2009 AKU HARUS DEWASA


Tahun baru kali aku bermaksud merayakannya dengan temanku yang dari Singapura sebut saja namanya Biyan. Tgl 30 kemarin dia sudah info ke aku bahwa tgl 31 dia tiba di Hkg sore sekitar jam 5 an, aku tawarkan apa perlu di jemput dia bilang gak usah karena dia bilang barengan sama saudaranya. Aku coba percaya meski aku yakin dalam hatiku sangat dan sangat ragu, aku juga yakin mungkin dia punya rencana lain tapi apa peduliku???

Tgl 31 aku masih kerja seperti biasa ku lihat jam sudah menunjukkan angka 4 sore, harusnya Biyan sudah tiba tapi ternyata harapan itu sia-sia. Tak ada dering telpon dari Biyan, ada apa dengannya? apa duagaanku benar? dia ada yang jemput? tapi terus terang aku kecewa sekali sama dia. Setidaknya dia telpon untuk mengabarkan sudah sampai atau pesawatnya di tunda, biar aku gak kwatir gini. Hingga aku sampe mikir yang horor-horor jangan-jangan pesawatnya jatuh di laut , tapi yang mengganggu pikiranku bukan itu melainkan pasti dia nyasar sama cewek .

Aku udah nahan-nahan hatiku supaya gak marah, untung ada sahabatku Cico yang selalu menghiburku dan menenangkan aku. Cico bilang pokoknya nanti jam 7 harus udah sampe rumahnya karena teman yang lain udah datang, tinggal nunggu aku sama Biyan. Aku bilang sama Cico iya kalo jam 7 dia gak datang juga aku berangkat sendiri, akhirnya jam 7 kurang aku berangkat. Waktu antri di trem telponku berdering ternyata Biyan dia bilang nyasar sekarang ada di MC.Donald dekat rumahku. Ya ampun ku tahan suaraku untuk tidak marah, dia minta aku nemui dia di situ dia bilang dia sama sodaranya. Ok aku bisa terima gimanapun aku harus ingat nasehat Fai sahabatku yang selalu memantau masalahku.Tapi pas ketemu dia deg deg dadaku merasa ada yang ngganjal (bukan batu tapi kok sakit ya?) ohh Tuhan tabahkan hatiku, aku tidak mau perasaan ini menyiksaku perasaan yang tidak pernah aku mengerti.Aku ingin melupakan semuanya, semua kenangan bersamanya selama ini lalu aku berdoa dalam hati "ika kamu harus bisa". Akhirnya aku kenalan juga sama cewek yang kata Biyan sodaranya dan tak lupa aku kasih kalender Indonaker, misiku kerja itu dalam benakku saat ini.Setelah itu cewek itu pulang tapi sebelumnya dia mampir ke kantorku tau gak dia bawain apa buat Biyan? hahahhhaha ada sayur lodeh, dadar guling eeee bukan dadar jagung yang super pedas (kata orang kalo suka pedas biasanya doyan banget sex wiiikkk ngeri) jangan-jangan mereka ahhh biarin apa urusanku.

Cico udah telpon bolak balik bilang kalo masakannya udah dingin, dia udah marah kayae tapi aku bilang sabar aja dulu.Eeeeee aneh nya ya Biyan sama si cewek itu kok romantis ya (gosip sip) bukan gitu masalahnya waktu mau pisahan Biyan mau cium gitu aduhhhh deg deg lagi asemm ku palingkan mukaku untuk tidak melihatnya. Aku dan Biyan berangkat ke rumah Cico, anehnya perasaanku udah gak kaya dulu sama Biyan. Aku jadi ada rasa gak suka sama kelakuannya, dan sepertinya aku juga agak gak peduli lagi. Karena dia pun juga gak nerima kepedulianku sama dia, jadi biar dia mau gini gitu aku gak akan larang atau komentar kaya dulu.

Ahhh apakah ini rasa dewasaku? menginjak taon 2009 meski aku rayakan tanpa suami, tapi toh suamiku tersayang nelpon mulu pada saat detik2 penghabisan tahun. Aku, Biyan, Cico dan Atun merayakannya di Wancai di sana ada kembang api kami ambil foto sebanyak-banyaknya. Setelah itu kami pulang sendiri-sendiri Biyan langsung ke hotelnya aku dan Atun pulang ke kantor. Aku tidak bisa tidur pikiranku melayang-layang kok bisa sih Biyan kaya gitu, bahkan hari ini dia pergi ke Macau sama cewek itu wiiiikkk pikiranku ngeres deh jadinya. Tapi sudahlah aku gak mau berlarut-larut memikirkan dia, dia hanya teman dan gak lebih, jadi apapun yang dia buat aku gak boleh peduli. Aku harus cuek, dan masa bodoh ( meski ini bukan sifatku), tapi semoga Tuhan menjaganya jangan sampai dia salah jalan akhirnya nyasar gak tentu arah. Tuhan lindungi dia karena aku sudah tidak berani menjaganya meski aku sangat sayang padanya, biarlah rasa ini hanya Engkau yang tau.

By : Ika | 01 January 2009 |

Muslim Miskin Muslim Kaya


Terdengar teriakan mengaduh kesakitan, juga tangis bocah kehilangan emaknya. Suhu udara terasa belipat dua sampai tiga kali atau lebih. Peluh tak terkira lagi jatuhnya, sekujur ubuh tentulah basah keringat. Belum lagi tenggorokan yang kering kerontang sedang ludahpun tak ada untuk di telan, perut juga mengaduh protes minta di isi, sedangkan barang gratis yang di tunggu-tunggu tak juga muncul karena belum waktunya.


Dari belakang dorongan dan desakan semakin kuatnya, sedang di barisan terdepan terhadang pagar ataupun tembok. Mentok, mereka tak bisa bergerak maju lagi, jatuh dan akhirnya terinjak-injak. Oksigen yang biasanya tersedia lebih dari cukup untuk dihirup secara normal hari itu rasanya teramat kurang. Dada-dada miskin itu tak mampu lagi mengirup udara secara wajar. Sekarat, kepala-kepala pening dan napas satu dua segera susul menyusul ada. Hari itu kiamatkah?

Prihatin, demikian yang ada di hati ini. Masih terbayang tragedi zakat di pasuruan, 21 satu nyawa wanita melayang demi RP.20.000,- Kemudian Idhul Adha kali ini, hal yang sama sudah barang tentu terjadi.

Memang tak sampai ditemukan mayat pada waktu pembagian daging korban ini, hanya mayat sapi atau kerbau atau kambing yang ada, tetapi kericuhan saat pembagian daging kurban adalah fenomena yang memprihatinkan. Sedemikian miskinkah Indonesia sehingga demi 20 ribu atau seiris daging saja orang-orang tua rela berdesak-desakan mengorbankan diri dan anaknya?

Tapi, eitz!! Tunggu dulu!! Gambaran di atas itu adalah tentang muslim miskin di Indonesia. Yang kesulitan menanak nasi di setiap harinya, yang jarang menjumpai daging di meja makannya. Yang menjadi buruh atau pesuruh juga termasuk babu di dalamnya (lhah, cuma masakke bendarane thok iki).

200 ribu lebih muslim lainnya kaya!! Mereka tidak perlu lagi berdesak-desakan berebut zakat. Mereka tak perlu menunggu Idhul Adha untuk bisa makan daging. Mereka mempunyai puluhan hingga (mungkin) ratusan juta rupiah untuk di habiskan. Mungkin itulah yang berhasil menutup fakta bahwa masih banyak kere di Indonesia, hingga dengan lantangnya sang Presiden di depan rapat paripurna mengumumkan bahwa angka kemiskinan telah menurun. Bah!!

200 ribu lebih muslim kaya tersebut menunaikan ibadah haji, sebuah ibadah yang merupakan kewajiban bagi yang mampu. Bahkan tak jarang ada yang melakukannya berkali-kali. Sebagian pulang sebagai sebenar-benarnya haji sebagian lagi pulang sebagai pengerutu dan pengumpat.

Ternyata keahlian untuk menggerutu atau mengumpat tidak hanya di miliki oleh muslim miskin saja ya? [selengkapnya di … sini]

Hardjono WS Sakit


Penulis asal Desa Jatidukuh, Kec. Gondang, Kab. Mojokerto, Jawa Timur, Hardjono Wiryosoetrisno, atau yang lebih populer dengan nama Hardjono WS, terlihat mulai bisa bereaksi saat dibesuk rekan-rekannya, seniman dari Bengkel Muda Surabaya, Senin (29/12).


Sudah sepekan ini dia dirawat di Ruang Mataram 10 RSUD Prof. Sukandar, Mojosari, Kab. Mojokerto. Kondisinya mulai membaik setelah sebelumnya dilaporkan lumpuh, tidak bisa berbicara dan pandangannya kosong akibat depresi.

Hardjono WS adalah penulis puisi, cerpen, novel dan naskah drama. Atas dedikasinya di antaranya dia pernah mendapat penghargaan dari Lembaga Indonesia-Amerika melalui Dewan Kesenian Jakarta serta Direktorat Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan di Jakarta. [Abdul Malik, FOTO: Hanif Nashrullah]

Sumber: Kompas

Aliansi BMI Hong Kong Desak Cabut UUPPTKILN No. 39/2004


Berbagai upaya terus dilakukan oleh seluruh pihak untuk meperbaiki nasib buruh migran Indonesia di luar negri. Salah satunya tentang Undang-undang No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negri. Menurut rencana, UU ini diamandemen dan sebuah tim kajian amandemen yang terdiri dari APJATI dan DEPNAKERTRANS telah dibentuk.


Dalam wawancaranya di salah satu media massa (Bisnis Indonesia, Rabu, 08/10/2008), Ketua Umum APJATI, Nurfaizi, mengatakan bahwa revisi ini diperlukan agar pengiriman Buruh Migran Indonesia (BMI) sebanyak 1-2 juta orang per tahun dapat tercapai disamping untuk mencapai target devisa bagi pemerintah sebesar Rp 152 triliun.

Aliansi BMI Hong Kong Cabut UU PPTKILN (gabungan berbagai organisasi BMI di Hong Kong) melontarkan pernyataan sikap, diantaranya dikirimkan kepada Intermezo, bahwa amandemen UU tersebut adalah berkah bagi Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI), karena selama ini jumlah pengiriman BMI ke luar negeri masih dibatasi oleh UU No 39 Tahun 2004, melalui berbagai macam persyaratan. Dan hal ini berarti berkurangnya jumlah keuntungan yang didapatkan dari ’’perdagangan (legal) manusia”. Inilah dasar persetujuan APJATI yang merupakan asosiasi PJTKI terhadap rencana amandemen UU No. 39 tahun 2004.

Selain itu, bagi Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia, amandemen UU No 39/2004 adalah salah satu usaha untuk menutupi kegagalan kinerjanya dalam menyediakan lapangan pekerjaan yang diamanatkan oleh UUD 45, sementara untuk pemerintahan Indonesia upaya amandemen ini adalah untuk memenuhi target devisa sebesar Rp 152 triliun guna pembayaran hutang luar negri.

Hutang luar negeri yang dilakukan oleh Orde Baru dan telah menimpuk rakyat Indonesia dengan beban hutang luar negri yang akut, hutang yang selama ini hanya dipergunakan untuk menopang bisnis para pengusaha dan pejabat korup, bukan kesejahteraan rakyat.

Berkaitan dengan hal tersebut Aliansi BMI Hong Kong Cabut UU PPTKILN menuntut beberapa hal antara lain: Cabut UU No 39 Tahun 2004 Tentang PPTKILN dan ganti dengan UU yang melindungi dan pro BMI; Segera meratifikasi Konvensi PBB Tahun 1990 Tentang Perlindungan Hak Buruh Migran dan Seluruh Anggota Keluarganya; Melibatkan organisasi buruh migran Indonesia dalam pembuatan kebijakan tentang buruh migran Indonesia.

’’Guna memberikan tekanan kepada pemerintah Indonesia untuk mencabut UU PPTKILN, kami telah membentuk alinsi Aliansi BMI Hong Kong Cabut UU PPTKILN. Dimana beberapa upaya yang telah kami lakukan adalah melakukan aksi demo di KJRI Hong Kong agar UU tersebut dicabut, sekaligus melibatkan para BMI sebagai pelaku dari UU tersebut agar didengar hak-haknya. Mengingat bila terus mengupayakan pengiriman Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri, namun tidak disertai dengan perlindungan yang layak, itu adalah sia-sia,’’ papar Rusemi, juru bicara Aliansi BMI Hong Kong Cabut UU PTKILN kepada Intermezo. Aksi tersebut dilakukan secara berturut-turut, yaitu 14, 18, dan 21 Desember 2008.

Sementara itu Persatuan BMI Tolak Overcharging (PILAR) melakukan aksi turun jalan pada Minggu 14 Desember 2008 dengan tuntutan, terhadap Pemerintah RI: Cabut UU No. 39/2004 dan Segera Rativikasi Konvesi PBB Tahun 1990, Hapus Biaya Training! Tetapkan Satu Bulan Gaji Sebagai Biaya Penempatan, Bubarkan Terminal Khusus TKI di Jakarta, Berikan Pelayanan Penuh Bagi BMI di Hari Minggu.

Dan menuntut Pemerintah Hong Kong: Cabut Aturan 2 Minggu Visa (2 weeks rule), Hapus Pajak Selamanya, Naikan Gaji Buruh Migran.

Dalam siaran pers-nya yang juga diterima Intermezo, terkait UU PTKILN, PILAR mengungkapkan bahwa UU No. 39 bukan UU perlindungan bagi BMI, tapi perlindungan bagi kepentingan negara dan PJTKI/PPTKIS.[rio/foto DOK: PILAR]
>>>tabloid Intermezo, HK

SUKA DUKAKU IKUT KASTING SINETRON


Gara-gara kelewat menuruti egoku , yang tergiur tawaran untuk ikut kasting menjadi bintang sinetron, hampir saja aku tertipu seperti teman-teman yang lain. Syukurlah, Tuhan pun akhirnya menyadarkanku, biarpun harus kehilangan uang dan mendapat teror yang memerahkan telinga.


SEBUT SAJA NAMAKU Vera. Awal Juli 2007 lalu, aku berkenalan dengan seorang gadis, panggil saja dia Bunda asal Sulawesi. Kepadaku dia mengaku orang yang berkecimpung dalam dunia intertaiment. Dengan kata-katanya yang manis, ia menawari ku, untuk menjadi bintang sinetron dan bisa langsung syuting di Indonesia.

Berkali-kali ku pertimbangan tawaran Bunda. Sampai pada akhirnya, aku mendaftar daftar juga. Ya, siapa tahu bisa jadi bintang sinetron beneran. Setidaknya, begitulah harapan yang tertanam dalam hatiku. Dan bukan hanya aku, banyak teman yang seprofesi denganku- BMI Hong Kong- tergiur dengan tawaran itu.

Dengan gaji yang ku peroleh tiap bulan, aku berusaha mengangsur biaya pendaftaran yang menurutku lumayan besar nilainya. Angka HK$ 11.000, tentu saja tak mungkin kulunasi sekaligus. Masih menurut Bunda, kalau semua biaya sudah lunas, aku langsung bisa pulang ke Indonesia main sinetron.

Namun, entah mengapa, semakin lama ku mengenal Bunda, menurutku semakin banyak keanehan dan perubahan pada dirinya. Makin dekat dengan Bunda , semakin aku rasakan sesuatu yang tidak beres. Bahkan, perasaanku merasa kian terkekang dengan perlakuan Bunda.

Ketika aku baru membayar angsuran sebesar HK$ 3000, hampir setiap hari, Bunda menagih, mendesak agar aku segera melunasi uang untuk biaya syuting yang jumlahnya HK$ 11.000 tadi. Seolah-olah aku ini orang yang berhutang kepadanya .

Selama ini aku menganggap Bunda sebagai seorang sahabat. Juga orang yang aku hormati. Kupikir ia sosok orang yang berhati lembut, selembut sutera. Namun, tutur katanya yang berwibawa ternyata bukan merupakan cermin untuk menilai apakah hatinya benar-benar seputih salju. Di luar itu, tentu saja aku menganggap dia sebagai pembimbingku. Orang yang selalu memberiku latihan selama di Hong Kong, untuk kasting bila pulang ke Indonesia nanti. Selama beberapa bulan aku selalu bersamanya, mulai dari makan hingga jalan-jalan saat menikmati liburan.

Bahkan, saking akrabnya, ia kemudian memperkenalkan aku pada seorang cowok yang tinggal di Indonesia. Sebut saja namanya DD. Menurut cerita Bunda, DD adalah anak buahnya yang juga ikut kasting di Indonesia.

Namun, sama seperti Bunda, lama kelamaan DD semakin menyebalkan. Ia mulai banyak tingkah. Mulai dari minta kiriman pulsa, hingga minta kiriman uang. Sekali dua kali sih nggak apa-apa. Tetapi kalau keterusan, aku bisa bangkrut.

Suatu hari, karena tak tega dengan rengekan DD, akhirnya kukirim juga HK$ 500 ke rekeningnya. Namun, apa yang terjadi? Ketika uang sudah kukirim, ternyata Bunda menghubungi DD. Dia bilang, uang tersebut bukan kiriman dariku, melainkan kiriman Bunda. Sudah pasti hal ini membuatku sangat berang dan benar-benar hilang kepercayaan pada Bunda.

Perasaan bimbang mulai menghantui perasaanku. Haruskan aku melebur kembali harapan yang sudah kugantung tinggi-tinggi untuk menjadi bintang sinetron? Masih dapat kupercayakah semua janji yang terucap dari Bunda? Sedangkan, masalah kecil saja ia sudah berani berbohong.

Sejujurnya, berbagai khayalan tentang sukses seorang pesinetron sudah menari-nari dalam benak dan otakku. Apakah Bunda benar-benar orang yang bisa menjembatani untuk mewujudkan semua khayalan itu? Ataukah, hanya memikirkan keuntungan untuk dirinya sendiri?

Terkait hasratku untuk menekuni dunia sinetron, tidak lupa aku bercerita, bahkan menyempatkan diri menelpon orang tuaku di Indonesia untuk meminta doa restu. Harapanku, dengan doa restu orang tua keinginanku untuk menjadi bintang sinetron bisa terlaksana. Namun, orang tuaku dengan tegas menolak, bahkan tidak akan pernah menyetujui niat dan keinginanku ikut kasting.

Menurut Bapak dan Ibu, ketimbang untuk ikut daftar kasting, uang sebanyak itu mending dibelikan seekor sapi yang lemu ginuk-ginuk, bisa untuk menggarap sawah. Semakin bimbanglah perasaanku. bersamaan dengan itu, di penghujung tahun 2007, banjir bandang melanda sebagian besar daerah Jawa, termasuk tempat asalku.

Tanpa pikir panjang aku turuti nasehat orang tuaku. Positif, aku mengundurkan diri dari rencana kasting dan kukubur dalam-dalam keinginanku untuk menjadi artis dan bintang sinetron. Langsung saja aku mengutarakan niatku pada Bunda, manajer yang juga produser sinetron tersebut. Dengan sendirinya, aku coba meminta kembali uang yang sudah terlanjur kubayarkan padanya. Itupun kalau masih bisa aku minta. Kalau tidak boleh ya tidak mengapa.

Namun, yang terjadi sungguh di luar dugaan. Respons dari bunda sungguh sangat menyakitkan. Bukan hanya Bunda, teman-teman yang lain pun memusuhi aku. Mereka yang semula baik dan akrab denganku, mendadak jadi berubah sikap. Bahkan, ada yang mengancamku dengan kata-kata kasar dan sangat tidak sopan. Mereka bilang akan merobek-robek mulutku, kalau sampai cerita macam-macam tentang dunia kasting yang sedang mereka geluti pada orang lain.

Aku tak pernah mempedulikan semu perlakuan buruk dari teman-teman kasting terhadapku. Hanya, aku tak pernah berhenti dan putus asa mengejar Bunda yang selalu berusaha menghindar dariku, gara-gara aku meminta kembali uangku. Suatu hari, aku mencoba mengirimkan SMS ke handphone-nya. Tetapi, yang datang bukan balasan dari dia. Melainkan dari salah seorang anak buahnya yang tinggal di Indonesia, cowok bernama Bobby. Cowok ini pula yang kemudian menerorku.

Mereka bahkan sempat mengancam, hendak menuntutku lewat jalur hukum. Mereka menuduh aku telah mencemarkan nama baik mereka. Sedangkan, aku tak pernah mencemarkan nama baik mereka. Mereka pikir aku seorang penakut! Apa yang aku katakan berdasarkan kenyataan dan pengalaman yang aku alami sendiri. Sudah begitu, aku tak pernah berurusan dan tak pernah punya masalah dengan lelaki itu. Urusanku hanya dengan manajer yang mereka sanjung-sanjung selama ini, Bunda.

Aku sebenarnya hanya butuh kepastian dari Bunda sendiri, uangku bisa aku minta kembali atau tidak? Kalau boleh ya mohon segera dikembalikan. Kalau nggak boleh, ya tidak apa-apa, asalkan ada alasan yang tepat. Jangan malah berusaha menghindar dan mengerahkan anak buahnya untuk meneror dan memaki-maki diriku.

Suatu hari, aku berusaha menemui Bunda. Masih untuk meminta kepastian darinya. Tetapi, yang kudapatkan dari Bunda dan salah seorang temannya adalah umpatan dan makian. Dengan kasar dan sadis, Bunda mengaku muak melihat aku. Muak melihat wajahku, muak melihat tampangku.

Sebenarnya aku ingin menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik dan damai. Tidak ingin ada pertengkaran. Tapi apa boleh buat, Bunda sudah memulainya dengan permusuhan, umpatan dan cacian.

Selang beberapa bulan setelah aku mengundurkan diri dari kasting, kembali aku dipertemukan dengan beberapa teman yang dulu sama-sama ikut kasting untuk menjadi bintang sinetron. Mereka membenarkan apa yang menjadi keputusanku. Belakangan kuketahui, ternyata mereka juga dibohongi. Bahkan, teman-teman Bunda yang ikut memaki-maki aku waktu itu, kembali bersikap baik padaku. Mereka meminta maaf kepadaku.

Akhirnya, dari semua kejadian tersebut, aku bisa menarik hikmah dan pelajaran. Intinya, jangan mudah percaya pada tawaran-tawaran yang belum jelas kebenarannya. Karena itu, aku berpesan pada semua teman-teman BMI di Hong Kong untuk selalu berhati-hati. Terus terang, saat ini BMI Hong Kong selalu di jadikan obyek, atau incaran empuk berbagai macam tipu daya, yang hanya mementingkan keuntungan sendiri. Mereka tidak pernah mau menengok keadaan dan penderitaan orang lain. Waspadalah!!

(Seperti apa yang dituturkan "Vera" kapada saya).

Sumber: blog-e Annie Ristiani
Pernah dimuat Tabloid Apakabar

Rinarengganis


Profil:
Rinarengganis TULUNGAGUNG, JATIM

Kata orang wajahku manis,tp aku agak ceriwis,kadang jg romantis hehehe.... Aku memang agak - agak puitis, waktu nulispun kadang sambil menangis(hikh hihg hik..), mungkin ada orang yang memandangku dengan sinis, tp tak aku gubris, dasar aku orangnya juga cuek abiiiiiisss....(ckikihckikhikckik)



Karya (contoh):

~*~ASMARA~*~

Asmara...... hatiku gundah kini
Kenapa kau gantung cintaku ini
Asmara....... ku ingin berbagi
Tak ingin bila ku terluka sendiri
Asmara ku ingin semuanya pasti
Walaupun itu kan perih di hati

Andaikan putus katamu, tuk pergi meninggalkan aku
Kucoba tuk merelakanmu, melepaskan semua tentangmu
Asmara..... walaupun perih di hatiku,
kan kucoba tuk hadapi semua luka laraku
Asmara........ beri jawaban padaku.........

Asmara....... andaikan putus katamu,
jangan pernah kau menyesali
Andaikan kau tinggalkan aku sendiri,
jangan pernah kau coba tuk kembali

Asmara.... beri aku jawaban pasti
Takkan kubiarkan hatiku luka dan sepi

(terinpirasi dari lagu Samar Bayangan By Nicky Astria)

Baru 2 Bulan Bekerja di HK Sunarsih Pulang Berupa Jenasah


Suasana duka masih terasa jelas menyelimuti keluarga Sukiman yang tinggal di Dusun Yagan, Desa Carat, Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo. Inilah keluarga almarhumah Sunarsih (19), BMI-HK yang tewas terjatuh dari lantai 17 apartemen tempatnya bekerja. Tepatnya, Flat H 17-F, Riviera Garden, Hoi Chu Mansion, Tsuen Wan, NT, HK.


Tiga hari sebelumnya, almarhumah disemayamkan. Namun, masih tampak bekas-bekasnya bila yang ikut melayat almarhum cukup banyak. Kursi-kursi masih ditumpuk di halaman samping rumah, saat Intermezo datang dan ada sementara orang yang melakukan takziah, diterima dilantai yang belum disemen dengan alas tikar.

Sukiman tampak lebih tabah dibandingkan istrinya, Misti. Ibu Sunarsih tampaknya belum mampu menerima nasib anaknya yang pulang berupa jenasah.

Dengan gamblang Sukiman menjelaskan kronologis keberangkatan anaknya menjadi BMI ke Hong Kong.
’’Sebenarnya anak saya sempat bekerja di Singapura sekali kontrak (2 tahun). Setelah selesai kontrak ia pulang. Di rumah hanya sekitar 3 bulan lantas pergi lagi dengan tujuan Hong Kong,’’ tutur Sukiman

’’Tujuan anak saya ini sebenarnya ingin membantu orang tuanya, salah satunya ya ini Mas, berupa rumah yang sampai saat ini belum rampung. Sunarsih itu anaknya sangat nurut, tidak pernah neka-neka, tahu-tahu baru dua bulan bekerja di Hong Kong kejadiannya seperti ini,’’ tambah Misti sambil sekali-kali menyeka air matanya.

Sukiman mengaku mendapat kabar bahwa anaknya meninggal terjatuh dari lantai 17 tempatnya bekerja pada hari Senin-Legi, 24 Desember 2008 dan jenasah datang Selasa 2 Desember 2008 tepat pukul 01.00 WIB.

Anak Sukiman lainnya, Aan Jarwanto (kakak Sunarsih), juga bekerja sebagai BMI, tetapi di Malaysia. Saat mendapat kabar adiknya meninggal, sang kakak masih bekerja di Malaysia menjalani kontrak keduanya, tetapi langsung pulang. Dan ketika Sang Kakak datang, jenasah almarhumah sudah disemayamkan.

Solidaritas
Intermezo datang hampir bersamaan dengan Sutikno, yang menunaikan amanat mengantarkan uang bantuan Rp 3,5 juta dari rekan-rekan satu apartemen almarhumah. Yang mengordinasikan bantuan itu kebetulan ialah Nurisca Youna (istri Sutikno) dan seorang teman lagi, Eko.

Sukiman dan istrinya tampak berkaca-kaca dan dengan terbata-bata mengucapkan terima kasih, sedangkan Aan Jarwanto hanya terdiam. Tak sepatah kata pun ia ucapkan. Ia kelihatan sangat terpukul atas kematian adik semata wayangnya itu.

Menurut keterangan Sukiman saat kedatangan jenasah yang diantarkan 2 orang dari Jakarta didampingi Suroto, PL-nya. Sedangkan pejabat yang ada hanya sebatas kepala desa setempat beserta beberapa perangkatnya.

Kematian Sunarsih bagi keluarga Sukiman menjadi pertanyaan yang selalu menggelayut dalam hatinya. Pasalnya, menurut penuturan misti, belum berselang lama aanak mengatakan bahwa dalam keadaan sehat dan sudah kerja.

Menurut Nursica, seperti dituturkan Sutikno, majikan Sunarsih sering berganti PRT. Nurisca juga melihat, masih menurut penuturan Sutikno, bahwa setelah 2 bulan di Hong Kong, Sunarsih tampak semakin kurus.

Sumbangan

Sementara itu bersamaan dengan kedatangan jenasah menurut pengakuan Sukiman, memang ada uang duka. ’’Uang duka yang saya terima sebanyak Rp 3,5 juta. Menurut orang Jakarta yang mengatarkan uang tersebut, yang Rp 2 juta dari Hong Kong, Rp 1 juta dari Jakarta, sedangkan Rp 500 ribu dari PL Suroto,’’ tutur nya.

Sebagai petugas lapangan yang merekrut Sunarsih, saat dihubungi per telepon Suroto mengatakan bahwa asuransi masih dalam proses. Untuk asuransi dalam negeri diperkirakan memperoleh sekitar Rp 5 sampai Rp 6 juta, sedangkan dari Hong Kong biasanya Rp 50 sampai Rp 60 juta. Namun, harus sabar menunggu sampai proses penyidikan dan pengadilan selesai, paling tidak sekitar 6 bulan.

Sementara itu untuk mengurusi hal tersebut Sukiman telah menyerahkan pada salah seorang kerabatnya yang kebetulan menjadi pegawai kecamatan.

Selepas takziah dari rumah Sukiman Intermezo bersama rombongan menyempatkan ziarah ke makam almarhumah Sunarsih yang jaraknya sekitar 1 km dari kediaman Sukiman.[Intermezo: pur/uji]

FOTO: Sutikno menyerahkan dana sumbangan dari kawan-kawan almarhumah di HK.

Seniman Kota (Madiun) Keluhkan Gedung

Pelaku seni di Kota Madiun mengeluhkan tidak adanya gedung khusus untuk mereka. Selama ini kegiatan seni, baik dari masyarakat umum maupun pelajar masih meminjam gedung intansi tertentu. ''Tidak adanya tempat untuk melakukan aktivitas seni membuat pemeran atau pertunjukkan kesenian cukup minim di Kota Madiun,'' ujar Soegito, Ketua Persatuan Para Dalang Indonesia (Pepadi) Kota Madiun, Kamis (18/12) malam lalu.


Hal itu disampaikan dalam dengar pendapat antara para seniman dengan Subdin Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota dan anggota dewan setempat. Menurut Soegito, dengan adanya gedung khusus, para seniman memiliki bengkel atau tempat bekesenian. ''Juga bisa membuat regenerasi seniman muda lebih mudah,'' tambahnya.

Selain gedung kesenian, pelaku seni juga resah terhadap kabar pemisahan Sub Dinas Kebudayaan dari Dinas P dan K. Yang berkembang, bahwa bidang kesenian akan digabung dengan pariwisata. Menurut Soegito, jika hal tersebut terjadi, dikhawatirkan pemahaman kebudayaan luntur. ''Masuknya bidang kebudayaan dalam Dinas P dan K akan membantu pelestarian budaya,'' tuturnya. Yakni, melalui pelajaran, seperti seni, bahasa daerah dan sejarah untuk pelajar dan generasi muda.

Selain itu, para seniman juga meminta kesejahteraan di kota lebih ditingkatkan. Menurut Soegito, selama ini kesejateraan mereka belum terfikirkan oleh pemerintah. Hal ini terbukti, saat perayaan ulang tahun Kota Madiun, pemerintah malah mengundang dalang dari luar kota. Padahal, lanjutnya, potensi dalang di kota cukup banyak.

Sementara Sumarlan Ka Subdin Kebudayaan Dinas P dan K mengatakan, seniman kota tak perlu resah terkait rencana pemisahan. Karena bidang kebudayaan akan tetap berada di bawah Dinas P dan K. Tetapi diakuinya, ada perubahan sesuai struktur oraganisasi tata kerja yang baru. Yakni, tiga kasi akan dukurangi menjadi dua di tahun 2009. Yaitu Kasi kesenian sekolah dan Kasi kesenian masyarakat dan sejarah mitra. ''Rencananya dalam kasi kesenian masyarakat juga terdapat bidang perfilman. Nantinya seluruh perizinan pembuatan film harus melalui Subdin Kebudayaan,' ' katanya. Terkait dengan gedung kesenian, pihaknya belum bisa memastikan karena harus dirumuskan. ''Itu ada kaitanya dengan dana, jadi kami belum bisa memutuskan,' ' jelasnya. (aan)


Radar Madiun [Minggu, 21 Desember 2008]

Tuding Dewan Kesenian Tidur Saja

PONOROGO - Ahmad Tobroni Turejo, tokoh Warok Ponorogo marah. Kegeraman ini ditunjukan menjelang persiapan Grebeg Suro dan Festival Reyog Nasional (FRN) XV 2008.


Pemicunya, Tobron merasa perayaan tahunan ini ada pihak-pihak yang hanya mencari sensasi saja. Yakni berusaha merusak citra Grebeg Suro yang dianggap penuh sakral dalam rangka melestarikan budaya asli Ponorogo.

Saat bertemu di kantor Pemkab, kemarin (19/12) Tobron langsung mengungkapkan kejengkelannya. Terutama keberadaan Dewan Kesenian Ponorogo yang dianggap hanya tidur saja. "Bagaimana kesenian Ponorogo khususnya reyog akan bisa maju kalau dewan keseniannya saja tidak ada gregetnya," ungkap Tobron.

Terutama dalam memberikan sumbangsih pemikiran maupun tenaganya selama ini. Mestinya, sebagai wadah kesenian yang diharapkan bisa memberikan motor sekaligus motivator dalam kegiatan Grebeg Suro, kapasitas dewan kesenian mestinya berada di garda terdepan. Tidak hanya sebagai penonton saja. "Tapi ini sebaliknya, karena (dewan kesenian) tidak ada kegiatan sama sekali. Lalu dimana tanggungjawabnya? "

Pada kesempatan itu, Tobron sempat menceritakan awal mula diadakan perayaan Grebeg Suro. Kegiatan yang dicetuskan mantan bupati Ponorogo Soebarkah Poetro Hadiwirjo ini, sebagai tindaklanjut dari tradisi masyarakat menjelang perayaan menyambut tahun baru Islam.

Umumnya, masyarakat baik tua maupun muda meleken semalam suntuk dengan keluar rumah. Dan alun-alun Ponorogo sebagai pusat berkumpulnya warga. "Dari sinilah akhirnya lahir kegiatan yang dinamakan Grebeg Suro," jelas Tobron.

Dari tahun ke tahun event ini ternyata mendapat perhatian dan dikemas dalam beberapa acara. Mulai festival reyog nasional, pemilihan kakang senduk hingga kirap pusaka dan larung risalah doa di telaga Ngebel yang paling ditunggu masyarakat. "Melalui Grebeg Suro ini perekonomian masyarakat justru bergairah. Lihat saja berapa saja pedagang yang menggelar dagangannya dan alur keuangan yang juga bisa masuk ke daerah," tegasnya.

Sementara, Ketua Dewan Kesenian Ponorogo, Wahidin Ronowijoyo belum berhasil dikonfirmasi koran ini. Beberapa kali menghubungi telepon genggamnya tidak aktif. (dip/eba)

Radar Madiun [Sabtu, 20 Desember 2008]

Hari Migran Internasional: Mitos Perbaikan Nasib TKI

Ahmad Arif

”Suami saya dipecat dari pabrik. Anak kami tiga, masih sekolah semua. Saya ingin menjadi TKI, tapi takut ke Malaysia. Katanya, banyak TKI yang mati di sana. Saya ingin jadi TKI di Belanda. Kerja apa saja bisa...,” sepenggal surat itu dikirim ke meja saya beberapa hari lalu.



Surat dari perempuan yang mengaku bernama Anisa dari Cirebon itu adalah surat yang kedua dalam sebulan ini. Surat pertama dikirim seorang lelaki bernama Yayan, dari Jakarta. Inti suratnya sama: tuntutan hidup karena tak ada pekerjaan dan harapan untuk jadi tenaga kerja Indonesia (TKI) ke negeri orang.

Permintaan yang sama, dari puluhan orang lain, disampaikan lewat telepon setelah Kompas memuat tulisan tentang kehidupan TKI ilegal di Belanda, November 2008. Kisah-kisah pedih tentang penyiksaan TKI di luar negeri tak menyurutkan minat mereka. ”Lebih baik mencoba jadi TKI. Apa pun risikonya. Di sini sudah buntu,” kata Nina dari Serang.

Ratusan TKI mati

Di balik kisah sukses TKI, berulang kali kisah pedih tentang mereka telah disuarakan. Seperti disampaikan Sri Palupi dan kawan-kawannya dari Institute for Ecosoc Rights, yang memaparkan hasil penelitian mereka di Bentara Budaya, Jakarta, Rabu (17/12). Penelitian itu difokuskan terhadap TKI di Malaysia dan Singapura, tentang Kebijakan Ilegal Migrasi Buruh Migran dan Mitos Pembaharuan Kebijakan.

”Sudah dua tahun saya disiksa majikan dan sudah 10 bulan tidak dibagi makan nasi. Sehari-hari disuruh makan mi instan. Habis itu saya disiksa, ditendang di seluruh badan, diikat di kamar mandi. Telinga saya ditinju hingga keluar darah dari mulut saya,” kisah perempuan berusia 19 tahun, yang diwawancarai tim peneliti Institute for Ecosoc Rights, di penampungan KBRI Malaysia, April 2008.

Pada suatu malam, perempuan yang sudah tiga tahun bekerja di rumah majikannya itu akhirnya melarikan diri. Kisah-kisah pedih lainnya berserak dalam laporan penelitian itu, mulai dari kisah penyiksaan hingga pemerkosaan.

Tak hanya disiksa, ratusan TKI mati di negeri orang. Di Singapura, TKI yang mati sejak 1999 hingga 2007 tercatat 147 orang. Di Malaysia, menurut data KBRI Malaysia, dari Januari 2008 hingga November 2008 ini saja sudah 513 warga negara Indonesia yang mati, dan sebagian besar adalah TKI. Mereka mati dalam sunyi, sepi dari pemberitaan.

Angka-angka ini sering dikecilkan, dibandingkan jumlah TKI di Singapura yang mencapai 80.000 orang. Di Malaysia terdapat 2 juta TKI, sebanyak 1,2 orang di antaranya legal dan sekitar 800.000 TKI ilegal (baca: tanpa dokumen). ”Namun, kematian satu atau dua orang tetap berharga jika negara ini memang mau melindungi warganya,” kata Prasetyohadi, peneliti Institute for Ecosoc Rights.

Mitos pembaruan

Duta Besar RI untuk Singapura Wardana mengatakan, Singapura sekarang sudah berubah, misalnya perubahan dalam pembaruan kontrak kerja bagi pekerja rumah tangga (PRT) setelah masa kerja selama dua tahun habis. ”Kontrak kerja ini dilakukan oleh majikan dan TKI di depan staf KBRI Singapura. KBRI di Singapura juga sudah menata diri dengan perlindungan yang lebih baik kepada TKI. Kita membuka layanan pengaduan 24 jam untuk TKI di Singapura,” kata Wardana.

Namun, di mata Palupi, pembaruan di Singapura itu hanya polesan. Singapura tetap menolak memberikan hak libur secara resmi bagi PRT migran, setidaknya satu hari dalam sebulan.

Kebijakan pembaruan kontrak kerja itu, tambah Palupi, tidak bisa melindungi PRT dengan masa kerja satu tahun yang selama ini rentan terhadap kematian akibat bunuh diri dan ”kecelakaan kerja”. Sedangkan saluran pengaduan TKI itu dinilai masih belum memadai.

Nyatanya, angka kematian PRT di Singapura tetap tinggi. Tahun 2007, misalnya, ada 13 TKI yang mati di negeri ini. ”Mereka depresi karena tidak ada hari libur, beban kerja tinggi, waktu istirahat kurang, dan terkurung di rumah majikan,” ujar Palupi.

Malaysia tetap menjadi ladang pelecehan dan pembunuhan bagi TKI. Baik TKI yang legal maupun ilegal tak mendapat perlindungan hukum di Malaysia. Di negara itu TKI dihadapkan pada dua pilihan: bertahan pada majikan dengan risiko perbudakan atau lari dari majikan dengan risiko ilegal dan menghadapi perbudakan dalam bentuk lain.

Kegagalan negara

Riwanto Tirtosudarmo, ahli kependudukan dan migrasi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengatakan, masalah-masalah terkait TKI yang membesar dari tahun ke tahun adalah puncak gunung es dari kegagalan negara menghidupi dan melindungi warganya. Masalah TKI yang diusir, disiksa, atau bunuh diri itu bermula dari masalah domestik di negeri ini.

Permasalahan itu, di antaranya, adalah sempitnya lapangan kerja dalam negeri, praktik pengiriman TKI yang tanpa dibekali pengetahuan dan kemampuan kerja yang tetap menjamur, serta lemahnya diplomasi Pemerintah Indonesia terhadap pemerintah di negara tujuan TKI.

”Seharusnya kita bisa menekan Singapura dan Malaysia untuk menghargai TKI kita karena mereka juga butuh tenaga kerja dari kita untuk menopang ekonomi mereka,” kata Riwanto.

Palupi mengatakan, perlindungan TKI harus integratif, di dalam negeri maupun luar negeri. ”Presiden harus bersikap tegas untuk melindungi buruh migran, seperti yang ditunjukkan Pemerintah Filipina terhadap pekerja migran mereka,” kata Palupi.

”Kemiskinan di tanah sendiri, tak membuat mereka (TKI) takut mati dan nyeri,” tulis Budi Hardiman dari STF Driyarkarya dalam pengantar buku Tubuh-Alat dalam Kebungkaman Ruang Privat: Problem PRT Indonesia di Singapura, 2005. Namun, akankah orang-orang yang disebut-sebut sebagai ”pahlawan devisa” itu terus dibiarkan mati terhina di negeri orang? (MH)

Kompas, Kamis, 18 Desember 2008 | 03:00 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/18/00455721/mitos.perbaikan.nasib.tki

Sekali Tampil Dibayar Rp 600, Bubar karena Jarang Tanggapan

Liku-Liku Mujamil, 25 Tahun Menggeluti Kesenian Kethoprak

KUN W- JUMAI, Jember


Sebagai seorang seniman, Muzamil, 72, warga Jl Wahid Hasyim Jember ini merasa bersedih. Kesenian kethoprak yang puluhan tahun digelutinya mulai surut sejak 10 tahun terakhir. Bahkan, bisa dibilang kesenian tersebut kini tenggelam tergerus oleh perubahan zaman.



Berbincang dengan Mujamil seakan tidak pernah kehabisan topik pembicaraan. Kalimat-kalimat sederhana yang dipadu dengan humor-humor segar membuat semua orang yang diajak berbicara betah berlam-lama. Termasuk, kalimat-kalimat berisi pesan agama yang dikemas dengan dialek lawak membuat siapa pun tak tahan menawan tawa.

Maklum, kakek yang biasa disapa Mbah Jamil ini sekitar 25 tahun menggeluti dunia pelawak. Sejak tahun 1965 hingga 1980, Muzamil aktif dalam kethoprak Siswo Budoyo di Puger. "Saat main kethoprak saya menjadi pelawak, sesekali juga berperan sebagai tokoh lain," kata kakek kelahiran Puger ini.

Selama bergelut dengan dunia "entertainment" tempo doeloe itu Mujamil sepertinya mendapatkan apa saya yang dia inginkan. Mulai materi, istri, hingga kebutuhan lainnya.

Menurut ceritanya, setiap ada undangan pentas, rokok yang dilempar penonton jumlahnya mencapai puluhan pak. Rokok-rokok tersebut dilempar pentonton sebagai imbalan atas request lagu, pantun, atau salam kepada penonton yang lain. "Setiap pulang saya membawa pulang satu tas besar berisi rokok, belum lagi yang dibagi-bagikan dengan pemain kethoprak lainnya," ujarnya.

Penampilan pelawak yang banyak ditunggu penonton dan menjadi ikon kethoprak tersebut, juga membuat kantong yang diterimanya menebal. "Sekali manggung biasanya dapat bagian Rp 600. Itu sudah sangat banyak karena beras satu kilo saat itu masih Rp 10," katanya.

Dari hari ke hari, undangan tampil semakin banyak. Bahkan tak hanya di kecamatan-kecamatan di Jember namun mulai meluas hingga Lumajang dan beberapa kota lainnya di kawasan Besuki. "Sekitar tahun 1970-an, kami sering ditanggap Golkar untuk tampil di beberapa tempat," katanya. Saat itulah Mbah Jamil yang menjadi pelawak banyak menerima saweran dari penonton.

Namun, menurut dia, uang dan materi yang berlimpah itu sempat membuatnya melupakan tuhan. Hari-harinya selalu diisi dengan happy dan happy. "Semua tempat-tempat berbuat dosa di Jember ini saya sampai hafal," katanya berkisah. Tak hanya itu, karena seringnya berpindah-pindah untuk tanggapan itu Mbah Jamil mempunyai istri di beberapa tempat. "Istri saya sampai tujuh, bahkan di Sukorejo Jember istri saya sampai dua orang," katanya.

Kehidupan Mbah Jamil, berubah 180 derajat tahun 1980-an. Saat itu dia ingin mendekatkan diri kepada Tuhan. Maka Mbah Jamil pun mendalami ilmu agama pada seorang kiai terkenal di Madura. Saking getolnya menuntut ilmu agama, dia mengaku sempat enam tahun tidak pulang ke kampung halamannya di Puger.

Dia baru pulang setelah mimpi bertemu ibunya. Anehnya mimpi dia alami selama 30 hari berturut-turut. "Setelah saya konsultasikan ke ustad saya, akhirnya saya disuruh pulang dan sungkem kepada ibu saya," katanya.

Saat pulang itulah banyak keluarga dan tetangganya yang tidak percaya jika Mujamil telah mendalami ilmu agama. Maklum Mujamil muda mempunyai istri tujuh orang di mana-mana. "Yang bisa saya lakukan hanya bersabar," katanya.

Kini di usianya yang tidak muda lagi, Mujamil tetap bekerja keras mengisi hari-hari tuanya. "Kalau malam saya menjaga rumah makan di Baratan Patrang, di luar itu juga mengajar ngaji di rumah," kata kakek yang tinggal di Jl Wahid Hasyim Jember ini.

Soal kian redupnya kesenian kethoprak, Mbah Jamil mengaku bersedih. Sebab, minat generasi muda untuk melestarikan budaya sendiri dianggapnya luntur sejak adanya televisi yang sedikit banyak membawa budaya asing.(*)

Radar Jember
[Senin, 08 Desember 2008]

TKI Kini Tidak Perlu Berjongkok

Oleh Djoko Susilo *

Ada "rules of the game" tak tertulis yang cukup dipahami dengan baik oleh para Indonesian expatriates, khususnya para TKI (tenaga kerja Indonesia) yang tinggal dan bekerja di Malaysia: "Jangan pergi ke KBRI jika tidak kepepet oleh urusan." Bertahun-tahun lamanya kantor wakil pemerintah RI di Jl Tun Razak, yang merupakan salah satu jalan utama di Kuala Lumpur, menjadi tempat menakutkan bagi TKI



"Dulu, kita harus antre berjam-jam hanya untuk bisa masuk KBRI. Bukan itu saja, pelayanannya sangat buruk. Sebab, mulai satpam, petugas loket, apalagi diplomatnya berwajah sangar, minimum bermuka masam dalam melayani kita," kata Haryadhi, seorang doktor fisika lulusan Essex University yang bekerja sebagai periset di Telkom Malaysia Sdn.Bhd.

Menurut dosen UAD yang sudah bekerja di Kuala Lumpur selama lebih dari tiga tahun itu, TKI-TKI yang antre pun sering dipaksa duduk berjongkok layaknya rakyat jajahan menghadapi tuan ambtenaar di zaman kolonial.

Mereka harus datang semalam sebelumnya dengan antrean mengular di trotoar di depan KBRI sehingga sering menimbulkan macet, kotor, dan kerusakan taman milik Dewan Kota Kuala Lumpur yang tidak jauh dari KBRI. Dewan Kota Kuala Lumpur pernah mengirimkan protes ke KBRI.

''Saya tidak sempat mengalami nasib seperti TKI lainnya karena punya kenalan orang dalam meski pernah kena bentakan satpam yang galak. Hanya, setelah menyebutkan bahwa saya ini kenalan seorang pejabat kedutaan dan ada urusan penting, satpam berhenti menghardik meski juga tidak minta maaf," kata Haryadhi

Suatu ketika saya tanyakan kepada dubes (saat itu) KPH Rusdihardjo tentang potret pelayanan di KBRI Malaysia. Beliau menjawab tengah mengadakan penertiban. Saat itu memang ada anggota Brimob yang berjaga di depan KBRI.

Mereka saya tugaskan menjaga ketertiban dan keamanan, khususnya memberantas calo,'' tegas Rusdihardjo dalam rapat denga anggota Komisi I DPR. Memang, urusan calo inilah yang dulu memperkeruh dan memperburuk pelayanan KBRI Kuala Lumpur kepada masyarakat Indonesia.

Berubah

Tetapi kini pelayanan di KBRI Malaysia sudah berubah. ''Saya dulu harus membayar 800 ringgit untuk mendapatkan paspor baru dengan waktu penyelesaian 40 hari, sekarang cukup 22 ringgit dan hanya menunggu tiga jam sudah selesai, ya jelas saya sangat senang," tutur seorang TKI yang saya temui seusai mengurus paspor.

Sekarang TKI di Malaysia bukan saja kini tidak perlu lagi berjongkok jika berurusan dengan KBRI, tetapi juga mendapatkan perlayanan kelas satu. Pertama, tarif yang jauh lebih murah dan jelas tertera di papan pengumuman. Kedua, pelayanan yang cepat dan ramah. Ketiga, ruang tunggu yang nyaman.

Jika dulu para TKI harus antre berpanas-panas di Jalan Tun Razak, sekarang mereka bisa menunggu proses penyelesaian dokumennya di ruang luas ber-AC. Jika lapar, mereka pun bisa menikmati makanan yang sehat di kantin yang bagus. Bila mereka mau salat dan buang hajat juga tersedia fasilitas yang bagus dan memadai. "Pokoknya hebat dan jauh berbeda dengan dulu," kata Ahmad, seorang mahasiswa di Universiti Kebangsaan Malaysia yang sempat ketemu saya sambil makan roti canai.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berkunjung ke KBRI pada 29 Mei 2007 pernah menyampaikan rasa prihatinnya dengan kondisi pelayanan di KBRI tersebut. Saat itu presiden langsung memberikan arahan kepada para pejabat yang intinya, wajib hukumnya untuk memberikan perlindungan, pelayanan dan kemudahan bagi para TKI. Ditegaskan pula, pelayanan kepada warga Indonesia harus lebih baik, cepat, murah, dan mudah.

Perintah itu langsung diterjemahkan dalam tindakan nyata oleh jajaran KBRI Kuala Lumpur dengan komandan DCM (Deputy Chief of Mission) atau wakil Dubes Tatang B. Razak.

Langkah pertama yang ditempuhnya ialah membentuk satgas pelayanan dan perlindungan WNI dalam rangka membentuk pelayanan terpadu. Yakni, mengatur alur pelayanan satu pintu dengan nomor antrean yang disalurkan sesuai kepentingannya.

Tatang juga membenahi sistem kerja petugas dengan membakukan tugas yang bersifat saling mengisi. Untuk itu, direkrut petugas yang bisa melaksanakan tugas dengan baik. Tidak ada KKN dalam rekrutmen pegawai tersebut, semuanya diawasi oleh tim KBRI dan Deplu. Sebanyak 137 petugas kini melayani warga masyarakat di Kuala Lumpur, naik dari 108 sebelumnya.

Tatang dan anak buahnya juga mengembangkan "corporate culture" baru. Di antaranya, selalu tersenyum dan ramah melayani warga masyarakat. Mereka yang bermuka sangar dan tidak bisa senyum langsung dicopot.

"Lha senyum itu kan ibadah. Kalau petugas tidak bisa tersenyum, ya memang harus minggir. Saya mendukung tindakan pimpinan KBRI," tegas Haryadhi yang Januari nanti pindah kerja sebagai periset di University of Texas, San Antonio.

Atas keberhasilannya merombak pelayanan kepada warga masyarakat, rakor para kepala perwakilan RI di Jakarta beberapa waktu lalu menobatkan KBRI Kuala Lumpur sebagai layanan terbaik yang layak ditiru oleh kantor perwakilan pemerintah lainnya. Bahkan, presiden belum lama ini memberikan Piala Citra sebagai penghargaan pemerintah atas keberhasilan KBRI memperbaiki pelayanan kepada masyarakat.

*. Djoko Susilo, anggota Komisi I DPR

Jawa Pos, [Senin, 08 Desember 2008]

Mempertanyakan Etika Penerbit Buku Recycle

Pernah membeli buku dan kecewa karena ternyata Anda pernah membeli buku yang sama dengan judul berbeda? Saya pernah. Berkali-kali malah. Sebut saja beberapa buku tes CPNS yang saya beli untuk persiapan menjajal nasib menjadi pegawai negeri. Lalu buku-buku psikotes ketika berburu pekerjaan dan memerlukan tes psikologi. Kemudian juga buku-buku Kahlil Gibran yang booming di awal 2000-an. Yang terakhir saya beli kumpulan cerpen laris Budi Darma, Laki-Laki Lain dalam Secarik Surat.


Buku-buku kumpulan soal tes CPNS dan psikotes diterbitkan beberapa penerbit dengan judul yang kurang lebih sama. Buku disegel sehingga saya hanya berpaku pada pengantar di setiap sampul belakang untuk mengira-kira isinya. Ternyata setelah dibeli, isi buku-buku dengan penerbit berbeda itu banyak kesamaan, bahkan ada yang nyaris sama. Hanya nomor soalnya saja yang diubah-ubah. Karena itu, banyak kunci jawaban yang tak sesuai dengan soalnya. Saya selaku konsumen yang ingin mendapatkan informasi soal yang variatif tentu saja kecewa.

Buku Kahlil Gibran setali tiga uang. Ini mungkin buku yang paling banyak diterbitkan dalam banyak versi melebihi karya orisinil penulisnya. Adhe dalam bukunya Declare (2008) menuliskan bahwa karya-karya Gibran telah diterbitkan oleh lebih dari 20 penerbit dengan 76 judul berbeda. Luar biasa bukan? Ini fenomena yang menarik sekaligus memprihatinkan. Sosok Gibran yang sufi itu dikenal hingga ke kalangan anak-anak remaja SMP. Ada memang karya yang orisinil, seperti Sayap-sayap Patah dan Sang Nabi. Tapi selebihnya adalah judul-judul baru hasil ''kreativitas'' penerbit yang isinya kebanyakan potongan cuplikan dan bahkan saduran. Tanpa pengetahuan yang memadai tentang Gibran, pembeli akan mengira itu semua karya baru (lain) dari Gibran.

Sementara itu, buku Budi Darma, Laki-laki Lain dalam Secarik Surat, diterbitkan oleh Bentang (anak penerbitan Mizan), merupakan daur ulang dari buku kumpulan cerpen yang terbit sebelumnya dengan judul Kritikus Adinan. Buku ini dikemas dengan gaya buku baru. Sampul sama sekali berbeda dan pengantar sampul belakang menarik, plus foto diri pengarang. Pada buku baru ini ditambahkan satu karya baru. Jika Anda pernah membeli kaset dari penyanyi yang merupakan repacked atau recycled --lagu-lagu lama ditambahi satu-dua lagu baru-- buku ini menggunakan strategi pemasaran yang sama.

Bagi fans berat --yang selalu ingin mengoleksi karya idolanya-- edisi recycled pun akan disikat meski mengeluarkan sejumlah uang untuk karya yang sudah pernah dimiliki. Tapi, bagi konsumen yang ingin membaca dan mengetahui hal baru apa lagi yang disuguhkan dari seorang begawan seperti Budi Darma, membeli karya recycled tentu mengecewakan.

Segendang sepenarian dengan Bentang, Qanita (lagi-lagi, anak penerbitan Mizan) menerbitkan karya fenomenal Fatima Mernissi berjudul Perempuan-perempuan Harem. Buku ini pernah diterbitkan Mizan dengan judul berbeda, Teras Terlarang. Tak ada keterangan sama sekali di buku edisi baru itu, bahwa dua buku dengan judul berbeda itu memiliki isi yang sama, terjemahan dari Dreams of Trespass: Tales of Harem Girlhood. Hanya sedikit keterangan di lembar copyright: Edisi baru, cetakan 1, Juni 2008. Keterangan ini pun bias karena melahirkan asumsi rancu bahwa buku ini baru.

Penerbit Serambi, juga melakukan hal yang sama. Tapi mereka agak fair karena mencantumkan judul lamanya dengan font yang lebih kecil, Event Angel Ask: Bahkan Malaikat pun Bertanya karya terjemahan dari Jeffrey Lang dari judul yang digunakan untuk penerbitan sebelumnya; Bahkan Malaikat pun Bertanya.

ScriPtaManent adalah penerbit yang menerbitkan ulang Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta karya Muhidin M. Dahlan dengan judul baru Jalan Sunyi Seorang Penulis. Yang terakhir ini lebih ''jujur'' karena memberikan keterangan di sampul belakang --meski dengan tulisan kecil dan samar: ''edisi terbaru: aku, buku, dan sepotong sajak cinta''.

Buku-buku recycle yang disajikan dengan judul baru tanpa informasi lengkap tentang kebaruan dan perbedaannya dengan terbitan sebelumnya, bagi saya, merugikan pembaca. Apalagi pembeli tak diberi kesempatan yang berlebih untuk melakukan pemeriksaan. Sebab buku-buku yang tergelar di toko kerap terbungkus segel plastik (wrapping) dan tak boleh dibuka sebelum menyelesaikan ''administrasi'' di meja kasir.

Calon pembeli hanya berbekal narasi singkat atau komentar-komentar pembaca yang umumnya figur publik agar calon pembeli terpikat dan terjerat. Menurut saya, ini gaya pengelabuhan yang tak bertanggung jawab.

Dalam menegakkan ''mata rantai'' perbukuan, penerbit adalah pilar yang memegang peran penting di antara penulis, percetakan, distributor, toko buku, perpustakaan, dan pembaca. Penerbit adalah filter pertama dari transfer ilmu pengetahuan yang akan diterima konsumen. Penerbit yang menentukan naskah mana yang akan terbit dan mana yang tak perlu dikonsumsi pembaca.

Sebagai konsumen, pembaca buku tentu saja akan terampas haknya untuk mendapatkan pengetahuan yang utuh dikarenakan ulah penerbit yang ugal-ugalan mengganti-ganti judul dengan isi buku yang sama. Kenapa tak tetap diterbitkan dengan judul sama saja? Tambahan isi baru atau beberapa revisi bisa diberikan sebagai keterangan. Dengan begitu, pembeli bisa mendapatkan bahan pertimbangan yang layak apakah ingin membeli lagi edisi terbarunya atau tidak. Jika memang buku itu laris dan dicari pembaca, pastilah buku itu akan tetap habis.

Namun, jika penerbit memang meniatkan untuk mengelabuhi pembaca, maka ini sebentuk penipuan publik yang bekerja di dunia perbukuan. Calon pembeli tak mendapat informasi yang utuh tentang apa-apa yang akan dibeli dan dibacanya.

Mestinya, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang kritis atas barang niaga demi perlindungan hak konsumen juga mencermati soal ini. Sehingga pembodohan ini tak bekerja terus-menerus, bahkan di dalam sebuah dunia yang menjadi agen pencerahan akal budi dan selalu merapalkan jargon besar: untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. (*)

*) Diana A.V. Sasa, pegiat buku, tinggal di Surabaya

Jawa Pos, Minggu, 30 November 2008

Halo Tiwan!


Kami sangat senang bisa menjumpai warga Indonesia yang kini tengah berada di Taiwan, terutama para tenaga kerja yang sungguh sangat berjasa untuk 2 hal: membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran yang makin menumpuk di tanahair, dan mengirim devisa untuk keluarga dan negara, terlebih dalam situasi krisis global seperti sekarang ini.


Para Pembaca yang budiman, seperti biasanya sebuah kelahiran, kami berharap Radar Taiwan yang masih bayi cenger ini mendapatkan sambutan yang hangat. Seperti halnya saudara-saudari kita di Hong Kong menyambut dengan hangat kelahiran media dari Berita Indonesia Ltd yakni: Berita Indonesia, Intermezo, dan Peduli. Kawan-kawan kita di Hong Kong dengan gembira manyambut media berbahasa Indonesia, dan mereka beramai-ramai mengirimkan tulisan, dari yang bernama surat pembaca, puisi, cerita, hingga tulisan opini.

Bahkan, beberapa nama, sebut saja: Rini Widyawati, Dhenok Kanthi Rokhmatika, Eni Kusuma, Wina Karni, Maria Bo Niok, Mei Suwartini, dan masih ada beberapa nama lagi yang meneruskan kegemarannya menulis setelah kembali ke tanahair. Maria Bo Niok yang dulunya pernah bekerja di Taiwan (baca: halaman 05) bahkan telah melahirkan beberapa buku.

Begitulah pula yang kami harap dari warga Indonesia yang berada di Taiwan ini. Mari kita sambut Radar Taiwan dengan senang hati, dan kirimkanlah kritik dan saran demi peningkatan kualitas maupun oplahnya!

Terima kasih, dan marilah tetap bersemangat!

Redaksi

Achmad Bakrie Award--DKJ: Harusnya Ada yang Menolak Seperti Romo Magnis

Nograhany Widhi K - detikNews

Jakarta - Tahun 2007 lalu, penerima Achmad Bakrie Award Franz Magnis- Suseno menolak menerima penghargaan. Romo Magnis menolak penghargaan itu beralasan karena Lumpur Lapindo yang ditimbulkan perusahaan kelompok Bakrie itu.



Tahun 2007 lalu, sastrawan Putu Wijaya pernah mikir-mikir untuk menerima penghargaan itu, setelah menerima banyak pesan singkat dari rekannya untuk tidak menerima.

Kali ini, sastrawan yang menerima adalah Sutardji Calzoum Bachri. Pria yang dijuluki sebagai 'presiden penyair' ini beralasan bersedia menerima penghargaan itu karena seniman, tidak punya wewenang untuk menolak apresiasi apa pun dan dari siapa pun, termasuk memilih siapa orang yang diperbolehkan memberikan apresiasi pada karya seninya.

Sastrawan selama ini diidealisasikan sebagai orang yang menyuarakan kaum lemah ataupun menyuarakan hati nurani. Bagaimana seharusnya sastrawan menyikapinya pemberian penghargaan Achmad Bakrie yang sempat menjadi kontroversi ini?

"Dikembalikan kepada sastrawannya sendiri apakah akan menerima penghargaan yang notabene bermasalah dari segi bisnis. Achmad Bakrie dan Lapindo hanya dipersatukan Aburizal Bakrie," kata Ketua Komunitas Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Nur Zain Hae, Kamis (14/8/2008).

Nurzain mengatakan sikap Romo Magnis yang menolak penghargaan Achmad Bakrie karena alasannya sendiri patut dihargai.

"Harusnya memang ada juga sikap seperti itu (Romo Magnis yang menolak PAB), yang memang berpihak pada yang lemah. Hal ini juga menjadi dilema," kata dia.

Namun, sastrawan seharusnya bisa tetap kritis saat menerima penghargaan yang lembaganya masih ada hubungan dengan lembaga yang bermasalah.

"Menerima dengan memberi catatan kritis pada Bakrie misalnya. Kalau menerima dengan senang hati nggak apa-apa juga," ujar dia.

Selebihnya, Nurzain menilai semakin banyak penghargaan dalam bidang sastra semakin baik. "Artinya, prestasi kepengarangan seseorang dihargai," tutur dia.(nwk/iy)

detikNews Kamis, 14/08/2008 14:18 WIB

Paradoks Keberaksaraan

Selama ini keberaksaraan (literacy) kerap didaulat menjadi kunci yang mampu membuka pintu bagi datangnya modernisasi, partisipasi, empati, demokratisasi, desentralisasi ilmu pengetahuan, perbaikan taraf hidup terutama ekonomi, serta kemajuan suatu bangsa. Laporan UNESCO tahun 2005 berjudul Literacy for life menyebutkan ada hubungan erat antara illiteracy (ketidakberaksaraan) dan kemiskinan. Di banyak negara berangka kemiskinan tinggi seperti Bangladesh, Ethiopia, Ghana, India, Nepal, dan Mozambique, tingkat illiteracy-nya juga tinggi.


Sayang, UNESCO tidak memasukkan Indonesia menjadi salah satu negara yang diteliti. Kalau iya, tentu simpulannya akan lain. Karena berdasarkan data SUSENAS 2004, meskipun tingkat keberaksaraan penduduk usia produktif sangat tinggi, mencapai 98,7 persen, ternyata angka kemiskinannya juga sama tinggi (23,4 persen).

Keberaksaraan baik sebagai tema diskursus maupun sebagai sebuah gerakan, saat ini tengah menjadi sesuatu yang seksis. Diseminarkan di mana-mana. Jadi bahan obrolan kaum cerdik pandai. Menjadi perhatian, tidak saja pemegang kuasa politik (partai) tapi juga ekonomi (perusahaan). Hingga ibu-ibu pejabat pun merasa harus ikut ambil bagian untuk merayakan gairah keberaksaraan itu.

Audit Kemasyarakatan

Namun dari riuhnya perayaan itu, ada satu persoalan pokok yang rupa-rupanya tercecer. Entah karena lupa atau memang dengan sengaja dilupakan. Yaitu menyangkut ukuran-ukuran yang dipakai untuk menyimpulkan, apakah seseorang atau suatu kelompok masyarakat sudah tergolong literit atau belum. Apakah berdasarkan tingkat melek huruf, besarnya belanja buku masyarakat (daya beli buku), jumlah judul buku baru yang diterbitkan, jumlah penerbit buku, akses masyarakat terhadap buku dan koran, disandarkan pada minat baca masyarakat terhadap buku. Atau ukuran lainnya?

Memetakan saja tidak, alih-alih mengukur parameter-parameter di atas yang oleh Daniel Lerner (1978) disebut sebagai audit kemasyarakatan (societal audits). Padahal melalui audit kemasyarakatan itu kita akan jadi tahu seberapa eratkah hubungan antara tingkat kemajuan suatu bangsa dengan taraf keberaksaraan. Sehingga kita tidak terjebak pada pemitosan keberaksaraan.

Absennya audit kemasyarakatan akan berakibat kepada penetapan tujuan, sasaran, rencana kerja, dan program aksi keberaksaraan yang tidak tepat. Sehingga berbagai macam bentuk kampanye keberaksaraan lebih kental bernuansa reaktif, jangka pendek, dan cenderung menyederhanakan persoalan. Salah satu bentuk penyederhaan itu adalah mengartikan literasi terbatas pada (aktivitas membaca) buku. Lengkap dengan sesanti klise: buku mencerdaskan bangsa.

Snobisme Intelektual

Ketiadaan audit kemasyarakatan di satu segi dan mengagungkan buku di segi lain melahirkan apa yang dinamakan dengan paradoks keberaksaraan. Dalam paradoks keberaksaraan semua berlaku seolah-olah. Seolah-olah berupaya meningkatkan minat baca masyarakat, sejatinya mencari modus baru praktik hina (korupsi) di industri mulia (penerbit buku). Angka statistik menyatakan tingkat melek huruf tinggi, ternyata hanya terbatas pada melek huruf secara teknis. Sedangkan secara fungsional dan budaya masih buta huruf. Terbukti antara tingkat melek huruf dan kemiskinan sama-sama tinggi. Seorang doyan membeli buku dalam jumlah besar seolah-olah ia pendaras teks yang tekun, nyatanya itu hanya bagian dari wujud snobisme intelektual.

Keberaksaraan (buku) menjadi objek permainan tanda. Penanda tidak harus representasi dari sebuah petanda. Buku sebagai penanda dianggap memunyai citraan atau fetisisme yang menguntungkan. Buku dianggap memiliki modal simbolik (cerdas, tercerahkan, bijak, berwawasan luas).

Modal simbolik ini dalam masyarakat konsumer dipercaya mampu memberikan status-status tertentu pada individu-individu yang mengonsumsinya. Medium pembentukan personalitas, gaya, citra, gaya hidup, dan status sosial (Yasraf, 2004). Dalam masyarakat konsumer, membeli buku tidak lagi disandarkan pada kebutuhan akan inspirasi, perenungan, informasi, pencapaian tingkat kesadaran yang lebih tinggi, tapi disandarkan pada hasrat (desire) yang hanya berhenti pada perburuan penanda (ikon). Pusat perhatian konsumsi tidak pada logika nilai guna tapi pada logika nilai tanda.

Lagi, berbeda dengan kelisanan yang menyaratkan adanya kebersamaan, dialog, pertemuan fisik yang hangat, akrab, dan membahagiakan --keberaksaraan mengandaikan, meminjam istilah yang diberikan Ignas Kleden (1999) adanya invidualisme kebudayaan. Semacam kesanggupan untuk masuk ke dalam dunia diri (kontemplasi), menyendiri setelah riuh rendah dalam kesibukan ekspansi peranan di dunia luar (transformasi). Sebuah metodologi proses yang kalau tidak hati-hati bisa tergelincir pada individualisme dalam bentuknya yang paling konservatif: egois, tertutup, terasing, tercerabut dari akar lingkungannya.

Jika demikian, kekuatan literasi bukannya menumbuhkan partisipasi, dan empati. Yang terjadi justru sebaliknya, menguatkan egoisme dan ketidakpedulian. (*)

Agus M. Irkham, instruktur Literasi Forum Indonesia Membaca

Jawa Pos [Minggu, 09 November 2008]

Integritas dan Jalan Hidup Intelektual

Oleh Muhammad Al-Fayyadl*

Menjadi
intelektual di zaman yang penuh dengan godaan anti-intelektualisme tidaklah mudah. Menjadi intelektual berarti terlibat dalam persoalan-persoalan yang melingkupi lingkungan sekitar tanpa kehilangan integritas dan keotentikan. Persoalannya kemudian, mungkinkah mengambil posisi yang demikian saat ini?



Gempuran budaya populer yang dibawa oleh teknologi dan perkembangan audio-visual membawa konsekuensi yang tak terelakkan bagi pergeseran dunia pemikiran dewasa ini. Pengaruh budaya populer yang mengutamakan ''komunikativitas'' (communicativeness), yaitu tersampaikannya ide-ide menjadi lebih komunikatif di mata orang kebanyakan, telah mengubah cara seorang intelektual mengutarakan gagasannya. Dulu, kita terpikat dengan pemikiran-pemikiran intelektual yang mengutamakan abstraksi, yang mendalam dan sarat dengan muatan ide. Tetapi kini, kondisi yang berbeda membawa pemandangan yang berbeda pula, di mana seorang intelektual harus banyak menyesuaikan pemikirannya dengan tuntutan orang kebanyakan. Ia harus mengemas ide-idenya menjadi lebih atraktif dan komunikatif di hadapan orang lain.

Tuntutan eksternal untuk menjadi lebih komunikatif, lebih menarik, dan ''menghibur'', membawa akibat-akibat yang, pelan tapi pasti, membuat peran-peran intelektual kian merosot dari hari ke hari. Banyak intelektual yang hidup tanpa intelektualisme dalam pemikirannya. Para intelektual menjadi mudah tidak percaya diri jika ia harus menyampaikan gagasannya secara langsung kepada publik. Ia akan lebih merasa nyaman, merasa lebih ''enjoy'' (meminjam ungkapan sebuah iklan), jika ia mengemas terlebih dulu pemikirannya dalam bentuk-bentuk yang populer dan mudah dicerna.

Kemerosotan yang terjadi adalah terdistorsinya kebebasan kreatif seorang intelektual dalam memperjuangkan gagasan-gagasannya. Setidak-tidaknya, ada satu hal yang terlihat kemudian, sebagai akibat dari kondisi tersebut, yaitu: begitu mudahnya dunia pemikiran dewasa ini terjatuh ke dalam sikap-sikap konformisme; sebuah sikap yang ditandai dengan pengiyaan secara tidak kreatif atas opini umum.

Buku, sebuah dokumen tertulis tentang pemikiran seseorang, barangkali bisa dianggap barometer dalam perjalanan seorang intelektual. Mengamati buku dan karya-karya intelektual yang dihasilkan dalam beberapa waktu belakangan ini, bisa diamati bersama betapa terpesonanya dunia pemikiran pada apa yang disebut dengan lazim sebagai ''trend''. ''Trend'' adalah ungkapan lain dari kepopuleran sebuah ide di mata publik kebanyakan. Sejauh mana sebuah karya dapat menyesuaikan diri dengan trend yang ada, tergantung dari sejauh mana karya tersebut mampu menampilkan dirinya secara renyah dan komunikatif bagi audiens. Dan, semakin ia trendy, semakin sebuah pemikiran dapat konformis (baca: selaras-sejalan) dengan keinginan publiknya, maka semakin ia populer dan ''sukses''.

''Popularisme'', konformisme, dan kegandrungan pada hal-hal yang menjadi buah bibir masyarakat pada umumnya dapat dirasakan secara kuat dalam bidang-bidang yang dulunya melahirkan eksperimen-eksperimen serius dalam dunia pemikiran; bidang-bidang keilmuan yang sebelumnya banyak memunculkan perdebatan-perdebatan yang mendalam, yang merangsang pemikiran generasi berikutnya; bidang-bidang pemikiran yang dahulu digarap dengan konsistensi pemikiran yang tangguh dan ulet. Bidang kebudayaan, misalnya, di Indonesia telah melahirkan seorang generasi intelektual seperti Sutan Takdir Alisjahbana yang mengkaji dengan mendalam bentuk-bentuk kebudayaan di Indonesia dalam kaitannya dengan tradisi dan modernitas. Bukan sosok Takdir yang paling penting dalam hal ini, tetapi peran yang dia ambil dalam perdebatan itu yang membuatnya layak dihargai. Takdir, dalam beberapa karyanya, mungkin menunjukkan kualitas yang tidak sebaik apa yang digagasnya. Puisi-puisinya tidak sekuat pemikiran kebudayaannya; novel-novelnya tidak sekuat pemikirannya tentang sastra; dan seterusnya. Bukan karya Takdir itu sendiri yang penting untuk mendapat sorotan dalam konteks ini, melainkan apa yang terbentuk dari karya-karya itu, paradigma pemikiran yang konsisten disuarakan dari dalamnya (meskipun kita perlu meneliti juga inkonsistensinya), dan pertanyaan-pertanyaan menantang yang muncul dari interpretasi atas karya-karya itu.

Pemikiran di bidang keagamaan juga semakin langka memperlihatkan gairah akan kemendalaman dan kultur kajian yang sungguh-sungguh. Agak sulit mencari perdebatan yang mendalam seperti terlihat dari kajian tentang Islam dan sekularisme dalam pemikiran Nurcholish Madjid dan Natsir; tentang Islam dan budaya lokal dalam pemikiran Gus Dur muda; tentang agama dan modernisasi serta pembangunan dalam pemikiran Soedjatmoko. Seperti halnya dalam kasus Takdir di atas, bukan sosok pribadi Nurcholish atau Natsir, atau Soedjatmoko, yang menarik untuk diperbincangkan, melainkan yang terpenting adalah peran yang mereka ambil, posisi, dan sikap yang mereka perjuangkan, yang kemudian menentukan signifikansi pemikiran mereka dalam percaturan intelektual saat itu. Nurcholish menunjukkan beberapa pengulangan dalam karya-karyanya yang belakangan sehingga tidak sepenuhnya baru; Natsir tidak terlalu produktif di akhir-akhir hidupnya; Gus Dur kehilangan sentuhannya sebagai ilmuwan di usia tua karena kesibukannya dalam politik; atau Soedjatmoko yang terlalu berhati-hati dalam mengungkapkan gagasan. Bukan sosok atau karya satu-dua mereka yang terpenting, tetapi paradigma yang terbentuk dalam perjalanan intelektual mereka saat itu.

Paradigma yang baru, yang muncul dari kegelisahan akan situasi, merupakan sesuatu yang berharga yang langka ditemukan saat ini. Dalam bidang kebudayaan, kita lebih banyak menghasilkan karya sastra daripada kajian sastra; lebih banyak novel daripada telaah dan pemikiran sungguh-sungguh tentang novel; lebih banyak kumpulan cerita daripada jurnal sastra; lebih banyak selebritis daripada para pemikir sastra; dan barangkali lebih banyak gosip dan isu tentang konflik antar-berbagai komunitas sastra daripada pemikiran yang tulus dan jernih tentang masalah sastra tertentu. Hal yang agak serupa juga terlihat dalam ranah pemikiran keagamaan: kita lebih banyak menghasilkan buku agama yang penuh dengan rangsangan untuk membenci, provokasi, atau semacamnya daripada karya yang meletakkan agama untuk dikaji. Atau sebaliknya, kita lebih banyak menghasilkan buku agama yang praktis, ringan, atau populer; daripada buku pemikiran agama.

Dua bidang di atas baru sekelumit contoh dari kompleksitas dunia pemikiran dewasa ini. Dalam keduanya terlihat gejala, dunia pemikiran begitu cepat kehilangan pesonanya akan kemendalaman. Gejala yang, barangkali, boleh disebut sebagai ''simplified-mindedness'', sebuah pola berpikir yang terlalu menyederhanakan.

Saat ini, perluasan pola pikir ekonomi (economy-minded), yang melihat segala sesuatu sebagai produk yang harus dijual, juga menjadi tantangan dunia pemikiran. Sebuah buku, di alam yang berpola pikir demikian, akan dilihat semata-mata sebagai produk yang keberhasilannya diukur dari laku-tidaknya buku tersebut. Keberhasilan buku itu tidak dilihat dari kualitas ide di dalamnya, melainkan dari seberapa banyak oplah buku itu laris. Intelektualisme kontemporer menjadikan pemikiran sebagai bisnis, dan bisnis sebagai pemikiran.

Jalan hidup seorang intelektual saat ini benar-benar di ambang kegamangan. Hanya ada satu pilihan baginya: menjadi seorang intelektual sejati yang mau bergulat dengan kegelisahan dan keterasingannya, dan mau memperjuangkan idenya. Atau menjadi intelektual tanpa intelektualisme, yang selalu kompromistis dan konformis dengan keadaan. (*)

*) Muhammad Al-Fayyadl, pengamat muda, tinggal di Jogjakarta

Jawa Pos [Minggu, 02 November 2008]

Kepak Sayap Buruh Migran

Begitu banyak pengorbanan buruh migran agar bisa hidup layak di negeri sendiri. Banyak kisah kelam menyertai kepergian mereka ke luar negeri. Meski begitu, ada pula yang berhasil memberdayakan diri sambil meraup rezeki.


Subianti (28), buruh migran dari Desa Braja Gemilang, Lampung Timur, adalah salah satu yang berhasil keluar dari impitan kemiskinan. Setelah bekerja selama 4,5 tahun di Singapura, Subianti bisa menabung untuk masa depannya, memperbaiki rumah orangtuanya, serta membeli tanah dan sawah.

”Sekarang ayah sudah punya sawah sendiri. Meskipun kecil, tetapi milik sendiri,” kata Subianti yang digaji 340 dollar Singapura (setara Rp 2.142.000) per bulan. Subianti bekerja sebagai pekerja rumah tangga dan sudah berganti majikan dua kali.

Rabu (24/9) siang lalu, Subianti baru mendarat di Jakarta dengan pesawat Singapore Airlines. Ia kemudian hendak melanjutkan perjalanan ke Lampung dengan pesawat lain.
”Pesawat ke Lampung baru berangkat besok. Jadi saya menginap dulu semalam di sini,” kata Subianti yang sedang beristirahat di ruang peristirahatan gedung pendataan kepulangan TKI di Tangerang.

Di dekat Subianti, beberapa buruh migran perempuan juga sedang menunggu pesawat ke Lampung. Mereka baru pulang dari Arab Saudi, Malaysia, Taiwan, dan Hongkong untuk berlebaran.

Sementara itu, Dina Nuriyati (30) tahun ini tak bisa berlebaran dengan suaminya di Indonesia. Mantan buruh migran yang menjadi pendiri Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) ini tengah menempuh pendidikan master di Jerman. ”Aku ambil jurusan Program Kebijakan Perburuhan dan Globalisasi,” kata Dina melalui chatting di internet.

Berdayakan diri

Dina, perempuan dari Desa Patuksari, Malang, Jawa Timur, berhasil mengenyam pendidikan tinggi seperti yang ia cita-citakan. Setelah bekerja menjadi buruh migran di Hongkong selama empat tahun, Dina yang tadinya hanya lulus sekolah menengah atas (SMA) bisa melanjutkan kuliah.

Ia pun bisa membebaskan keluarganya dari lilitan utang rentenir. Setelah itu, Dina membeli truk dan membuat usaha angkutan kecil-kecilan dengan almarhum Mat Ngatemin, ayahnya. Belakangan dia mulai membuka kafe di Yogyakarta bersama teman mantan buruh migran lainnya.

Dina menjadi tahu seluk-beluk persoalan yang dihadapi buruh migran Indonesia karena aktif bergabung dengan Serikat Buruh Migran Internasional (IMWU) di Hongkong. Meski bekerja sebagai pembantu rumah tangga, Dina tak mau menyia-nyiakan dirinya.

Pada hari kerja, Dina mencuci baju, bersih-bersih rumah, atau mengasuh anak majikannya. Pada saat libur akhir pekan, ia manfaatkan waktu untuk berserikat, les komputer, dan kursus bahasa Mandarin.

Dina, anak petani miskin dan sopir angkutan kota, bersyukur nasibnya bisa berubah setelah ia bekerja menjadi buruh migran. Namun, ia juga prihatin karena tidak banyak buruh migran lain yang punya kesempatan untuk memberdayakan diri.

”Jangankan dikasih libur. Banyak teman yang ditindas dan dianiaya ketika bekerja. Pulang ke Tanah Air mereka jadi korban pemerasan,” kata Dina. Bersama teman-teman di SBMI, Dina berupaya memberdayakan dan mengangkat nasib buruh migran.

Selain perlindungan hukum, SBMI terus mengupayakan agar buruh migran Indonesia diberi pembekalan keterampilan secara profesional.

”Buruh migran harus bisa bekerja secara profesional dan mengerti hak-haknya. Mereka juga harus mengerti hukum,” kata Dina.

Mega Vristian (44), pekerja rumah tangga yang sudah 16 tahun di Hongkong, juga berusaha memberdayakan dirinya di sela-sela waktu luangnya. Ketika sedang mengantar anak majikannya sekolah, Mega menyempatkan diri menulis puisi atau cerpen di bus.

”Saya bawa buku tulis untuk menulis. Kalau sudah sore, setelah pekerjaan beres, saya pinjam komputer majikan untuk menyebarkan puisi atau cerpen saya ke milis sastra,” kata Mega.

Mega melek teknologi karena pendidikannya lumayan tinggi. Ia sempat kuliah di IKIP Negeri Malang sebelum menjadi buruh migran. Setelah menikah, Mega pergi bekerja di Hongkong. Salah satu alasannya adalah agar punya uang untuk menerbitkan puisi dan karya sastranya.

Dengan gaji setara Rp 4 juta per bulan, Mega sudah bisa mendirikan penerbitan. Ia lalu menerbitkan kumpulan cerpen yang ditulis teman-teman buruh migran di Hongkong.

Buku

Bicara soal pemberdayaan diri, buruh migran di Hongkong termasuk yang paling aktif memberdayakan diri. Dengan waktu libur empat hari dalam sebulan, sesuai peraturan perburuhan di Hongkong, para buruh migran bisa memanfaatkan waktunya untuk mengembangkan diri.

Salah satunya adalah dengan membuat kegiatan penulisan karya sastra. Dari tangan buruh migran di Hongkong telah lahir 16 buku.

Buku karya buruh migran itu antara lain berjudul Tertawa Ala Victoria Park, Indonesia Merdeka, dan Negeri Elok Nan Keras di Mana Kami Berjuang (Denok K Rokhmatika); Catatan Harian Seorang Pramuwisma (Rini Widyawati); Penari Naga Kecil (Tarini Sorita); Perempuan di Negeri Beton (Wina Karni); dan lain-lain.

Buku ini mengangkat kehidupan dan persoalan buruh migran. Selain ditulis dalam bentuk puisi dan cerpen, para buruh migran ini juga mengungkap persoalan hidupnya dalam pentas teater.

”Harapannya, aktivitas positif kami bisa mengilhami dan merangsang buruh migran Indonesia di negara lain untuk lebih memanfaatkan waktu libur atau istirahat. Daripada bengong dan nelangsa sendiri dihajar rindu pada keluarga, lebih baik memanfaatkan waktu untuk mengekspresikan diri,” kata Mega. Karya sastra Mega sudah dibuat satu buku dan bulan Oktober ini ia akan meluncurkan antologi puisi bersama teman buruh migran lainnya.

Inilah kepak sayap buruh migran di perantauan. Mereka mengubah citra dari pekerja kasar menjadi intelektual.[]



Kompas

Menganyam Tali Rindu dari Jauh*


(Sekedar Komentar)

Oleh: Mashuri**


’’Berpuisilah agar kamu tidak gila!’’ Itu bukan kredo, manifesto atau sebuah pernyataan yang beraroma doktrin. Itu hanya imbauan sederhana. Di tengah derap kehidupan saat ini, di mana sisi manusia kerap terlindas, maka tetap waras adalah karunia nan bernas. Tentu waras di sini adalah waras yang bersifat mentalitet, dan bukan hanya waras lahiriah. Dengan kata lain, puisi dekat dengan terapi jiwa.



Saya salut dengan beberapa rekan BMI di Hong Kong yang menyempatkan diri berpuisi, meski kesibukan mereka menggunung. Meski hidup ibarat mendorong batu ke atas gunung, dan esok batu itu menggelinding lagi dan didorong lagi: yakni rutinitas yang menjemukan. Rutinitas kalau tidak dihayati memang akan menghilangkan sisi manusiawi. Bahkan, pada taraf tertentu sangat rentan pada kesadaran. Oleh karena itu, akan menjadi sesuatu yang berharga pada seseorang bila mampu berkelit dari rutinitas dan membangun sebuah dunia lain di alam pikiran dan perasaannya.

Ini kiranya yang ingin diperangi oleh saudari-saudari TKW yang penyair itu. Mereka pun mengangankan sebuah kebahagiaan dalam melakoni hidup, membangun sebuah rumah pulang di kalbu mereka sendiri untuk menawarkan kerinduan, mendirikan sebuah negeri cinta di hati mereka sebagai tempat ‘bercinta’ dengan Sang Terkasih, tak jarang juga membangun kalimah-kalimah suci agar hidup tak terkebiri dan menjauh dari Sang Maha Rahim. Mereka melakukannya meski siapa pun tahu bagaimana beban kerja yang disandang oleh mereka.

Kelima kawan BMI ini memiliki gaya yang berbeda-beda dalam mengungkapkan puisinya. Tema yang digarap pun beragam. Meski demikian, ada benang merah yang menghubungkan mereka, yakni perihal kerinduan dan ihwal pulang. Hal itu bisa dimaklumi karena bagaimana pun puisi adalah ungkapan terdalam dari batin manusia. Puisi adalah sebuah cara untuk mengenali keinginan dan hasrat terpendam dari seseorang. jika apa yang diangankan adalah masalah rindu pada yang terkasih, pada rumah, juga keinginan untuk ’bebas’ maka itu pun akan terjelma dalam puisi. Bila diibaratkan, berpuisi adalah mengenal hasrat dasar yang tersimpan di lubang hitam ketaksadaran, yang kerap dipangkas dan direpresi agar tidak mengganggu rutinitas sehari-hari.

Saya di sini hanya sebagai komentator pada puisi kawan-kawan BMI ini. Sekedar komentar. Saya berusaha menikmati puisi-puisi, dengan diselingi celometan. Seperti seorang penonton sepakbola. Masing-masing person menyimpan gelisah dan daya renungnya sendiri. Pun menyimpan gaya berpuisi masing-masing. Ada yang cukup mahir dalam menggunakan diksi, membangun metafora, tapi ada di antaranya yang terjebak dalam lubang klise. Namun soal ini bukanlah hal utama, yang terpenting adalah kemauan mereka untuk berekspresi dan menuangkan pikiran dan perasaannya dalam puisi. Sebab bagaimana pun dengan berpuisi/berkesenian, ada semacam keinginan untuk menghias perasaannya dan luapan jiwanya, agar tidak telanjang dan bisa menakutkan, bila diungkap dalam bahasa/gestur yang kelewat verbal. Mari kita tengok beberapa puisi mereka.

Puisi-puisi Tarini berbicara banyak hal. Mulai dari sesuatu yang serius tentang ungkapan pada Tuhan, Kartini, juga masalah yang berbau lelucon dan keseharian. Soal lelucon itu juga menarik, karena ada hasrat untuk menertawakan diri dan hidup. Dan, tertawa adalah obat mujarab agar tetap bisa melanjutkan hidup lebih enjoy. Tetapi ia tak bisa melupakan kerinduan hatinya pada orang yang dikasihi, baik buah hati, orang tua atau kekasih pujaan.

Bait puisinya berikut ini adalah bukti, bahwa kerinduan itu tetap bersarang di palung jiwanya, meski ia sudah terlelap, meski mata lahirnya tertidur, tapi mata batin kerinduannya masih terjaga, sebuah impian:

Ketika mataku tertidur
Hanya ada mimpi yang akan kurasa
Yang tak seorangpun kan peduli
Yang tak seorangpun kan mengerti

Ketika mataku tertidur
Hanya satu yang kudamba dalam doa
Temukan aku dengan buah hatiku
Temukan aku dengan orangtuaku

Puisi tersebut adalah ungkapan hati dan tak berbau humor. Sebenarnya, jika Tarini bisa mengasah kepekaan humornya, maka ia bisa menghasilkan puisi humor yang bagus. Membuat puisi humor itu sangat sulit, namun jika dilakukan dengan kesabaran dan memiliki sense humor hidup, maka akan bisa memunculkan puisi humor yang bernas. Puisi humor di sini bisa saja mengacu pada tradisi puisi mbeling dalam majalah Aktuil (puisi Remy Silado), atau puisi Joko Pinurbo.

Sedangkan puisi-puisi Tanti seperti cermin sang penyairnya: serius dalam hidupnya. Saya melihat ini bentuk penghayatan untuk mengenali dirinya kembali, agar ia bisa mencari hidup yang lebih bermakna. Ia berbicara tentang kesedihannya dan impian atau keinginannya. Perihal bunda, malaikat kecil, juga tentang pandangannya pada orang-orang yang malang. Memang ada nada skeptis dalam puisi-puisinya, tentang sepi dan kondisi stagnan.

Aku hanya ingin berjalan lintasi birunya awan
Buang sgala keinginan yang hanya terpendam
lepas angan dan penat yang slalu temani
Namun, aku tetap disini

Mungkin yang perlu dibangun adalah bagaimana membangun pralambang atau metafora dalam puisi. Juga mencipta suasana dalam puisi. Ungkapan perasaan memang tidak harus verbal. Bisa menggunakan simbol, lambang atau tanda. Klisenya: cinta dengan mawar, luka dengan darah, atau sebagainya-sebagainya. Jika dipercanggih pun lebih bagus dan berbinar. Kelebihan menggunakan bahasa prismatis adalah puisi memiliki potensi makna yang kaya dan lebih bisa menggambarkan ‘ruang dalam’ meski beda ruang dan waktu. Juga beda pengalaman. Meski begitu, puisi-puisi sepi Tanti telah membuat sebuah rumah dalam batinnya, yang selalu membuat dia bisa pulang, curhat dan meluapkan kepenatan diri.

Sementara itu, puisi-puisi Mega tampak lebih utuh dan lebih jadi sebagai puisi. Bangunan metafor, diksi, serta elemen penopang struktur puisinya sudah cukup baik. Bangunan puisinya bisa dikatakan sudah canggih. Ia berbicara banyak hal, dalam beberapa bentuk ungkapan, mulai dengan lirik, elegi, bahkan balada. Ia berbicara tentang dunianya, juga kepeduliannya pada sesama BMI. Jika ditingkatkan sedikit lagi, puisi-puisi Mega akan sangat menarik dan memiliki pertaruhan sastra yang menjanjikan. Di sisi lain, saya mencatat selalu saja ada kerinduan di sana. Rindu yang memang telah menjadi fitrah manusia. Ini kutipan puisinya dalam ‘Bulan Berpayung Awan’.

rindu kami menjelma bunga randu
putih diterbangkan angin
melayang-layang menjemput angan

Sementara itu, puisi-puisi Kristina lebih bernuansa liris. Ia berbicara tentang perasaan dirinya yang terdalam. Ia berusaha melukiskan suasana batinnya dengan lajur-lajur kesepian, kerinduan dan lain-lainnya. Yah, lagi-lagi kerinduan menjadi topik yang tak habis-habisnya, karena itu memang luapan hati mereka yang paling jujur dan murni.

Detik ini kerinduan menghantam jiwa
Semakin kuat mencengkeram sudut benak
Tak mampu, sungguh tak mampu
Menanti sapamu dihari kelabu

Andai kau ada disini temani perjalanan ini
Tak mungkin air mata kerinduan jadi penghias hari hari

Secara umum puisinya sudah tertata. Namun tak jarang bisa ditemui ungkapan-ungkapan verbal yang sering terjebak pada klise atau pengungkapan perasaan yang bisa dikatakan oleh banyak orang. Coba kalau Kristina mampu membuat kesepian, kerinduan dan cintanya itu dengan ungkapan yang khas Kristina, akan lebih menarik. Sebagaimana pedangdut Kristina yang selalu dianggap sebagai trade mark lirik: ‘jatung bangun aku mengejarmu’.

Puisi-puisi Adepunk mengeksplore tema cinta, baik itu cinta jingga maupun cinta pada orang tua. Cinta adalah tema yang tak pernah kedaluwarsa untuk digali dan dipasu ilhamnya. Sepertinya Adepunk memang seorang pemuja cinta, sehingga puisi-puisinya bertema cinta. Alangkah indahnya cinta itu, jika Adepunk lebih memoles puisinya dengan lebih ketat dan lebih memperhatikan setiap pilihan katanya. Perasaan indah jika disertai dengan pilihan kata yang indah akan menjadi mutu manikam lisan/tulisan berharga. Demikianlah, cinta juga menyimpan rindu dalam jejaring rasanya. Adepunk juga menangkapnya. Lihatlah puisi ini.

Walau aku jauh dinegeri seberang,
Kulantunkan lagu rinduuntukmu,
Selalu kudendangkan lagucinta,
Hanya untukmu...

Demikianlah, berpuisi/bersastra atau berkesenian adalah jalan tengah paling aman untuk mengungkapkan perasaan terdalam, karena bagaimanapun semua orang butuh saluran pelampiasan. Sebagai bentuk ungkapan hati terdalam, sebagai upaya untuk menyampaiakan pemikiran, simpati, bahkan juga kebencian. Di sisi lain, terlebih bersastra/berpuisi adalah jalan menuju kebenaran ---mencari wosing beras, di antara belantara kehidupan, karena sastra, menurut para ahli waskita sastra, adalah jalan kebenaran setelah agama dan filsafat.

Oleh karena itu, agar kita tidak gila maka mari berpuisi! Yeah, seperti slogan penyanyi dangdut: untuk melepas penat dan kesulitan hidup, mari kita berjoget! Tentu dengan berjoget kata-kata, dengan lekuk pinggul diksi dan senggol metafora yang aduhai!

* Tulisan pengantar buku 5 Kelopak Mata Bauhinia, disamping penganatar lain yang ditulis Saut Situmorang
**penulis puisi dan novel, pengampu blog: www.mashurii.blogspot.com

FOTO: diambil dari blog-e Kristina Dian Safitry

Persentase Anggaran Lingkungan Hidup di Jatim Kurang dari Satu Persen


Komitmen anggaran lingkungan hidup pemerintah kabupaten-kota di Jawa Timur (Jatim) masih rendah. Rata-rata hanya 0,03 persen dari total belanja langsung APBD. Apa dampaknya terhadap pengelolaan lingkungan hidup di daerah? Berikut ulasan Hariatni Novitasari dari The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP).


Dalam dua tahun terakhir, lingkungan hidup menjadi salah satu bidang yang dimonitor dan dievaluasi JPIP. Temuannya sangat bervariasi. Baik program pengelolaan lingkungan hidup maupun kebijakan penganggaran. Kategori itu kaya inovasi. Di antara lima parameter, lingkungan hidup memiliki inovasi terbanyak kedua setelah pelayanan publik. Pada Otonomi Award 2008 (OA 2008), 15 daerah bersaing ketat untuk menjadi yang terbaik.

Alokasi anggaran merupakan salah satu bentuk komitmen pemerintah daerah (pemda) terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Anggaran pengelolaan lingkungan merupakan bagian belanja langsung daerah. Angka di bawah satu persen menunjukkan rendahnya komitmen pemda di Jatim. Belum semua pemda menjadikan lingkungan hidup sebagai isu utama pembuatan kebijakan di daerah.

Dalam OA 2008, Kabupaten Probolinggo menjadi daerah dengan persentase anggaran lingkungan hidup tertinggi. Kabupaten di kawasan tapal kuda itu mengalokasikan 0,13 persen dari total belanja langsung, atau Rp 43,7 miliar. Peringkat kedua sampai kelima ditempati Kabupaten Nganjuk (0,12 persen); Kabupaten Trenggalek (0,11 persen); Kabupaten Sidoarjo (0,09 persen); dan Kota Probolinggo (0,07 persen). Anggaran terbesar dialokasikan Kota Surabaya (Rp 114,9 miliar).

Kabupaten Tuban berada di posisi juru kunci dengan alokasi anggaran Rp 1,6 miliar di antara jumlah belanja langsung APBD Rp 320 miliar. Disusul Kabupaten Sampang, Kabupaten Ngawi, Bangkalan, dan Kabupaten Tulungagung (lihat grafis).

Anggaran lingkungan hidup biasanya dialokasikan untuk pengelolaan sampah, konservasi lahan kritis, pembuatan energi alternatif, pembangunan ruang terbuka hijau (RTH), atau pembangunan infrastruktur yang mendukung lingkungan hidup seperti gorong-gorong dan saluran drainase.

Karena nomenklatur di daerah yang tidak sama, anggaran lingkungan hidup tersebar di berbagai institusi. Tidak saja dikelola institusi yang secara khusus menangani lingkungan hidup seperti dinas lingkungan hidup. Tapi, institusi lain juga melakukan konservasi terhadap lingkungan hidup dan sumber daya alam. Misalnya, dinas perkebunan dan kehutanan serta dinas kebersihan dan pertamanan.

Anggaran Besar Rajin Inovasi

Besarnya alokasi anggaran berkorelasi terhadap inovasi daerah. Kabupaten-kota dengan komitmen anggaran yang tinggi akan cenderung berinovasi. Sebaliknya, daerah-daerah yang mengalokasikan anggaran rendah berinovasi rendah.

Program yang dibuat hanya program rutin. Daerah-daerah yang berinovasi tinggi akan berada di peringkat atas kategori lingkungan hidup OA 2008. Sebaliknya, daerah-daerah yang minim anggaran dan inovasi akan berada di posisi bawah.

Kabupaten Probolinggo sebagai daerah dengan persentase anggaran lingkungan tertinggi berada di peringkat ketiga parameter lingkungan hidup OA 2008. Hanya kalah peringkat dari Kota Surabaya dan Kota Probolinggo. Anggaran di daerah itu tersebar di lima insitusi. Yaitu, dinas PU ciptakarya; kebersihan dan pertamanan; badan perencanaan pembangunan daerah; kantor pengendalian lingkungan hidup; dinas pertanian, tanaman pangan, kehutanan, dan perkebunan; serta dinas peternakan, kelautan, dan perikanan.

Program yang diunggulkan daerah tersebut, antara lain, perbaikan sarana dan pasarana tempat pemprosesan akhir (TPA) sampah, pembuatan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) di Kecamatan Tiris, penanganan lahan kritis, serta pembuatan energi alternatif.

Sebagai daerah yang memiliki anggaran terbesar di Jatim, Kota Surabaya memiliki program yang variatif. Program yang dilakukan pemkot, antara lain, memperbanyak RTH, pengelolaan sampah bersama dengan masyarakat, dan penegakan Peraturan Daerah (Perda) No 7/2002 tentang Ruang Terbuka Hijau. Dengan upaya tersebut, pada OA 2008 ini, Surabaya berhak menyandang predikat pemenang kategori pengelolaan lingkungan hidup (kolom Pro-Otonomi, 26/05/2008).

Kabupaten Trenggalek yang memiliki persentase anggaran terbesar ketiga merupakan pemenang kategori lingkungan hidup pada OA 2007. Pengelolaan lingkungan di kabupaten itu ditekankan pada konservasi wilayah pesisir yang menjadi potesi besar daerah tersebut.

Kota Probolinggo menempati peringkat kelima untuk besarnya persentase anggaran lingkungan hidup, menduduki peringkat kedua kategori lingkungan hidup. Daerah itu juga berinovasi tinggi. Program yang dilakukan dinas kebersihan dan lingkungan hidup (DKLH), antara lain, memperbanyak RTH, hotline kebersihan 24 jam, pengelolaan sampah bersama masyarakat, penyelesaian TPA, serta pendirian dewan pembangunan berkesinambungan.

Kabupaten Tuban sebagai daerah dengan persentase anggaran terendah berada pada peringkat ke-37 kategori lingkungan hidup OA 2008. Dari hasil monev, daerah di pesisir utara Jatim itu minim inovasi. Program yang dilakukan kantor lingkungan hidup, antara lain, pengembangan sistem pengelolaan persampahan dengan anggaran Rp 220 juta dan program Adipura. Kabupaten Sampang yang mengalokasikan persentase anggaran terendah kedua menduduki peringkat ke-35 kategori lingkungan hidup OA 2008. (mk/e-mail: hnovitasari@jpip.or.id)


Jawa Pos [Senin, 13 Oktober 2008]

FOTO: "Hutan" dan salah satu sumber air yang selama ini masih selalu mengalir pun di musim kemarau panjang, di Desa Cakul, Kecamatan DOngko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur [bon]

Le Clezio, Suara bagi Si Lemah


Siapakah sejatinya seorang sastrawan? Di mata Jean-Marie Gustave Le Clézio (68), peraih Hadiah Nobel Sastra 2008, sastrawan, secara khusus novelis, bukanlah filsuf, bukan pula teknisi bahasa tutur. ”Dia adalah seseorang yang menulis, tentu saja, dan melalui novel dia bertanya,” katanya.


Pandangan itulah yang membawa Le Clézio menekuni dunia sastra sepanjang hidupnya. Sejak masih belia, usia 8 tahun, Le Clézio sudah menulis. Hingga kini, lebih dari 50 novel, esai, cerita pendek, telah lahir dari tangannya.

Konsistensi Le Clézio membuahkan Hadiah Nobel Sastra 2008 yang diumumkan oleh Svenska Akademien (Akademi Swedia) pada 10 Oktober lalu di Stockholm. Saat mengumumkan penghargaan itu, Horace Engdahl, Sekretaris Tetap Akademi Swedia, menyebut Le Clézio sebagai ”pengarang angkatan baru dengan petualangan puitis dan ekstasi sensual, serta penjelajah kemanusiaan di luar kekuasaan peradaban.”

Engdahl juga menggambarkan Le Clézio sebagai seorang pengarang kosmopolitan, seorang musafir, seorang warga dunia, dan seorang nomaden.

”Dia tidak secara khusus seorang penulis Perancis, kalau Anda melihat dia dari pandangan kultural. Dia melampaui berbagai fase berbeda dalam perkembangannya sebagai penulis dan telah melibatkan peradaban lain, juga cara hidup lain, dalam karyanya,” ujar Engdahl, seperti dikutip The New York Times.

”Saya senang dan sangat terharu karena tidak mengira sama sekali. Ini kehormatan besar. Saya tidak percaya, kemudian merasa kagum, dan akhirnya merasa gembira,” kata Le Clézio kepada wartawan dalam konferensi pers di Paris, seusai namanya diumumkan sebagai penerima Hadiah Nobel Sastra 2008.

Kendati tidak dikenal di Amerika Serikat, Le Clézio dipandang sebagai figur besar dalam kesusastraan Eropa. Lahir di Nice, Perancis, 13 April 1940, dia enggan mengidentifikasi dirinya secara kaku sebagai seorang Perancis.

”Saya memulai di Perancis, tetapi ayah saya seorang warga negara Inggris yang lahir di Mauritius. Jadi, saya memandang diri saya sebagai sebuah campuran, seperti banyak orang di Eropa sekarang ini,” tuturnya seperti dikutip The Guardian.

Le Clézio adalah penulis Perancis pertama yang menerima Hadiah Nobel Sastra sejak penulis keturunan Perancis-China, Gao Xinjiang, menerima penghargaan prestisius itu tahun 2000. Selain menulis dalam bahasa Perancis, Le Clézio juga menulis dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Swedia.

Evolusi

Debut Le Clézio di dunia sastra adalah novel berjudul Le Procès-Verbal (1963), diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Interrogation (1964). Novel ini langsung menyedot perhatian dibandingkan dengan karya Jean-Paul Sartre, Nausea, dan karya Albert Camus, The Outsider.

Novel yang berkisah tentang seorang laki-laki muda yang berakhir di rumah sakit jiwa itu memenangi penghargaan Prix Renaudot. Novel itu pula yang memperkenalkan keasyikan utama Le Clézio, yaitu pelarian dari norma ke dalam cara pikir yang ekstrem.

Le Procès-Verbal segera disusul serangkaian karya lain yang menggambarkan situasi krisis, termasuk kumpulan cerita pendek La Fièvre (1965) dan Le Déluge (1966). Kisah-kisah di dalamnya menuturkan tentang kesulitan dan ketakutan yang menghantui kota-kota besar di Barat.

Gaya bertutur Le Clézio kemudian berevolusi dalam karya- karya berikutnya, menjadi lebih liris. Ia berbicara banyak soal lingkungan. Itu terlihat dari karya semisal Terra Amata (1967), Le Livre des Fuites (1969), La Guerre (1970), dan Les Géants (1973).

Terobosan besar Le Clézio sebagai novelis adalah Désert (1980). Novel ini berkisah tentang kebudayaan yang hilang di gurun Afrika Utara, dan dikontraskan dengan Eropa yang dilihat melalui kacamata seorang imigran. Lalla, sang tokoh utama, adalah pekerja asal Aljazair yang menjadi antitesis utopis atas keburukan dan kebrutalan masyarakat Eropa. Désert meraih penghargaan Grand Prix Paul Morand yang dianugerahkan Académie Française.

Faktor yang menentukan karya-karya Le Clézio adalah waktu yang dihabiskannya di berbagai belahan dunia. Ketika berusia delapan tahun, keluarganya pindah ke Nigeria di mana ayahnya bertugas sebagai dokter bedah di angkatan bersenjata Inggris. Ia menuntut ilmu di Inggris dan Perancis, kemudian bekerja sebagai guru di Amerika Serikat.

Tahun 1967 Le Clézio ditugaskan ke Thailand untuk tugas militer. Oleh karena protes menentang prostitusi anak, dia dipindahkan ke Meksiko. Tahun 1970-1974 dia tinggal bersama suku Indian Embera di Panama. Dari tempat itu, dia menghasilkan Haï dan Voyage de l’autre Côté. Ia juga menerjemahkan beberapa karya besar tradisi Indian, seperti Les Prophéties du Chilam Balam.

Tahun 1975 Le Clézio bertemu istrinya, Jemima, seorang Maroko. Berdua, mereka membagi waktu antara Nice, Mauritius, dan Albuquerque di New Mexico sejak tahun 1990.

Suara ”underdog”

Mendekati era 1990-an, karyanya bergerak ke arah eksplorasi dunia dan sejarah keluarga. Perkembangan itu dimulai dengan novel Onitsha (1991) yang dilanjutkan dengan La Quarantaine (1995). Pergerakan itu berpuncak pada Révolution (2003) dan L’Africain (2004). Révolution menyimpulkan tema paling penting dari karya-karyanya, yaitu kenangan, pembuangan, reorientasi masa muda, dan konflik budaya.

Karya Le Clézio yang terhitung baru adalah Ballaciner (2007), sebuah esai personal tentang sejarah seni film dan pentingnya film dalam kehidupan dia. Karya terbarunya, Ritournelle de la Faim, baru saja diterbitkan.

”Ada dua fase dalam karier Le Clézio,” kata Adrian Tahourdin, editor Times Literary Supplement. ”Ada karya awal yang eksperimental hingga pertengahan 1970-an, kemudian beralih ke dalam gaya yang lebih liris, naratif tradisional, dan mulai mengeksplorasi budaya lebih banyak,” ujarnya.

Alison Anderson, salah satu penerjemah karya Le Clézio ke dalam bahasa Inggris, menyebut Le Clézio sebagai pendukung kaum underdog, orang yang tidak memiliki suara sendiri.

”Dia adalah suara mereka,” ujar Anderson.

”Saya kira Komite Nobel telah membuat pilihan bagi suara kasih sayang dan empati, yang tidak perlu sesuai dengan mode paling mutakhir, tetapi sangat penting,” tuturnya.

Le Clézio yang tidak menyangka akan mendapat penghargaan Nobel Sastra hanya mengatakan, ”Saya merasa menjadi bagian kecil dari planet ini. Sastra memungkinkan saya untuk mengekspresikannya.”

Lalu, apa yang dia inginkan setelah menerima penghargaan bergengsi itu?

”Pesan saya jelas, kita harus terus membaca novel karena novel adalah sarana bagus untuk mempertanyakan dunia saat ini, tanpa mendapat jawaban yang terlalu sistematis, terlalu otomatis,” ujar Le Clézio. (FRO)

Kompas, Selasa, 21 Oktober 2008 | 00:59 WIB