Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

PONIRAN

Linda Setiorini

Matahari sudah di ubun-ubun saat Dina sampai di Causeway Bay. Meskipun harus berpacu langkah dengan orang-orang yang lalu lalang, bibir Dina terus senyum. Bahkan, kadang cekikikan sendirian. Oh, tidak sendirian. Ia lagi asyik ngobrol dengan sang doi yang di Korea.

’’Udah ya say, ntar jam tiga ketemu,’’ dengan manja Dina pamitan.

’’Ketemu di mana?’’dari seberang sang kekasih menggoda.

’’Ah, kamu! Udah ah!’’ suara Dina dibikin genit seraya mengecup HP-nya sampai-sampai lipstiknya tertinggal di casingnya.

’’Kok jam segini baru datang Din?’’selalu itu yang ditanyakan Ida setiap kali ketemu, padahal entah sudah berapa kali Dina menjelaskan kepada semua temannya termasuk Ida bahwa sebelum dia keluar libur, mesti bersih-bersih rumah dulu, lalu menyiapkan sarapan, lalu membangunkan anak plus membantu mereka gosok gigi lalu mengantarkannya ke rumah bobo.

’’Ini ada lodeh kacang dan rebung kesukaanmu Din, pedes banget lho!’’ tawar Mbak Jum seraya menyodorkan piring plastik.

Hari ini Mbak Jum ulang tahun. Teman-teman seapartemen diundang sehingga suasana begitu akrab karena hampir tiap hari ketemu dan sudah saling mengenal. Dina geli saat menyaksikan Siti dan Rina duduk terpisah, padahal dulunya mereka berdua adalah sahabat akrab, setiap hari belanja bareng, libur bareng, pulang bareng, makan sepiring berdua, bahkan mulai dari sepatu sampai topi selalu kembar. Tapi, sekarang mereka ibarat air dan minyak. Rina berdiri sambil merapikan roknya, sudah jelas bahwa dia ingin meninggalkan tempat itu.

’’Mbak, aku pergi dulu ya, mau ketemu teman. Mmakasih lho atas undangan dan makanannya,’’pamit Rina basa-basi. Mbak Jum cuma tersenyum seraya mengangguk.

’’Nemuin temen ato.........?? Ida yang usil menggoda seraya melirik Siti. Mbak Jum menyodok Ida, sementara Siti pura-pura asyik membaca majalah. Dina tersenyum geli melihat tingkah mereka.

Musik dangdut mengalun merdu dari tape recorder-nya Yanti yang selalu dibawa setiap dia libur.

’’Kamu juga mau nemuin temen ya Sit?’’ledek Ida saat meliat Siti mengenakan sepatunya.

’’Nggak mau ke jisok kok,’’elak Siti.

’’Alah, paling-paling ntar baliknya di tempat chatting.’’

’’Itu kan urusan dia Da! Kamu tuh cerewet banget sih?’’ bentak Mbak Jum, sementara Ida cuma nyengir.

’’Siti sama Rina itu masih musuhan ya?’’ tanya Anik yang biasanya libur cuma sebulan dua kali.

’’Ya.......sejak Siti tahu bahwa Daniel itu adalah Poniran, lalu meledaklah perang itu,’’ jawab Ida antusias.

’’Ya ampun! Jadi mereka nggak bertegur sapa itu hanya gara-gara cowok ya?’’ tanya Gianti penasaran.

’’Ya iyalah! Tadinya sih nggak tau siapa yang Poniran duluan. Siti punya cowok namanya Jimmy, lalu Rina punya cowok namanya Daniel. Usut punya usut ternyata Jimmy ama Daniel itu satu orang, nama sesunguhnya Poniran,’’ dengan fasihnya Ida menjelaskan dan disambut tawa geli teman-teman yang ikut mendengarkan.

’’Trus gimana kok bisa ketahuan kalau cowok mereka sama?’’ tanya seseorang yang duduk disebelah tempat mereka, rupanya suara Ida yang bergema menarik perhatian dia.

’’Lho, mereka berdua dulunya kan sahabat akrab. Biasalah berbagi cerita tentang cowoknya, lalu saat Siti utak-atik HP-nya Rina dia melihat nomor HP Daniel sama dengan nomor HP Jimmy.’’

’’Trus Poniran itu siapa?’’ tanya seseorang yang juga ikut-ikutan nimbrung.

’’Ya Jimmy alias Daniel itu, biasa pakai nama samaran, masak mo ngomong Poniran… kan nggak keren?’’ jawab Ida.

’’Kok bisa ketahuan kalau ternyata dia adalah Poniran?’’ sambungnya.

’’Begini, tadinya kan Rina ngajak aku chatting, dia mau kasih tahu aku yang namanya Daniel, dan tak disangka tak diduga ternyata yang namanya Daniel alias Jimmy itu adalah Poniran tetanggaku di kampung,’’ kembali mereka tertawa mendengar cerita Ida.

’’Emang Poniran itu cakep ya Mbak?’’

’’Wow......... jangan di tanya, dia cowok macho men...! Di kampung jadi rebutan, di sekolah jadi idola, pacarnya banyak, tapi sayangnya dia buaya, hampir semua cewek sekampung digasak..."

’’Termasuk kamu kan?’’ potong Mbak Jum.

’’Ih ya nggaklah!’’ bantah Ida seraya memonyongkan bibirnya.

’’Trus Mbak............siapa tadi?’’ mereka makin penasaran dengan cerita Ida.

’’Siti dan Rina?’’ potong Ida.

’’Iya, gimana bisa kenal sama Poniran?’’

’’Ya ampun, ya lewat chattingan Non, emang nggak tahu jika mereka yang seneng chattingan itu sebenarnya orangnya yang asli belum lihat, tapi udah ngomong cintalah, sayanglah, malah manggilnya aja udah papa mama, padahal nggak tahunya di belakang mungkin dah beranak istri, atau duda, atau mungkin pacarnya seabrek tapi ngakunya masih ting-ting,’’ Ida berhenti sejenak untuk mengambil nafas sambil menelan ludah. ’’Kayak Poniran itu, memang sih masih single, cakep, dan banyak deh kelebihannya, tapi jika makan hati apa untungnya, tampangnya aja yang oke, tapi hatinya berbisa, mungkin saja selain Siti dan Rina dia juga menggombali sama cewek lain, tapi yang pasti nggak mungkinlah jika dia pake nama Poniran, makanya jika chattingan hati-hati, jangan mudah tergoda hanya karena tampang, siapa tahu nasib kita sama seperti Siti dan Rina, udah diduain persahabatan putus lagi, tapi ya.............. namanya juga cinta…’’

Dina mencibir mendengar penuturan Ida yang sok bijaksana, dari cara Ida bercerita, dan juga caranya memuji Poniran kayaknya Ida pun punya rasa suka sama Poniran, tapi pura-pura ngasih nasehat, huh dasar, emang Poniran itu kayak apa sih, dilihat dari namanya saja nggak ada yang istimewa, kampungan, pantesnya sih jadi pengembala sapi aja, ato tukang kebun juga boleh, tapi untung juga dia bisa lolos masuk Korea, batin Dina jengkel.

Jarum jam menunjukkan hampir pukul tiga sore,berarti Dina harus online untuk ketemu sama pujaan hatinya.

’’Mbak aku pergi dulu ya?’’ bisik Dina pada Mbak Jum.

’’Hati-hati ya,jangan lama-lama lo, ntar habis duit banyak, kamu mesti ngirit Din!’’ pesan Mbak Jum yang sudah paham ke mana Dina hendak pergi. Selama ini Dina memang paling dekat sama Mbak Jum.

’’Iya Mbak, nanti Mbak Jum tetap di sini kan?’’

’’Kalau nanti aku sudah nggak di sini kamu telepon saja.’’

’’Emang kamu mau ke mana Din?’’ tanya Ida.

’’E.............. ke Chandra kirim uang.’’ jawab Dina seraya berlalu. Yang namanya rahasia jangan sampai Ida tahu kalau tak ingin bocor kayak mulutnya yang ember itu. Dina berlari menerobos orang-orang yang memenuhi Taman Victoria, saat hendak naik lift disebuah building, Dina bertemu dengan Siti, sejenak Dina terpana melihat penampilan Siti yang telah berubah, tadinya Siti cuma pake kaos stret sama celana jeans, tapi sekarang dia memakai baju semacam kemben yang jika ditarik ke bawah kelihatan gunungnya dan jika ditarik ke atas kelihatan pusarnya. Perhisannya bergelantungan bak seorang artis dengan make up warna-warni. Siti benar-benar persis seperti bintang film, ah hanya demi Poniran aja sampai-sampai dia berpenampilan demikian, batin Dina.
’’Mau chattingan ya?’’ sapa Dina. Siti cuma mengangguk sambil tersenyum.

’’Sama, Poniran ya?’’ goda Dina yang membuat Siti tersipu-sipu.

’’Chattingan di mana Sit?’’ tanya Dina saat mereka telah masuk lift.

’’Di lantai 7,’’ jawab Siti.

’’Kebetulan aku juga mau ke sana, aku tadi udah pesen tempat,’’ ujar Dina.

Saat mereka tlah sampai di lantai 7, tempatnya masih penuh, sedangkan jam dinding menunjukkan pukul tiga kurang lima menit.

’’Sebentar ya Mbak, mereka bertiga hampir sign out kok,’’ ujar penjaga warnet begitu melihat Dina dan Siti datang. HP Dina bergetar, ada SMS masuk,’’Say aku dah on line lho, kapan kamu datang? Kangen nih!’’ begitu pesan dari Riyan, kekasih Dina di Korea.

’’Kamu disebelahku saja Din,’’ kata Siti saat tiga orang cewek meninggalkan meja komputernya, kebetulan tempatnya bersebelahan.

Dengan cekatan Dina segera membuka id dan password-nya, lalu masuklah beberapa pesan dari Riyan yang katanya tak sabar ingin segera melihat wajah cantiknya Dina.

Setelah saling mengirim came, Dina tersenyum menatap gambar Riyan yang kelihatan makin cakep saja dengan rambut yang dibiarkan panjang. Selain tampan, Riyan juga pandai merayu, kaya akan humor dan pintar bermain kata-kata, ditambah lagi suaranya yang merdu saat menyanyikan lagu-lagu Malaysia, sehingga Dina rela menghabiskan uangnya berdolar-dolar hanya untuk mendengarkan suara Riyan setiap malam.

Empat bulan sudah Dina menjalin cinta dengan Riyan lewat internet dan telepon, rupanya Dina sudah begitu percaya pada Riyan, sehingga Dina benar-benar mencintai Riyan setulus hati. Tak pernah sedikit pun ada keinginan di hati Dina untuk menghianati ataupun membohongi Riyan meskipun begitu banyak cowok yang menggoda dan mengharapkan cinta Dina.

Dina tersenyum-senyum setiap kali membaca tulisan yang dilemparkan Riyan dari seberang, sementara itu Siti terus cekikikan di sebelah Dina.

’’Busyet, katanya jangankan mobil, pengen pesawat aja dibeliin kalo ada yang jual, hi hi hi.....!’’ Dina cuma mencibir. Dasar rayuan gombalnya Poniran, batin Dina.

Karena Siti terus-terusan tertawa Dina jadi penasaran ingin melihat tampangnya Poniran.

’’Lho Sit, itu kan Riyan!’’ pekik Dina kaget saat karena melihat wajah Riyan ada di komputernya Siti.

’’Apa, ini lo Jimmy, eh maksudku Poniran,’’ jawab Siti tanpa menoleh.

’’Tapi aku juga lagi chattingan sama dia,’’ suara Dina gemetar menahan beribu perasaan. Kontan saja Siti langsung menatap Dina, lantas melihat ke komputer Dina.

’’Lho, kok kamu chattinga sama dia sih?!!!’’ kali ini Siti yang menghardik Dina seraya memelototkan mata.

’’Kamu sendiri ngapain juga chattingan sama dia?!!!’’ suara Dina tak kalah kerasnya karena juga emosi. Karuan saja mereka jadi perhatian orang-orang yang sedang berada di tempat itu.

’’Mbak, Mbak, kalau berantem jangan di sini ya, berisik nih, udah tempatnya sempit lagi…’’ tegur seseorang yang lagi chattingan di dekat mereka. Tentu saja muka Dina jadi memerah karena malu.

Dengan kasar Dina mematikan komputernya, dan setelah membayar sewa komputer tersebut, Dina segera berlari keluar melalui tangga. Hatinya hancur dan pilu, sumpah-serapah pun keluar dari bibirnya yang mungil. Namun jauh di dasar hatinya Dina tak dapat berbohong bahwa dia memang mencintai Riyan yang kini telah berubah menjadi Poniran. []

[Salam sayang buat seseorang di Korea, biarlah waktu yang akan menyatukan cinta kita].

--dari Peduli 13 dan 15

E N O K

Retnayu Ayu


’’You are the love of my life,
i knew it right from the start,
the moment i looked at you,
you found a place in my heart...’’


MP-3-ku terus mendayu-ndayu, meluruh-larutkan hatiku dalam sendu yang suntuk. Aku mendesah, lalu kutarik nafas beratku dalam-dalam, iringi resahku, mengenang kembali kisah beberapa tahun lalu.

’’Kak...’’ sapa manjanya menggelitik telingaku.

’’Hai...’’ balasku. Aku masih jalan pelan keluar dari toko itu. Ah, ia begitumemesonaku.

Enok. Nama sapaan yang sangat kusuka itu nyaris melupakan aku dari rangkaian huruf yang cukup panjang yang membentuk nama lengkapnya.

Aku telah melewati 36 musim di negeri ini, yang semula terasa aneh, dan makin lama makin aneh, yang anehnya: seiring dengan meningkatnya keanehannya meningkat pula ’oke’-nya.

Setiap hari aku mesti mondar-mandir menjalankan pekerjaanku. Berangkat pagi hari lalu pulang kembali ke apartementku menggiring senja. Ah, hidupku selalu saja begitu. Selalu di dalam irama yang tidak menentu. Kadang aku merasa sebegitu jemu. Terlebih, manakala rasa sepi menggerus lubuk hati.

’’Enoooook.......!’’ pekikku, ketika mendapati Enok di suatu sore yang indah setelah sekian lama ia menghilang sejak pertemuan kilat yang sangat indah itu. ’’Wah, Nok! Dari mana saja kamu, kok baru muncul?’’

’’Iya, Kak, aku baru saja ambil holiday!!’’ senyum manis membumbui kalimatnya.

’’Holiday ke mana Nok?’’

’’Ya, biasa Kak, ke Kota Buaya.’’

’’Apa kamu berasal dari Kota Buaya Nok?’’

’’Iya. Kalau Kakak dari mana?’’

’’Kota Apel.’’

’’Oooo....’’

’’Iya, Nok! Dingin...dingin empuk!’’

’’Ah, Kakak!’’

’’Ah!’’

’’AAAhhhh....!!’’

’’Oh...’’

’’Ehm....’’

’’Hahahahaha.......!!!’’

Bumi pun serasa bergetar saat tawa kami meledak bersama. Untung saja kepalaku tak meledak pula karena angan-angan yang menggelembung nyaris tak terkendali: mengangankan kedekatan yang sedemikian dekat dengan Enok! Tapi, apakah ini bukan pungguk merindukan bulan?
’’Kak...?’’
’’Oh, ya?’’
’’Kakak kapan pulang?’’
’’Gak tahu ya Nok. Kenapa emang?’’

’’Nggak kena apa-apa, hehe.....!’’ cengengesnya sambil membalikkan badannya. Seseorang telah menariknya keluar dari toko itu. Seseorang yang ingin kumaki.

Baru dua kali pertemuan kami. Waktunya pun singkat-singkat. Enok boleh pergi, ditarik orang lain atau atas kemauannya sendiri. Tetapi, ia kini serasa telah memenuhi seluruh diriku, seluruh jiwaku. Aku selalu mengangankannya ketika jaga, dan selalu memimpikannya jika tidur. Tidak ada lagi ruang di diriku ini bagi yang lain selain Enok. Tetapi, apa ya yang dirasakan Enok sendiri? Terlalu jauh jarak mesti ditempuh. Terlalu dalam jurang...! Bagaimana aku mesti mengabarkan keadaanku ini kepada Enok? Dengan meneriakkannya, atau membisikkannya? Atau menyerahkan semuanya kepada angin yang mendesau? O....!
Aku tak siap ditolak. Rasanya jauh lebih indah menikmati ini semua di dalam mimpi, daripada harus menghadapi kenyataan jika penolakan itu terjadi.

Kubiarkan kegersangan jiwa ini senantiasa melanda, karena aku sadar bahwa aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Kadang kularikan hati, sesekali kuhibur diri, dan ada pula saatnya mencoba menepis habis semua hasrat yang semakin kuat menjerat. Ah, mengapa bisa jadi begini! Mengapa?

Bila saja aku dapat gadaikan jiwa? Tapi, kepada siapa....? Pertanyaan-pertanyaan hampa terus mengulur, sampai tibilah di hari Minggu yang cerah itu. Kupercepat langkah kakiku, dengan tergesa kusongsong sosok bayang: Enok! Oh, ia sedang menungguku!

’’Kak....!’’

’’Met pagi manisku.....!’’ begitulah godaku, selalu. Dengan santai kami berdua akhirnya melangkahkan kaki memasuki ruang besar perpustakaan pusat, kebanggaan kota ini. Rasanya aku telah sampai di ujung mimpi, dan mendapati kenyataan yang ternyata begitu indah: kami duduk berdampingan di depan komputer. Dan mengalirlah huruf-huruf membentuk sebuah puisi buat Enok:

dirimu yang selalu penuhi lamunanku
membuatku suntuk dibekuk rindu
mengristal segenap kekagumanku
apakah cinta apakah kasih apakah sayang sedia
tak henti mengalir dan bermuara di kedalaman
samodra: hatiku-hatimu

Lalu kutekan ’send’ dan dalam hitungan detik sampailah puisi itu di layar komputer Enok. Seperti yang aku duga, sebuah cubitan diiring kata, ’’Dasar!’’ mendarat di lenganku. []

BIG APPLE


Cerpen: HSA

Hari ini hari Minggu pekan ketiga bulan Maret 2005. Dan seperti Minggu-minggu sebelumnya, aku berjalan lenggang kangkung seperti sekretaris yang bangun kesiangan dan ditunggu bos yang akan meeting. Waduh, aku terlambat nih, pasti teman-teman sekampung sudah stand by di Victoria Park. Biasalah kalau Minggu begini, pasti aku ngumpul sama teman-teman sekadar ngobrol melepas rindu setelah disibukkan oleh pekerjaan selama satu minggu.


Kupercepat langkahku, karena aku sudah tak sabar untuk bertemu dengan mereka.

’’Shella...!’’ panggil seseorang dari belakang. Aku pun membalikkan badan, karena aku merasa dipanggil dan memang namaku Shella. Dan kami pun saling bertatap mata. ’’E...e.., Mbak Tari!’’ ucapku seraya melongo saja, seperti tak percaya.

Sudah hampir tiga tahun aku tak bertemu dengan Mbak Tari. Dulu selama di penampungan, waktu mau berangkat ke Hong Kong, kami teman senasib. Apa pun selalu dibagi berdua --kecuali pacar, hehe! Mbak Tari bahkan menganggapku seperti adiknya sendiri. Usia kami hanya terpaut empat tahun, tapi Mbak Tari sudah punya 2 anak, sedangkan aku masih single, karena aku baru lulus SLTA dan langsung daftar ke PJTKI.

Kami saling berpelukan. Yah, seperti tak percaya saja. Tuhan ternyata mempertemukan kembali aku dan Mbak Tari di Hong Kong. Ini pertemuan mengejutkan dan sangat membahagiakan. Kami lalu ngobrol seperti tiada habisnya, menceritakan pengalaman masing-masing.

Namun, selanjutnya aku lebih banyak menjadi pendengar setia dan hanya sesekali menimpalinya bila perlu. Dengan semangat membara, Mbak Tari menceritakan kehidupannya selama di Hong Kong.
Kalau kuperhatikan dandanannya, Mbak Tari pasti hidup mewah. Pakaian yang dikenakannya bermerk, mahal. Pakaian yang tak mungkin dapat kubeli. Soal pakaian, Mbak Tari malah sempat mengejekku. Sudah lama di Hong Kong, tapi cara berpakaianku, kata Mbak Tari, masih saja kuno. Dibilang begitu aku hanya tersenyum kecil. Yah, tujuanku ke Hong Kong memang cari uang untuk ditabung, bukan untuk berfoya-foya, batinku.

’’Shella...!’’ ucap Mbak Tari.

’’E.....e..anu nggak kok Mbak!’’ jawabku.

Aku berkata setengah tergagap. Aku memang sedang melamun tentang keadaan Mbak Tari. Mbak Tari sudah menjalani kehidupan yang glamour walau di Hong Kong ini hanya seorang pembantu rumah tangga. Bagaimana dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil di rumah? Batinku bertanya.

’’Kita jalan-jalan yuk!’’ ajak Mbak Tari.

’’Ok! Eit...!’’ jawabku. ’’Sebentar, ya, Mbak, tak telepon teman-temanku dulu, bilang kalau nanti sore saja aku menemui mereka.’’

’’Ok, silakan!’’
Di telepon, temanku ngedumel, tapi mereka mengizinkan aku pergi bersama Mbak Tari. Dengan catatan, nanti sore aku harus menemui mereka. Yah, hari ini aku jadi seperti orang penting saja, batinku.

’’Beres, Mbak,’’ kataku kepada Mbak Tari, usai menelepon teman-teman, ’’kita ke mana?’’

’’Kamu nurut saja sama aku,’’ kata Mbak Tari.

Aku pun mengikuti Mbak Tari. Sambil berjalan, sesekali kami tertawa bla....bla... kalau ingat waktu-waktu di PT dulu, mandi dengan seember air, kalau tidur dikeroyok nyamuk, apalagi bau WC-nya yang begitu khas: pesing!

Tanpa terasa, kami sampai di Daerah Wan Chai. Aku belum pernah ke tempat ini. Tapi, lain aku lain pula Mbak Tari. Sepertinya dia sudah paham betul daerah ini. Jam yang melingkar di tanganku menunjukkan pukul 2 siang.

’’Ayolah...!’’ ajak Mbak Tari sambil menggandeng tangnku.

Aku terkejut setengah mateng! Mbak Tari menarik tanganku menuju sebuah tempat yang di depannya ada tulisan besar Big Apple dan terdapat sebuah gambar buah apel yang besar sekali. Aku bingung karena tempat itu sangat gelap dan dari dalamnya terdengar hentakan-hentakan musik. Suara itu memekakkan gendang telingaku.

’’Tidak, Mbak!’’ rontaku. ’’Kita pulang saja!’’

Tapi cengkeraman tangan itu begitu kuat. Mbak Tari menarikku masuk ke tempat itu.

Sampai di dalam, aku terkejut bukan kepalang. Di situ banyak gadis belia dan kalau ditilik dari tampangnya, pasti mereka gadis-gadis Indonesia. Mereka berjogetria sambil minum bir. Ada yang berpasang-pasangan dengan bule, tomboi, dan banyak lagi. Sampai usia yang hampir 21 tahun ini, semua itu merupakan pemandangan yang asing bagiku karena mungkin aku kuper alias kurang pergaulan.

Aku berdiri mematung di pojokan dinding tembok. Dan… Mbak Tari ternyata sudah berpelukan mesra dengan seorang bule. Keduanya berpelukan sambil berjoget. Mataku jadi pedih karena kerlap-kerlip lampu yang sangat menyilaukan. Aku bingung tak tahu apa yang mesti kuperbuat. Mbak Tari menghampiriku bersama bulenya.

’’Shella... nih minum!’’ Mbak Tari menyodorkan sebotol bir.

’’Tidak, Mbak, terimakasih!’’ jawabku tegas. Daripada minum bir, lebih baik aku mati kehausan!

Hatiku benar-benar dibuat jengkel oleh Mbak Tari. Dia tak merasa berdosa mengajakku ke tempat menjijikkan ini. Perutku jadi mual melihat tingkah manusia-manusia ini. Diskotik yang biasanya hanya kulihat sekilas lewat sinetron di TV atau baca novel, tanpa sadar kini aku tengah berada di dalamnya. Ini sungguhan, aku tidak sedang bermimpi!

Pikiran dipenuhi banyak tanda tanya yang aku sendiri tak dapat menjawabnya ketika kudengar suara, ’’Buuug!’’ suara itu keras sekali. Seperti pohon pisang yang limbung ke tanah. Mataku jelalatan mencari sumber suara itu.

’’Astaga!’’ ucapku.

Tenyata suara itu berasal dari tubuh Mbak Tari. Mbak Tari limbung ke lantai. Tapi tak seorang pun dari mereka memedulikan Mbak Tari. Bule yang tadi bersamanya juga tidak. Bule itu sudah memeluk perempuan lain.

Dengan cepat kuangkat tubuh Mbak Tari dan kubawa ke pojok sofa. Aku bingung, tak mengerti apa yang harus kulakukan.

Di tengah kepanikan, ternyata masih ada seoarang gadis Indonesia yang berbaik hati. Dia bilang Mbak Tari mabuk. Tanpa ba-bi-bu lagi, dia berusaha menyadarkan Mbak Tari. Sepertinya dia sudah berpengalaman sekali mengurusi orang mabuk. Buktinya, tak berapa lama Mbak Tari sudah kembali sadar dan aku hanya bisa melongo.

Setelah Mbak Tari sadar dari mabuknya, kuajak dia ke kamar mandi, kusuruh dia membasuh mukanya, terus aku ajak keluar dari tempat laknat itu. Berjalan beberapa saat, ada pohon yang rindang di pinggir jalan. Kuajak Mbak Tari istirahat sebentar di bawahnya. Di sana, beberapa lama kami diam membisu.

’’Shella, maafkan aku yang tak tahu diri ini,’’ ucap Mbak Tari lirih, membuka percakapan.

’’Tak apa, Mbak!’’ ucapku.

Dan kupeluk dia, aku ingin memberikan kedamaian hati dan menghiburnya. Dan tanpa kuminta, Mbak Tari menceritakan dari awal sampai akhir, kenapa dirinya sampai mengenal diskotik.

Mbak Tari bilang uang yang dikirimkan ke Indonesia selama bekerja di Hong Kong sekitar tiga tahun telah dihabiskan suaminya. Tidak hanya itu, suaminya juga tak mau mengurusi dua anaknya. Pekerjaannya tiap hari cuma minum minuman keras. Dan kabar burung terakhir yang diterima Mbak Tari, di desa suaminya bermain dengan perempuan. Mbak Tari sakit hati.

Karena itu Mbak Tari mengenal diskotik, jatuh dari pelukan lelaki satu ke pelukan lelaki lain. Dengan cara begitu Mbak Tari membalas perbuatan suaminya.

Tiap Minggu Mbak Tari datang ke Big Apple. Mbak Tari pun terbius oleh segala kenikmatan dunia fana yang hanya sementara. Big Apple menjadi tempat pelariannya bila hatinya kacau.

’’Dengan minum bir, semua permasalahan dapat dilupakan,’’ kata Mbak Tari dengan berlinangan airmata.

’’Sudahlah, Mbak, yang lalu biarlah berlalu!’’ ucapku. ’’Menurutku, Mbak sebaiknya pulang cuti dulu dan melihat permasalahan yang sesungguhnya. Mbak kan hanya dengar dari mulut orang lain tentang suami Mbak di Indonesia. Mungkin ada orang lain iri melihat keadaan Mbak sekarang.’’

Mbak Tari mengisak.

’’Big Apple bukan tempat yang benar untuk pelarian, Mbak. Malah dengan masuk ke situ masalah akan bertambah. Lupakanlah Big Apple, Mbak, karena di sana Mbak Tari hanya mendapat kebahagiaan semu. Ingatlah selalu pada Yang Kuasa, Mbak. Cepatlah bertobat selagi masih ada kesempatan, Mbak.’’

Mbak Tari mengangguk, kemudian ia menyandarkan kepalanya di pundakku. Mbak Tari benar-benar kelihatan lelah. Mbak Tari akhirnya tertidur dan kubiarkan dia terlelap dalam mimpinya yang mungkin indah.

Dalam diam aku merenung. Seandainya manusia tidak mengenal tempat seperti Big Apple, mungkin akan lebih baik. Tapi, bukankah orang harus belajar dari pengalaman?

Pikiranku terus berkecamuk dengan Big Apple. Ya, Allah. Maafkan dosa-dosa hamba-Mu ini. Semoga aku tak sampai menginjak tempat itu lagi, tempat manusia suka mengumbar hawa nafsunya demi kebahagiaan sesaat.

Aku sedang termenung berdoa, ketika suara HP-ku mengejutkanku. Mbak Tari pun terbangun. Ternyata teman-temanku dengan setia telah menunggu di Victoria Park. Ah, masih ada sisa waktu sedikit, pikirku.

Aku segera mengantarkan Mbak Tari naik bus. Setelah itu aku menemui teman-teman. Aku mereka damprat. Aku memakluminya karena aku memang salah, tak menepati janjiku. Aku tak menceritakan kepada siapa pun tentang kejadian yang menimpaku di Big Apple tadi.

Sepertinya hanya mimpi. Biarlah kenangan tentang Big Apple itu menjadi hanya milikku sendiri.


Hong Kong, 7 Juli 2005
--hsa sudah pulang dan menetap di tanah air indonesia

SURAT UNTUK KANG NARTO


--illustrasi: RIHAD HUMALA

Cerpen: Hartanti Darsono


Wanita, apakah memang dikodratkan sebagai kaum lemah ya? Penindasan hak asasi di mana-mana, menjadi korban kekerasan dalam rumah sudah biasa, menjadi korban poligami juga bukan hal yang mengejutkan lagi.

’’Lebih baik kamu yang bekerja ke Hong Kong, lagian gaji ke sana kan besar,’’ kang Narto membujuk istrinya yang enggan bekerja ke luar negri untuk jadi pembantu rumah tangga. Bukanya apa-apa pula, Narti memang tak ingin meninggalkan anak semata wayangnya yang masih berusia 2 tahun itu. Usia anak yang seharusnya dia jaga dengan segala kasih sayangnya. Sejak percakapan malam itu Narti mendiamkan suaminya, walaupun dia merasa bersalah juga berbuat seperti itu.

’’Kang, kamu ini ya aneh, masak istri sendiri disuruh kerja jadi pembantu rumah tangga. Apalagi di negri orang, sama saja kamu memisahkan dia dari anakmu ta?’’ Kang Parman yang adik kandung Kang Narto datang berkunjung sore itu ke rumah Narti.

’’Iya juga, tapi kan kamu tahu, saat ini hanya perempuan saja yang bisa lebih cepat mendapatkan pekerjaan daripada laki-lakinya?’’ Kang Narto masih tetap pada pendirianya.

’’Tapi Kang, kan memang kewajiban kita untuk menghidupi anak-istri, kenapa kita harus menyuruh istri kita bekerja berat?’’ Kang Parman yang berprofesi sebagai penjual bakso itu mengingatkan kakak kandungnya.

Waktu berlalu sejak percakapn kakak beradik di beranda rumah Narti, dan ternyata mungkin semua perkataan adiknya bisa membuka mata hatinya. Nyatanya malam itu ketika rembulan telah muncul bulat-bulat di langit, Kang Narto mendekati istrinya yang masih dengan sikap dinginya di tepian ranjang.

’’Dik, maafkan kakang ya, kalau pernah menyuruhmu pergi keluar negri, sebaiknya kita membuka usaha kecil-kecilan saja di kampung, tidak usah memikirkan yang aneh-aneh. Rezeki juga tidak akan ke mana kan? Kang Narto menatap wajah ayu istrinya dengan senyum. Narti pun membalas senyum suaminya, namun hanya Narti sendiri yang tahu tentang arti senyum itu.

’’Iya Kang, aku tahu kok,’’ akhirnya Kakang akan bicara seperti ini, maafkan Narti juga ya? Narti menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Malam beranjak menuju pagi, dan entah apa yang membuat mata Kang Narto terlelap dalam tidur yang begitu pulas, setelah salat subuh dia kembali tertidur, dan tanpa dia sadari diam-diam Narti menulis sepucuk surat untuk suaminya.

Kagem suamiku Kang Narto
Kang, saya minta maaf jika harus mneinggalkan kakang dan anak kita. Mohon dijaga baik-baik buah hati kita, saya pergi, tidak perlu dicari, yakinlah suatu hari saya akan kembali untuk Kakang dan anak kita, Salam.


Hong Kong, Maret 2007
--Hartanti Darsono, kini sudah pulang dan menetap di Ponorogo

PETIR

Nyi Penengah Dewanti

Petir itu datang meremangkan roma, aku sendirian dalam gulita. Menerialaplah jiwaku yang kecil ini, mengambil air wudhu, sujud dalam lindungan-Mu Ya Ilahi Robi. Bumi dan langit menyusupkan tali getar. Engkaulah yang Mahabesar Ya Allah, tiada kekuatan yang lebih hebat selain kuasaMu. Lindungilah hamba dari marabahaya yang mengancam.

Hujan dan petir saling bersahutan di luar sana. Menyiram bumi, membelah kota. Semesta bersyukur menyambut rintikkanya, dan aku bertafakur meredam segala ketakutan. Jadikanlah hujan ini berkah Ya Allah, dan jauhkanlah kami dari wabah. Kilat cahaya memasuki jendela memecah sunyi, suaranya membuat detak jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

Kokok ayam melangit bersahutan, membangunkan aku dari tidur semalam. Ternyata aku masih memakai mukena, dan merebahkan diri di atas sajadah. Ah… ketakutan yang berlebihan. Segera aku melepas mukena, dan mengambil air wudhu kembali, melaksanakan shalat subuh. Kemudian bergegas, membereskan buku dan kertas yang masih berserakan. Gara-gara mati lampu semalam, tugasku masih separuh kukerjakan. Semoga dosen pembimbingku tidak mempermasalahkannya aku harap. Aku berjalan keluar kamar, membuka pintu, masih sepi.

”Keyla, sini.” Nita memanggilku dari balik dapur. Aku berjalan menujunya.

”Ada apa Ta?” jawabku.

”Mau aku bikinin mie sekalian?” tanyanya halus, aku memincingkan mata.
”Tumben lo baik banget.” Aku curiga, pasti ada sesuatu yang ia inginkan, biasanya sih seperti itu, pengalamanku selama berteman dengannya.

”Tapi…” Nah, kan baru saja aku membatin.

”Temani aku tidur nanti malam ya, aku takut petir,” tiba-tiba ia mendekat.

”Simbol petir itu perwujudan setan. Ketika petir menggelegar, pasti ada setan di situ. Setan jatuh bagaikan kilat,” bisiknya lagi, bulu kudukku mulai berdiri.

”Key,” tangan Nita menarik bajuku cepat.

”Hmmm… wadha wapha….” mulutku tetap menikmati mie goreng buatan Nita.

”Aku seperti melihat sepasang mata, di balik sinar jendela,” refleks wajahku menoleh ke Nita.

”Ini sudah pagi, Ta. Jangan mengada-ada,” aku duduk merapat ke Nita.

”Serius,” ia mencoba meyakinkanku, dengan tatapannya. Aku beranjak dari kursi, berjalan mendekati jendela.

”Sssrtt…. ” korden jendela kubuka.

”Tuh liat, itu sinar matahari, Odong,” Aku memanggil Nita dengan: Odong, sesekali kalau diantara kami jadi nyebelin. Sebel sayang maksudnya, buat candaan.

”Alhamdulillah Ya Allah,” serunya girang, karena hari sudah menampakan terang.

”Udah ah, aku mandi duluan, ya. Giliran kamu yang cuci piringnya,” aku mengangguk.

Kos ini memang sepi, jauh dari pusat perkotaan, diapit, pemakaman di belakang, dan masjid di sebelahnya. Letaknya yang tidak terlalu ramai, dan murah, membuat kebanyakan mahasiswa seperti aku memilih tempat ini. Alasannya simpel, biar lebih konsen dalam belajar, tidak terlalu bising dengan deru motor dan kendaraan beroda empat.

[]

Lelaki yang duduk di makam.

Sore itu aku pulang kuliah, agak telat dari biasanya. Gara-gara tugas belum kelar. Pak Lucky memberiku jadwal bimbingan di akhir jam kelas sore. Alamat jalan menuju kostan sudah agak sepi, dan gelap. Hal yang paling menakutkan adalah aku harus melewati makam itu sendirian. Aku mencoba menelpon Nita untuk menemani berbincang sejenak melewati jalan. Apesnya Nita tidak mengangkat panggilanku. Jantungku hampir saja copot, di pojok pusara pemakaman ada bayangan hitam sedang menunduk takzim. Pekuburan memang rumah masa depan umat manusia, tapi kenapa aku selalu was-was, hanya melewati pelatarannya saja. Kuamati dengan seksama, jelas itu bukan setan. Perawakannya atletis , tapi kenapa ia sendirian ya, saudaranya yang lain apa tidak ikut mengantar . Sepertinya taburan bunga mawar itu masih baru menghiasi gundukan tanah, masih bagus, dan aku bergegas berjalan cepat meninggalkan kuburan.

Kurebahkan lelah di sofa ruang tamu kost. Tas kutaruh di lantai begitu saja. Vallent diam saja cuek menikmati lembaran majalah fashion. Menoleh sebentar saat aku tiba, dan kembali asyik melanjutkan memilah-milah baju keluaran terbaru, kudengar sayup-sayup tawa dari ruang tengah.

”Lent, biasanya anak-anak yang ngekos di sini? Yang pulang agak larut malam siapa?” tanyaku pada Vallent, memecah keheningan.

“Nia, pulangnya sekitar pukul 8 malam. Ada yang penting?”

”Oh nggak apa-apa, siapa tahu bisa bareng.”

[]

Cuaca semalam agak bersahabat, meski hujan tapi tidak ada gemuruh Guntur, dan kilatan cahaya langit. Aku tidak perlu menemani Nita sesuai janjiku, ia menginap di kostan temennya. Dia mengirimikan sms meminta maaf tidak sempat mengangkat telfon karena sedang di kamar mandi. Rasanya otakku mau pecah, digeber skripsi akhir-akhir ini, pindahan kos ternyata juga menguras waktu dan tenaga. Musim penghujan membuat baju-bajuku tidak kering.

Aku beranjak ke belakang memeriksa jemuran. Lumayan kering, tapi masih sedikit lembab. Mataku berhati-hati mengamati pekuburan, takut tiba-tiba muncul sesuatu yang tidak diinginkan. Benar saja, aku melihatnya lagi, lelaki berkaos hitam itu masih setia duduk di makam. Kebetulan ada semacam rumah kecil yang di bangun untuk, tempat berteduh bagi para penggali lubang makam, di situ ada keranda mayat, beberapa sapu dan sekop untuk membersihkan ataupun menggali kuburan, Apa mungkin dia penjaga makam ya.

[]

Hujan deras turun begitu saja saat aku turun dari angkot. Untung saja aku bawa payung. Bergegas kukibarkan payung hitam motif bunga milikku. Aku peka sekali terhadap warna hitam, entahlah aku dapat menangkap segera, segala hal yang berwarna hitam. Aku tak percaya apa yang kulihat sekarang, diantara hujan yang menderas dan ia masih duduk disamping makam. Antara naluri kemanusiaan, berperang melawan ketakutan aku mencoba memasuki gerbang pintu rumah masa depan, berjinjit menghindari genangan air, tak sengaja aku terlpeleset sebelum sampai temapt di mana lelaki itu berada. Aku mengibaskan dress ku yang sedikit terkena bercak lumpur. Kemudian aku mulai menatap kedepan menuju dia… dia, tidak ada. Mataku tidak mungkin katarak secepat ini, atau mungkin aku rabun tiba-tiba, aku melepas kaca mataku yang berembun terkena tetesan hujan. Memakainya kembali, melihat situasi, dan nihil.

Aku hampir pingsan, di kagetkan Pak Rahman. Dia tersenyum menatapku, tatapannya seakan mengerti kalau aku sedang benar-benar ketakutan.

”Mbak Keyla, baik-baik saja?” tatapan matanya menangkap sinyal kekhawatiran.

“Pak, tadi saya melihat ada lelaki duduk di sebelah makam itu kehujanan. Saya ingin membantunya meminjamkan payung saya untuk berteduh. Saya tidak sengaja jatuh, dan pria itu raib.” Pelan-pelan suaraku bergetar menuturkan.
”Mari saya antar ke luar pintu gerbang Mbak Keyla.” Aku tak mengerti, pertanyaanku tidak langsung dijawab, Pak Rahman. Tapi aku menuruti kata-katanya untuk segera keluar dari kawasan yang menyeramkan buatku.

”Jangan diganggu ya Mbak Keyla, kalau melihat lagi. Bairkan saja.”

”Maksud Bapak?”

”Apapun yang mbak lihat di sekitar pekuburan ini, biarkanlah. Berusahalah untuk bersikap wajar.” Aku mengigil dan merinding, hujan masih sederas tadi.

”Mungkin mereka hanya ingin berkenalan saja dengan Mbak Keyla, dan sesekali menampakan diri. Tapi setelah itu mereka biasanya sudah tidak mengganggu lagi.” Dengan kata sehalus mungkin Pak Rahman menjelaskan. Aku tidak lagi bisa berfikir, segalanya membayang kembali.

Tentang hujan di malam itu, petir, sepasang mata di balik sinar jendela, dan lelaki yang duduk di makam. Dia adalah salah satu warga yang telah dijemput Sang Mahakuasa, ketika selesai melaksanakan shalat subuh sepulang dari masjid. Tidak sengaja ada pohon yang rebah, tumbang jatuh ke tanah menghantam tubuhnya, di jalan depan pekuburan, yang letaknya tidak jauh dari masjid. Setiap yang bernyawa tetap akan mati, begitulah juga manusia yang diciptakan dari tanah.

”Dari bumilah Kami ciptakan kamu, dan ke dalamnya Kami akan menggembalikan kamu dan daripadanya pula Kami akan mengeluarkan kamu sekali lagi.”*

Potret Susi

Cerpen: Ratna Khaerudina

Pulang liburan wajah Susi berubah mendung tak seperti waktu berangkat libur pagi tadi. Kakinya seperti enggan untuk melangkah pulang ke rumah si bos. Terbayang setumpuk pekerjaan yang sudah melambai-lambai menantinya. Mencuci piring, membersihkan dapur yang berantakan, kotor dan berminyak. Belum lagi harus memandikan dua anaksi bos yang super duper nakal. Mandi saja mesti bawa mainan yang aneh-aneh. Ujung-ujungnya Susi juga nanti yang ngebeersihin lagi mainan-mainan itu. Itu masih diiringi irama lagu wajib ciptaan nyonya yang khas; khas pedasnya dan bikin kuping memerah.


Fiuhh!! Membayangkan itu semua, Susi jadi semakin malas pulang. Dia duduk dengan menopang dagu di sudut taman bawah rumah bosnya. Nelangsa.

Ting tong...ting tong...

Susi memencet bel rumah si bos. Tak dikasih kunci jadi ya harus pencet bel, kalau tidak memangnya mau berdiri semalaman di luar. Susi berdebar-debar menanti si bos membukakan pintu untuknya. Selalu rasa cemas itu menggempakan hati Susi setiap pulang liburan. Meskipun sudah berjalan hampir setahun lebih, tapi rasa resah tak jelas itu masih betah berkawan dengan hatinya.
Sepuluh menit menunggu di luar tak ada tanda-tanda si bos membukakan pintu untuknya. Susi mencoba memencet bel sekali lagi, tapi si bos tak kunjung membuka pintu, Susi cemas, namun Susi takut untuk menelpon ke rumah.

"Ah, mungkin sedang pada makan di restoran." Susi membatin, seperti sudah hafal tabiat bosnya. Susi pasrah menunggu di luar, memberikan tubuhnya jadi santapan musim dingin.

"Susiii....Bangun!! Dasar pemalas! Sudah gila ya? Masa tidur di depan pintu?"
Susi gelagapan mendengar suara menyerupai petir yang sudah lekat diotaknya. Di depannya, nyonya dan antek-anteknya sudah berdiri pongah. Tuan cuma cengar-cengir kelihatan sekali kalau dia seorang ISTI ( Ikatan Suami Takut Istri). Bos-bos kecil tak kalah dengan induknya, datang-datang malah langsung menyiram susi dengan sisa soya milk. Sengaja banget. Nakal. Tak beradat. Beraninya saja sama pembantu. Memang yang gila juga siapa? Mereka sendiri tidak kasih kunci, bagaimana mau masuk ke dalam rumah? Susi menggeremeng dalam hati. ***

Semua sudah beres, sudah dijalaninya sesuai prosedur, tinggal kasih susu buat anak-anak, lalu tidur. Susi sudah siap-siap hendak menggapai selimut ketika tiba-tiba nyonya memanggilnya keras sekali. Tergopoh-gopoh susi datang dengan membungkuk-bungkuk hormat macam kawulo alit yang mau menghadap sang raja.

"Nyonya, ada apa panggil saya?" Tanya Susi dengan menahan gondok,karena jam istirahatnya terganggu. "Libur ndak libur kok sama saja kerja, Duh Gusti semoga diberi kesabaran," dumel Susi dalam hati.

"Stim dulu botol susu itu baru tidur. Pemalas sekali sih kamu, gak ada inisiatif sama sekali." kata nyonya antagonis.
"Masa hari libur masih kerja juga, Nya?" Jawab Susi takut-takut menyuarakan isi hati.
"Heh, Sejak kapan kamu berani melawan perintahku? Lekas laksanakan tak usah banyak oceh! Kamu mau diterminit?"
Huh...! Demi mendengar kalimat sakti "terminit" (PHK), Susi langsung ngeloyor pergi menyetim botol, meskipun dengan setengah hati. Susi tidak mau diterminit. Betapa susahnya nanti kalau sampai diterminit. Siapa yang akan ngasih uang bapak-ibunya di kampung. Siapa akan membiayai sekolah buat adik-adik dan seabrek kebutuhan yang belum tercukupi. Ya! Bersabar saja demi semua itu. Oh uang betapa kau membuat semua orang jadi kliyengan.***

Musim dingin membuat sekujur tubuh jadi semakin ngilu. Kadang suhu drop hingga minus. Bibir pecah berdarah-darah, begitu pula tangan dan kaki yang juga kering bagaikan musim kemarau.
Namun begitu, cuaca kadang tidak bisa diramalkan. Seperti juga nasib Susi, tak ada badai tak ada hujan tiba-tiba Nyonya men-terminit-nya. Susi megap-megap menahan sedih dan kecewa. Hari itu juga Susi diantar Nyonya kembali keagent.

"Apa salah saya, Bu? Kok saya di-terminit?" tanya Susi pada salah satu staff agent yang kelihatan judes.
"Majikan bilang kamu tuh pemalas, gak ada inisiatif, you know?" jawab siagent penuh arogansi.
"Malas bagaimana, Bu? Saya sudah bekerja sesuai dengan yang mereka inginkan kok." Susi membela diri berharap si agen berbaik hati untuk membantunya agar dirinya tidak di-terminit.
Bagaimanalah nanti nasib keluarganya padahal semua beban tertanggung dipundaknya. Susi memohon pada agen agar membujuk majikannya untuk membatalkan itu semua. Bukan tanpa sebab Susi memohon begitu rupa, dia tak ingin potongan gaji lagi jika nanti dapat majikan baru. Agen selalu saja semaunya sendiri mengatur-atur nasib orang, semua nasib BMI ( Buruh Migran Indonesia) seperti tergantung di tangan agen. Menggemaskan.

"Pokoknya, majikan kamu bilang kamu itu malas. Sekarang majikan tak mau kamu lagi. Sebaiknya kamu cari majikan baru saja. Kami akan bantu kok, ya?" bujuk agen pada Susi.
Dia tahu sekali apa yang ada diotak si agen. Nasibnya kini di agen harus mencari majikan baru, lantas memberi uang lagi pada si agen sebagai kompensasi mencari majikan baru untuknya.
Susi sekarang hanya pasrah. Ditatapnya sekeliling ruangan agen. Ada enam BMI sepertinya di situ. Didekatinya mereka dan ditanyai satu persatu, ternyata semua juga di-terminit majikan. Ada yang baru 3 bulan, ada yang baru habis potongan, bahkan ada yang tinggal 2 bulan lagi habis kontrak malah di-terminit.
Susi jadi merasa tak sendiri namun otaknya berputar-putar. Hatinya enggan menerima nasib itu. Nasib bisa berubah selama mau untuk mengubahnya. Susi mondar-mandir di depan ke-enam BMI ynag di-terminit tersebut.
Di sebuah taman yang agak lengang, Susi mengumpulkan mereka, mencoba mengajak mereka untuk mau merubah nasib mereka sendiri. Mencoba mengadu pada labour (Departemen Tenaga Kerja) atau setidaknya KJRI agar mau menginvestigasi agen yang sewenang-wenang men-terminit para BMI dengan alasan tak jelas.

"Kita ini sudah kaya dagangan saja, teman-teman. Coba bayangkan, massa kita harus potongan lagi paling tidak 5 bulan. Kalau begini caranya, habislah masa tua kita di sini tanpa menghasilkan apa-apa, ayolah kita cari dukungan dari BMI-BMI lain yang bernasib sama dengan kita dan kita juga bisa minta bantuan pada pihak KJRI." Susi mencoba membuka pembicaraan.
"Aku tidak mau ikutlah, Sus. Aku takut sama agen kita yang galak itu. Biarlah aku nyari majikan lagi, potongan lagi juga ndak apa-apa . Wong niatnya kesini memang mau kerja kok. Aku ndak mau ikut aneh-aneh gitu." Salah satu dari mereka mengeluarkan pendapatnya.
"Aku juga ndak ikutanlah, Sus." susul yang lain.
Semua menyatakan tidak akan ikut dengan rencana Susi untuk merubah nasib. Mutlak. Susi kini sendiri ditinggalkan oleh mereka. Hatinya semakin sembab melihat kenyataan itu.
Susi membawa tubuhnya kembali ke agen. Hatinya belum menyerah. AApapun itu, Susi ingin ada perubahan atas nasibnya saat ini. Kalau bisa, juga nasib teman-teman lain yang diperlakukan seperti barang dagangan. Celakanya, mereka sama sekali tidak menyadari hal itu.
Setibanya di agen, Susi mendapati semua mata mengawasinya, apalagi orang-orang agen, tatapannya penuh selidik ke arahnya. Sepertinya, dia seorang maling ayam yang pantas untuk digebugi orang sekampung. Susi agak jerih juga, namun dirinya terus melangkah karena tak merasa berbuat kesalahan apa-apa.

"Sus, kamu mau coba-coba melawan ya? Mau sok jadi pahlawan ya?" tanya salah seorang staff agen dengan sadis. Tangannya menuding-nuding kepala Susi.
Dia, langsung faham, pengkhianatan telah terjadi dan itu dilakukan oleh teman senasibnya juga. Susi makin sesak jiwanya, namun ia tak menyalahkan keadaan, apalagi menyalahkan mereka.
"Pantas saja majikanmu men-terminit kamu. Sebagai hukuman nanti kamu ikut Bu Linda, kerja di sana sampai ada majikan yang mau sama kamu. Jangan harap ada gaji atau libur. Mengerti!! kata Si Agen.
"Saya akan bekerja di rumah Bu Linda kalau saya digaji. Kalau tidak saya tidak akan pergi," jawab Susi tegas.
"Kamu dibilangin kok ngeyel, kamu mau ditangkap polisi, huh?" Si agen coba-coba menakuti Susi. Rupanya mereka telah salah duga. Susi bukanlah pembantu kebanyakan yang menerima dengan tunduk segala perintah si agen.
"Kebetulan sekali kalau mau panggil polisi.Saya tidak usah capek-capek mendatangkan polisi kemari untuk mengambil dokumen saya yang telah kalian tahan," jawab Susi tak kalah galak.
Harga dirinya sudah merasa terluka sekali. Beban yang menghimpit membuatnya harus berani berpijak dengan kuat pada kakinya sendiri.
Si agen ingin muntab tapi sepertinya akan percuma saja, bahkan mungkin malah bisa terjadi hal-hal yang tidak dimauinya. Yang kini dihadapinya bukanlah pembantu atau buruh biasa. Jelas sekali si agen telah kalah karena tiba-tiba saja Si Agen mengambil semua dokumen Susi lantas menyerahkannya meski disertai teriakan yang sangat tak beradab.

"Pergi dari agen sini! Pergiiii!" teriak Si agen.

Susi mengambil tasnya. Dengan gontai melangkah keluar dari agen. Pikirannya masih kalut karena di-terminit dan belum juga menemukan majikan baru.
Di sebuah taman Susi berhenti dan mencari tempat duduk. Dicarinya nomor yang sangat penting baginya. Nomor yang menurutnya hanya itu yang bisa menjadi dewa penolong dan mengerti segala isi hatinya. Nomor keberuntungan yang selalu membuatnya merasa tenang karena sebentar lagi pasti segala urusan akan segera bisa teratasi.
Penuh perasaan Susi memencet nomor sakti tersebut. Hrapannya kian menggunung ketika di seberang terdengar suara menyahut.

"Hallo Pak, ini KJRI kan?" tanya Susi dengan suara membuncah.

"Iya benar, katakan ada keperluan apa?" saut suara diseberang sana.
"Begini Pak, saya di-terminit dan saya butuh perlindungan dari Bapak, karena saya diperlakukan sewenang-wenang oleh agen, Pak." Susi memuntahkan seluruh unek-uneknya dalam hati.
"Si Agen itu, Pak. Masa semua BMI di sini seperti dibuat mainan. Sesuka-sukanya mereka main terminit dan setelah itu disuruh bekerja tanpa diupah. Pokoknya hak-hak kita tidak dipenuhi, Pak." lanjut Susi pula dengan antusias.
"Kita mau, Bapak bertindak untuk kami para pekerja yang ada di HongKong agar kami tidak diperlakukan semena-mena," pungkasnya.

"Mbak, sebaiknya mbak cari agen lagi dan cari majikan baru. Sudah untung mbak bisa bekerja di HongKong daripada di Indonesia, paling-paling mbak juga jadi pembantu dan itu gajinya sedikit sekali. Kok masih mau protes segala. Gitu aja kok repot. Sudah maaf mbak, ini kantor mau tutup."

Krekk!! Suara telpon terputus. Susi terbengong-bengong, harapanya langsung melumer lagi seperti agar-agar. Oh, ya nasib. (End)


Juara 1 Lomba Cerpen FLPHK & KJRI-HK (Mei 2010)

Pesan Kakek dalam Mimpi

Rose Juliet

Aku melangkah di dalam keremangan cahaya bulan yang bersinar terang..didepan sana tak jauh dari tempatku aku melihat seorang kakek duduk dibawah pohon yang rindang sambil memandang rembulan yang bersinar sempurna, aku hampiri kakek itu siapa tahu kakek itu membutuhkan pertolonganku, sambil membungkuk hormat aku mengucap salam "Assalamualaikum" "Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuhu" jawab kakek dengan sopan dan berwibawa

"Kek..apakah kakek salah jalan untuk sampai dirumah..?apakah kakek membutuhkan bantuan untuk mengantar kakek..?" tanyaku dengan sangat berhati-hati
"oh tidak cucuku..kakek tidak salah jalan, dan kakek sudah bener dalam berjalan..trimakasih cucu" jawab kakek dengan mengulum senyum yang penuh tanda tanya
"memangnya dimana rumah kakek..kok kakek disini seorang diri..?tapi aneh kakek bilang ga kesasar dan ga butuh bantuan"timpalku
"dimana kaki kakek berpijak disitulah rumah kakek cucuku..dan sekarang kakek berpijak disini maka disini pula rumah kakek" jawabnya lagi

"kalau begitu dimana barang-barang kakek kalau memang ini merupakan rumah kakek..?"tanyaku penuh selidik
"barang seperti apa yang kau maksud cucuku..bila barang-barang mahal dan untuk keperluan dunia, kakek akui kakek tidak punya semua itu yang kakek punya hanya ini" jawab kakek sambil menunjukkan dibelakangnya ada sedikit garam dalam plastik, ada roti kering dan ada sebotol air putih "cukup bagi kakek semua ini dan yang terpenting adalah ini" sambung kakek sambil menunjukkan padaku mushaf Al-Qur'an dalam pelukannya

Sejenak aku berdiam diri, ternyata yang ada dihadapanku adalah seorang kakek yang sholeh dan mempunyai banyak pengetahuan tentang ilmu agama..kesempatan bagiku untuk menanyakan hal-hal yang tidak aku ketahui..setelah berpikir sejenak akupun melanjutkan pertanyaanku "kek..memangnya keluarga kakek tidak mencari kakek..?atau dimanakah keluarga kakek sa'at ini hingga kakek seorang diri ditempat ini..?

"Muslimin dan muslimat diseluruh dunia ini adalah keluarga kakek yang sa'at ini ada yang lagi tadabur Al-Qur'an di masjid-masjid dan surau-surau, ada pula yang sedang mengkais rezki untuk anak dan istri yang menanti dirumah" jawab kakek dengan tenang

"Kakek bukan itu maksudku..maksudku istri kakek dan putra-putri kakek begitu kek" sambungku
"Alloh lebih menyayangi mereka ketimbang kakek..maka dari itu Alloh telah mengambil mereka dari sisi kakek dan sa'at ini mereka (istri dan anak-anak kakek) berada dalam tempat yang damai sesuai dengan amal dan ibadahnya" jawab kakek sambil matanya menerawang jauh kedepan..kutunggu dengan harapan kakek akan meneruskan cerita tentang keluarganya, namun lama kutunggu kakek tetap diam hingga akhirnya akupun bertanya "oh..jadi begitu hingga kakek sudah tidak punya tujuan dalam hidup dan akhirnya memilih tempat tinggal disini..?"

"Siapa bilang kakek tidak punya tujuan cucuku..? hidup tanpa tujuan adalah hidup tanpa arah dan kemauan yang akan membuat hidup ini terombang-ambing dalam hal yang tidak menentu..hingga akhirnya hidup akan selalu dirundung masalah, hidup harus punya tujuan yang hendak dicapai dengan semangat membara..dan kakek punya tujuan itu, akhirat adalah tujuan kakek dan dunia adalah ladang untuk menanam amal yang hasilnya bisa kita petik diakhirat kelak..maka dari itu cucuku janganlah kau sia-siakan hidupmu"

Aku manggut-manggut tanda mengerti apa yang dijelaskan oleh kakek itu, sebelum aku membuka pertanyaan lagi..karena masih banyak yang ingin aku tanyakan pada kakek..tapi si kakek keburu pamit "sebaiknya segera kamu pergi dari sini hari telah malam dan sudah sa'atnya untuk kakek tidur..pergilah cucuku, tentukan arah dan tujuan hidupmu"

Belum kujawab kakek itu dengan secepat kilat memanjat pohon dan sekarang sudah berada ditempat peristirahatannya sambil tetap masih memandangiku "kek..bolehkah saya menyusul kakek disana..karena ada banyak hal yang ingin aku tanyakan pada kakek..setelah aku dapatkan jawaban dari kakek aku berjanji akan segera pergi dari sini" pintaku dengan sedikit memelas

"Belum sa'atnya kamu naik kesini cucuku..karena untuk naik kesini dibutuhkan kunci, dan kunci itu tak cukup hanya dengan dihapal tapi yang lebih perlu lagi kunci itu harus diamalkan" jawab si kakek

"Baiklah kek...beri tahu kuncinya untukku dan aku akan mengamalkannya..insya Alloh" harapku "baik..akan kakek kasih tahu kuncinya dan akan kakek tulis diselembar kertas ini, setelah kertas ini ada ditanganmu..jangan coba-coba untuk naik kesini..tapi pergilah dari sini renungkan isi kertas itu dan amalkan dalam kehidupanmu, apakah kamu siap..?tanya si kakek dengan suara gemetar..akupun menyanggupinya dengan ucapan "insya Alloh kek"

Kulihat sekilas kakek menulis dilembaran kertas..dan kertas itu dilipatnya sedemikian rupa hingga akhirnya dilemparkannya padaku yang masih menanti dibawah, dengan tangan gemetar kuambil kertas itu kubuka dengan pelan-pelan dan kubaca begini isinya:

~Berpikirlah menggunakan akal
~Bertindaklah menggunakan hati
~Bekerjalah menggunakan kemampuan
~Berjalanlah dengan tujuan dan
~Beribadahlah dengan keikhlasan
(dan inti dari semua itu hanya satu..yaitu: Keikhlasan)

Setelah kubaca dengan tuntas pesan kakek itu..aku melipatnya dan memasukkan disaku bajuku, dan ternyata aku tidak langsung pulang seperti perintahnya..namun aku hendak memanjat pohon yang ada didepanku..baru sampai dicabang yang terpendek..gedebuk aku jatuh, kubuka mata dan ternyata ahh..aku mimpi dan terjatuh dari tempat tidur, kepalaku benjol karena bersinggungan dengan lantai []

Jatuh Cinta pada Sepi

Cerpen: Tanti

Langkahku terhenti sesaat ketika aku menyadari bahwa aku telah berada di tempat dimana banyak kenangan yang pernah merobek relung hatiku. Meninggalkanya atau tepatnya sebuah perpisahan yang mungkin tak pernah aku inginkan. Aku bahkan membencinya.



Jatuh cinta pada laki-laki asing, tak pernah ada dalam benakku sebelumnya, bahkan dari mimpi pun jauh. Tetapi itulah kenyataan yang ada sekarang. Aku sedang putus cinta dengan seseorang berkebangsaan asing. Awal perkenalanku mungkin juga karena aku sempat kerja sampingan tiap hari minggu di kantornya. Dari situ hubungan kami semakin dekat dan tanpa kami sadari benih-benih cinta itu perlahan hadir di antara kami. Meski pernah aku berjanji pada diriki sendiri aku tak akan jatuh cinta di negri gingseng ini, ternyata akhirnya aku terkena panah asmara itu. Perasaan yang aku sendiri tak pernah menginginkanya, tetapi aku pun tak mampu menolaknya.

Enam bulan sudah kisahku dengan dia yang akhirnya harus berakhir di sini dengan kepedihan yang mungkin aku sendiri yang merasakanya. Dan mungkin juga aku manusia terbodoh saat itu, aku sudah tahu pasti bahwa dia telah memiliki seorang bayi tak berdosa hasil hubungan dengan kekasihnya. Manusia bodoh kan diriku? Namun, mungkin juga itulah kata orang yang namanya cinta, tertutup bukan hanya hati, mata pun demikian.

Kembali aku langkahkan kakiku. Aku sudah berjanji untuk melupakanya, walau jujur aku butuh waktu. Pikiranku sekarang adalah bagaimana aku harus mendapatkan kembali pekerjaan yang telah hilang itu.

’’Rahma, hari ini kamu gak kerja kan?’’ tanya temenku, Liya, yang sejak tadi bersamaku. Aku hanya menggeleng. Aku yakin dia tahu apa yang aku rasakan. Kami berdua akhirnya berhenti pada sebuah tenda putih yang berada di dalam taman Victoria itu. Tatapku kosong tak tahu harus pada apa aku bersandar, ruang hatiku kosong walau aku sudah berjanji melupakanya. Seolah tahu yang aku rasakan, Liya menyodorkan sebuah buku baru untukku

’’Baru nih, kemaren baru dapet dari mbak Mur langganan bukuku.’’

Judul buku sekitar 200 halaman itu sempat menarik perhatianku. Jodoh. Aku tersenyum memandangnya.

’’Apa maksudnya nih?’’ Tapi dia malah mengedipkan matanya kepadaku.

’’Gak ada, aku hanya ingin kamu membacanya aja gak ada maksud apa-apa kok,’’ kembali dia tersenyum sambil mengedipkan matanya kembali.

’’Ok, aku tahu kok, makasih ya?’’ kataku sambil mulai membuka-buka buku yang baru aku terima dari Liya.

Tiba-tiba handphone-ku berbunyi, ada tulisan ’someone’ di sana yang berarti, itu telpon dari laki-laki yang pernah mengisi hari-hari indahku dan juga telah merobek hatiku. Aku tak mengangkatnya, mendiamkanya beberapa saat, aku dan Liya saling berpandangan

’’Coba kamu angkat apa maunya?’’ Liya mengulurkan handphone yang sejak tadi tak taruh di sampingku.

’’Sorry Liy, aku belum siap terlalu menyakitkan untuk saat ini, biarin aja ya?’’ Aku seolah memohon pada Liya yang segera meletakkan kembali handpone-ku di tempat semula. Aku mendesah perlahan, tak pernah tahu apa maunya dia. keputusan untuk berpisah mungkin sebuah keinginan bersama, tetapi kenyataanya memang awalnya sangat berat bagi kami, tapi aku berjanji pada diriku sendiri, aku harus kuat, harus mampu, aku tak boleh lagi menengoknya, menguak kembali luka lama yang begitu menyakitkan. Memikirkanya saat ini sangat memusingkanku, mungkin pantas jika di sebut aku membencinya, tetapi aku hanyalah perempuan biasa yang memiliki banyak kelemahan seperti perempuan biasa lainya.

’’Sebentar Liy, aku ke kamar mandi dulu ya? Gak tahu kenapa tiba-tiba kurasakan kepalaku pening memikirkan apa yang sedang terjadi. tak percaya kalau aku akan menjadi perempuanya yang hanya mungkin sebagai teman sepinya. Tak seoarng pun ingin aku bersamanya sejak dulu, tapi entah kenapa pula aku hanya ingin bersamanya ya? Memiliki laki-laki seperti dia mungkin memang membanggakanku. Tapi, bagaimana dengan yang sebenarnya terjadi pada diriku? Apakah selama aku menjalin hubungan denganya aku bangga? Atau justru aku merasa tertekan? Apakah mereka tahu yang sebenarnya aku rasakan? Apakah mereka mau tahu? Aku yakin mereka mengiraku baik-baik saja. Dan aku memang menginginkan mereka mengiraku baik-baik saja. Tak kurang dan tak lebih, hanya itu yang aku inginkan. Aku ingin hanya aku yang menanggung hubungan terlarang ini, bukan siapa atau siapa. Mencintainya sekarang hanyalah sebuah halusinasi. Dan aku harus aku menyingkirkannya, meski hanya halusinasi. Aku akan membiarkanya menjadi yang terbaik bagiku. Dan aku sudah berjanji pada diriku bahwa aku takkan berhubungan denganya lagi. Hanya itu saat ini yang ada dalam benakku. Keegoisan dia mengalahkanku, mengalahkan hatiku untuk tidak melawanya kembali, sekarang aku harus menganggap bahwa dia bukan apa-apa. Dia tidak pantas untuk dipertahankan, dia tak pantas untuk hidup di sampingku, dan dia tak pantas mendapatkanku. Aku telah berjanji pada diriku sendiri, apa pun yang terjadi aku akan tetap di jalanku yang sekarang, Benar-benar cintaku tak pantas untukknya. Bagiku dia sekarang adalah masa lalu yang harus aku sembunyikan dari semua orang. Baru sekarang aku sadar dan malu pada diriku bahwa sebenarnya yang aku lakukan sangatlah memalukan. Mencintai laki-laki yang salah bagiku adalah sesuatu yang baru, aku tak pernah jatuh cinta, atau mungkin aku terlalu sibuk dengan urusan yang tak seharusnya aku urusi? mungkin hanya Tuhan yang tahu tentang apa yang aku rasakan dan aku inginkan. Selama di negri asing ini mungkin aku hanya takut pada sepi, takut pada kesendirian. Jujur aku membencinya, membenci sepi yang selalu menggelutiku, menyelubungiku, aku benci, benci sekali. Sebuah pertanyaan yang sering dan sampai sekarang bahkan telah mengendap dalam pikiranku, apa sebenarnya yang menjadikanku seperti ini? Mengapa sepi selalu setia menemaniku? Mengapa? Apakah aku tak boleh bersama ingar-bingar? Apakah aku tak boleh bercinta dengan gaduh? Apakah aku tak boleh bermesraan dengan ramai? Apakah harus sepi yang mengakrapiku? Apakah harus semua itu yang temaniku? Apakah semuanya harus hampa? Atau karena sepi telah jatuh cinta kepadaku? Apakah karena sepi telah menjadi darah dalam dagingku? Aku tak pernah tahu. Yang aku tahu bahwa aku hanyalah perempuan biasa yang tak bisa jauh dari cinta.

Cinta? Sudah berapa lama sebenarnya aku tak pernah merasakan arti yang sebenarnya? Yang kata orang cinta itu sesuatu yang bisa memberi warna merah jambu pada pipi. Yang bisa membuat hatiku berbunga-bunga, yang bisa memberiku debar yang hebat, kapankah aku pernah merasakanya kembali? Atau karena aku telah melupakanya? Dan kenapa pula aku harus melupakanya? Apakah aku tak menginginkanya kembali? Mungkin aku lelah, aku capek dengan semua yang terjadi, dan mungkin juga aku tak menginginkanya lagi? Berarti aku pernah jatuh cinta kan? Ya, mungkin aku pernah jatuh cinta, tapi mungkin juga aku sudah ingin melupakanya, entah kenapa mungkin aku hanya ingin sejenak merasakanya, atau pula itu yang sebenarnya membuatku merasa sakit seperti ini? Sakit yang mungkin hanya aku sendiri yang merasakanya. Tak ingin aku pungkiri sebenarnya aku ingin merasakan keindahan itu lagi, tapi mungkinkah? Baru saja dia porandakan semua, atau sekali lagi karena aku mencintai laki-laki yang salah? Ya, mungkin ini kesalahan terbesar dalam hidupku yang aku takkan mengulanginya lagi? Tetapi aku memang harus heran pada yang namanya cinta, kenapa aku bisa terkena virusnya? Yang membuatku sakit, pedih, dan banyak hal lain yang sekiranya tak pernah aku mengerti. Hanya mungkin keadaanlah yang bisa membawaku dalam situasi seperti sekarang ini, sakit hati, jatuh cinta lagi-lagi pada laki-laki yang salah? Namun, aku sempat menikmatinya, menikmati cinta yang tak seharusnya aku nikmati, dan tak seharusnya aku pertahankan. Tapi aku mempertahankanya selama 6 bulan, waktu yang bisa di bilang lebih dari cukup untuk sebuah hubungan. Aku benar-benar menikmatinya, bersamanya kala itu sangat menyenangkan bagiku walau harus berakhir seperti ini, aku tak pernah menyesalinya, karena sebenarnya perasaanku padanya pun nyata dan bukan hanya sebuah permainan yang dia inginkan. Jujur aku tak tahu apakah dia mempermainkanku? Atau benar-benar perasaan itu ada? Namun sebenarnya aku sempat percaya bahwa dia mencintaiku walau hanya dalam hitungan detik. Aku yakin dia pernah mencintaiku walau hanya dalam satu helaan nafasnya. Bagiku sebenarnya sudah lebih dari cukup.

Sekarang dalam kenyataanya aku harus merelakan dia pergi, aku berjanji takkan ada lagi baginya ruang di hatiku.Tak akan ada, dan tak akan pernah, dia harus menjadi masa lalu yang aku tak boleh mengingatnya, harus!

Dan sekarang aku juga mantap melangkah tanpanya, dia bukan apa-apa dan siapa-siapa, tak penting lagi, cinta ini telah terkubur bersama waktu yang tetap akan temaniku hingga akhir perjalanan ini. []

Hong Kong, Desember 2007

Sumber:
Tabloid Intermezo edisi Januari 2008

Mbah Rus [2]

Cerpen: Bonari Nabonenar

Mbah Rus, selain lahir dari keluarga terkaya di kampung, pasti ia sangat cantik waktu mudanya, sehingga seorang guru dari kampung yang jauh melamarnya. Itu sungguh luar biasa. Guru, pada zaman itu, nyaris seperti berdarah biru. Ia adalah golongan priyayi, sangat dihormati di masyarakat. Dan Mbah Rus berhasil mendapatkannya. Tetapi, nasib buruk menimpa guru itu, suami Mbah Rus itu. Ia menjadi buta. Ini adalah salah satu dari sekian banyak detail yang belum pernah terungkap. Mengapa guru itu menjadi buta, mengapa lalu Mbah Rus bercerai dengannya. Dan hingga kini pun saya tidak pernah tahu, bagaimana kemudian Mbah Rus yang hingga kini tak memiliki seorang pun anak itu bisa dipersunting seorang laki-laki yang boleh dimasukkan ke dalam daftar laki-laki paling tampan dan perkasa di kampung.



Ada beberapa fragmen kisah mengenai kehebatan laki-laki suami kedua Mbah Rus itu. Sebagai laki-laki, ia sebegitu memesona para perempuan, sehingga perempuan-perempuan yang sudah bersuami pun akan memimpikannya. Kalau ia melenggang di jalanan, mungkin, para perempuanlah yang akan menyiulinya, bukan sebaliknya. Ada yang pernah bercerita, seorang preman kampung menjajal kehebatanya dengan menantangnya untuk membawa ke hadapannya, hanya membawa saja, seorang perempuan tercantik di kampung.

Malam makin merambat. Udara dingin. Tetapi tantangan itu cukup memanaskan.

’’Kalau kau mengaku hebat, bawa dia ke sini sekarang juga.’’

Maka, laki-laki itu pun bergegas menuju rumah perempuan itu, menunggunya di halaman sampai perempuan itu keluar dari rumah. Ia berbatuk kecil dan memanggil lirih ketika perempuan itu ternyata benar-benar kencing di luar rumah.

’’Oh…!’’ perempuan itu terkejut, dan menyebut nama si laki-laki.

’’Maaf, ada yang penting, Jangan berteriak, ya?’’

Dan belum sempat melontarkan reaksi, baik kata-kata maupun isyarat, perempuan itu telah mendapati dirinya di pundak si laki-laki. Ia telah dipikul, benar-benar dipikul seperti kayu, dibawa ke hadapan preman kampung yan menunggunya di pos ronda.

’’Sudah, sekarang aku antarkan kau pulang. Keperluannya sudah cukup,’’ kata laki-laki yang kelak menjadi suami kedua Mbah Rus kepada perempuan tercantik di kampung itu.

Perempuan itu benar-benar tampak bengong. Mungkin masih juga belum jernih pikirannya ketika ia berucap, ’’Aku berani kok pulang sendiri,’’ sambil ngeloyor begitu saja.

Dalam hal keperkasaan fisik, jangan tanya pula. Lepaskanlah seekor rusa di hadapannya, maka ia akan mengejarnya dan menangkapnya dengan tangannya. Maka, perempuan mana yang tidak tunduk di hadapan laki-laki yang memesona, tampan, dan secepat itu? Pun Mbah Rus. Ia boleh dijuluki anak orang terkaya di kampung, perempuan tercantik di kampung, tetapi pada akhirnya tertaklukkan juga. Oh, tidak. Mbah Rus adalah perempuan perkasa. Kalau kemudian ia menikah dengan laki-laki yang kemudian jadi suami keduanya itu, pastilah bukan dalam rangka takluk-menaklukkan. Buktinya, beberapa tahun kemudian Mbah Rus bisa bersikap tegas ketika mendapati seorang perempuan yang bukan dirinya mendesah di dekat laki-laki itu.

’’Itulah yang terjadi, saya lupa tahun berapa. Yang pasti, itu kejadiannya di siang bolong yang tiba-tiba menjadi gelap karena Gunung Kelud meletus,’’ tutur Mbah Rus pada suatu kesempatan.

Mbah Rus segera bercerai dengan suami keduanya itu.

[3]

Setelah itu Mbah Rus memilih hidup sendiri di rumah dan mencari nafkah sendiri dari pekarangan warisan yang menjadi bagiannya. Orangtua yang kaya raya sudah menjadi sejarah. Tiga orang bersaudara itu, ini juga detail yang hilang, tidak meneruskan tradisi hidup dalam gelimang harta-benda seperti orangtua mereka. Sudah jatuh miskin, hidup tanpa suami tanpa anak pula.

Itu dialami Mbah Rus hampir persis setengah abad lamanya, sebelum kemudian tubuhnya takluk kepada kerentaan dan terpaksa menumpang pada keluarga Jaelani yang membangun rumah menumpang di pekarangannya.

Kini Mbah Rus benar-benar sudah renta. Dan mulai sakit-sakitan pula. Beberapa bulan lalu kakinya bengkak karena penyakit gula. Saya mulai cemas, karena jarak kami yang sangat jauh, harus beberapa kali oper pesawat untuk sampai ke hadapan Mbah Rus. Saya sudah kehilangan Mbah Kakung, Mbah Jemani, dan Mbah Painah dengan cara yang lebih menyakitkan daripada sekadar kehilagan orang-orang tercinta. Saya tidak punya kesempatan untuk mengantarkan mereka ke kuburan.

’’Bagaimana, apakah Mbah Rus masih sehat?’’ begitulah pertanyaan yang hampir tak pernah lupa saya selipkan saat ada --atau saya-- yang menelepon. Saya tahu, akan semakin banyak kehilangan detail sejarah saya sendiri. Saya tahu satu per satu orang-orang tercinta saya akan berguguran. Dan saya pasti akan belajar mengarang-ngarang agar sejarah itu bisa dibaca. Mungkin saya harus menyampur-adukkan karangan saya dengan fakta. Tetapi itu tidak begitu menjadi soal bukan? Maka, saya harus banyak belajar kepada Mbah Rus. Belajar menikmati kesepian.[]



kamus kecik:

konthol-kinthil = laki-laki yang menikah dan kemudian tinggal di lingkungan keluarga sang istri, kebalikanya: kinthil-konthol).
gadhuh = buruh memelihara ternak dengan imbalan sebagian (biasanya separo) ternak hasil pemeliharaan itu.
gebyog = rumah adat Jawa, berdinding papan/kayu
sengkeran = simpanan
tunggu watang = (harfiah: penjaga batang)

BUKAN YEM

Cerpen Etik Juwita*

’’Kau percaya? Ada kawanku yang memasukkan bayi majikannya ke dalam mesin cuci sesaat menjelang pulang kampung,’’ katanya tanpa emosi. Saya melempar pandang pada ruang gelap, menembus jendela kaca. Perempuan ini berhasil meneror saya. Sial! Bergidik saya membayangkan yang baru dikatakannya.



Udara pengap. Kendaraan kecil ini cuma merayap. Dengan mesin mobil yang mampu mendidihkan darah yang beku, jalur pantura seperti jalan pintas menuju tempat setara neraka. Badan saya yang tertekuk sejak enam jam lalu seperti bengkok, ngilu punggung saya seperti menderita encok. Nyeri tak berani bergeming karena kesemutan mencapai tulang tembus daging. Tentu saja saya tak gegabah menyatakan ketidaksukaan saya pada ceritanya. Saya memandangnya lagi, berharap dia menyudahi terornya. Tukar pengalaman menjadi TKW mestinya ia tak perlu mengada-ada.

’’Dan aku?’’ Ia menggantung pertanyaannya, lalu diam. Memandang sekeliling. Si sopir sedang menikmati lagu Teluk Bayur sambil mengisap rokok. Si kernet sedang tidur, kepalanya tengadah bertumpu pada koper-koper kami yang menjulang dengan mulut menganga. Lima perempuan lain sedang tindih-menindih, beradu pundak terlelap juga. Wajah mereka sama, pucat seperti mayat. Ekspresi yang tampak pun sama, lelah. Mungkin karena usai kerja di luar negeri dan sekarang balas dendam dengan tidur sepanjang perjalanan. Saya tidak begitu, ia juga tidak seperti mereka. Tinggal saya, ia, dan sopir yang terjaga. Ia memandang saya, saya mengamatinya. Tiba-tiba saya merasa tak nyaman terjaga. Padahal saya paling tidak bisa tertidur ketika berada dalam kendaraan. Lewat cahaya yang menerobos dari mobil yang melintas dari arah berlawanan, saya melihat sinar matanya berapi-api, memanggang daging saya.

Ia merapatkan bibirnya pada telinga saya hingga mampu saya cium bau mulutnya yang seperti aroma got mampet, karena terlalu lama terkatup. Napasnya menderu hangat menyapu pipi kiri saya. ’’Aku mencampur susu anak majikanku dengan racun tikus,’’ katanya.

[]

Jika tahu akan separah ini perjalanan yang harus saya lalui, saya pasti minta dijemput saja oleh keluarga. Mestinya saya minta majikan saya untuk membelikan tiket langsung dari Singapura ke Surabaya. Dengan begitu saya pasti sudah sampai di Blitar, kampung saya. Tidak perlu melewati Jakarta. Tidak perlu singgah di Terminal 3, lalu menggunakan jasa travel yang seperti gerobak pengangkut sampah begini dan bertemu dengan perempuan ini. Harusnya saya menolak usulan majikan saya untuk mengantar Mbak Karti, wanita yang dua tahun menjadi kawan saya bekerja, sampai rumahnya di Banyumas. ’’Pastikan ia tak mengalami suatu yang buruk selama dalam perjalanan,’’ kata majikan saya waktu itu.

Masalahnya, saat ini justru saya yang mengalami siksaan. Sementara Mbak Karti yang dirisaukan majikan saya malah mendengkur tertidur dengan tubuh melengkung seperti trenggiling.

Udara tambah pengap. Sengaja saya sibakkan kaca jendela berharap udara dari luar akan melegakan napas. Sial! Pasir-pasir lembut menghambur ke wajah saya, ketika truk dengan bak belakang yang berbunyi gluduk-gluduk melintas. Saya tutup kembali kaca jendela dengan kasar. Bau bacin dari bangkai ikan asin di pinggiran tambak tersekap dalam udara pengap. Dan, wanita itu, yang sudah berpindah dari sisi kiri saya, duduk persis di depan saya. Rupanya ia memerhatikan kelakuan saya. Ia tersenyum tipis, sinis.

’’Cuma aku dan kamu yang belum tidur,’’ katanya.

’’Saya tidak mengantuk. Mbak tidurlah.’’ Saya benar-benar ingin ia tidur.

’’Aku juga tidak mengantuk. Kau ingin dengar ceritaku yang lain?’’

O, mungkin kali ini ia akan mengatakan sesuatu yang lebih tak manusiawi. Diam-diam saya berpikir orang di depan saya ini umurnya mungkin mendekati empat puluh. Pipinya mulai kempot, bergigi palsu warna keemasan yang sekali-kali mengkilat oleh pantulan sinar yang berkelebat. Kuku-kuku tangannya terpotong tak rata, seperti penderita penyakit jiwa. Cekung matanya hitam seperti pejudi yang suka begadang sepanjang malam. Payudaranya kempot, dengan tubuh kurus dan kulit penuh sembulan otot. Perempuan ini barangkali memang sedang terganggu jiwanya. Stres!

’’Anak Mbak berapa?’’ tanya saya mengalihkan arah perbincangan. Kalau saya mengiyakan untuk mendengarkan ceritanya, pasti saya tidak bisa tidur, bukan cuma malam ini tapi sebulan malam setelah ini.

’’Tiga yang hidup. Tiga yang kugugurkan.’’

Ah, pertanyaan saya salah arah lagi.

’’Maaf Mbak, saya ngantuk. Saya tidur ya?’’

’’Menutup mata untuk membayangkan bayi yang dimasukkan mesin cuci?’’ katanya.

Saya kira saya sudah terperangkap dalam terornya. Saya urung merebahkan kepala saya pada sandaran jok tak berbusa yang bangkunya sudah membikin pantat saya terasa panas bukan alang kepalang ini. Saya bergeser sedikit, punggung saya seperti sedang tertindih baja.

’’Mbak, kenapa Mbak mengarang cerita ngeri begitu? Mustahil. Saya tidak percaya.’’

’’Karena kau tidak tahu.’’

’’Membunuh bayi pasti dihukum mati.’’

’’Tapi kawanku bebas!’’

’’Karena cerita membunuh itu tidak pernah ada!’’ bantah saya. Saya sadar suara saya agak membentak.

’’Kau masih kecil. Apa yang kau tahu? Apa kau tahu ia tak pernah punya nama pasti? Apa kau tahu ia beralamat palsu?’’

’’Saya mungkin cuma 22 tahun. Tapi saya tahu saya sedang dibohongi.’’

’’Kalau tahu mengapa mesti ketakutan? Takut pada sesuatu yang bohong? Kok nggak lucu sih kamu, Wuk Bawuk…’’

Saya memandangnya, sebenarnya saya sedang memelototinya. Ia menggeser kakinya sambil meringis.

’’Lihatlah, jempol kakiku hancur,’’ katanya lagi.

Saya mulai mengerti ia tidak gila. Orang tidak waras pasti tidak bisa berdebat. Saya menatap pada kakinya. Ia agak menaikkan celana panjangnya, melepas kaki dari sandal, menyorongkan kakinya ke depan saya, mencari cahaya untuk menunjukkan jarinya pada saya. Di antara jari-jari kurusnya tampak kuku ibu jari kanannya tak berbentuk, korengan, dan membusuk.

’’Tertimpa kaki meja saat mempersiapkan jamuan makan malam majikan,’’ paparnya saat mata saya tertumbuk miliknya.

’’Tak dibawa ke dokterkah?’’

’’Pakai uangnya biyungmu apa?’’

’’Ya, uangnya majikan Mbaklah.’’

’’Biar aku nggak dikasih makan seharian?’’

Tiba-tiba saya merasa iba padanya. Sebegitu pahitkah?

Mendengar kisah bagaimana kawan-kawan saya menjalani kehidupan sebagai buruh migran seringkali memerangahkan saya. Mulai dari cara mereka memberi nama majikan sebagai Mak Lampir, Nini Pelet, Mak Jambrong, bahkan Anjing! Atau tindakan nekat mereka mencampur sup yang diminum majikan dengan air kencing biar majikan nurut dan tak cerewet. Cerita-cerita yang semakin memberi keyakinan pada saya bahwa selama ini saya bernasib jauh lebih baik dari mereka. Pekerjaan saya cuma bersih-bersih rumah dan menjaga anjing. Itu pun dengan dua pembantu.

Meski awalnya takut-takut, saya bertanya kepadanya. Dia rupanya janda yang ditinggal kawin suami yang setahun lebih sebulan bekerja di Saudi Arabia pada keluarga Tuan Minyak berbini tiga beranak sepuluh dengan satu saja pembantu, yaitu dirinya. Sedapat mungkin saya menghindar untuk bertanya tentang kebenaran cerita bayi dan racun tikus itu. Semua masih terlelap.

[]

Semburat merah matahari pagi tampak di depan kami. Lalu saya menduga kami sedang menuju arah timur. Kendaraan yang kami tumpangi terseok-seok pada jalan tak rata. Muka kernet yang masih saja terlelap terangguk-angguk, kali ini terdengar bunyi seperti suara babi dari hidungnya. Barangkali ia sedang bermimpi jadi kaya raya dengan cara menjelma jadi babi ngepet.

Adidas pemberian majikan saya di pergelangan tangan menunjuk angka empat pagi. Kendaraan yang kami tumpangi membelok pada gang sempit yang jalannya membuat jidat saya tertumbuk muka Mbak Yem, wanita yang bercerita tentang susu racun tikus itu. Ia tersenyum. Bahkan senyumnya seperti nenek-nenek yang sedang berkabung karena ditinggal mati suaminya. Janggal dan dipaksakan.

Tiba-tiba mobil berhenti. ’’Bangun-bangun! Kita istirahat dulu,’’ kata sopir parau. Semua penumpang menggeliat, geragapan lalu menarik otot-otot mereka hingga terdengar bunyi gemeretak dari sendi-sendi yang terulur. Kernet melompat dan menggiring kami pada ruang berukuran 3 x 4 dan menyuruh kami duduk. Dia lalu bergegas mengunci pintu.

’’Kok dikunci?!’’ teriak saya. Kernet memelototi saya, saya balik memelototinya. ’’Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,’’ katanya, sambil melenggang pergi menuju ke segerombolan orang yang bicara dengan berbisik-bisik.

Saya perhatikan wajah-wajah pucat kawan saya yang terkantuk-kantuk yang dengan tidak curiga menyerahkan paspor mereka kepada kernet. Saya pun menyerahkan milik saya setelah sempat saya baca sebuah tulisan bercat hijau berbunyi: MONEY CHANGER di belakang meja bertuliskan KONTER. Di ruangan yang dihuni beberapa laki-laki ini, kawan-kawan seperjalanan saya dipanggil satu demi satu ke ruang yang saya tak mampu melongok apa yang terjadi di dalam sana. Saya was-was, ketika menyadari saya satu-satunya TKW yang dapat giliran paling belakang.

’’Kami membantu TKW. Karena banyak penipuan, maka kami membantu untuk menguruskan uang TKW yang masih dalam bentuk cek, dolar, riyal, atau ringgit. Bukan apa-apa, kadang uang-uang itu palsu. Kami tidak memaksa, tapi semua ini demi kebaikan TKW juga,’’ kata lelaki yang cara menatapnya tak tenang seperti kucing hendak mencuri ikan asin.

Saya teringat uang tiga ribu dollar Singapura yang nilainya sekitar lima belas juta rupiah di dalam tas punggung saya, terselip di antara kapas tampon pembalut wanita. Kata saya, ’’Uang saya sudah saya kirim ke ibu saya semuanya.’’

’’Boleh lihat bukti pengirimannya? Kadang-kadang jasa pengirim uang menipu. Kalau kita sih sama-sama orang Indonesia, kan baik kalau saling peduli.’’

’’Sudah saya buang di kotak sampah di Singapura,’’ jawab saya. ’’Saya sudah boleh pergi?”
’’Silakan. Ke sini bukan sana!’’ parintahnya agak membentak.

Ketika kami berada kembali di dalam kendaraan, kawan-kawan saya ribut mengeluhkan kurs mata uang rupiah yang lebih mahal di Indonesia. ’’Harusnya kutukar semua di Singapura, Tik. Jadi ruginya nggak banyak banget kayak begini,’’ kata Mbak Karti. Saya merasa saya sedang ingkar janji pada mantan majikan untuk menjaga Mbak Karti.

Ketika semua orang ribut tentang uang dan cek mereka yang di tangan sudah dalam bentuk rupiah, Mbak Yem diam saja. Tatapannya kosong. Pagi yang semburat memperlihatkan wajahnya yang kusut-masai. Kesedihan seperti sedang menggantungi lehernya.

’’Mbak Yem tukar uang juga?’’ saya bertanya agak berbisik.

’’Nggak.’’

’’Mbak Yem pikir mereka bohong?’’

’’Karena aku nggak punya uang.’’ Ia memandang jauh ke depan, ’’Majikanku akan mengirim cek uang gajiku.’’

’’Hah?! Mbak Yem percaya?’’ serempak semua perempuan yang semula acuh menanya Mbak Yem.

’’Nggak. Tapi aku bisa apa?’’

Saya yakin yang dimaksudkan bila bersikeras meminta gajinya, ia harus menunda kepulangannya ke Indonesia. Setuju untuk menerima tawaran majikan adalah satu-satunya jalan agar majikan bersedia membelikan tiket pesawat untuk pulang.

Selepas sarapan pagi di sebuah warung, kami dibawa ke tempat yang saya benar-benar tak tahu namanya. Pada sebuah rumah, di mana kami boleh mandi dan duduk di lantai berkarpet. Ada beberapa orang lain yang mungkin tiba beberapa saat sebelum kami. Mereka menuju Jawa Timur. Kami hanya berpapasan beberapa menit saja. Sopir mereka sudah berteriak-teriak memanggil mereka untuk segera melanjutkan perjalanan.

Saya mencoba mencari jawab tentang tempat yang kami singgahi, tapi gagal. Tak ada petunjuk yang saya dapatkan. Bahkan keterangan kami berada di daerah mana pun, saya tidak tahu. Tetapi orang-orang yang sepertinya tuan rumah ini bicara dalam bahasa lu-gue.
Satu jam kami dibiarkan keleleran di atas karpet, sampai seseorang memanggil nama-nama kami satu per satu ke satu ruang yang sebentar tadi saya lewati. Anehnya, tak ada satu orang pun di antara kawan-kawan saya yang bersedia menjawab pertanyaan saya setiap kali mereka keluar dan melewati saya. Cuma Mbak Yem yang melempar senyum tipis pada saya. Mbak Karti bilang, ’’La kok disuruh bayar lagi sih, Tik?’’ Lagi-lagi saya dapat giliran yang terakhir.

’’Kami dari perusahaan jasa asuransi, uang yang Mbak bayarkan di bandara itu cuma asuransi untuk masa berlaku selama Mbak belum keluar Jakarta dan Jawa Barat. Setelah itu kami tidak bertanggung jawab. Kemarin sebuah mobil yang mengangkut TKW dirampok di Brebes. Barang-barangnya ludes, TKW-nya diperkosa. Kami cuma minta lima ratus ribu saja. Sudah termasuk pesangon untuk sopir dan kernet yang mengantar. Ya, tapi ini terserah Mbaklah. Mbak sayang duit atau keselamatan Mbak sendiri,’’ laki-laki di depan saya berusaha menjelaskan niat baiknya.

’’Baik sekali Bapak ya? Boleh minta kartu namanya, Pak?’’ saya menerapkan ajaran majikan untuk tidak mempercayai orang asing. Lagi pula, saya mengira ia sedang berusaha mengompas saya dan teman-teman. Ia geragapan. Matanya jalang mengamati meja di antara kami yang tak ada apa-apanya selain asbak. ’’Wah, maaf Mbak, kebetulan saat ini kartu nama saya habis,’’ jawabnya kemudian.

Mujurnya, di saat yang bersamaan mata saya sekilas melihat kalender bergambar kucing yang di bagian bawahnya tertulis nama toko mas lengkap dengan alamatnya.

’’Kalau tidak salah ini Bekasi ya Pak? Boleh pinjam teleponnya Pak, kebetulan saudara saya bekerja di kepolisian Depok. Saya tidak bawa uang sebanyak itu. Saya pikir saya akan minta dijemput saja dari sini. Apalagi jika travel tidak memberi jaminan keselamatan buat saya.’’

Saya sendiri bahkan takjub oleh ketenangan saya. Lelaki di depan saya berdiri. Saya pikir ia akan membentak atau memukul saya. Ternyata ia menuju kipas angin di pojok ruangan, lalu menyalakannya. Rupanya percakapan kami telah membuatnya gerah.

’’Sebentar Mbak, saya keluar dulu,’’ katanya.

Ditinggalkan sendiri saya malah menyesal telah nyinyir. Saudara? Di Depok? Polisi? Bagaimana kalau ia percaya, lalu menyuruh saya pergi sendiri, terpisah dengan TKW yang lain? Di daerah yang saya tidak kenali sama sekali!

’’Mbak, tolong jangan bilang ke kawan-kawannya, Mbak tidak membayar asuransi. Sekali ini, baiklah kami menolong Mbak. Mbak bisa tetap melanjutkan perjalanan. Semoga selamat. Semoga tak dirampok dan diperkosa di jalan. Silakan keluar!’’ Dia mengusir dengan membentak saya. Saya lega.

’’Kau bayar?’’ kata Mbak Yem berbisik ketika kami melanjutkan perjalanan.
’’Tidak. Mbak?’’

’’Jadi, kau tak percaya aku tak punya uang sama sekali?’’
’’Oh, maaf.’’

’’Mereka pikir mereka saja yang pintar! Dasar!’’ umpatnya.

Kawan-kawan saya terlelap lagi ketika kami melintasi jalan-jalan yang berdebu. Saya diam, karena Mbak Yem juga diam. Mengamati benda-benda yang bergerak menjauh ke belakang kendaraan kami, seperti tak percaya saya telah benar-benar berada di negara saya kembali. Dua tahun ternyata mampu mengubah banyak hal. Banyak sekali orang-orang berhati aspal. Bermuka aspal. Berkelakuan seperti aspal. Hitam dan tak bernaluri.

Entah berapa lama saya terlelap, meski tak suka tidur di mobil, didera capai saya klenger juga. Mobil sudah melintasi jalan yang bergerunjal oleh batu-batu. Tubuh saya menjundal-jundal, barang bawaan kami melorot menimpa tubuh kami. Keadaan itu berlangsung cukup lama sampai Mbak Yem tiba-tiba teriak, ’’Belok kiri, Pir!’’

’’Sudah sampai Mbak?’’ tanya saya.

’’Ya. Kamu jaga diri ya? Baru sedikit yang kamu tahu,’’ katanya.

Mobil berhenti, kernet melompat turun. ’’Sutiyem ya?! Tanda tangan sini nih, kita mesti terus jalan nggak boleh mampir,’’ katanya kepada Mbak Yem sembari melirik rumah mungil yang berdinding bambu. Sepi sekali.

Kuperhatikan Mbak Yem yang terpincang-pincang mengangkat ranselnya. Bawaannya paling sedikit di antara kami.

’’Mbak Yem!’’ saya memanggilnya melalui kaca jendela yang saya sibakkan sedikit.

Ia menjatuhkan bawaannya. Melangkah terseret-seret menuju saya. Mesin mobil sudah dihidupkan.

’’Racun tikus di susu bayi itu, benar?’’

’’Aku bukan Yem, aku orang bebas!’’ katanya. Ia tersenyum.

Saya tak pernah mampu mengartikan senyumnya yang terakhir kala itu. Bahkan ketika saya memutuskan untuk menceritakan ini kepadamu. Mungkin ia bilang bahwa ia pun bisa memberikan penderitaan pada manusia lain. Pernah kau bayangkan anakmu kau beri susu bercampur racun tikus? Ia, bukan Yem, barangkali sudah melakukannya. Pada keluarga Tuan Minyak yang berbini tiga beranak sepuluh.

Tapi, Mbak Yem (mungkin bukan Yem) tidak bilang ya. Cuma samar. Hanya samar. ***

Hongkong, 30/3/2006


*) Etik Juwita, cerpenis buruh migran Hongkong. Hingga kini masih menjadi pembantu rumah tangga di negeri rantauannya itu.

Jawa Pos, Minggu, 10 Juni 2007

Cerpen Etik Juwita Bukan Yem ini terpilih/masuk sebagai 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008 (akan dibukukan GPU) versi Pena Kencana.