Mari Galakkan Permainan Tradisional Anak- anak

Rabu 5 Maret 2008, Jam: 9:57:00

Dulu permainan tradisional anak- anak begitu marak. Kini sudah ditinggalkan, malah sebagian besar sudah punah. Perkembangan informasi, komunikasi dan teknologi menjadikan permainan anak- anak pun memasuki era komputerisasi dan digitalisasi. Dengan membuka komputer (baca internet) seorang anak SD sudah bisa bermain game dengan lawan mainnya, yang tidak saja berasal dari dalam negeri, juga luar negeri. Ini bisa dilakukan karena bagi yang sudah menjadi member dapat memasuki komunitas mereka, tentu saja setelah memiliki ID dan password, tak ubahnya chatting. Itulah kecanggihan teknologi yang membuat tiada jarak lagi antarnegara dan bangsa.



Kita, sebagai orangtua tentunya tidak menolak kemajuan teknologi, bahkan memacu anak- anak agar mampu menguasai teknologi mutakhir sehingga tidak dicap sebagai gatek alias gagap teknologi.

Hanya saja yang perlu diwaspadai adalah dampak dari kecanduan anak- anak bermain game online lewat komputer. Apalagi jika terdapat hal – hal yang berbau porno dari permainan tersebut.

Dalam beberapa hari lalu, harian ini, telah menurunkan laporan mengenai maraknya permainan game online yang dikhawatirkan berdampak negatif bagi perkembangan anak. Apapun bentuknya, jika permainan melewati dosis, akan tetap berdampak negatif.

Para orangtua resah setelah mengetahui anaknya betah berjam-jam nongkrong di depan warnet (komputer) untuk bermain game sehingga menyita waktu belajar. Tidak itu saja, di balik permainan itu jika dicermati terkadang terdapat karakter adanya ‘kekerasan’ seperti perang- perangan. Meski diakui dalam RF Online (salah satu jenis game) memacu bagaimana si pemain memutar otak mengatur strategi menjatuhkan/membantai lawan sehingga keluar sebagai hero. Masih banyak jenis game yang lain seperti ragnarok, Ghost online, ayu dance. Semuanya bisa diakses sepanjang telah bergabung dengan komunitas mereka. Dan, dari komunitas inilah mereka bisa berkumpul bersama, saling mengenal satu sama lain seperti yang dikenal dengan gathering.

Memang belum terdapat data akurat terhadap dampak negatif dari game online, misalnya meniru gaya seperti yang terjadi dalam permaianan. Boleh jadi karena game online ini tidak bisa dinikmati semua anak. Lain halnya jika permainan ditayangkan di televisi pengaruhnya akan lebih luas dan terasa. Kita masih ingat tayangan Smack Down yang mendapat reaksi keras dari masyarakat karena dituding berpengaruh negatif terhadap prilaku pelajar SD.Akibatnya, tayangan itu dihentikan karena dinilai sering ditiru oleh anak- anak.

Kita sepakat tidak ingin mengekang kreativitas anak dalam menyerap dan mengaplikasikan kemajuan teknologi, termasuk permainan di dunia maya.Barangkali sikap yang tepat adalah mencermati kemajuan teknologi atau era sekarang sering disebut ICT (Informasi, komunikasi dan teknologi).

Di tengah kegamangan terhadap dampak negatif permainan dunia maya inilah sebaiknya kita menggali dan mengembangkan lagi permaninan tradisional bagi anak- anak. Sebenarnya kita memiliki ratusan jenis permainan anak- anak yang sesuai dengan etika, tata krama dan budaya bangsa. Sayangnya permainan itu sudah punah sehingga anak- anak sekarang yang lahir di era 80-an tidak lagi mengenalnya. Padahal permaianan tradisional itu menanamkan nilai – nilai kebersamaan dan kegotongroyongan. Sebut saja Gobag sodor, gasing, bentik, bekel, ular-ularan dan masih banyak lagi jenis mainan lainnya di berbagai pelosok nusantara yang polanya sama, namun boleh jadi berbeda nama. Permaianan tradisional ini lebih riil mengajarkan kepada para pemainnya mengenai kerja sama yang baik, toleransi, saling menghargai dan menjunjung tinggi obyektifitas dan keadilan.Ini pendidikan langsung dan nyata, ketimbang permainan modern yang lebih bersifat maya dan menonjolkan kompetitif individual.

Dalam konteks inilah seyogyanya masing – pemda dengan otonominya menggalakkan permainan tradisional melalui festival misalnya saat HUT Proklamasi atau hari jadi daerah/kota yang bersangkutan. Sementara pemerintah pusat berkewajiban mendorong upaya penggalakan permainan tradisional sebagai bagian dari wisata budaya. []

Dikopas dari Pos Kota
penilaian

2 tanggapan:

Aduuh kayaknya ga mungkin banget deh kembali ke masa lalu...sy yakin di permainan modernpun ada yang bagus, seperti puzzle, monopoli, perosotan, dsb. Kalau bicara tentang kretifitas, orang barat yang udah duluan modern ternyata ga perlu kembali ke permainan tersebut. Intinya sih, permainan anak2pun melewati masa evolusi, jangan terlalu terlena dengan masa lalu dan mencap jelek semua yang datang di masa kini. Yang jeleknya buang, yang bagusnya ambil.Betul ga ?