mencari-cari,” kata alumnus Hubungan Internasional (HI) Universitas Negeri Jember ini.

Dalam buku setebal 169 halaman tersebut, Nurani mengulas tentang cinta lewat kajian secara plural. Ada cinta antara dua jenis kelamin manusia sampai kajian cinta lewat perspektif sosial dan pandangan filsafat. “Cinta bagi saya hanyalah sebuah kata. Cinta sejati adalah sebuah tindakan, aksi nyata yang memunculkan produktivitas dan memberi manfaat, tidak hanya pada diri sendiri tapi juga sesama,” kata Nurani.

Begitulah diskusi yang berlangsung selama dua jam ini memberi pencerahan kepada mahasiswa. Meski akhirnya masih satu sisi saja pemahaman dari mahasiswa, jauh dari materi yang ingin disampaikan sang penulis.

Nurani yang kini memutuskan kembali ke Trenggalek ini mendapat kesenangan saat dia memulai menulis, dari karya puisi. Itu dilakukannya saat mengenyam pendidikan di bangku SMAN Durenan pada 1997 lalu. Mejadi anggota OSIS menangani seni dan sastra, hobi menulisnya semakin terasah, akhinya muncul keinginan untuk terus menulis. “Latar belakang saya dari keluarga broken home, yang membuat saya minder. Lewat tulisanlah saya bisa mengeluarkan keresahan saya. Seiring dengan berjalannya waktu dan bekal pengalaman, saya jadi sadar kalau menulis bisa sebagai cara untuk mendapatkan uang,” tutur lelaki yang terjun sebagai aktivis mahasiswa ini.

Menginjak dunia mahasiswa, Nurani melebarkan kualitas tulisan dalam berbagai artikel, opini dan beberapa buku berhasil diterbitkan. Antara lain; Pendidikan Berspektif Pendidikan diterbitkan Ar-ruzz Media Jogyakarta pada Januari 2008. Berikutnya buku Dari Demonstrasi Hingga Seks Bebas, Mahasiswa di Era Kapitalisme dan Hedonisme, Ada lagi Perjuangan Tanpa Akhir Melawan Neoliberalisme diterbitkan Garasi Jogyakarta juga pada Januari 2008.

Ada juga Hugo, Chavez Vs Amerika Serikat diterbitkan Garasi Jogyakarta pada Februari 2008, Revolusi Bolivarian, Hugo Chavez dan Politik Radikal diterbitkan Resist Book Jogyakarta pada Mei 2007.

Tahun 2007, di tengah kesibukannya di Jakarta sebagai peneliti dan pekerjaan lain Nurani mulai produktif lagi. Dia sempat vakum menulis saat asyik menjadi aktivis dan sempat menjadi buron lantaran membakar bendera salah satu partai politik dalam satu aksi massa.

Kini Nurani memutuskan untuk kembali ke Trenggalek. Beberapa tulisan dalam tahap penyelesaian. “Kontradiksi dalam diri, dari keresahan, kekecerawaan dan realita kehidupan, serta pergaulan luas menjadi modal untuk karya tulis,” ucap peraih juara umum pertama penulisan Esai Pemuda, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga bekerjasama dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Jakarta tahun 2007 lalu itu.

Ingin membagi kemampuan menulisnya, Nurani dan teman-temannya menggagas program Sekolah Litera atau sekolah menulis. “Tujuannya untuk membangun kepribadian dan wawasan dengan cara menjadi pembaca karya literer berupa sastra dan buku, serta menjadi penulis,” ujar Nurani. [Titin Ratna, Ratu]

Sekali Tampil Dibayar Rp 600, Bubar karena Jarang Tanggapan

Liku-Liku Mujamil, 25 Tahun Menggeluti Kesenian Kethoprak

KUN W- JUMAI, Jember


Sebagai seorang seniman, Muzamil, 72, warga Jl Wahid Hasyim Jember ini merasa bersedih. Kesenian kethoprak yang puluhan tahun digelutinya mulai surut sejak 10 tahun terakhir. Bahkan, bisa dibilang kesenian tersebut kini tenggelam tergerus oleh perubahan zaman.



Berbincang dengan Mujamil seakan tidak pernah kehabisan topik pembicaraan. Kalimat-kalimat sederhana yang dipadu dengan humor-humor segar membuat semua orang yang diajak berbicara betah berlam-lama. Termasuk, kalimat-kalimat berisi pesan agama yang dikemas dengan dialek lawak membuat siapa pun tak tahan menawan tawa.

Maklum, kakek yang biasa disapa Mbah Jamil ini sekitar 25 tahun menggeluti dunia pelawak. Sejak tahun 1965 hingga 1980, Muzamil aktif dalam kethoprak Siswo Budoyo di Puger. "Saat main kethoprak saya menjadi pelawak, sesekali juga berperan sebagai tokoh lain," kata kakek kelahiran Puger ini.

Selama bergelut dengan dunia "entertainment" tempo doeloe itu Mujamil sepertinya mendapatkan apa saya yang dia inginkan. Mulai materi, istri, hingga kebutuhan lainnya.

Menurut ceritanya, setiap ada undangan pentas, rokok yang dilempar penonton jumlahnya mencapai puluhan pak. Rokok-rokok tersebut dilempar pentonton sebagai imbalan atas request lagu, pantun, atau salam kepada penonton yang lain. "Setiap pulang saya membawa pulang satu tas besar berisi rokok, belum lagi yang dibagi-bagikan dengan pemain kethoprak lainnya," ujarnya.

Penampilan pelawak yang banyak ditunggu penonton dan menjadi ikon kethoprak tersebut, juga membuat kantong yang diterimanya menebal. "Sekali manggung biasanya dapat bagian Rp 600. Itu sudah sangat banyak karena beras satu kilo saat itu masih Rp 10," katanya.

Dari hari ke hari, undangan tampil semakin banyak. Bahkan tak hanya di kecamatan-kecamatan di Jember namun mulai meluas hingga Lumajang dan beberapa kota lainnya di kawasan Besuki. "Sekitar tahun 1970-an, kami sering ditanggap Golkar untuk tampil di beberapa tempat," katanya. Saat itulah Mbah Jamil yang menjadi pelawak banyak menerima saweran dari penonton.

Namun, menurut dia, uang dan materi yang berlimpah itu sempat membuatnya melupakan tuhan. Hari-harinya selalu diisi dengan happy dan happy. "Semua tempat-tempat berbuat dosa di Jember ini saya sampai hafal," katanya berkisah. Tak hanya itu, karena seringnya berpindah-pindah untuk tanggapan itu Mbah Jamil mempunyai istri di beberapa tempat. "Istri saya sampai tujuh, bahkan di Sukorejo Jember istri saya sampai dua orang," katanya.

Kehidupan Mbah Jamil, berubah 180 derajat tahun 1980-an. Saat itu dia ingin mendekatkan diri kepada Tuhan. Maka Mbah Jamil pun mendalami ilmu agama pada seorang kiai terkenal di Madura. Saking getolnya menuntut ilmu agama, dia mengaku sempat enam tahun tidak pulang ke kampung halamannya di Puger.

Dia baru pulang setelah mimpi bertemu ibunya. Anehnya mimpi dia alami selama 30 hari berturut-turut. "Setelah saya konsultasikan ke ustad saya, akhirnya saya disuruh pulang dan sungkem kepada ibu saya," katanya.

Saat pulang itulah banyak keluarga dan tetangganya yang tidak percaya jika Mujamil telah mendalami ilmu agama. Maklum Mujamil muda mempunyai istri tujuh orang di mana-mana. "Yang bisa saya lakukan hanya bersabar," katanya.

Kini di usianya yang tidak muda lagi, Mujamil tetap bekerja keras mengisi hari-hari tuanya. "Kalau malam saya menjaga rumah makan di Baratan Patrang, di luar itu juga mengajar ngaji di rumah," kata kakek yang tinggal di Jl Wahid Hasyim Jember ini.

Soal kian redupnya kesenian kethoprak, Mbah Jamil mengaku bersedih. Sebab, minat generasi muda untuk melestarikan budaya sendiri dianggapnya luntur sejak adanya televisi yang sedikit banyak membawa budaya asing.(*)

Radar Jember
[Senin, 08 Desember 2008]

Halo Tiwan!


Kami sangat senang bisa menjumpai warga Indonesia yang kini tengah berada di Taiwan, terutama para tenaga kerja yang sungguh sangat berjasa untuk 2 hal: membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran yang makin menumpuk di tanahair, dan mengirim devisa untuk keluarga dan negara, terlebih dalam situasi krisis global seperti sekarang ini.


Para Pembaca yang budiman, seperti biasanya sebuah kelahiran, kami berharap Radar Taiwan yang masih bayi cenger ini mendapatkan sambutan yang hangat. Seperti halnya saudara-saudari kita di Hong Kong menyambut dengan hangat kelahiran media dari Berita Indonesia Ltd yakni: Berita Indonesia, Intermezo, dan Peduli. Kawan-kawan kita di Hong Kong dengan gembira manyambut media berbahasa Indonesia, dan mereka beramai-ramai mengirimkan tulisan, dari yang bernama surat pembaca, puisi, cerita, hingga tulisan opini.

Bahkan, beberapa nama, sebut saja: Rini Widyawati, Dhenok Kanthi Rokhmatika, Eni Kusuma, Wina Karni, Maria Bo Niok, Mei Suwartini, dan masih ada beberapa nama lagi yang meneruskan kegemarannya menulis setelah kembali ke tanahair. Maria Bo Niok yang dulunya pernah bekerja di Taiwan (baca: halaman 05) bahkan telah melahirkan beberapa buku.

Begitulah pula yang kami harap dari warga Indonesia yang berada di Taiwan ini. Mari kita sambut Radar Taiwan dengan senang hati, dan kirimkanlah kritik dan saran demi peningkatan kualitas maupun oplahnya!

Terima kasih, dan marilah tetap bersemangat!

Redaksi

Le Clezio, Suara bagi Si Lemah


Siapakah sejatinya seorang sastrawan? Di mata Jean-Marie Gustave Le Clézio (68), peraih Hadiah Nobel Sastra 2008, sastrawan, secara khusus novelis, bukanlah filsuf, bukan pula teknisi bahasa tutur. ”Dia adalah seseorang yang menulis, tentu saja, dan melalui novel dia bertanya,” katanya.


Pandangan itulah yang membawa Le Clézio menekuni dunia sastra sepanjang hidupnya. Sejak masih belia, usia 8 tahun, Le Clézio sudah menulis. Hingga kini, lebih dari 50 novel, esai, cerita pendek, telah lahir dari tangannya.

Konsistensi Le Clézio membuahkan Hadiah Nobel Sastra 2008 yang diumumkan oleh Svenska Akademien (Akademi Swedia) pada 10 Oktober lalu di Stockholm. Saat mengumumkan penghargaan itu, Horace Engdahl, Sekretaris Tetap Akademi Swedia, menyebut Le Clézio sebagai ”pengarang angkatan baru dengan petualangan puitis dan ekstasi sensual, serta penjelajah kemanusiaan di luar kekuasaan peradaban.”

Engdahl juga menggambarkan Le Clézio sebagai seorang pengarang kosmopolitan, seorang musafir, seorang warga dunia, dan seorang nomaden.

”Dia tidak secara khusus seorang penulis Perancis, kalau Anda melihat dia dari pandangan kultural. Dia melampaui berbagai fase berbeda dalam perkembangannya sebagai penulis dan telah melibatkan peradaban lain, juga cara hidup lain, dalam karyanya,” ujar Engdahl, seperti dikutip The New York Times.

”Saya senang dan sangat terharu karena tidak mengira sama sekali. Ini kehormatan besar. Saya tidak percaya, kemudian merasa kagum, dan akhirnya merasa gembira,” kata Le Clézio kepada wartawan dalam konferensi pers di Paris, seusai namanya diumumkan sebagai penerima Hadiah Nobel Sastra 2008.

Kendati tidak dikenal di Amerika Serikat, Le Clézio dipandang sebagai figur besar dalam kesusastraan Eropa. Lahir di Nice, Perancis, 13 April 1940, dia enggan mengidentifikasi dirinya secara kaku sebagai seorang Perancis.

”Saya memulai di Perancis, tetapi ayah saya seorang warga negara Inggris yang lahir di Mauritius. Jadi, saya memandang diri saya sebagai sebuah campuran, seperti banyak orang di Eropa sekarang ini,” tuturnya seperti dikutip The Guardian.

Le Clézio adalah penulis Perancis pertama yang menerima Hadiah Nobel Sastra sejak penulis keturunan Perancis-China, Gao Xinjiang, menerima penghargaan prestisius itu tahun 2000. Selain menulis dalam bahasa Perancis, Le Clézio juga menulis dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Swedia.

Evolusi

Debut Le Clézio di dunia sastra adalah novel berjudul Le Procès-Verbal (1963), diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Interrogation (1964). Novel ini langsung menyedot perhatian dibandingkan dengan karya Jean-Paul Sartre, Nausea, dan karya Albert Camus, The Outsider.

Novel yang berkisah tentang seorang laki-laki muda yang berakhir di rumah sakit jiwa itu memenangi penghargaan Prix Renaudot. Novel itu pula yang memperkenalkan keasyikan utama Le Clézio, yaitu pelarian dari norma ke dalam cara pikir yang ekstrem.

Le Procès-Verbal segera disusul serangkaian karya lain yang menggambarkan situasi krisis, termasuk kumpulan cerita pendek La Fièvre (1965) dan Le Déluge (1966). Kisah-kisah di dalamnya menuturkan tentang kesulitan dan ketakutan yang menghantui kota-kota besar di Barat.

Gaya bertutur Le Clézio kemudian berevolusi dalam karya- karya berikutnya, menjadi lebih liris. Ia berbicara banyak soal lingkungan. Itu terlihat dari karya semisal Terra Amata (1967), Le Livre des Fuites (1969), La Guerre (1970), dan Les Géants (1973).

Terobosan besar Le Clézio sebagai novelis adalah Désert (1980). Novel ini berkisah tentang kebudayaan yang hilang di gurun Afrika Utara, dan dikontraskan dengan Eropa yang dilihat melalui kacamata seorang imigran. Lalla, sang tokoh utama, adalah pekerja asal Aljazair yang menjadi antitesis utopis atas keburukan dan kebrutalan masyarakat Eropa. Désert meraih penghargaan Grand Prix Paul Morand yang dianugerahkan Académie Française.

Faktor yang menentukan karya-karya Le Clézio adalah waktu yang dihabiskannya di berbagai belahan dunia. Ketika berusia delapan tahun, keluarganya pindah ke Nigeria di mana ayahnya bertugas sebagai dokter bedah di angkatan bersenjata Inggris. Ia menuntut ilmu di Inggris dan Perancis, kemudian bekerja sebagai guru di Amerika Serikat.

Tahun 1967 Le Clézio ditugaskan ke Thailand untuk tugas militer. Oleh karena protes menentang prostitusi anak, dia dipindahkan ke Meksiko. Tahun 1970-1974 dia tinggal bersama suku Indian Embera di Panama. Dari tempat itu, dia menghasilkan Haï dan Voyage de l’autre Côté. Ia juga menerjemahkan beberapa karya besar tradisi Indian, seperti Les Prophéties du Chilam Balam.

Tahun 1975 Le Clézio bertemu istrinya, Jemima, seorang Maroko. Berdua, mereka membagi waktu antara Nice, Mauritius, dan Albuquerque di New Mexico sejak tahun 1990.

Suara ”underdog”

Mendekati era 1990-an, karyanya bergerak ke arah eksplorasi dunia dan sejarah keluarga. Perkembangan itu dimulai dengan novel Onitsha (1991) yang dilanjutkan dengan La Quarantaine (1995). Pergerakan itu berpuncak pada Révolution (2003) dan L’Africain (2004). Révolution menyimpulkan tema paling penting dari karya-karyanya, yaitu kenangan, pembuangan, reorientasi masa muda, dan konflik budaya.

Karya Le Clézio yang terhitung baru adalah Ballaciner (2007), sebuah esai personal tentang sejarah seni film dan pentingnya film dalam kehidupan dia. Karya terbarunya, Ritournelle de la Faim, baru saja diterbitkan.

”Ada dua fase dalam karier Le Clézio,” kata Adrian Tahourdin, editor Times Literary Supplement. ”Ada karya awal yang eksperimental hingga pertengahan 1970-an, kemudian beralih ke dalam gaya yang lebih liris, naratif tradisional, dan mulai mengeksplorasi budaya lebih banyak,” ujarnya.

Alison Anderson, salah satu penerjemah karya Le Clézio ke dalam bahasa Inggris, menyebut Le Clézio sebagai pendukung kaum underdog, orang yang tidak memiliki suara sendiri.

”Dia adalah suara mereka,” ujar Anderson.

”Saya kira Komite Nobel telah membuat pilihan bagi suara kasih sayang dan empati, yang tidak perlu sesuai dengan mode paling mutakhir, tetapi sangat penting,” tuturnya.

Le Clézio yang tidak menyangka akan mendapat penghargaan Nobel Sastra hanya mengatakan, ”Saya merasa menjadi bagian kecil dari planet ini. Sastra memungkinkan saya untuk mengekspresikannya.”

Lalu, apa yang dia inginkan setelah menerima penghargaan bergengsi itu?

”Pesan saya jelas, kita harus terus membaca novel karena novel adalah sarana bagus untuk mempertanyakan dunia saat ini, tanpa mendapat jawaban yang terlalu sistematis, terlalu otomatis,” ujar Le Clézio. (FRO)

Kompas, Selasa, 21 Oktober 2008 | 00:59 WIB

Hidup Tanpa Ijazah

5 09 2008

Ada seorang putra Indonesia yang tak punya gelar akademik sama sekali, bahkan ijazah SMA pun tak punya karena ia tidak menamatkan SMA-nya, tetapi ia diangkat sebagai gurubesar di tiga perguruan tinggi di Jepang. Bagaimana bisa?



Kita barangkali akan sulit meneladani tokoh yang satu ini, bukannya tidak mampu, tetapi kesempatan yang ada pada masa kita hidup saat ini sudah jauh berbeda dengan kesempatan yang lebar terbuka pada saat dahulu. Orang harus mampu, dan ada kesempatan untuk menunjukkannya, maka ia akan sukses. Memang kesempatan bisa diciptakan, tetapi belum tentu selalu menjadi terbuka. Ini cerita tentang seseorang, barangkali ada manfaatnya, paling tidak menekankan : no pain no gain !

Sebuah buku baru diterbitkan Pustaka Jaya, Januari 2008. Tebalnya setebal bantal, 1364 halaman, dicetak di kertas HVS. Meskipun tebal dan cetakannya bagus, harganya murah untuk buku setebal ini, Rp 95.000 (bandingkan dengan buku seri Harry Potter terakhir, Deadly Hollows, tebal 1008 halaman, berkertas dengan kualitas di bawah HVS, berharga Rp 175.000). Saat mengetahui harganya, saya cukup kaget juga, buku-buku yang dicetak biasa (bukan deluks) dengan tebal sekitar 200-300 halaman kini harga rata-ratanya sekitar Rp 35.000-50.000, dengan harga rata2 itu maka buku tebal Pustaka Jaya ini mestinya berharga sekitar Rp 250.000. Bagaimana buku setebal 1364 halaman ini harganya hanya Rp 95.000 ?

Saya mendapatkan jawabannya pada halaman 1329 di buku ini dalam “Ucapan Terimakasih”. Buku yang akan saya ceritakan ini memang harga seharusnya adalah sekitar Rp 300.000. Tetapi, siapa yang mau membeli buku setebal 1364 halaman dengan harga Rp 300.000 ? Kata Rosihan Anwar, wartawan dan penulis senior itu, tebal buku maksimal yang masih menarik untuk dibaca orang-orang Indonesia adalah sekitar 300-400 halaman. Memang Rosihan Anwar menganjurkan

penulis buku ini untuk memotong bukunya sampai menjadi maksimal 400 halaman saja, tetapi penulisnya merasa sayang memotong manuskripnya yang sudah sampai 1000 halaman, jadi ia tak memotongnya sama sekali, maka akhirnya menjadi 1364 halaman. Harganya ? Ada sekitar 100 orang, sebagian di antaranya tokoh-tokoh terkenal Indonesia dan Manca Negara dari berbagai

latar belakang, dari seniman sampai birokrat, dari ilmuwan sampai jenderal, yang bersedia membeli buku ini dengan harga edisi khusus dan terjadilah subsidi silang sehingga masyarakat umum dapat membelinya Rp 95.000. Sebuah ide bagus !

Baik, saya ceritakan saja buku ini. Judulnya adalah “Hidup Tanpa Ijazah : Yang Terekam dalam Kenangan”, sebuah otobiografi Ajip Rosidi, sastrawan dan budayawan Indonesia. Buku ini ditulis dalam waktu kurang dari setahun, ditulis atas anjuran teman-teman Ajip dan mengejar waktu agar telah terbit saat Ajip berusia 70 tahun pada 31 Januari 2008. Buku ini ditulis oleh Ajip sendiri, jadi bukan otobiografi pesanan seperti banyak dipesankan oleh para tokoh politik dan militer (namanya otobiografi ya harusnya ditulis sendiri dong, kalau dituliskan orang lain ya namanya biografi). Walaupun buku ini mulai ditulis tahun 2006, Ajip dapat merekam dengan cukup detail peristiwa2 puluhan tahun sebelumnya sejak Ajip anak-anak, remaja, pemuda, dewasa muda, dewasa, sampai usianya sekarang (70 tahun). Pasti Ajip biasa menulis jurnal kegiatan harian sehingga ia bisa menuliskan kembali peristiwa sehari-hari puluhan tahun ke belakang.

Mengapa Ajip memberi judul buku ini “Hidup Tanpa Ijazah” ? Karena Ajip tak punya ijazah apa-apa, ijazah SMA pun tidak, sebab ia keluar sebelum ujian akhir SMA (Taman Madya). Ajip tidak pernah kuliah, bukan sarjana, tentu bukan master, apalagi doktor. Ia hanya seorang otodidaktis (pelaku otodidak) tulen. Tetapi, lihat karya, sepak terjang, dan pengakuannya. Itu semua melebihi pencapaian rata-rata sarjana, master, doktor, dan profesor pada umumnya.

Saya tidak akan menceritakan dengan detail isi buku ini, untuk yang berminat silakan membelinya saja. Saya ingin menyoroti mengapa Ajip keluar sekolah, tidak mau meneruskan sekolahnya, otodidaknya, dan karya, sepak terjang, serta pengakuannya. Dengan sikap dan kiprahnya seperti itu Ajip adalah manusia langka, bukan hanya di Indonesia, di dunia pun jarang yang seperti dia.

Ajip lahir di Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, wilayah yang banyak menghasilkan genteng dan kecap itu, pada 31 Januari 1938. Menempuh pendidikan hanya sampai setingkat SMA yaitu di Taman Madya, Taman Siswa Jakarta, itu pun tidak tamat.Tahun 1956 dia dengan sengaja keluar dari sekolahnya seminggu sebelum ujian akhir dimulai. Pendidikan formalnya berakhir 52 tahun yang lalu. Tetapi, ia tidak pernah berhenti belajar. Pendidikan dan belajar tak harus di satu tempat. Pendidikan harus di sekolah, belajar bisa di mana saja.

Saat Ajip mau menempuh ujian nasional, ramai terjadi kebocoran soal-soal ujian, orang tak segan mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk membeli soal ujian, guru-guru pun bisa disogok. Di koran-koran timbul polemic tentang manfaat ujian. Dipertanyakan tentang keabsahan ujian untuk menilai prestasi murid yang sebenarnya. Ajip muda (16 tahun) berkesimpulan : orang tidak segan melakukan perbuatan hina, membeli soal ujian atau menyogok guru, demi lulus ujian. Untuk apa lulus ujian ? Untuk dapat ijazah. Untuk apa ijazah ? Untuk melamar kerja. Untuk apa kerja ? Untuk dapat hidup. Kalau begitu, hidup berarti bergantung kepada secarik kertas bernama ijazah ! Ajip terkejut sendiri dengan kesimpulannya. Ia saat itu telah empat tahun berkarya (Ajip mulai mengirimkan tulisan2 cerita dan puisi dan dimuat di koran2 dan majalah2 sejak tahun 1952 saat umurnya masih 14 tahun) dan telah merasa bisa hidup cukup mandiri dengan honorariumnya. Ajip bertanya, apakah seorang pengarang membutuhkan ijazah untuk bisa hidup ? Tidak.

Ajip memutuskan bahwa hidupnya tidak akan digantungkan kepada selembar ijazah. Prestasinya tidak akan bergantung kepada selembar ijazah. Menurutnya tak ada sekolah atau universitas yang dapat menuntunnya menjadi seorang pengarang yang baik, apalagi ia punya pengalaman bahwa guru2 bahasa Indonesianya semasa di SMP dan SMA harus lebih banyak membaca daripada dirinya.

“Aku akan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuanku dalam bidang sastra dan penulisan dengan banyak membaca. Dan membaca tidak usah di sekolah. Tidak usah juga bersekolah tinggi karena aku sudah mengenal huruf-huruf. Buku-buku dapat dibeli, atau dipinjam dari perpustakaan. Dalam membaca aku dapat melampaui kebanyakan orang yang punya ijazah lebar. Dengan kian luasnya bacaanku, maka tulisanku akan lebih berbobot. Kalau tulisanku berbobot, niscaya orang-orang akan menghargaiku sebagai pengarang. Akhirnya yang penting dalam hidup adalah prestasi yang diakui oleh masyarakat. Berapa banyak orang yang mempunyai ijazah tinggi dan menduduki jabatan penting dalam masyarakat tetapi tidak pernah memperlihatkan prestasi pribadi ? Mereka akan lenyap dari ingatan masyarakat kalau mereka sudah pensiun atau setelah meninggal. Aku ingin tetap dikenang orang walaupun aku sudah meninggalkan dunia yang fana ini. Dan hal itu hanya dapat dicapai dengan berkerja keras, dengan mencipta karya yang bagus. Orang akan tetap mengingat namaku kalau karya-karya yang kutulis bermutu” begitu tulis Ajip Rosidi di dalam buku ini halaman 167-168.

Dan, keluarlah Ajip dari sekolah alias drop out, dia menulis surat kepada gurunya di atas kartu pos, “saya tidak jadi ikut ujian nasional karena saya akan membuktikan bahwa saya dapat hidup tanpa ijazah” Luar biasa keputusan anak remaja ini, keputusan sendiri, tanpa memberi tahu orang tuanya di Jatiwangi.

Dan puluhan tahun berikutnya adalah puluhan tahun pembuktian bahwa Ajip bisa hidup tanpa ijazah. Sebuah bakat yang ditekuni secara luar biasa akan berhasil luar biasa juga. Setahun sebelum ia keluar dari SMA, buku pertamanya telah terbit ketika umurnya masih 17 tahun, berjudul “Tahun-Tahun Kematian” (kumpulan cerpen). Itu adalah buku pertama yang mengawali sebanyak lebih dari 110 judul buku berikutnya selama puluhan tahun kemudian. Ajip menulis buku-buku baik kumpulan cerpen, kumpulan puisi, roman, drama, penulisan kembali cerita rakyat, cerita wayang, bacaan anak-anak, kumpulan humor, esai dan kritik, polemik, memoar, bunga rampai, buku terjemahan, biografi (ada 10 halaman daftar lengkap karya Ajip di buku otobiografi ini). Ajip menulis baik dalam bahasa Sunda maupun bahasa Indonesia. Banyak karyanya diterjemahkan oleh penerbit internasional ke dalam bahasa-bahasa asing Belanda, Cina, Hindi, Inggris, Jepang, Jerman, Kroasia, Prancis, Rusia, Thai, dan lain-lain.

Sepak terjang Ajip tak hanya dalam dunia penulisan sastra dan sekitarnya. Ia adalah redaktur dan Pemimpin majalah Suluh Pelajar (1953-1955) saat Ajip masih duduk di SMP dan SMA. Juga ia menjadi pemimpin redaksi Majalah Sunda (1965-1967), Budaya Jaya (1968-1979), dan Cupumanik (sejak 2005).

Ajip juga adalah redaktur, pendiri dan pemimpin usaha2 penerbitan. Ia adalah seorang redaktur Balai Pustaka (1955-1956). Tahun 1962 mendirikan Penerbit Kiwari, tahun 1964-1969 mendirikan dan memimpin Penerbit Tjupumanik di Jatiwangi. Tahun 1971 mendirikan Penerbit Pustaka Jaya dan menjadi pemimpinnya. Tahun 1981 mendirikan Penerbit Girimukti Pusaka, Tahun 2000 ia mendirikan dan memimpin Penerbit Kiblat Buku Utama di Bandung. Usaha penerbitannya ada yang terus berjalan sampai Sekarang (Pustaka Jaya), ada juga yang telah lama berhenti.

Ajip juga sangat giat dalam berorganisasi, misalnya tahun 1954 (umur 16 tahun) menjadi anggota Badan Musyawarat Kebudayaan Nasional. Tahun 1956 menjadi anggota Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda. Tahun 1972-1981 menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (dewan ini juga dibentuk pada tahun 1968 atas prakarsa Ajip. Tahun 1973-1979 sebagai ketua Ikatan Penerbit Indonesia(IKAPI). Tahun 1993 Ajip mendirikan Yayasan Kebudayaan Rancage, sebuah yayasan yang mengapresiasi karya-karya sastra daerah dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Bali.

Ajip juga menduduki banyak anggota badan-badan kehormatan. Tahun 1960-1962 dia adalah anggota Badan Pertimbangan Ilmu Pengetahuan bidang Sastra dan Sejarah. Tahun 1978-1980 sebagai staf ahli menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tahun 1979-1982 menjadi anggota Dewan Fim Nasional, tahun 1979-1980 menjadi anggota Dewan Pertimbangan Pengembangan Buku Nasional. Tahun 2002 diangkat menjadi anggota Akademi Jakarta.

Meskipun Ajip tak menamatkan SMA-nya, tak pernah kuliah, bukan sarjana, tentu bukan master, apalagi doktor, tahun 1967 ia diangkat sebagai dosen luar biasa pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran di Bandung. Ajip pun sering diundang memberikan kuliah umum di berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Dan, tahun 1981, Ajip diangkat sebagai Visiting Professor pada Osaka Gaikokugo Daigaku di Osaka, Jepang. Ajip mengajar di Jepang sampai tahun 2003. Ajip pun diangkat sebagai Gurubesar Luar Biasa pada tahun 1983-1994 di Tenri Daigaku di Tenri, Nara, Jepang. Tahun 1983-1996 menjadi Gurubesar Luar Biasa pada Kyoto Sangyo Daigaku di Kyoto. Pensiun sebagai guru besar, Ajip pulang ke Indonesia pada tahun 2003. Sekalipun Ajip berada di Jepang selama 22 tahun, dia tetap menulis buku2nya dalam bahasa Sunda dan Indonesia, tetap berhubungan dengan para penggiat sastra di Tanah Air, dan tetap memantau serta mengelola organisasi2 yang pernah didirikannya dari jauh.

Sebagai penggiat sastra, tentu Ajip pun banyak menjadi pembicara di berbagai simposium, seminar, kongres, konferensi atau lokakarya mengenai kebudayaan dan kesenian, terutama tentang sastra dan bahasa, baik di tingkat daerah, nasional, regional, maupun internasional. Sebagai orang yang mumpuni dalam bidang sastra, Ajip pun kerap diminta sebagai anggota dewan juri dalam menilai berbagai perlombaan bidang sastra dan kesenian.

Ajip dan organisasinya pun beberapa kali mendapatkan dana nasional maupun internacional untuk penelitian sastra dan budaya. Tahun 1969-1972 Ajip mendirikan dan memimpin proyek penelitian pantun dan folklor Sunda. Tahun 1960-1967 Ajip mendapatkan dana dari the Toyota Foundation untuk meneliti kebudayaan Sunda dalam rangka penyusunan Ensiklopedi Sunda (telah terbit pada tahun 2000). Tahun 1960-1994 meneliti puisi Sunda, dan hasilnya dituliskan dalam tiga jilid buku dengan tabal total 1700 halaman (telah terbit dua jilid).

Karena dedikasinya yang total lepada kesustraan dan kebudayaan, Ajip beberapa kali diganjar penghargaan, yaitu 1957 : Hadiah Sastra Nasional untuk kumpulan puisinya, 1960 : Hadiah Sastra Nasional untuk buku kumpulan cerpennya, 1974 : Cultural Award dari Australia, 1993 : Hadiah Seni, 1994 : penghargaan sebagai salah satu dari 10 putra Sunda terbaik, 1999 : penghargaan Order of the Sacred Treasure, Gold Rays with Neck Ribbon dari Jepang, 2003 : penghargaan Mastera dari Brunei, 2004 : Teeuw Award dari Belanda.

Demikian sekilas karya-karya dan pencapaian-pencapai an Ajip. Ia berkarya sejak berumur 14 tahun sampai kini usianya 70 tahun, menekuni sastra dan budaya Sunda dan sastra Indonesia selama 56 tahun.

Di dalam buku ini, yang berisi 23 bab, kita bisa mengetahui bahwa pergaulan Ajip begitu luas, baik dengan kalangan sesama sastrawan dan budayawan, juga dengan banyak tokoh dari berbagai bidang baik di Indonesia maupun peneliti2 asing yang datang ke Indonesia untuk meneliti sastra dan budaya Indonesia. Bagaimana pergaulan dan pandangan Ajip dengan tokoh2 seperti Ali Sadikin, Mochtar Lubis, Taufik Ismail, Asrul Sani, Affandi, Gus Dur, Nurcholish Madjid, dan masih banyak lagi bisa dibaca di sini. Pengamatannya tentang kejadian2 penting yang dialami Indonesia entah itu pertikaian politik, bencana, korupsi, dan lain2 dari tahun2 1940-an sampai sekarang bisa dibaca juga di sini. Ajip juga menceritakan pikiran dan sikapnya tentang itu semua dan hal2 yang dialaminya, termasuk saat gempa Kobe di Jepang, sebagaimana layaknya sebuah otobiografi. Buku otobiografi setebal 1364 halaman ini adalah salah satu dari buku2 otobiografi paling tebal yang pernah ditulis.

Kata seorang pengamat, Ajip adalah seorang langka dengan kelebihan yang tidak dimiliki H.B. Jassin, Goenawan Mohamad, dan Soebagio Sastrowardojo (Dr. Faruk dalam Kompas 31 Mei 2003).

“Mungkin ada orang yang membaca buku ini menuduh bahwa buku ini merupakan usaha Ajip untuk memamerkan kehebatannya sebagai orang yang “kurang sekolah”, tetapi berhasil mencapai prestasi internasional. Tentu saja tuduhan itu sukar dibantah. Meskipun tentunya sah-sah saja bagi orang berprestasi untuk memamerkan prestasinya, apalagi prestasi ini dicapai melalui perjuangan dan usaha sendiri dengan kerja keras. Ajip sudah merupakan seorang yang dihargai di Indonesia, dia tak akan perlu memamerkan diri lagi, buku ini ditulisnya lebih kepada keinginan untuk mengawetkan kenangan2 dan pikiran2-nya, berbagi pengalaman dengan orang lain”, begitu tulis Arief Budiman dari Melbourne, teman karib Ajip, dalam kata pengantar otobiografi ini.

Satu hal yang sangat penting yang merupakan pesan Ajip melalui buku ini adalah : meskipun pendidikan sangat penting, orang bisa juga berhasil meskipun tidak atau kurang sekolahnya. Ajip telah membuktikan kepada kita semua bahwa ia bisa hidup dan berhasil sampai punya reputasi internasional bahkan sampai menjadi gurubesar di tiga perguruan tinggi di luar negeri meskipun tak punya gelar akademik apa pun, bahkan ijazah SMA pun tak ia miliki, Ajip benar2 : hidup tanpa ijazah.

“Ajip akan diterjang kegelisahan yang luar biasa saat ia mandeg membaca dan gagap menulis” (Maman S. Mahayana dalam Panji Mas, Februari 2003).

Tulisan bagus ini ditemukan di Pesantren al-Muhajir

Para Seniman Jatim Dapat Penghargaan

SURABAYA, KOMPAS - Setiap tahun sejak tahun 1998, pemerintah provinsi Jawa Timur melalui Gubernur Jawa Timur, memberikan penghargaan kepada seniman yang memiliki konstribusi, dedikasi, kekaryaan dan prestasi dalam bidang kesenian.


Kali ini dalam tahun 2008, penghargaan seniman diberikan oleh Imam Utomo, gubernur Jatim saat ini kepada sepuluh orang seniman. Mereka ialah Amir Kiyah dari bidang seni teater, asal Surabaya, M. Iskan asal Ngawi (seni teater, Surabaya), Makhfoed (seni rupa, Surabaya) Mashuri (seni sastra, Surabaya), So im Anwar (seni sastra, Surabaya), almarhum Gombloh (seni musik, Surabaya) Musafir Isfanhari (seni musik, Surabaya), Mbah Karimun (seni tradisi/tari , Surabaya), FC Pamudji (seni tradisi, Surabaya) dan M Anis (penggiat/penyelenggara seni, Surabaya).

Selain penghargaan seniman, Pemrov Jatim tahun ini juga memberikan penghargaan khusus tokoh peduli seni, yaitu Ciputra Group, Chusnul Huda (anggota DPRD Jatim), Erlangga Satria Agung (Kadin Jatim), Heri Purwanto (anggota DPRD Jatim) dan La Nyala Mataliti (tokoh Pemuda Pancasila Jatim), Saleh Ismail M ukadar (anggota DPRD Jatim).

Ketua Tim Penghargaan Seniman Jawa Timur 2008 Aribowo, Kamis (26/6) mengatakan, pemberian penghargaan seniman Jatim yang biasanya dilakukan dalam bulan Ramadhan, kali ini dimajukan dengan pertimbangan masa bakti Gubernur Jatim Imam Utomo akan berakhir pada Agustus mendatang.

"Penganugerahan penghargaan seniman juga akan dilakukan oleh Gubernur Jatim Imam Utomo pada 30 Juni mendatang, di Gedung Grahadi, Surabaya," kata Aribowo.

Menyoal apakah tradisi pemberian penhargaan seniman ini akan terus berlanjut, Aribowo hanya berharap kepada Gubernur Jatim terpilih nanti bersedia meneruskan tradisi yang sudah brlangsung selama 10 tahun ini. "Kita berharap siapa pun nanti yang menjadi Gubernur Jatim meneruskan tradisi yang baik ini," katanya.

Bertindak sebagai dewan juri untuk bidang seni sastra ialah Prof Dr Budi Dharma, Dr Ayu Sutarto dan HU Mardi Luhung. Sementara itu untuk seni teater ialah Prof Sam Abede Pareno, Anang Hanani dan Meimura dan dewan juri untuk seni musik ialah Suwarmin, Erol Jonathan, dan Subiyantoro.

Untuk seni tari, mereka yang bertindak sebagai dewan juri ialah Peni Pepenk Puspito, Robby Hidayat dan Sumitrohadi. Untuk seni rupa ialah Djulijatiprambudi, Agus Koecink Soekamto dan Nuzurlis Koto dan untuk seni tradisi ialah Edi Brojo Waskito, FY Darmono saputro dan FX Soekarno.

Penerima penghargaan seniman Jatim menerima uang sebesar Rp 10 juta dari Gubernur Jatim dan piagam penghargaan dari Provinsi Jawa Timur. (TIF)


Kompas, Kamis, 26/6/2008 | 22:07 WIB

Zeffa Yurihanna, Sastrawan Cilik Tulungagung

Laporan: Destyan Sujarwoko, Ratu

Dikagumi si Oneng, Diundang sebagai Tamu Kick Andi
Bakat menulis puisi Zeffa Yurihanna, 12, terlihat sejak kelas 3 SD. Bersama ayah dan ibunya, siswi MI Al Azhaar, Kecamatan Bandung, Tulungagung, ini barusan menerbitkan buku antologi sajak cinta dengan judul Angin Pun Berbisik.



Banyak orang lalu lalang
Bertukar uang bertukar barang
Tidak pernah tidur
Selalu ramai sekali
Pasar
Banyak orang bertukar barang
Sedikit orang bertukar senyum
Seorang anak ingin membeli senyum
Tapi tidak ada yang menjual senyum,
Sedihnya

Rangkaian puisi bertema sosial itu merupakan salah satu karya Zeffa Yurihanna, 12. Anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Irwan Dwi Kustanto, 41 dan Siti Atmamiah, 42, yang kini tinggal di Desa/Kecamatan Bandung, Tulungagung. Tidak sulit menemukan rumah keluarga sastrawan ini. Begitu masuk kompleks MI Al Azhaar, Radar Tulungagunglangsung menuju rumah di belakang masjid.

Suasananya tampak asri dengan saung (semacam rumah gubuk menyerupai pos kampling, red) di depannya. Saat itu Zeffa tengah asyik bermain. Gayanya terkesan cuek. Apalagi jika ketemu dengan orang yang belum dikenalnya. Mungkin karena dia malu, atau memang karakter unik seorang anak yang memiliki bakat seniman telah mengendap dalam dirinya.

Sekilas, orang tidak akan pernah menyangka jika Zeffa memiliki bakat di bidang sastra. Terutama dalam hal menulis puisi. Prestasi spektakuler dibidang ini juga belum pernah diraih Zeffa.

Tapi, di balik penampilannya yang biasa itu, sejumlah sastrawan dan selebriti nasional pernah menyampaikan rasa kagumnya atas rangkaian kata-kata puisi buatan Zeffa. Sebut saja Dyah Rieke eOnengf Pitaloka, sastrawan Joko Pinurbo hingga kolumnis Fajrul Rahman dan masih banyak lagi. Mereka bahkan saling berebut ingin membacakan karya sastra Zeffa saat peluncuran antologi karya sastra mereka di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pada 23 Januari lalu.

Bahkan Andi F Noya, pengasuh acara Kick Andi sempat mengundang Zeffa dan keluarganya secara khusus untuk tampil dalam talkshow yang dia pandu pada pertengahan Februari lalu. ‘’Ini merupakan karya sastra pertama yang dibuat tiga orang dalam satu keluarga sekaligus di Indonesia,’’ h tutur Irwan menjelaskan.

Antologi karya sastra itu telah mereka siapkan sejak setahun lalu. Selain memuat kumpulan sajak-sajak puisi buatan Irwan, karya puisi yang bikinan istrinya Siti Atmamiah dan anak pertamanya Zeffa Yurihanna juga ikut dilibatkan.

Dalam buku ini Zeffa menyumbang sekitar 30 karya puisi yang ditulisnya sejak tahun 2004 hingga sekarang. Tidak disangka, buah tangannya justru paling banyak mendapat pujian dari teman-teman sastrawan di Indonesia,h kenang wakil direktur yayasan Mitra Netra, Jakarta ini bangga. Hasil penjualan antologi buku tersebut, rencananya akan disumbangkan untuk membuat buku braile untuk masyarakat tuna netra di Indonesia melalui yayasan Mitra Netra yang dikelola Irwan. gSaat rencana gerakan seribu buku untuk tuna netra ini dilontarkan ayahnya, Zeffa mengaku sangat ingin berpartisipasi. Dia ingin menyumbang melalui keahlian yang dimilikinya,h tutur Siti Atmamiah menimpali.

Bakat Zeffa sendiri sbenarnya muncul sejak masih kecil. Dia banyak belajar dari budaya menulis dan membaca puisi yang dilakukan ayah dan ibunya saat berkumpul di rumah mereka di desa/Kecamatan bandung. Irwan menuturkan, Zeffa biasanya hanya mendengar sambil sekali-sekali ikut membacakan puisi untuk ayahnya saat menulis di internet. Maklum, sang ayah tidak biasa membaca langsung karena keterbatasan penglihatan.

Tidak disangka, kebiasaan itu diserapnya dengan baik. Kami justru baru tahu bakat Zeffa saat duduk dibangku kelas 3. dia sering menulis puisi yang kemudian dipamerkan pada ayahnya saat pulang ke Tulungagung,h lanjut Atmamiah.

Berbeda dengan ayahnya yang lebih suka menulis puisi tentang kritik sosial-politik, atau ibunya yang lebih suka menulis puisi bertema cinta, Zeffa memiliki karakter tulisan berbeda. Sejumlah sastrawan yang pernah mengupas puisi keluarga sastrawan ini, puisi Zeffa lebih berkarakter sosial-lingkungan anak. Lihat saja beberapa tulisan puisinya seperti alam; anak gembala, angin; bintang-bintang; ibu ataupun seorang anak. Semua dibikin sangat apik dengan karakter tulisan yang dalam dan memiliki makna filosofis kuat meski dibungkus dengan kalimat yang sederhana.

Dari Ratu

Eni Yuniar:Menulis dan Berorganisasi untuk Berjuang


Bincang-bincang dengan mantan BMI Hong Kong satu ini dalam waktu yang amat singkat, banyak sekali pelajaran yang bisa didapat dari pengalamannya hidupnya, dari pengalaman berorganisasinya, dari sikap idealisnya, dari solidaritasnya kepada kaum tertindas, dari pengalaman menulisnya.


BMI di Hong Kong tentu sudah tak asing lagi dengannya karena seiring dengan aktivitas 'berjuang'-nya, nama dan gambarnya sering muncul di beberapa media massa berbahasa Indonesia yang beredar di Hong Kong. Dia seorang perempuan muda, cantik, pendiam, tetapi murah senyum dan sangat vokal dan tegas ketika berbicara soal perburuhan, terutama yang berkaitan dengan nasib BMI di Hong Kong.

Dialah Eni Yuniar, mojang kelahiran Ponorogo, 7 Juni 1980. Yang lahir dari pasangan Subari (ayah) dan Tatik (ibu) sebagai anak pertama dari 5 bersaudara. Dia ke Hong Kong sebagai BMI sejak tahun 1999 setelah menyelesaikan pendidikannya di SMA 3 Ponorogo. Selama 8 tahun ia di Hong Kong sebelum kemudian, 22 November 2007 lalu, pulang ke tanah air untuk seterusnya.

Kesulitan finansial keluarga yang membuat perempuan yang beralamat di Jl Juanda 70 Ponorogo ini nekad ke Hong Kong sebagai BMI. Begitu sulitnya kondisi keuangan keluarga sebelum ia ke Hong Kong, sampai-sampai untuk mengirim tulisan ke media massa di Indonesia saja, tidak punya uang, seperti pengakuannya ketika Peduli tanya sejauh mana publikasi karyanya di waktu lalu.

Sejak masih duduk di bangku SMP, Eni sudah suka menulis, tetapi untuk publikasi, ia mengalami kendala. ''Tdk pernah dipublikasikan krn gak punya duit utk beli perangko, sejak SMP, tp naskahku msh ada, disimpan ibu, aq nulis cerita 14 th yg lalu,'' demikian tulis Eni pada 15 Februari 2008, membalas SMS Peduli.

Organisasi

Tiba di Hong Kong, Eni melihat kenyataan yang membuat nuraninya 'berontak'. Ketika itu, kata dia, kondisi perburuhan di Hong Kong sangat memprihatinkan. Hampir 60% buruh migran di sana digaji underpay dan tidak semua buruh migran dapat libur. ''Padahal, itu melanggar hukum perburuhan di Hong Kong sendiri,'' ungkapnya.

Karena keprihatinan itu, baru 6 bulan di Hong Kong, dirinya ia sudah bergabung dengan Indonesian Migrant Workers Union (IMWU). ''Kebetulan di Hong Kong kan pemerintahnya mengizinkan kita (buruh migran, Red) untuk membentuk serikat buruh. Jadi, ya, saya ikut gabung dengan IMWU.

Selain pemerintah Hong Kong memang mengizinkan buruh migran berserikat, masuknya Eni ke IMWU juga karena majikannya yang seorang guru mendukungnya juga. Bahkan, majikan yang baik itu juga mengirim Eni kesebuah tempat kursus komputer di Hong Kong. ''Itu majikan pertama saya. Kalau majikan kedua, itu sangat jahat. Berbeda dengan majikan saya yang pertama,'' ungkap Eni.

Di IMWU, Eni dan kawan-kawan pun lantas berpikir bagaimana caranya bisa memberikan semacam pendidikan/penyuluhan kepada BMI supaya wawasannya tentang hukum-hukum meningkat menjadi lebih baik. Secara pribadi, bagi Eni, penyuluhan itu harus dilakukan karena dirinya merasa mempunyai tanggung jawab moral itu melaksanakan 'tugas' itu.

Akhirnya, ketemu jalan. Yakni, penyuluhan lewat tulisan. IMWU pun kemudian menerbitkan sebuah bulletin yang memberikan wawasan tentang hukum-hukum perburuhan kepada BMI.

Eni pun menulis lagi untuk mengisi buletin yang diterbitkan IMWU itu setelah kegiatan yang ia mulai sejak SMP itu sempat terhenti. Bangkitnya kembali semangat menulis pada diri Eni di Hong Kong itu juga karena novel Perempuan di Titik Nol yang ditulis oleh Nawal el-Saadawi tahun 1975.

Eni mengaku, oleh salah seorang temannya, saat itu dirinya dipinjami novel karya penulis Mesir itu. ''Buku itu memotivasi saya untuk menulis karena pena juga bisa dijadikan pedang untuk menaklukkan kekuasaan,'' ungkap Eni.

Menulis

Setelah IMWU menerbitkan buletin, Eni pun terus menulis di antara kesibukannya yang lain baik sebagai BMI pada seorang majikan maupun sebagai orang organisasi. Menulis untuk mengisi buletin itu sangat penting bagi Eni karena memberikan penyuluhan kepada kawan-kawan BMI itu bagi dirinya pribadi merupakan keharusan, sebuah tanggung jawab.

''Jadi, apa ya? Saya bisa menulis itu agak saya paksakan juga. Sebab, kalau saya tidak paksa, saya tidak bisa mengisi buletin. Kalau buletin tidak diisi, berarti buletin tidak terbit. Kalau buletin tidak terbit, saya tidak bisa memberikan penyuluhan kepada kawan-kawan yang tertindas. Saya jadikan pena saya sebagai pedang karena saya mempunyai tanggung jawab moral,'' kata Eni tegas.

Di antara berbagai kesibukannya, 2 tahun pun berlalu. Kontrak kerja berakhir. Eni pun ganti majikan. Sialnya, majikan keduanya tak sebaik majikan pertama, bahkan berkebalikan. Di majikan kedua itu, untuk mengerjakan buletin IMWU, Eni mengaku baru bisa mengetik tulisan setelah pukul 24.00 hingga pukul 3-4 pagi. Tapi, Eni tetap menulis supaya buletin tetap terbit sehingga dirinya bisa menunaikan tanggung jawabnya memberikan penyuluhan kepada kawan-kawan sesama BMI-nya.

Mau Kuliah

Agustus 2006, Eni ke New York mewakili buruh migran dan presentasi tentang permasalahan BMI di Hong Kong. Ia berbicara dalam sidang ke-36 Komite Antikekerasan terhadap Perempuan (CEDAW), Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), duduk bersama delegasi pemerintah dan parlemen Hong Kong serta sejumlah organisasi nonpemerintah (Ornop). ''Kebetulan waktu saya ke Amerika itu, saya sekjen (IMWU, Red)-nya,'' ungkap Sekjen IMWU periode 2005-2006 ini.

Dalam kesempatan itu, Eni mendesak pemerintah Hong Kong menghapus kebijakan New Condition of Stay (NCS) dan Two-Week Rule (Aturan Dua Minggu) yang dinilai diskriminatif terhadap pekerja perempuan asing di sektor rumah tangga. CEDAW merekomendasikan agar pemerintah Hong Kong menghapus Two-Week Rule karena dinilai sangat diskriminatif.

Kemudian, tahun 2007-2008, Eni Yuniar adalah ketua IMWU. Namun, jabatan itu tidak dijalaninya hingga selesai karena dirinya pulang ke Indonesia untuk seterusnya sejak 22 November 2007 lalu.

Setelah di Indonesia apa rencana ke depannya? Eni mengaku ingin kuliah. Tapi, ia masih belum menentukan mau kuliah di mana dan masuk jurusan apa. ''Sedang saya pikirkan,'' katanya.

Masih mau melanjutkan profesi sebagai penulis? ''Saya bukan penulis, tapi saya baru akan mulai belajar menulis. Sebelumnya saya menulis cuma asal-asalan saja. Apa yang ada di hati saya, itu yang saya tulis. Saya mulai menulis ketika ayah saya memberikan buku harian. Di buku itu, saya tulis apa yang saya kerjakan sehari-hari. Sampai sekarang, buku itu masih ada,'' kata penyumbang cerpen berjudul ''Tuan dan Nyonya Majikan Yang Terhormat'' dalam antologi cerpen karya BMI Nyanyian Imigran. [KUSWINARTO]



ENI YUNIAR

TTL: Ponorogo, 7 Juni 1980
Status: lajang, anak ke-1 dari 5 bersaudara
Alamat: Jl. Juanda 70 Ponorogo, Jawa Timur
Orangtua: Subari (ayah) dan Tatik (ibu)
BMI HK: selama 8 tahun (1999-2007)
Pendidikan: lulusan SMA 3 Ponorogo
Pengalaman organisasi: Sekjen IMWU (2005-2006), Ketua IMWU (2007-2008).
Pengalaman menulis: menulis cerita anak, artikel tentang perburuhan di buletin IMWU, dan sebuah cerpen berjudul ''Tuan dan Nyonya Majikan Yang Terhormat'' dalam antologi cerpen karya BMI Nyanyian Imigran.

[dari majalah peduli]

Lik Kismawati Ingin Buka Cafe dan Terus Menulis


Jadi TKI sekitar 7 tahun di Hong Kong cukup baginya. ’’Saya usahakan tidak balik lagi jadi TKI,’’ tegas lajang asal Desa Kraton, Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, ini. Lantas, apa mimpi Lik Kismawati selanjutnya?



Di keluarganya, Lik—sapaan Lik Kismawati—anak sulung dari 4 saudara. Sebagai anak sulung, gadis 27 tahun ini sadar benar perannya dalam keluarga. Terlebih, keluarganya bukanlah tergolong keluarga berada. Bahkan, ekonomi keluarga boleh dibilang pas-pasan.

Karena kondisi ekonomi yang tidak mendukung pula, Lik hanya dapat mengenyam pendidikan hingga kelas 2 SMA. Lalu, bekerja menjadi TKI di luar negeri menjadi pilihan utama setelah terpaksa drop out dari sekolah.

Gadis berbintang Gemini yang ramah ini jadi TKI sejak November 1999. Hong Kong jadi negeri tujuannya, hingga mengakhiri status TKI-nya pada 15 Juni 2006 lalu. Di Hong Kong, ia merasa bersyukur karena selama bekerja tidak mendapat masalah yang memberatkan. Majikannya orang Hong Kong asli. Tuan seorang pegawai restoran, Nyonya bekerja di sebuah rumah sakit.

Di Hong Kong, Lik aktif di organisasi Indonesiaan Migrant Worker Union (IMWU), dan di komunitas penulis: Komunitas Perantau Nusantara (Kopernus), dan Café de Kosta.
Sebagai anggota IMWU, November 2005, Lik dipercaya mewakili organisasi TKI itu ke Korea selama 12 hari.

Makin Percaya Diri

Karya tulis pertamanya di media berupa reportase, yakni di Tabloid Suara, Hong Kong. Munculnya karya pertama di media itu membuat Lik semakin percaya diri dalam menulis.

Alhasil, selain muncul tulisan berikutnya, karya Lik juga muncul di media lain, seperti Intermezo, Sinar Harapan, Surya, Ekspresi, dan Apa Kabar. Bahkan, cerpen Lik juga dimuat di beberapa buku kumpulan cerpen bersama: Kumpulan Cerpen Srikandi (2006), Nyanyian Imigran (2006), dan Selasar Kenangan (2006).

Dalam dunia kepenulisan, Lik juga mampu menyabet prestasi dalam lomba. Gadis yang tidak menyukai makanan yang pedas-pedas ini berhasil meraih juara 2 sekaligus juara harapan 3 dalam sayembara penulisan cerpen yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Hong Kong tahun 2005.

Sedih di Negeri Orang

Kesedihan biasanya menggerus batin saat Lebaran tiba. Bagi umat muslim seperti Lik, lebaran galibnya jadi saat yang bahagia karena hari itu merupakan hari kemenangan setelah berhasil mengekang hawa nafsu selama bulan Ramadan. Dan sejak kerja di Hong Kong, sebanyak 6 kali Lik melewatkan lebaran tanpa keluarga.

Perasaan haru karena lebaran jauh dari orang-orang yang dicintai, kata Lik, dirasakan oleh kebanyakan TKI di Hong Kong. ’’Karena itu, saat salat Ied, rata-rata jadi hujan tangis. Sepertinya nggak ada yang nggak menangis. Ingat anak, suami, orangtua, serta saudara yang mereka tinggalkan,’’ ungkap Lik mengenang pengalaman Lebaran di Hong Kong.

Namun, kesedihan yang paling memukul perasaan Lik adalah ketika Sutrisno, ayahnya yang bekerja sebagai supir pulang ke Rahmatullah Desember 2003 saat Lik berada di Hong Kong dan tak bisa pulang untuk melihat ayahnya untuk yang terakhir kali. ’’Perasaan sedih banget ketika itu,’’ kata Lik yang mengaku belum punya calon pendamping hidup.

Ingin Buka Café

Setelah kembali ke tanah air, Lik mantap tidak akan kembali jadi TKI. Ia berusaha untuk tidak kembali lagi ke luar negeri. ’’Aku ingin berwirausaha. Aku akan coba survai, cari-cari celah untuk berwiraswasta, apa yang cocok dan bisa dijalankan, sembari melanjutkan menulis yang tersendat sejak kembali di Indonesia,’’ katanya.

Sebagai salah satu persiapan, sekarang Lik sudah membeli sebidang tanah di Daerah Gresik. ’’Saat ini belum tahu untuk apa tanah itu. Tapi aku kira prospeknya bagus dan rasanya strategis untuk usaha. Karena, dengar-dengar di sana sebentar lagi ada jalan tol dan akan dibangun terminal.’’

Usaha apa yang ingin dibuka? ’’Sekarang aku lagi pasang kuda-kuda untuk buka café. Pengin buka café karena di lingkunganku masih ada nafas untuk usaha itu.’’

Terus Menulis

Lik mengaku aktivitas menulisnya tersendat sejak kembali di Indonesia. Menurutnya, suasana di Indonesia, terutama di lingkungan tinggalnya, berbeda jauh dengan di Hong Kong. Di Hong Kong dirinya bisa berdiskusi dengan teman-teman sesame TKI dan bisa menulis dengan tenang meskipun waktu untuk itu sangat terbatas.

Sementara di Indonesia, di rumah, Lik merasa kurang iklim yang kondusif untuk menulis. Ada saja gangguan ketika menulis, keluhnya. Namun, Lik akan berusaha beradaptasi dengan lingkungan barunya dan terus menulis.

Di akhir percakapannya dengan Peduli, Lik yang terlibat langsung dalam penanganan anak-anak pascagempa Yogyakarta bersama mahasiswa KKN UGM dan Komunitas Merapi beberapa waktu lalu, titip pesan untuk teman-teman TKI yang masih di luar negeri.

Apa pesannya? Hati-hati dengan uang hasil kerja. Jangan boros-boros dengan gaji.


DATA DIRI

Nama: Lik Kismawati
TTL: 12 Juni 1981
Alamat: RT/RW 20/04 Dusun Parengan, Desa Kraton, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo
Orangtua: Sutrisno (ayah, alm.) dan Mariatun (ibu).
Bintang: Gemini.
Status: Lajang.
Kreativitas: Menulis reportasi, cerpen, puisi, cerbung. Mulai menulis sejak jadi TKW.
Publikasi karya: Tabloid Suara (Hong Kong), Tabloid Intermezo (Hong Kong), Tabloid Apa Kabar, Majalah Ekspresi, Sinar Harapan, dan Surya. Cerpennya juga ada di buku Kumpulan Cerpen Srikandi (2006), Nyanyian Imigran (2006) dan Selasar Kenangan (2006).
Prestasi: juara 2 sekaligus juara harapan 3 dalam sayembara penulisan cerpen yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Hong Kong tahun 2005.

Naik Garuda Gratis karena Tulisan


Beberapa waktu lalu (08/02/06) Tarini Sorrita (34), salah seorang anggota Cafe de Kossta, pulang kampung (Cirebon, Jawa Barat). Kesempatan cuti itu sekaligus dimanfaatkan Rini --begitulah sapaan akrap ibu seorang gadis 11 tahun ini—untuk meluncurkan buku cerpen-nya, Penari Naga Kecil (PNK). Acara peluncuran buku cerpen itu menyusul kesuksesan pentas sastra buruh migran yang sebelumnya telah beberapa kali digelar di Surabaya, Blitar, Jogjakarta, Wonosobo, Jember, bersama para penulis: Denok Rokhmatika, Etik Juwita, Maria Bo Niok, Winna Karni, Tania Roos.



Menjelang tengah malam yang dingin pada tanggal 10, Rini bertolak dari Cirebon ke Jogjakarta bersama ayah, ibu, dan putri tunggalnya, Wati Suhartini (11).

Siang harinya, saya datang dan segera bergabung dengan mereka yang sudah beristirahat bersama panitia: Maria Bo Niok yang kemudian jadi moderator acara dan Mr Gunkid. Bahkan cuci muka pun belum sempat, Maria sudah mengajak pergi ke Sekolah PRT (Pekerja Rumah Tangga) yang didirikan oleh Serikat Pekerja Rumah Tangga Jogjakarta. Bertemu para siswa dan aktivis SPRT itu sungguh menyenangkan.

Sore, kami berempat langsung menuju Toko Buku Togamas di Jl Gejayan, tempat diskusi dan peluncuran buku PNK. Lepas magrib salah seorang panitia yang ditugasi menjemput orangtua dan anak Rini datang di tempat acara.

Cuaca Jogjakarta sedang sangat bersahabat. Tamu berdatangan. Ada aktivis LSM, ada mahasiswa, ada penulis. Tak kepalang tanggung, pengarang trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari, dan pengamat sastra M Nurrahmat yang Kepala SMU 8 Jogjakarta diundang sebagai pembicara. Mereka pun sudah siap di tempat beberapa lama sebelum waktu yang ditentukan. Banyak pula rekan-rekan pers yang datang meliput. Ada dari Kompas, Gatra, Kedaulatan Rakyat, dan lain-lain, dan bahkan ada pula wartawan TVRI yang datang bersama jurukameranya. Penyair dan akademisi sastra Prof Dr Rachmat Djoko Pradopo pun hadir dan memberikan ucapan selamat secara khusus kepada Rini.

Para anggota SPRT Jogja, seorang di antara mereka didapuk membacakan salah satu cerpen karya Tarini dan seorang yang lain lagi membacakan puisi karya mereka sendiri, telah siap jauh waktu.
Acara berjalan lancar dan menarik. Semua komentar bernada dukungan dan menyemangati Rini. Setelah memberikan beberapa catatan, bahkan, M. Nurrahmat mengatakan, ’’Saya acungkan dua jempol untuk Mbak Rini!’’

Pesan Ahmad Tohari buat Rini, lebih-kurang begini, ’’Mbak Rini, salah satu kunci sukses seorang penulis itu ialah jangan pernah merasa jadi atau mencapai puncak sebagai penulis. Sebab, begitu perasaan itu timbul, tamatlah riwayat kita!’’

Tanggal 13 Februai, malam, Rini sudah berada di Surabaya, tepatnya di Gedung Cak Durasim, Kompleks Taman Budaya Jawa Timur, Jl Gentengkali 85 Surabaya dalam acara yang sama, diskusi dan pembacaan cerpennya. Didapuk sebagai pembahas adalah sastrawan Beni Setia (Madiun) dan Dra Emy Susanti, Msi, Ketua Pusat Studi Wanita Universitas Airlangga.

Acara yang juga dimeriahkan dengan kedatangan ratusan siswa SMU Trimurti Surabaya bersama guru bahasa Indonesia mereka, Ibu Ndari, diawali sambutan Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur, Dr. Setya Yuwana Sudikan, dan Kepala Taman Budaya Jawa Timur, Drs. Pribadi Agus Santosa, Msi.

Kata Beni, mengambil salah satu cerpen Rini sebagai acuan, Rini adalah tipe pekerja rumah tangga yang benar-benar profesional, bahkan telah memiliki kuatan yang bisa dibilang luar biasa yang memungkinkan ia berani dan bisa jothakan alias diam-diaman dengan Sang Majikan. ’’Lihatlah ini,’’ kata Beni sambil menunjuk sebuah gambar di dalam buku Penari Naga Kecil, ’’Rini bisa diam-diaman dengan majikannya, dan hanya berkomunikasi dengan tulisan pada secarik kertas!’’

Sementara itu, Emy menilai bahwa Rini bisa menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan di antara kita tidak perlu menibulkan masalah. ’’Rini bisa bersahabat dengan orang-orang dari negara mana saja tanpa masalah, seperti terlihat pada cerpennya Ular Putih, Ular Coklat, Ular Hitam!’’

Ada yang jauh lebih menarik daripada cerpen-cerpen Rini di dalam bukunya itu, yakni cerita tentang pengalaman Rini dengan Terminal III Bandara Soekarno-Hatta – kemudian Rini bertutur mengenai kejengkelannya saat harus mampir di Terminal Tiga. [b]