Mencari Jejak Napas Sang Peluru

Judul: Aku Ingin Jadi Peluru,
Penulis: Wiji Thukul,
Penerbit: Indonesia Tera, Magelang, 2000,
Tebal Buku: xx + 174 hlm.

WIJI Thukul, namanya tidak sebesar salah satu bait puisinya: maka hanya ada satu kata, lawan! (puisi Peringatan 1986) yang semasa Orde Baru menjadi sebuah kata perlawanan. Hampir semua kelompok oposan sepanjang Orde Baru menggunakan kalimat pendek itu sebagai tekadnya demi sebuah perubahan.



Lahir dari bagian mereka yang terdepak oleh arus alienasi sistem bernegara yang otoriter, sosok aktivis dan seniman rakyat seperti Wiji Thukul memang bisa dengan tepat menggambarkan keterwakilan kelas sosialnya. Thukul sendiri menganggap bahwa segala bentuk kemiskinan itu bukanlah semata-mata "hadiah" dan ujian dari Tuhan, akan tetapi merupakan hak, peluang dan kesempatan yang lenyap dilibas oleh kekuasaan politik dan modal.

Aku Ingin Jadi Peluru menghimpun hampir seluruh puisi Wiji Thukul dari tukang becak, penjaga bioskop, pengamen asal Solo, sampai sejak mula kepenyairannya hingga ia raib lebih setahun silam. Membaca puisinya tersebut, menurut Arie Budiman, adalah membaca otobiografi kejiwaan si penyair. Dia menceritakan pengalamannya, namun sekaligus juga nasib jutaan rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh proses pembangunan.

Bukan hanya itu, ia bahkan sebenarnya juga menceritakan kehidupan ratusan juta orang-orang miskin yang berserakan di banyak pelosok dunia. Pada titik inilah puisi Thukul menjadi universal, karena penderitaan dan dehumanisasi, karena dalam kenyataannya proyek pembangunan merupakan pengalaman global yang pahit menimpa banyak penduduk dunia saat ini.

Puisi, bagi Thukul dalam pembuka, memang merupakan suara penyair yang berjiwa bebas dan aktif. Puisi-puisinya adalah suara parau lingkungannya yang berlawanan lurus dengan alun tenteram pembangunan kota yang dikhotbahkan. Puisi-puisinya adalah ekspresi dari kebebasan dan keaktifannya mempertanyakan "kenyataan" dan "kebenaran".

[]

BUKU kumpulan puisi ini terbagi dalam lima sub-bagian. Bagian pertama bertajuk Lingkungan Kita Si Mulut Besar yang menghimpun 49 puisi. Puisi-puisi di bagian ini banyak mengkritik retorika pejabat, janji partai, dan berjaraknya antara pernyataan dan kenyataan program pembangunan.

Ambil contoh salah satu bait puisi "Aku Lebih Suka Dagelan" di halaman 29: di radio aku mendengar berita-berita/tapi aku jadi muak karena isinya/kebohongan yang mengatakan kenyataan...

Bagian kedua, Ketika Rakyat Pergi, menghimpun 17 puisi. Pada bagian ini puisi-puisinya banyak mengangkat tema perlawanan para aktivis gerakan masa itu. Salah satunya Peringatan (hal 61), seperti dikutip di atas, yang sangat terkenal.
Ataupun puisinya yang lain Tentang Sebuah Gerakan (hal 122), di antara baitnya berbunyi: aku berpikir tentang gerakan/tapi mana mungkin/kalau diam? Bait ini menegaskan kredo Thukul, yang tidak cukup puas dengan hanya berpikir, menulis, dan berbicara. Ia bertekad harus "beraksi". Maka, ia pun terjun langsung menjadi aktivis.

Bagian ketiga dan keempat, masing-masing bertajuk Darman menghimpun 16 puisi dan Pelo menghimpun 28 puisi. Kedua bagian puisi ini banyak berbicara tentang kesenjangan sosial ekonomi, korupsi, keserakahan manusia, penggusuran kaum miskin kota dan tindakan semena-mena yang dilakukan pemerintahan masa itu.

Sedangkan bagian kelima yang bertajuk Baju Loak Sobek Pundaknya merupakan puisi Wiji Thukul yang ditulis dalam masa pelariannya (sejak 1 Agustus 1996), setelah ia terjun menjadi aktivis dan terlibat banyak dalam demonstrasi petani, buruh, dan mahasiswa.

Sebagai penyair, Thukul juga sering diundang dalam acara pembacaan puisi. Namun yang paling sering dia tampil membacakan puisi-puisinya di sela-sela demonstrasi petani, buruh, mahasiswa dan lainnya. Bahkan puisi Thukul dalam buku ini, seperti Puisi Darman, Pelo dan lain-lain sebelumnya pernah diterbitkan oleh Taman Budaya Surakarta (TBS).

Selain itu, sebelumnya beberapa puisi ini juga telah tersebar di media massa dalam dan luar negeri seperti: Suara Pembaharuan, Bernas, Suara Merdeka, Surabaya Post, Inside Indonesia (Australia), Tanah Air (Belanda), dan lain-lain.

[]

PUISI-puisi sosial Thukul sangat mudah dipahami, terutama karena gaya bahasa lugas dan sederhana yang digunakannya. Penggunaan bahasa yang sangat kental dan kepolosan serta kejujurannya itulah mungkin yang menjadi kekuatan puisinya, yang terkait langsung dengan lingkungan sekitarnya.

Dengan gayanya itu, kita dapat merasakan emosi si penyair saat marah, senang, atau berduka. Kita seakan-akan masuk ke dalam dunia kita sendiri.

Dia mengajak kita untuk merenungkan dan mempertanyakan kesenjangan sosial, ketidakadilan, ketidakpahaman kita akan sebuah kebijakan, kekerasan, protes kepada penguasa, dan juga tentang "cinta".

Di tengah-tengah kemiskinan dan kekerasan struktural, Thukul terus memelihara cintanya dengan istri, anak, orangtua, dan lingkungan sekitarnya. Simak bait puisi Ibu (hal 11) berikut ini, ibu akan marah besar/bila kami merebut jatah makan/yang bukan hak kami/ ibuku memberi pelajaran keadilan/dengan kasih sayang/ketabahan ibuku/mengubah rasa sayur murah/jadi sedap...

Thukul-yang meletakkan fungsi kritikus sastra pada urutan keempat dalam kredo kepenyairannya-memang berkeinginan agar apa yang ditulisnya dapat dinikmati oleh teman-teman di sekitar kampungnya. Dia ingin apa yang dibacakannya dan dirasakannya juga dirasakan oleh teman-teman dan tetangganya.

Dia hanya ingin jadi penyair lokal di kampung Jagalan Tengah, Solo, ketimbang dipuji oleh para kritikus sastra di kota metropolitan Jakarta atau di fakultas-fakultas sastra mancanegara.

Dengan puisi-puisinya yang "keras" dan keterlibatannya dalam berbagai aktivitas protes, Thukul beberapa kali ditangkap dan dipukuli oleh petugas. Tetapi, setelah lepas ia tidak jera dan kembali dengan aktivitas seni dan politiknya. Aku pasti pulang dan pasti pergi lagi/karena hak/telah dikoyak-koyak (Puisi "Catatan" hal 135).

Kini Wiji Thukul masih hilang, tak ketahuan rimbanya. Hilangnya Wiji, beriring dengan hilangnya banyak aktivis menjelang jatuhnya rezim Orba kemarin, diyakini berkait dengan puisi-puisi dan aktivitasnya selama ini.

Sampai kini, kita tidak tahu apakah Thukul akan kembali. Yang pasti, jika ia kembali, ia pasti akan pergi lagi untuk apa yang ia sebut sebagai hak yang telah dikoyak-koyak itu.

Ia seperti telah meramalkan bahwa ia pasti akan "pergi" dan memang berjanji akan pulang. Tetapi, dengan lirih ia juga minta kita untuk tidak menunggunya. Aku pasti pulang/mungkin tengah malam dini/mungkin subuh hari/pasti/dan mungkin/tapi jangan/kau tunggu (puisi Catatan hal 134).

Kehadiran kumpulan puisi ini dimaksudkan untuk mengenang dan melepas kerinduan kita kepada Wiji Thukul yang gagah berani itu. Sepanjang hak terus dikoyak-koyak, Thukul tetap "hadir" dengan gema protes dan teriakkannya ini. Dan Wiji Thukul tetap akan dikenang siapa pun. []


(Jati Akbar HS, mahasiswa Fisipol Ilmu Komunikasi UMY, Yogyakarta)


Kompas, Minggu, 3 September 2000

0 tanggapan: