Usaha BMI Hongkong Mencerdaskan Masyarakat Desanya


Muntamah Sekar Cendani

Taman Bacaan “Pondok Maos Cendani” di Desa Cendono, Kandat, Kabupaten Kediri


Buku adalah jendela dunia. Metafora ini sangat po¬puler karena sangat pas menggambarkan pen¬ting¬nya buku dalam kehidupan kita. Buku dapat membuat kita tak seperti katak dalam tempurung. Bahkan, lewat buku, wawasan seseorang menjadi luas tanpa harus keliling dunia.


SAYANGNYA, selama ini ma¬sya¬ra¬¬kat Desa Cendono, Kecamatan Kan¬dat, Kabupaten Kediri, Jawa Ti¬mur, termasuk sulit untuk menda¬pat-kan buku-buku, apalagi buku yang ber¬mutu, karena di desa tersebut be-lum ada perpustakaan umum sehingga kebutuhan masyarakat akan buku kurang terpenuhi.

Kondisi desanya itu membuat Muntamah, BMI Hongkong yang memang pecinta buku, membuka taman bacaan di rumahnya, yang diberi nama Pondok Maos Cendani (PMC). Secara resmi, PMC dibuka pada Kamis (12/1) malam lalu de¬ngan acara pembacaan Surat Yasin, pemotongan tumpeng, dan doa bersama. Selain dihadiri oleh warga sekitar, acara tersebut juga dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat.

PMC dibuka oleh Turmudi, tokoh masyarakat dan salah seorang perangkat Desa Cendono. Saat dibuka, koleksi PMC sudah mencapai 1.200-an. Terdiri dari aneka judul dan jenis buku, majalah, dan suratkabar. Koleksi sebanyak itu mayioritas adalah koleksi pribadi Muntamah sendiri, sebagian lagi merupakan sumbangan dari berbagai pihak yang concern terhadap pencerdasan dan pemberdayaan masyarakat.

Hadirnya taman bacaan tersebut disambut positif oleh masyarakat Cendono. Usai acara peresmian, warga yang terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, sampai anak-anak menyerbu buku-buku koleksi PMC, yang tertata rapi di rak. “Ma¬sya¬ra¬kat Cendono ini adalah masyarakat re¬li¬gius. Oleh karena itu, buku-bu¬ku keagamaan sangat diminati,” ujar Supriyadi, warga Cendono yang juga dosen Uniska, Kediri, ke¬pada Berita Indonesia usai peresmian PMC.

Buku anak-anak, seperti buku cerita dan buku pelajaran, juga sangat penting disediakan oleh PMC. Mengingat, di depan rumah peninggalan orangtua Muntamah tersebut, berdiri sebuah sekolah yang cukup mentereng, yakni Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Hal itu disampaikan oleh Agus Wahyudi, salah seorang guru di MI tersebut kepada Berita Indonesia. “Namun, setelah buku-buku bisa dipinjam secara gratis dari PMC, tinggal bagaimana kita kemudian meningkatkan minat baca di kalangan anak-anak sekolah ini maupun masyarakat umum,” ujar Agus Wahyudi.

Menurut guru MI tersebut, banyak yang minat bacanya masih perlu ditingkatkan. “Dan untuk meningkatkan minat baca itu sulit,” tambah Agus Wahyudi.

Namun, dengan upaya yang sungguh-sungguh, Agus Wahyudi optimis bahwa budaya membaca itu bisa dimasyarakatkan di Desa Cendono.

Belum 1 Bulan Sudah 600 Pengunjung


Saat ini, Muntamah masih di Hongkong. Kesehariannya, PMC dikelola oleh Khusnul Khotimah dan suaminya, Rokimi. Berbagai hal seputar PMC dibicarakan Khusnul dengan Muntamah lewat telepon.

Hingga Jumat (2/2), menurut Muntamah saat diwawancara Berita Indonesia via chat facebook, sudah ada 600 orang pengunjung PMC, padahal usia PMC belum satu bulan.

“Tambah rame, pengunjung mulai tambah. Anak kelas 1 sudah berani datang minjam buku, awalnya belum berani. Tetangga desa juga sudah mulai banyak yang datang dan pinjam,” ujar Muntamah yang bisa dihubungi di nomor HP 852 92027579.

Muntamah menjelaskan, PMC terus dikembangkan sambil jalan, termasuk penambahan sarana dan prasarana untuk lebih memberikan kemudahan dan menyamanan bagi para pengunjung PMC.

"Kemarin sdh dibelanjakan crayon/alat mewarnai gambar dan alat tulis, kertas hvs aku sdh ada, ke depan, para pengunjung akan kami tawari menggambar atau menuliskan puisi, nanti karya itu akan ditempel di PMC."

Yang agak membuat Muntamah saat ini kuwalahan adalah permintaan buku-buku dari para pengunjung karena di PMC belum tersedia. Permintaan terus mengalir, tetapi Muntamah tidak dapat menyediakan dengan segera karena keterbatasan finansial. Oleh karena itu, PMC juga membuka diri bagi siapa saja yang ingin menyumbangkan buku ke PMC demi kemajuan masyarakat. (ks)

Berita Indonesia, Edisi 126, Februari 2012

Nyonya, Izinkan Aku Pulang


YANI WIJAYA KUSUMA


Pengantar Redaksi: Agaknya karena maraknya pemakai situs jejaring sosial Facebook, membuat para blogger, termasuk dari kalangan BMI juga banyak meninggalkan blog yang sudah dibangunnya. Jarang dijenguk, jarang di-update, malahan ada yang ditinggalkan samasekali. Beberapa orang malah mengaku, ”Wadhuh, mau kuisi lagi, sudah lupa password-nya! Mau buat lagi masih malas. Beberapa di antaranya memang menunjukkan konistensi sebagai blogger sejati.

Dan ada pula yang malah baru giat-giatnya membangun blog-nya. Termasuk golongan terakahir itu, tampaknya, ialah Yany Wijaya Kusuma. Tulisan yang diambil dari blog-nya berikut ini, pernah dibacakan dan jadi topik pembicaraan mengenai ”rindu pulang” di sebuah stasiun radio di Semarang: Smart FM, dalam suasana hari lebaran beberapa waktu lalu.


Aku menengok jam dinding, ketika baru saja aku menyelesaikan pekerjaan terakhirku, mengepel lantai. Jam 10 malam, oh, sudah larut malam rupanya. Setelah benar-benar beres, bergegas aku menuju kamar untuk sejenak melepas penat. Saat berada di kamar sendirian, pikiranku mengembara pulang ke rumah. Serasa jiwaku ada di sana. Membayangkan betapa Ponorogo ramai dengan hiruk pikuknya manusia. Menjelang perayaan grebeg suro, Ponorogo selalu penuh sesak. Perayaan grebeg suro yang memang sudah menjadi tradisi dan berbagai ritual digelar di kota itu. Untuk tahun ini, konon katanya memakan biaya yang tidak sedikit. Ada yang bilang tentang kisaran biaya untuk perayaan grebeg suro kali ini yaitu 1,2 Milyar. Wow, angka yang fantastis menurutku. Ah, entahlah…toh bukan urusanku. Aku hanya kangen dengan kota kelahiranku itu dan keluargaku tentu saja.

Sungguh! aku ingin pulang saat ini. Begitu asyiknya aku dengan pengembaraanku, sampai aku tak menyadari kehadiran momonganku yang kecil. Aku terkejut saat dia tiba-tiba memelukku dan berkata,”Cece…kamu jangan pulang ya,” pintanya tanpa memandangku. Aku melirik bocah ini sekilas. Dengan wajah innocent-nya, dia mampu meluruhkan hatiku.

“Tapi aku ingin pulang untuk menengok keluargaku,” jawabku kemudian.

“Aku ga mau kamu tinggal, aku ingin kamu tetap di sini, mengantar jemput aku sekolah, bermain bersama dan selalu bersama,” ujarnya memohon.

Aku diam dan membiarkan dia bermain-main di ranjangku. Rasanya ada berton-ton beban di kepalaku. Antara rumah dan tanggung jawab pekerjaanku. Seandainya aku punya sayap, ah…aku selalu berandai-andai. Ku raih kotak ajaib dan menyalakannya. Beberapa menit kemudian, aku mulai tenggelam dengan duniaku sendiri.

Tiba-tiba sailo (momonganku) berteriak nyaring di sampingku,” mamiiiiiiii…….”

Tergopoh-gopoh nyonya menyerobot masuk ke kamarku yang pintunya tertutup separuh. Melongok kami berdua yang nangkring di ranjang. Aku asyik dengan kotak ajaibku dan sailo asyik dengan mainannya. Aku menoleh ke sailo lalu beralih ke nyonya yang berdiri dengan wajah penuh tanda tanya.

“Ada apa?” tanyanya sambil memandangi kami berdua bergantian.

“Mami, tolong bilang sama cece, jangan pulang sekarang,” jawab sailo.

Nyonya memandangku dan beranjak duduk di sampingku, lalu hati-hati dia berkata,”Yani, aku tau kamu sudah merindukan kampung halamanmu sana. Aku tahu betapa kamu merindukan putrimu dan aku tahu betapa sulitnya kamu memendam semua rasa rindu itu. Aku bisa merasakan dan aku mengerti.”

“Jadi aku boleh pulang?” sergapku penuh harap.

“Bukan aku tak mengizinkanmu pulang bertemu keluargamu, bukan pula aku tak percaya padamu, aku percaya kamu pasti kembali. Tetapi, mengertilah. Aku mohon padamu, aku masih belum bisa mengizinkanmu pulang dalam waktu dekat ini. Kamu lihat sendiri kan, suamiku baru saja pindah kerja ke Macau dan itu artinya kita, aku dan kamu harus menjaga rumah dan anak-anakku. Aku tak sanggup kamu tinggal sendiri. Bayangkan, aku akan kewalahan mengurus mereka berdua sementara aku sendiri juga harus bekerja. Aku mohon pengertianmu."

“Nyonya…aku ingin menengok anakku, aku ingin tahu keadaan rumahku sepeninggalan ibuku. Aku ingin tahu di mana makam ibuku. Kamu juga tahu saat aku mendapat kabar kepergian ibuku. Aku sangat kehilangan, terpuruk dan sampai pekerjaanku pun amburadul waktu itu. Betapa durhakanya aku kalau sampai saat ini aku belum tahu di mana makam ibuku. Saat beliau sakit pun aku tak bisa mendampinginya. Hingga ajal menjemputnya, aku tetap tak ada di sampingnya,” cerocosku tak tertahankan di antara isakku.

“Yani, aku tahu apa yang kamu rasakan, tapi apa boleh buat? Aku tahu ibumu adalah spirit hidupmu. Beliaulah yang selalu menyemangatimu tiada henti, iya kan? Aku bisa merasakan semua itu, karena aku juga pernah kehilangan ibu. Sebenarnya aku pun tak ingin melakukan ini padamu. Aku sangat bersedih tak bisa mengizinkanmu pulang. Percayalah kami semua sayang padamu dan keluargamu. Kami berdoa untuk kebaikan dan kesehatan keluargamu di kampung halaman sana. Bila saatnya tiba nanti, puaskanlah bercengkerama dengan mereka. Tapi sekali lagi aku mohon maaf, aku tak bisa mengizinkanmu dalam waktu dekat ini,” nyonya masih saja berusaha membujukku.

“Nyonya, aku pulang hanya sebentar, hanya satu bulan. Dan itu tak sebanding jika aku harus meninggalkan keluargaku selama 2 tahun. Selama ini aku selalu berusaha mengabulkan permintaanmu dan menuruti semua keinginanmu bukan semata demi uang, tapi karena tanggung jawab pekerjaan yang kau bebankan padaku. Dan kini aku punya satu keinginan. Please...izinkan aku pulang.”

Nyonya mendesah berat, aku tahu dia pun bingung. Antara iya dan tidak. Kami tenggelam dengan perasaan masing-masing. Sementara momonganku tetap dalam pangkuanku dan memelukku dengan erat. Seakan tak mau berpisah denganku. Setelah terdiam beberapa saat, nyonya meraih sailo dari pangkuanku dan beranjak keluar. Sebelum benar-benar menutup pintu nyonya kembali berkata,” Sudahlah, malam telah larut. Kamu mandi dan istirahat. Jangan terlalu banyak pikiran dulu. Kita bicarakan lagi lain kali. Ok?”

Sepeninggalan nyonya, aku pun termenung sendiri di kamar. Dan rasa rindu akan kampung halamanku, kian membuat sesak nafasku. Kalau sudah begitu, apa yang bisa aku lakukan selain meneteskan air mata. Dan ini konsekuensi yang harus aku terima. Untuk pulang ke rumah sendiri saja begitu sulitnya. Oh Tuhan, aku ingin pulang, meski hanya sejenak....*


Fanling, 26 November 2011

E-mail oh E-mail


Oleh: Anazkia

Ibu majikanku, sudah sepuh, umurnya sudah memasuki enam puluh tahun lebih. Jadi nggak heran, kalau faktor U kadang menghambat ruang gerak berpikir Ibu. Meskipun begitu, Ibu masihlah Ibu majikanku yang aktifnya luar biasahttp://www.blogger.com/img/blank.gif di luar sana. Karena keaktifannyalah, Ibu banyak bertemu dengan orang-orang generasi sekarang, yang melek akan dunia tekhnologi. Setiap ada pertemuan, ada perbincangan ketika bertukar kartu nama, sering relasinya bertanya, "Datin ada e-mail tak?"


Kadang, Ibu pulangnya sering mengadu denganku. Setelah itu, barulah Ibu memintaku mengajari menggunakan e-mail. Lantas, membuatlah aku acount e-mail untuk Ibu. Seingatku, e-mail Ibu pertama kali adalah, rusmiatiharun@yahoo.com. Saat membuat e-mail tersebut, ketika menuliskan password, Ibu memintaku untuk tidak melihatnya. Aku manut, nurut tanpa mengetahui apa password Ibu.

Selesai membuat e-mail, pelajaran pertama adalah mengajarkan Ibu, bagaimana caranya hendak mengoperasikan e-mail. Dari sejak membuka internet, mengklik browser, log in dan cara mengirim surat elektronik tersebut. Tak hanya lisan, aku juga menuliskannya dalam bentuk tulisan. Ibupun menyimpannya...

Saat kutanya, "Bu, kenapa nggak minta ajarin anak-anaknya aja?"

“Ibu lebih suka belajar dengan kamu.” Jawab Ibu

Hari berlalu, waktu berganti. Sesekali Ibu membuka e-mail-nya, juga kadang menggunakan fasilitas e-mail untuk mengirim artikel Ibu yang diminta oleh salah satu majalah religi di Malaysia. Tapi, Ibu masih belum mudheng-mudheng. Masih cenunukan sendiri, keder. Sampai suatu ketika, sewaktu membuka e-mail Ibu nanya password-nya kepadaku. Halah, wong sewaktu nulis password aku ndak lihat, yah mana aku tahu...??? Yang sampai akhirnya, password tidak ditemukan dan terbuang percuma e-mail tersebut...

Tapi Ibu pantang menyerah, beliau, lagi-lagi minta dibuatkan e-mail. Kali ini, aku memaksa biar aku tahu passwodnya. Kembali seperti semula, mengajari Ibu dari awal, membuka browser internet, log in dan bagaimana caranya mengirimkan surat elektronik kepada rekannya. Tak hanya e-mail, kita (aku, anaknya dan keponakannya) membuatkan Ibu blog. Sayangnya, kadang Ibu hangat-hangat tahi ayam, yang akhirnya terbengkalai begitu saja blognya.

Kembali ke e-mail. Aku membuatkan e-mail ke dua Ibu sudah lama, mungkin sekitar setahun lalu. Yang saat itu aku juga membuatkan akun facebook untuk Ibu. Yang lagi-lagi, terbengkalai dan tidak pernah digunakan oleh Ibu.

Sejak saya tinggal dengan anak Ibu, saya sudah tak lagi mengajari Ibu mengoperasikan internet dan tak lagi berurusan dnegan e-mail-e-mail Ibu. Entah apa kabarnya.

Suatu hari sewaktu aku sibuk-sibuk di dapur di rumah anaknya, Ibu menelpon. Entah ujung pangkalnya apa, tapi aku nyambungnya Ibu kirim e-mail ke aku. Selesai masak, aku masuk kamar, melihat hape, ada SMS dari Ibu, "Ibu ada imelkan? Cam ne ye?" Bingung... Buru-buru membuka lapi, ternyata nggak ada e-mail untuk aku dari Ibu.

Setelah makan siang, kami (aku, Kak Sham, Bang Haiyan, Arief beserta Nabila) menuju rumah Ibu. Sampai di rumah Ibu, aku langsung nanya,

"Ibu, e-mail apaan, sih?"

"E-mail Ibu, masih ingat lagi tak?"

Weks, aku nyengir sendiri. Ibu ini lho, dibuatin e-mail sejak tahun jebot kok yah ndak nyangkut-nyangkut. Kebetulan aku membawa laptop. Tapi, saat masuk ke kamar Nani anak bungsunya, dia lagi online. Aku menyuruhnya membuka yahoo, dan log in e-mail Ibu. Aku mengingat-ingat e-mail-nya. Pertama mencoba, salah. Tapi password-nya aku masih mengingat jelas. Percobaan yang ke dua, alhamdulilah berhasil. Kali ini, e-mail Ibu selamat hehehe...

Sorenya, saat aku sedang posting untuk blogspot, Ibu mencari-cariku. Menanyakan nasib e-mail-nya. Iseng, aku bertanya dengan Ibu.

"Ibu masih ingat tak, password-nya?"

"Mana Ibu tahu." Ibu mengedikan bahu. Aku ngekek... Kutulislah di atas buku, alamat e-mail, juga password-nya. Ibu tersenyum...

"Owh, ini ke?" Tanya ibu lagi sambil tersenyum.

Akhirnya, saat itu juga aku kembali mengajarkan Ibu, bagaimana cara membuka internet, menuliskan yahoo, log in juga mengantar e-mail... Tiba-tiba Bang Haiyan nyeletuk,

"Dari dulu belajar itu aje." *

Catatan:
--Dimuat di Majalah Peduli (Rubrik: “Aku dan Majikanku”) edisi Januari 2012

Nasib Pembantu

@Anna Nirwana

Hari Minggu adalah hari liburku.
Pagi-pagi berdandan yang ayu.
Janji berjumpa dengan teman karibku.
Di Victoria tempat yang teduh.
Kuhampar plastik sbagai alas dudukku
menunggu sambil termangu-mangu.
Janji jam tujuh telah lama berlalu
yang ditunggu kok nggak miscall aku,

reff:
sungguh terlaluu..
Kau terlalu
kau buat aku lama menunggu
o..o..terlalu kau terlalu
kau buat aku menjadi pilu
senduu..

Akhirnya kupulang dengan langkah lesu
wajah ayu kuberubah sayu.
Ternyata dia tak bisa jumpa aku
hari liburnya diganti Sabtu,
nasib pembantu


*persembahanku utkmu kawan's BMI. Jangan dongkol lagi ya..?! Selalu optimis!

PONIRAN

Linda Setiorini

Matahari sudah di ubun-ubun saat Dina sampai di Causeway Bay. Meskipun harus berpacu langkah dengan orang-orang yang lalu lalang, bibir Dina terus senyum. Bahkan, kadang cekikikan sendirian. Oh, tidak sendirian. Ia lagi asyik ngobrol dengan sang doi yang di Korea.

’’Udah ya say, ntar jam tiga ketemu,’’ dengan manja Dina pamitan.

’’Ketemu di mana?’’dari seberang sang kekasih menggoda.

’’Ah, kamu! Udah ah!’’ suara Dina dibikin genit seraya mengecup HP-nya sampai-sampai lipstiknya tertinggal di casingnya.

’’Kok jam segini baru datang Din?’’selalu itu yang ditanyakan Ida setiap kali ketemu, padahal entah sudah berapa kali Dina menjelaskan kepada semua temannya termasuk Ida bahwa sebelum dia keluar libur, mesti bersih-bersih rumah dulu, lalu menyiapkan sarapan, lalu membangunkan anak plus membantu mereka gosok gigi lalu mengantarkannya ke rumah bobo.

’’Ini ada lodeh kacang dan rebung kesukaanmu Din, pedes banget lho!’’ tawar Mbak Jum seraya menyodorkan piring plastik.

Hari ini Mbak Jum ulang tahun. Teman-teman seapartemen diundang sehingga suasana begitu akrab karena hampir tiap hari ketemu dan sudah saling mengenal. Dina geli saat menyaksikan Siti dan Rina duduk terpisah, padahal dulunya mereka berdua adalah sahabat akrab, setiap hari belanja bareng, libur bareng, pulang bareng, makan sepiring berdua, bahkan mulai dari sepatu sampai topi selalu kembar. Tapi, sekarang mereka ibarat air dan minyak. Rina berdiri sambil merapikan roknya, sudah jelas bahwa dia ingin meninggalkan tempat itu.

’’Mbak, aku pergi dulu ya, mau ketemu teman. Mmakasih lho atas undangan dan makanannya,’’pamit Rina basa-basi. Mbak Jum cuma tersenyum seraya mengangguk.

’’Nemuin temen ato.........?? Ida yang usil menggoda seraya melirik Siti. Mbak Jum menyodok Ida, sementara Siti pura-pura asyik membaca majalah. Dina tersenyum geli melihat tingkah mereka.

Musik dangdut mengalun merdu dari tape recorder-nya Yanti yang selalu dibawa setiap dia libur.

’’Kamu juga mau nemuin temen ya Sit?’’ledek Ida saat meliat Siti mengenakan sepatunya.

’’Nggak mau ke jisok kok,’’elak Siti.

’’Alah, paling-paling ntar baliknya di tempat chatting.’’

’’Itu kan urusan dia Da! Kamu tuh cerewet banget sih?’’ bentak Mbak Jum, sementara Ida cuma nyengir.

’’Siti sama Rina itu masih musuhan ya?’’ tanya Anik yang biasanya libur cuma sebulan dua kali.

’’Ya.......sejak Siti tahu bahwa Daniel itu adalah Poniran, lalu meledaklah perang itu,’’ jawab Ida antusias.

’’Ya ampun! Jadi mereka nggak bertegur sapa itu hanya gara-gara cowok ya?’’ tanya Gianti penasaran.

’’Ya iyalah! Tadinya sih nggak tau siapa yang Poniran duluan. Siti punya cowok namanya Jimmy, lalu Rina punya cowok namanya Daniel. Usut punya usut ternyata Jimmy ama Daniel itu satu orang, nama sesunguhnya Poniran,’’ dengan fasihnya Ida menjelaskan dan disambut tawa geli teman-teman yang ikut mendengarkan.

’’Trus gimana kok bisa ketahuan kalau cowok mereka sama?’’ tanya seseorang yang duduk disebelah tempat mereka, rupanya suara Ida yang bergema menarik perhatian dia.

’’Lho, mereka berdua dulunya kan sahabat akrab. Biasalah berbagi cerita tentang cowoknya, lalu saat Siti utak-atik HP-nya Rina dia melihat nomor HP Daniel sama dengan nomor HP Jimmy.’’

’’Trus Poniran itu siapa?’’ tanya seseorang yang juga ikut-ikutan nimbrung.

’’Ya Jimmy alias Daniel itu, biasa pakai nama samaran, masak mo ngomong Poniran… kan nggak keren?’’ jawab Ida.

’’Kok bisa ketahuan kalau ternyata dia adalah Poniran?’’ sambungnya.

’’Begini, tadinya kan Rina ngajak aku chatting, dia mau kasih tahu aku yang namanya Daniel, dan tak disangka tak diduga ternyata yang namanya Daniel alias Jimmy itu adalah Poniran tetanggaku di kampung,’’ kembali mereka tertawa mendengar cerita Ida.

’’Emang Poniran itu cakep ya Mbak?’’

’’Wow......... jangan di tanya, dia cowok macho men...! Di kampung jadi rebutan, di sekolah jadi idola, pacarnya banyak, tapi sayangnya dia buaya, hampir semua cewek sekampung digasak..."

’’Termasuk kamu kan?’’ potong Mbak Jum.

’’Ih ya nggaklah!’’ bantah Ida seraya memonyongkan bibirnya.

’’Trus Mbak............siapa tadi?’’ mereka makin penasaran dengan cerita Ida.

’’Siti dan Rina?’’ potong Ida.

’’Iya, gimana bisa kenal sama Poniran?’’

’’Ya ampun, ya lewat chattingan Non, emang nggak tahu jika mereka yang seneng chattingan itu sebenarnya orangnya yang asli belum lihat, tapi udah ngomong cintalah, sayanglah, malah manggilnya aja udah papa mama, padahal nggak tahunya di belakang mungkin dah beranak istri, atau duda, atau mungkin pacarnya seabrek tapi ngakunya masih ting-ting,’’ Ida berhenti sejenak untuk mengambil nafas sambil menelan ludah. ’’Kayak Poniran itu, memang sih masih single, cakep, dan banyak deh kelebihannya, tapi jika makan hati apa untungnya, tampangnya aja yang oke, tapi hatinya berbisa, mungkin saja selain Siti dan Rina dia juga menggombali sama cewek lain, tapi yang pasti nggak mungkinlah jika dia pake nama Poniran, makanya jika chattingan hati-hati, jangan mudah tergoda hanya karena tampang, siapa tahu nasib kita sama seperti Siti dan Rina, udah diduain persahabatan putus lagi, tapi ya.............. namanya juga cinta…’’

Dina mencibir mendengar penuturan Ida yang sok bijaksana, dari cara Ida bercerita, dan juga caranya memuji Poniran kayaknya Ida pun punya rasa suka sama Poniran, tapi pura-pura ngasih nasehat, huh dasar, emang Poniran itu kayak apa sih, dilihat dari namanya saja nggak ada yang istimewa, kampungan, pantesnya sih jadi pengembala sapi aja, ato tukang kebun juga boleh, tapi untung juga dia bisa lolos masuk Korea, batin Dina jengkel.

Jarum jam menunjukkan hampir pukul tiga sore,berarti Dina harus online untuk ketemu sama pujaan hatinya.

’’Mbak aku pergi dulu ya?’’ bisik Dina pada Mbak Jum.

’’Hati-hati ya,jangan lama-lama lo, ntar habis duit banyak, kamu mesti ngirit Din!’’ pesan Mbak Jum yang sudah paham ke mana Dina hendak pergi. Selama ini Dina memang paling dekat sama Mbak Jum.

’’Iya Mbak, nanti Mbak Jum tetap di sini kan?’’

’’Kalau nanti aku sudah nggak di sini kamu telepon saja.’’

’’Emang kamu mau ke mana Din?’’ tanya Ida.

’’E.............. ke Chandra kirim uang.’’ jawab Dina seraya berlalu. Yang namanya rahasia jangan sampai Ida tahu kalau tak ingin bocor kayak mulutnya yang ember itu. Dina berlari menerobos orang-orang yang memenuhi Taman Victoria, saat hendak naik lift disebuah building, Dina bertemu dengan Siti, sejenak Dina terpana melihat penampilan Siti yang telah berubah, tadinya Siti cuma pake kaos stret sama celana jeans, tapi sekarang dia memakai baju semacam kemben yang jika ditarik ke bawah kelihatan gunungnya dan jika ditarik ke atas kelihatan pusarnya. Perhisannya bergelantungan bak seorang artis dengan make up warna-warni. Siti benar-benar persis seperti bintang film, ah hanya demi Poniran aja sampai-sampai dia berpenampilan demikian, batin Dina.
’’Mau chattingan ya?’’ sapa Dina. Siti cuma mengangguk sambil tersenyum.

’’Sama, Poniran ya?’’ goda Dina yang membuat Siti tersipu-sipu.

’’Chattingan di mana Sit?’’ tanya Dina saat mereka telah masuk lift.

’’Di lantai 7,’’ jawab Siti.

’’Kebetulan aku juga mau ke sana, aku tadi udah pesen tempat,’’ ujar Dina.

Saat mereka tlah sampai di lantai 7, tempatnya masih penuh, sedangkan jam dinding menunjukkan pukul tiga kurang lima menit.

’’Sebentar ya Mbak, mereka bertiga hampir sign out kok,’’ ujar penjaga warnet begitu melihat Dina dan Siti datang. HP Dina bergetar, ada SMS masuk,’’Say aku dah on line lho, kapan kamu datang? Kangen nih!’’ begitu pesan dari Riyan, kekasih Dina di Korea.

’’Kamu disebelahku saja Din,’’ kata Siti saat tiga orang cewek meninggalkan meja komputernya, kebetulan tempatnya bersebelahan.

Dengan cekatan Dina segera membuka id dan password-nya, lalu masuklah beberapa pesan dari Riyan yang katanya tak sabar ingin segera melihat wajah cantiknya Dina.

Setelah saling mengirim came, Dina tersenyum menatap gambar Riyan yang kelihatan makin cakep saja dengan rambut yang dibiarkan panjang. Selain tampan, Riyan juga pandai merayu, kaya akan humor dan pintar bermain kata-kata, ditambah lagi suaranya yang merdu saat menyanyikan lagu-lagu Malaysia, sehingga Dina rela menghabiskan uangnya berdolar-dolar hanya untuk mendengarkan suara Riyan setiap malam.

Empat bulan sudah Dina menjalin cinta dengan Riyan lewat internet dan telepon, rupanya Dina sudah begitu percaya pada Riyan, sehingga Dina benar-benar mencintai Riyan setulus hati. Tak pernah sedikit pun ada keinginan di hati Dina untuk menghianati ataupun membohongi Riyan meskipun begitu banyak cowok yang menggoda dan mengharapkan cinta Dina.

Dina tersenyum-senyum setiap kali membaca tulisan yang dilemparkan Riyan dari seberang, sementara itu Siti terus cekikikan di sebelah Dina.

’’Busyet, katanya jangankan mobil, pengen pesawat aja dibeliin kalo ada yang jual, hi hi hi.....!’’ Dina cuma mencibir. Dasar rayuan gombalnya Poniran, batin Dina.

Karena Siti terus-terusan tertawa Dina jadi penasaran ingin melihat tampangnya Poniran.

’’Lho Sit, itu kan Riyan!’’ pekik Dina kaget saat karena melihat wajah Riyan ada di komputernya Siti.

’’Apa, ini lo Jimmy, eh maksudku Poniran,’’ jawab Siti tanpa menoleh.

’’Tapi aku juga lagi chattingan sama dia,’’ suara Dina gemetar menahan beribu perasaan. Kontan saja Siti langsung menatap Dina, lantas melihat ke komputer Dina.

’’Lho, kok kamu chattinga sama dia sih?!!!’’ kali ini Siti yang menghardik Dina seraya memelototkan mata.

’’Kamu sendiri ngapain juga chattingan sama dia?!!!’’ suara Dina tak kalah kerasnya karena juga emosi. Karuan saja mereka jadi perhatian orang-orang yang sedang berada di tempat itu.

’’Mbak, Mbak, kalau berantem jangan di sini ya, berisik nih, udah tempatnya sempit lagi…’’ tegur seseorang yang lagi chattingan di dekat mereka. Tentu saja muka Dina jadi memerah karena malu.

Dengan kasar Dina mematikan komputernya, dan setelah membayar sewa komputer tersebut, Dina segera berlari keluar melalui tangga. Hatinya hancur dan pilu, sumpah-serapah pun keluar dari bibirnya yang mungil. Namun jauh di dasar hatinya Dina tak dapat berbohong bahwa dia memang mencintai Riyan yang kini telah berubah menjadi Poniran. []

[Salam sayang buat seseorang di Korea, biarlah waktu yang akan menyatukan cinta kita].

--dari Peduli 13 dan 15

E N O K

Retnayu Ayu


’’You are the love of my life,
i knew it right from the start,
the moment i looked at you,
you found a place in my heart...’’


MP-3-ku terus mendayu-ndayu, meluruh-larutkan hatiku dalam sendu yang suntuk. Aku mendesah, lalu kutarik nafas beratku dalam-dalam, iringi resahku, mengenang kembali kisah beberapa tahun lalu.

’’Kak...’’ sapa manjanya menggelitik telingaku.

’’Hai...’’ balasku. Aku masih jalan pelan keluar dari toko itu. Ah, ia begitumemesonaku.

Enok. Nama sapaan yang sangat kusuka itu nyaris melupakan aku dari rangkaian huruf yang cukup panjang yang membentuk nama lengkapnya.

Aku telah melewati 36 musim di negeri ini, yang semula terasa aneh, dan makin lama makin aneh, yang anehnya: seiring dengan meningkatnya keanehannya meningkat pula ’oke’-nya.

Setiap hari aku mesti mondar-mandir menjalankan pekerjaanku. Berangkat pagi hari lalu pulang kembali ke apartementku menggiring senja. Ah, hidupku selalu saja begitu. Selalu di dalam irama yang tidak menentu. Kadang aku merasa sebegitu jemu. Terlebih, manakala rasa sepi menggerus lubuk hati.

’’Enoooook.......!’’ pekikku, ketika mendapati Enok di suatu sore yang indah setelah sekian lama ia menghilang sejak pertemuan kilat yang sangat indah itu. ’’Wah, Nok! Dari mana saja kamu, kok baru muncul?’’

’’Iya, Kak, aku baru saja ambil holiday!!’’ senyum manis membumbui kalimatnya.

’’Holiday ke mana Nok?’’

’’Ya, biasa Kak, ke Kota Buaya.’’

’’Apa kamu berasal dari Kota Buaya Nok?’’

’’Iya. Kalau Kakak dari mana?’’

’’Kota Apel.’’

’’Oooo....’’

’’Iya, Nok! Dingin...dingin empuk!’’

’’Ah, Kakak!’’

’’Ah!’’

’’AAAhhhh....!!’’

’’Oh...’’

’’Ehm....’’

’’Hahahahaha.......!!!’’

Bumi pun serasa bergetar saat tawa kami meledak bersama. Untung saja kepalaku tak meledak pula karena angan-angan yang menggelembung nyaris tak terkendali: mengangankan kedekatan yang sedemikian dekat dengan Enok! Tapi, apakah ini bukan pungguk merindukan bulan?
’’Kak...?’’
’’Oh, ya?’’
’’Kakak kapan pulang?’’
’’Gak tahu ya Nok. Kenapa emang?’’

’’Nggak kena apa-apa, hehe.....!’’ cengengesnya sambil membalikkan badannya. Seseorang telah menariknya keluar dari toko itu. Seseorang yang ingin kumaki.

Baru dua kali pertemuan kami. Waktunya pun singkat-singkat. Enok boleh pergi, ditarik orang lain atau atas kemauannya sendiri. Tetapi, ia kini serasa telah memenuhi seluruh diriku, seluruh jiwaku. Aku selalu mengangankannya ketika jaga, dan selalu memimpikannya jika tidur. Tidak ada lagi ruang di diriku ini bagi yang lain selain Enok. Tetapi, apa ya yang dirasakan Enok sendiri? Terlalu jauh jarak mesti ditempuh. Terlalu dalam jurang...! Bagaimana aku mesti mengabarkan keadaanku ini kepada Enok? Dengan meneriakkannya, atau membisikkannya? Atau menyerahkan semuanya kepada angin yang mendesau? O....!
Aku tak siap ditolak. Rasanya jauh lebih indah menikmati ini semua di dalam mimpi, daripada harus menghadapi kenyataan jika penolakan itu terjadi.

Kubiarkan kegersangan jiwa ini senantiasa melanda, karena aku sadar bahwa aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Kadang kularikan hati, sesekali kuhibur diri, dan ada pula saatnya mencoba menepis habis semua hasrat yang semakin kuat menjerat. Ah, mengapa bisa jadi begini! Mengapa?

Bila saja aku dapat gadaikan jiwa? Tapi, kepada siapa....? Pertanyaan-pertanyaan hampa terus mengulur, sampai tibilah di hari Minggu yang cerah itu. Kupercepat langkah kakiku, dengan tergesa kusongsong sosok bayang: Enok! Oh, ia sedang menungguku!

’’Kak....!’’

’’Met pagi manisku.....!’’ begitulah godaku, selalu. Dengan santai kami berdua akhirnya melangkahkan kaki memasuki ruang besar perpustakaan pusat, kebanggaan kota ini. Rasanya aku telah sampai di ujung mimpi, dan mendapati kenyataan yang ternyata begitu indah: kami duduk berdampingan di depan komputer. Dan mengalirlah huruf-huruf membentuk sebuah puisi buat Enok:

dirimu yang selalu penuhi lamunanku
membuatku suntuk dibekuk rindu
mengristal segenap kekagumanku
apakah cinta apakah kasih apakah sayang sedia
tak henti mengalir dan bermuara di kedalaman
samodra: hatiku-hatimu

Lalu kutekan ’send’ dan dalam hitungan detik sampailah puisi itu di layar komputer Enok. Seperti yang aku duga, sebuah cubitan diiring kata, ’’Dasar!’’ mendarat di lenganku. []

PROSES RUMIT PENULISAN NOVEL ‘XIE XIE’



Kalau bicara soal 'Proses Kepenulisan' jujur saja, saya sedikit minder, tapi bagaimanapun ini harus saya ungkapkan. Tiga tahun, sebagai penulis yang baru saja belajar menulis dan pekerjaan saya yang ‘rendah’ di mata awam, yaitu hanya sebagai seorang TKW di Hongkong yang tidak pernah mengenyam bangku kuliah, mewujudkan tulisan ini menjadi novel merupakan hal yang dulu menurut saya tidak mungkin.

Ketika saya mulai belajar menulis sejak 2006 dengan masuk di komunitas sastra FLP wilayah Hongkong dan banyak membaca novel-novel remaja karya penulis senior Leyla Imtichanah, akhirnya perlahan saya mencoba mengukir mimpi menjadi novelis. Awalnya sepele, saya nge-Fans dengan boyband Taiwan bernama Fahrenheit. Entahlah apa yang membuat saya begitu 'mencintai' salah satu personil Fahrenheit Aaron Yan yang akhirnya saya tempatkan sebagai salah satu tokoh utama dalam novel ini.

Ketika melihatnya bicara, tersenyum terasa greget saya semakin kuat untuk bisa dekat melalui halusinasi saya- kata teman-teman saya seperti orang gila. Lalu tercipta sebuah ide sederhana, kemudian saya mulai ‘riset’ tempat-tempat yang saya jadikan setting nyata dengan jalan-jalan, mulai belajar bahasa Kantonis lebih dalam, Mandarin, sedikit Jepang dan Korea untuk memberikan warna dalam novel ini.

Ternyata menulis bukan hal sederhana, saya harus membagi waktu. Sedangkan jam kerja saya bisa dibilang selalu overtime. Dari bangun pagi jam 05.00 sudah mulai mengurus anak-anak majikan dan seorang manula. Seluruh pekerjaan rumah tanpa kecuali harus selalu selesai sempurna sampai jam 12.00 malam bahkan kadang lebih. Saya baru bisa masuk kamar setelah semua anggota keluarga tidur, baru saya mandi dan istirahat. Artinya jam terbang menulis sekitar jam 1 sampai jam 2 atau lebih dini hari.

Awalnya saya sempat pesimis, ini tidak mungkin bisa saya lakukan. Tapi saya akali dengan waktu kerja (menjemput anak dadi sekolah, membawa nenek jalan-jalan, di kereta api, di dapur saat masak) saya membawa note kecil untuk menulis bagian-bagian ceritanya, ketika ide muncul, saya segera corat-coret. Malamnya baru saya tuangkan ke dalam laptop (itu saja terkadang sembunyi-sembunyi). Selama dua tahun berhasil menulis sekitar 125 halaman saja.

Lalu saya ikutkan novel saya diajang sayembara novel nasional yang diadakan Penerbit Pro-u Media Jogjakarta. Dari 120 lebih peserta, alhamdulillah bisa masuk 30 besar walau akhirnya kalah sama penulis senior. Tapi bagi saya itu sudah jauh lebih baik. Akhirnya saya mulai optimis. Novel dikembalikan oleh panitia dan beberapa revisi disana-sini saya lakukan. Halaman bertambah menjadi 165 halaman.

Sempat saya sebar ke teman-teman yang bersedia membaca ‘draft’ novel saya secara gratis untuk mendapatkan sedikit apresiasi lokal seantero teman dekat. Lalu vacuum, saya hentikan dulu karena banyak hal mengenai kesehatan saya sangat mengganggu.


MULAI LAGI
Setelah Desember 2009 saya sampai di Indonesia, saya mulai aktif lagi menulis, sekitar bulan Maret saya iseng mengirimkan naskah saya ke penerbit Diva Press yang saya tahu dekat dengan rumah saya di Jogjakarta dari membaca buku-buku terbitan Diva Press.

Tidak banyak berharap, karena Diva adalah salah satu penerbit Major yang besar di kalangan nasional, seperti ketiban durian rasanya hahaha... akhirnya bulan Juni 2010 pihak Diva mengabari bahwa novel saya diterima. Saya sujud syukur sambil menangis dan hujan-hujan di halaman rumah.

Akhirnya beberapa revisi saya lakukan, penambahan halaman dengan menambah konflik, setting saya pertajam juga penambahan tokoh atas permintaan penerbit. Dan menunggu selama 1,5 tahun lamanya, baru bulan Oktober 2011 ini novel perdana saya release.

Sungguh hal yang sulit saya percaya mengingat pendidikan saya yang hanya sebatas lulusan SMK dan tidak tahu sastra, tapi dengan perjuangan yang begitu berat dan tidak pernah menyerah alhamdulillah novel ini menjadi buku dan bisa dibaca semua orang. Jadi bagi siapapun saya tekankan, kita semua bisa menulis, asalkan ada niat, usaha dan doa yang tiada henti. Semangat!! [Mell Shaliha]

HONGKONG, NEGERI IMPIAN


Siapa menduga akhirnya seorang Buruh Migran Indonesia (BMI) yang notebene tidak pernah membaui sastra bisa mendulang mimpi besarnya di Negeri(nya) Jackie Chan. Menimba wawasan dan ilmu nyata tidak hanya melalui ’sumur’ perguruan tinggi. Keterbatasan yang sering dianggap sebagai boomerang dalam pencapaian cita-cita saat ini harus segera ditepis jauh-jauh. Bahwasannya semua mimpi bisa dicapai dengan usaha yang terus menerus dan ketebalan mental yang akhirnya akan membuahkan hasil yang nyata.

Novel Xie Xie Ni De Ai atau dalam judul Bahasa Indonesianya Hongkong, Terima Kasih Cintamu ini adalah salah satu bukti dari sekian pembuktian bahwa seorang buruh migran bukanlah orang-orang yang tertinggal.

Tagline, bahwa novel berjudul Xie Xie Ni De Ai karya Mells Shaliha ini, adalah novel yang menggambarkan perjuangan seorang BMI di Hongkong, dengan tetap mempertahankan prinsip keislaman dan moralitas ditengah gempuran lika-liku dan kultur yang heterogen. Sebuah tema sentral yang sangat inspiratif dan bermuatan dipilih penulis sebagai pegangan dalam novel perdananya ini. Dengan salah satu misi yang dikedepankan adalah tentang hijab. Baik hijab dalam menjaga aurat muslimah juga hijab dalam menjaga pergaulan dengan lawan jenis.

Tokoh Alenia Fatmawati yang dalam kisah ini menjadi pembantu di keluarga Chelsy Tsang mempunyai satu kunci yang harus benar-benar dipegang oleh seorang BMI yang bekerja di luar negeri, yaitu ‘prinsip keimanan’. Berbagai dampak negative pergaulan di luar negeri membawa arus buruk yang sebenarnya harus ditepis demi menjaga kehormatannya.

Problematika remaja dengan kultur yang berbeda seperti tokoh Aanon Yan yang seorang Taiwan, Ryu, Dahe dan Maki kewarganegaraan Jepang, tentunya juga berakibat fatal apabila Ale tidak mampu melawan dengan prinsip yang dipertahankannya. Nilai persahabatan antara anak majikannya bersama seluruh kawan-kawan Chelsy Tsang juga dapat dirasakan Ale sangat kuat. Mereka tidak begitu membedakan status Ale yang seorang pembantu, justru Ale mampu membuka mata mereka bahwa sebuah kepercayaan harus selalu ditanamkan dalam sebuah persahabatan. Perbedaan status, pekerjaan, sosialitas tidak selalu membuat hubungan persahabatan menjadi kaku.

Dalam novel ini penulis berusaha mengeksplorasi pengalaman yang dijumpai selama hidup di luar negeri beserta keanekaragaman masalah pergaulan seperti orientasi seksual seperti ‘gay’ sebagai salah satu keunikan pembelajaran dari efek negatif yang mungkin tidak bisa pembaca jumpai di lingkungan sekitar.

Pemilihan setting luar negeri yaitu Hongkong menjadi ‘sesuatu’ menarik yang bisa membawa pembaca turut ‘menjamah’ negeri China dengan beberapa gambaran tentang objek wisata serta iklim yang menjadi pengetahuan selain bunga rampai yang dapat diperoleh pembaca dalam novel ini. [MEL]

Judul : XIE XIE NI DE AI – Hongkong, Terima Kasih Cintamu
Pengarang : Mell Shaliha
Penerbit : Diva Press
Halaman : 340 Halaman
ISBN : 978-602-978-592-0
Harga : Rp 44.000,00 (di Indonesia)