Saat Stasiun TV Membaca Inul

Oleh Beni Setia

Kalau kita mencermati media massa saat ini, maka yang tersisa dari riuh-rendah polemik fenomena Inul Daratista adalah dua hal. Pertama: Inul itu merupakan fenomena kesenian di level grass-root, karena itu keberhasilan Inul merupakan bukti eksistensial kesenian grass-root. Sekaligus bukti spirit untuk survive yang tidak lekang oleh tantangan, dan bagaimana dinamisnya upaya aktualisasi kesenian tersebut dengan semangat grass-root -- yang mengabaikan estetika dan tatanan kesenian kaum high-class.



Kedua, keberhasilan Inul merupakan torehan perjuangan panjang, dan karenanya fenomena Inul identik dengan upaya keras dari kaum papa tidak bermodal yang selalu sendirian di tengah tantangan dan orang-orang yang mengabaikan.

Darinya kita menemukan dua hal. Ihwal pertama merujuk ke konteks kesenian, dan ihwal kedua merujuk ke eksistensi seniman. Di mana si seniman menghadirkan dirinya di dalam konteks kesenian, dan diakui sebagai fenomena yang terkadang dijulangkan di luar konteks.

Inul tak lagi berkaitan dengan seni, Inul dipertimbangkan untuk ditarik ke zona politik, di dalam kapasitas sebagai si pengumpul massa -- yang menjelang 4 April 2004 mereka menjadi si anonim yang bisa dipengaruhi untuk memilih si A atau si Z sebagai wakil rakyat atau presiden. Padahal Inul cuma fenomena seniman, yang mengaktualisasi dalam konteks seni -- bahkan seni kitsch dangdut hiburan live, yang tentu berbeda dengan seni kitch dangdut industri rekaman.

Bahkan bukan seniman yang melakukan terobosan mendasar seperti Rhoma Irama, Reynold Panggabean, atau Jeffri Bulle, tapi cuma penyanyi dangdut. Seorang penghibur yang bernyanyi dan memanfaatkan panggung untuk berolah tubuh agar mata setiap penonton tertuju dan fokus padanya.

Dalam basket itu adalah upaya mejeng, showtime, sehingga tercipta momen hiburan di panggung hiburan rakyat. Tapi showtime itu -- semacam slumdunk itu -- bukan porsi utama, karena setiap pemain basket profesional dibayar bukan untuk mejeng tapi untuk membentuk tim yang selalu menang melawan siapa saja.

Panggung musik dangdut membutuhkan semacam showtime, yang di basket mungkin bernama slumdunk, dan di dangdut live bernama ngebor, tapi (industri) musik dangdut rekaman lebih membutuhkan pencipta lagu yang bisa menghasilkan lagu bagus, aransemen yang jempolan, dan penyanyi yang memiliki suara khas dan hoki besar. Bila tidak diperoleh unsur pendukung macam itu maka industri musik dangdut rekaman akan menunggu, dan melempar produk konservatif memanfaatkan penyanyi yang sudah terkenal dan punya penggemar.

Sekaligus mengabaikan pencipta lagu biasa, lagu kacangan, aransemen mediocre, dan penyanyi baru yang tak potensial dan dianggap tidak punya hoki. Dan sumbangan Inul -- meski namanya menjulang kontroversial -- pada industri musik dangdut rekaman masih kecil. Ia hanya dikontrak untuk melantunkan sebuah singel cover version, yang malangnya sangat identik dengan seorang penyanyi yang sedang ada di puncak kejayaan dengan lagu tersebut -- baca: Alam dan lagu Mbah Dukun --, dan karenanya tidak meledak, meski didukung promosi kontroversial. Ia tak bisa menjadi icon pembaruan musik dangdut seperti yang diperlihatkan oleh Rhoma Irama atau Camelia Malik -- meski yang seharusnya dicatat adalah Reynold Panggabean-nya.

Dan ia juga tidak bisa dianggap icon penyanyi dangdut yang khas seperti Elvie Sukaesih, Iis Dahlia, Evie Tamala, atau Kristina. Inul Daratista cuma penyanyi dangdut panggung yang atraktif.

Kenapa? Karena Inul bukan penyanyi yang memiliki lagu yang dipopulerkan radio dan TV -- yang merupakan cara promosi industri musik rekaman -- dan karenanya tampil di panggung live langsung, atau tak langsung lewat TV, dengan kesadaran memproyeksikan eksistensi lagu sambil sedikit ber-showtime. Tidak ada itu! Inul adalah showtime itu sendiri. Inul adalah ngebor itu sendiri.

Jadi fenomena Inul adalah sukses sebuah pemretalan -- hingga bagian mengatasi keutuhan dan keseluruhan, variasi mengatasi totalitas. Di dalam konstelasi macam itu, maka yang kemudian tampak menonjol adalah semangat. Semacam percaya diri yang berlebihan, sebuah manifestasi over estimate yang mencengangkan, dan karenanya memaksa semua orang untuk melirik. Mengejutkan -- karena kita seperti melihat penampilan seorang fanatik, yang mempercayai satu hal dan mempersetankan yang lain.

Lantas beberapa dari kita menandai dan menafsirkannya sebagai yang khas seni dan seniman grass-root. Sebuah fenomena yang ditunggu-tunggu dan harus digarisbawahi ketika kita mendadak menemukan serta suntuk dengan kaca mata baca (apresiasi) baru, yang bernama postmodernisme dan cultural studies. Di mana dominasi dan hegemoni, yang dilakukan secara terang atau tersembunyi oleh pihak yang diuntungkan oleh struktur sosial karena memiliki kuasa dan kapital, ditolak dan ditentang.

Di sini Inul tidak dibaca sebagai sebuah fenomena showtime seorang seniman dangdut di level dangdut panggung hiburan rakyat, tapi sebuah fenomena upaya untuk survive dan mengaktualisasi diri seorang seniman grass-root, dan utamanya fenomena seni dangdut panggung hiburan rakyat yang dikepnggirkan oleh kelompok elit yang memiliki cita rasa tinggi akibat latah snob mengempati kuasa dan kapital mereka.

Dan Inul, lebih tepatnya ngebor Inul, sebagai bagian dari showtime dangdut panggung hiburan, dianggap cara untuk menyelonong hadir minta ditandai, dan sekaligus melawan dominasi dan hegemoni kuasa dan kapital dari elit yang diuntungkan secara struktural. Dianggap cara dan manifestasi (untuk) melawan kaum priyayi, santri, birokrat, dan politikus -- kecuali yang buru-buru memanipulasinya, merangkul Inul untuk kepentingan mereka sendiri.

Dengan kata lain, di titik ini, ada rekayasa untuk membesar-besarkan fenomena Inul, sebagai wacana untuk melawan kemapanan.

Celakanya, bukan Inul sendiri yang melakukan perlawanan itu. Tapi justru para pengamat yang memproyeksikan wawasan dan pengetahuannya, sehingga mereka bisa menghujat orang mapan dan mengguncangkan kemapanan. Lain misalnya dengan Madonna, yang mengeksploitasi tubuhnya, sesuai keinginan lelaki, dan karenanya ia memanfaatkan tubuhnya sebagai alat untuk mengeksploitasi lelaki, sehingga ia menjadi subyek dan para lelaki menjadi obyek sehingga terbentuk tatanan jender baru -- di mana, pada periode matangnya Madona merekam lagu-lagu yang bagus.

Dan persetujuannya untuk memerankan Evita Peron, dalam film Evita yang berasal dari drama musik Evita, mungkin didasari oleh kesamaan teks biografi di antara keduanya. Seorang Evita yang memanfaatkan tubuh untuk menguasai lelaki (Juan Peron) dan kemudian negara, dan dari penguasaan itu ia berbuat untuk mensejahterakan rakyat dengan semacam pemerintahan pro-rakyat -- meski diborehi kecenderungan.

Inul tidak melakukan hal itu, bahkan mungkin tidak terpikir untuk melakukan tindakan ambisius semacam itu. Ia hanya ingin punya penghasilan, membangun rumah dan warung untuk ibunya, dan karenanya memiliki masa tua yang tenang dan mapan.

Cocok dengan kesadaran yang menyatakan ia siap untuk naik dan siap untuk jatuh tak dikenal siapa pun. Cocok dengan fakta ia heran akan respon antipati banyak orang pada fenomena showtime-nya, yang cuma ngebor, padahal setiap penyanyi dangdut di panggung hiburan rakyat cenderung ber-showtime dengan kostum dan eksploitasi tubuh. Memang. Dan mungkin ia cuma menikmati ditonton, diperhatikan, dan tidak pernah tiba pada kesadaran bahwa ada pemujaan dari sekelompok massa, dan bagaimana cara untuk mengeksploitasi minat massa yang berlebihan itu dengan menyodorkan eksplorasi estetika, ekspresi, dan kemungkinan vokal dengan menginventarisasi lagu-lagu fenomenal.

Kenapa begitu? Karena Inul memegang kunci pasar -- punya fans yang mengaku sebagai Fans Berat Inul (FBI) --, dan karenanya bisa mendikte produser rekaman yang tergiur oleh potensi pasar, yang siap untuk investasi begitu tercium bau amis potensi besar.

Tapi tidak ada kemungkinan itu. Yang ada adalah upaya memindahkan panggung hiburan rakyat, di mana setiap penyanyi panggung hiburan rakyat terbiasa untuk ber-showtime dengan ngebor, atau melakukan eksploitasi tubuh dengan kostum seronok. Mula-mula dilakukan oleh perekaman VCD bajakan, yang mendistribusikan rekaman showtime sembarang penyanyi dangdut di panggung hiburan rakyat -- yang melejitkan Inul secara kontroversial, karena suasana vulgar khas tingkat grass-root bisa ekspansif ke ruang keluarga kelas menengah yang biasa dengan tatanan dan sistem nilai kaum high-class. Malahan suasana yang asalnya di masa lalu itu diaktualisasi oleh TV dengan tayangan live dari Inul.

Di titik ini terasa ada semacam reduksi sistim nilai high-classer dengan menjemba pentas hiburan panggung rakyat -- tampilan yang di dalam beberapa tahun sebelumnya dihindari dan dianggap melukai cita rasa kesusilaan dari pihak-pihak yang mapan, yang diproyeksikan ke dalam semacam self sencorship susila.

Dan ini, dalam beberapa segi, merupakan pertanda apa? Kebutuhan pada masa penonton? Kegoyahan akibat iklan semakin minim karena persaingan di antar stasion TV? Atau, memang ada pembalikan selera budaya -- seperti yang diisyaratkan postmodernisme dan cultural studies -- sehingga segala sesuatu yang terpinggirkan mulai dilirik dan ditampilkan setelah diberi kemasan baru? Atau…[]


Suara Karya Minggu, 30 Maret 2003

0 tanggapan: