PONIRAN

Linda Setiorini

Matahari sudah di ubun-ubun saat Dina sampai di Causeway Bay. Meskipun harus berpacu langkah dengan orang-orang yang lalu lalang, bibir Dina terus senyum. Bahkan, kadang cekikikan sendirian. Oh, tidak sendirian. Ia lagi asyik ngobrol dengan sang doi yang di Korea.

’’Udah ya say, ntar jam tiga ketemu,’’ dengan manja Dina pamitan.

’’Ketemu di mana?’’dari seberang sang kekasih menggoda.

’’Ah, kamu! Udah ah!’’ suara Dina dibikin genit seraya mengecup HP-nya sampai-sampai lipstiknya tertinggal di casingnya.

’’Kok jam segini baru datang Din?’’selalu itu yang ditanyakan Ida setiap kali ketemu, padahal entah sudah berapa kali Dina menjelaskan kepada semua temannya termasuk Ida bahwa sebelum dia keluar libur, mesti bersih-bersih rumah dulu, lalu menyiapkan sarapan, lalu membangunkan anak plus membantu mereka gosok gigi lalu mengantarkannya ke rumah bobo.

’’Ini ada lodeh kacang dan rebung kesukaanmu Din, pedes banget lho!’’ tawar Mbak Jum seraya menyodorkan piring plastik.

Hari ini Mbak Jum ulang tahun. Teman-teman seapartemen diundang sehingga suasana begitu akrab karena hampir tiap hari ketemu dan sudah saling mengenal. Dina geli saat menyaksikan Siti dan Rina duduk terpisah, padahal dulunya mereka berdua adalah sahabat akrab, setiap hari belanja bareng, libur bareng, pulang bareng, makan sepiring berdua, bahkan mulai dari sepatu sampai topi selalu kembar. Tapi, sekarang mereka ibarat air dan minyak. Rina berdiri sambil merapikan roknya, sudah jelas bahwa dia ingin meninggalkan tempat itu.

’’Mbak, aku pergi dulu ya, mau ketemu teman. Mmakasih lho atas undangan dan makanannya,’’pamit Rina basa-basi. Mbak Jum cuma tersenyum seraya mengangguk.

’’Nemuin temen ato.........?? Ida yang usil menggoda seraya melirik Siti. Mbak Jum menyodok Ida, sementara Siti pura-pura asyik membaca majalah. Dina tersenyum geli melihat tingkah mereka.

Musik dangdut mengalun merdu dari tape recorder-nya Yanti yang selalu dibawa setiap dia libur.

’’Kamu juga mau nemuin temen ya Sit?’’ledek Ida saat meliat Siti mengenakan sepatunya.

’’Nggak mau ke jisok kok,’’elak Siti.

’’Alah, paling-paling ntar baliknya di tempat chatting.’’

’’Itu kan urusan dia Da! Kamu tuh cerewet banget sih?’’ bentak Mbak Jum, sementara Ida cuma nyengir.

’’Siti sama Rina itu masih musuhan ya?’’ tanya Anik yang biasanya libur cuma sebulan dua kali.

’’Ya.......sejak Siti tahu bahwa Daniel itu adalah Poniran, lalu meledaklah perang itu,’’ jawab Ida antusias.

’’Ya ampun! Jadi mereka nggak bertegur sapa itu hanya gara-gara cowok ya?’’ tanya Gianti penasaran.

’’Ya iyalah! Tadinya sih nggak tau siapa yang Poniran duluan. Siti punya cowok namanya Jimmy, lalu Rina punya cowok namanya Daniel. Usut punya usut ternyata Jimmy ama Daniel itu satu orang, nama sesunguhnya Poniran,’’ dengan fasihnya Ida menjelaskan dan disambut tawa geli teman-teman yang ikut mendengarkan.

’’Trus gimana kok bisa ketahuan kalau cowok mereka sama?’’ tanya seseorang yang duduk disebelah tempat mereka, rupanya suara Ida yang bergema menarik perhatian dia.

’’Lho, mereka berdua dulunya kan sahabat akrab. Biasalah berbagi cerita tentang cowoknya, lalu saat Siti utak-atik HP-nya Rina dia melihat nomor HP Daniel sama dengan nomor HP Jimmy.’’

’’Trus Poniran itu siapa?’’ tanya seseorang yang juga ikut-ikutan nimbrung.

’’Ya Jimmy alias Daniel itu, biasa pakai nama samaran, masak mo ngomong Poniran… kan nggak keren?’’ jawab Ida.

’’Kok bisa ketahuan kalau ternyata dia adalah Poniran?’’ sambungnya.

’’Begini, tadinya kan Rina ngajak aku chatting, dia mau kasih tahu aku yang namanya Daniel, dan tak disangka tak diduga ternyata yang namanya Daniel alias Jimmy itu adalah Poniran tetanggaku di kampung,’’ kembali mereka tertawa mendengar cerita Ida.

’’Emang Poniran itu cakep ya Mbak?’’

’’Wow......... jangan di tanya, dia cowok macho men...! Di kampung jadi rebutan, di sekolah jadi idola, pacarnya banyak, tapi sayangnya dia buaya, hampir semua cewek sekampung digasak..."

’’Termasuk kamu kan?’’ potong Mbak Jum.

’’Ih ya nggaklah!’’ bantah Ida seraya memonyongkan bibirnya.

’’Trus Mbak............siapa tadi?’’ mereka makin penasaran dengan cerita Ida.

’’Siti dan Rina?’’ potong Ida.

’’Iya, gimana bisa kenal sama Poniran?’’

’’Ya ampun, ya lewat chattingan Non, emang nggak tahu jika mereka yang seneng chattingan itu sebenarnya orangnya yang asli belum lihat, tapi udah ngomong cintalah, sayanglah, malah manggilnya aja udah papa mama, padahal nggak tahunya di belakang mungkin dah beranak istri, atau duda, atau mungkin pacarnya seabrek tapi ngakunya masih ting-ting,’’ Ida berhenti sejenak untuk mengambil nafas sambil menelan ludah. ’’Kayak Poniran itu, memang sih masih single, cakep, dan banyak deh kelebihannya, tapi jika makan hati apa untungnya, tampangnya aja yang oke, tapi hatinya berbisa, mungkin saja selain Siti dan Rina dia juga menggombali sama cewek lain, tapi yang pasti nggak mungkinlah jika dia pake nama Poniran, makanya jika chattingan hati-hati, jangan mudah tergoda hanya karena tampang, siapa tahu nasib kita sama seperti Siti dan Rina, udah diduain persahabatan putus lagi, tapi ya.............. namanya juga cinta…’’

Dina mencibir mendengar penuturan Ida yang sok bijaksana, dari cara Ida bercerita, dan juga caranya memuji Poniran kayaknya Ida pun punya rasa suka sama Poniran, tapi pura-pura ngasih nasehat, huh dasar, emang Poniran itu kayak apa sih, dilihat dari namanya saja nggak ada yang istimewa, kampungan, pantesnya sih jadi pengembala sapi aja, ato tukang kebun juga boleh, tapi untung juga dia bisa lolos masuk Korea, batin Dina jengkel.

Jarum jam menunjukkan hampir pukul tiga sore,berarti Dina harus online untuk ketemu sama pujaan hatinya.

’’Mbak aku pergi dulu ya?’’ bisik Dina pada Mbak Jum.

’’Hati-hati ya,jangan lama-lama lo, ntar habis duit banyak, kamu mesti ngirit Din!’’ pesan Mbak Jum yang sudah paham ke mana Dina hendak pergi. Selama ini Dina memang paling dekat sama Mbak Jum.

’’Iya Mbak, nanti Mbak Jum tetap di sini kan?’’

’’Kalau nanti aku sudah nggak di sini kamu telepon saja.’’

’’Emang kamu mau ke mana Din?’’ tanya Ida.

’’E.............. ke Chandra kirim uang.’’ jawab Dina seraya berlalu. Yang namanya rahasia jangan sampai Ida tahu kalau tak ingin bocor kayak mulutnya yang ember itu. Dina berlari menerobos orang-orang yang memenuhi Taman Victoria, saat hendak naik lift disebuah building, Dina bertemu dengan Siti, sejenak Dina terpana melihat penampilan Siti yang telah berubah, tadinya Siti cuma pake kaos stret sama celana jeans, tapi sekarang dia memakai baju semacam kemben yang jika ditarik ke bawah kelihatan gunungnya dan jika ditarik ke atas kelihatan pusarnya. Perhisannya bergelantungan bak seorang artis dengan make up warna-warni. Siti benar-benar persis seperti bintang film, ah hanya demi Poniran aja sampai-sampai dia berpenampilan demikian, batin Dina.
’’Mau chattingan ya?’’ sapa Dina. Siti cuma mengangguk sambil tersenyum.

’’Sama, Poniran ya?’’ goda Dina yang membuat Siti tersipu-sipu.

’’Chattingan di mana Sit?’’ tanya Dina saat mereka telah masuk lift.

’’Di lantai 7,’’ jawab Siti.

’’Kebetulan aku juga mau ke sana, aku tadi udah pesen tempat,’’ ujar Dina.

Saat mereka tlah sampai di lantai 7, tempatnya masih penuh, sedangkan jam dinding menunjukkan pukul tiga kurang lima menit.

’’Sebentar ya Mbak, mereka bertiga hampir sign out kok,’’ ujar penjaga warnet begitu melihat Dina dan Siti datang. HP Dina bergetar, ada SMS masuk,’’Say aku dah on line lho, kapan kamu datang? Kangen nih!’’ begitu pesan dari Riyan, kekasih Dina di Korea.

’’Kamu disebelahku saja Din,’’ kata Siti saat tiga orang cewek meninggalkan meja komputernya, kebetulan tempatnya bersebelahan.

Dengan cekatan Dina segera membuka id dan password-nya, lalu masuklah beberapa pesan dari Riyan yang katanya tak sabar ingin segera melihat wajah cantiknya Dina.

Setelah saling mengirim came, Dina tersenyum menatap gambar Riyan yang kelihatan makin cakep saja dengan rambut yang dibiarkan panjang. Selain tampan, Riyan juga pandai merayu, kaya akan humor dan pintar bermain kata-kata, ditambah lagi suaranya yang merdu saat menyanyikan lagu-lagu Malaysia, sehingga Dina rela menghabiskan uangnya berdolar-dolar hanya untuk mendengarkan suara Riyan setiap malam.

Empat bulan sudah Dina menjalin cinta dengan Riyan lewat internet dan telepon, rupanya Dina sudah begitu percaya pada Riyan, sehingga Dina benar-benar mencintai Riyan setulus hati. Tak pernah sedikit pun ada keinginan di hati Dina untuk menghianati ataupun membohongi Riyan meskipun begitu banyak cowok yang menggoda dan mengharapkan cinta Dina.

Dina tersenyum-senyum setiap kali membaca tulisan yang dilemparkan Riyan dari seberang, sementara itu Siti terus cekikikan di sebelah Dina.

’’Busyet, katanya jangankan mobil, pengen pesawat aja dibeliin kalo ada yang jual, hi hi hi.....!’’ Dina cuma mencibir. Dasar rayuan gombalnya Poniran, batin Dina.

Karena Siti terus-terusan tertawa Dina jadi penasaran ingin melihat tampangnya Poniran.

’’Lho Sit, itu kan Riyan!’’ pekik Dina kaget saat karena melihat wajah Riyan ada di komputernya Siti.

’’Apa, ini lo Jimmy, eh maksudku Poniran,’’ jawab Siti tanpa menoleh.

’’Tapi aku juga lagi chattingan sama dia,’’ suara Dina gemetar menahan beribu perasaan. Kontan saja Siti langsung menatap Dina, lantas melihat ke komputer Dina.

’’Lho, kok kamu chattinga sama dia sih?!!!’’ kali ini Siti yang menghardik Dina seraya memelototkan mata.

’’Kamu sendiri ngapain juga chattingan sama dia?!!!’’ suara Dina tak kalah kerasnya karena juga emosi. Karuan saja mereka jadi perhatian orang-orang yang sedang berada di tempat itu.

’’Mbak, Mbak, kalau berantem jangan di sini ya, berisik nih, udah tempatnya sempit lagi…’’ tegur seseorang yang lagi chattingan di dekat mereka. Tentu saja muka Dina jadi memerah karena malu.

Dengan kasar Dina mematikan komputernya, dan setelah membayar sewa komputer tersebut, Dina segera berlari keluar melalui tangga. Hatinya hancur dan pilu, sumpah-serapah pun keluar dari bibirnya yang mungil. Namun jauh di dasar hatinya Dina tak dapat berbohong bahwa dia memang mencintai Riyan yang kini telah berubah menjadi Poniran. []

[Salam sayang buat seseorang di Korea, biarlah waktu yang akan menyatukan cinta kita].

--dari Peduli 13 dan 15

E N O K

Retnayu Ayu


’’You are the love of my life,
i knew it right from the start,
the moment i looked at you,
you found a place in my heart...’’


MP-3-ku terus mendayu-ndayu, meluruh-larutkan hatiku dalam sendu yang suntuk. Aku mendesah, lalu kutarik nafas beratku dalam-dalam, iringi resahku, mengenang kembali kisah beberapa tahun lalu.

’’Kak...’’ sapa manjanya menggelitik telingaku.

’’Hai...’’ balasku. Aku masih jalan pelan keluar dari toko itu. Ah, ia begitumemesonaku.

Enok. Nama sapaan yang sangat kusuka itu nyaris melupakan aku dari rangkaian huruf yang cukup panjang yang membentuk nama lengkapnya.

Aku telah melewati 36 musim di negeri ini, yang semula terasa aneh, dan makin lama makin aneh, yang anehnya: seiring dengan meningkatnya keanehannya meningkat pula ’oke’-nya.

Setiap hari aku mesti mondar-mandir menjalankan pekerjaanku. Berangkat pagi hari lalu pulang kembali ke apartementku menggiring senja. Ah, hidupku selalu saja begitu. Selalu di dalam irama yang tidak menentu. Kadang aku merasa sebegitu jemu. Terlebih, manakala rasa sepi menggerus lubuk hati.

’’Enoooook.......!’’ pekikku, ketika mendapati Enok di suatu sore yang indah setelah sekian lama ia menghilang sejak pertemuan kilat yang sangat indah itu. ’’Wah, Nok! Dari mana saja kamu, kok baru muncul?’’

’’Iya, Kak, aku baru saja ambil holiday!!’’ senyum manis membumbui kalimatnya.

’’Holiday ke mana Nok?’’

’’Ya, biasa Kak, ke Kota Buaya.’’

’’Apa kamu berasal dari Kota Buaya Nok?’’

’’Iya. Kalau Kakak dari mana?’’

’’Kota Apel.’’

’’Oooo....’’

’’Iya, Nok! Dingin...dingin empuk!’’

’’Ah, Kakak!’’

’’Ah!’’

’’AAAhhhh....!!’’

’’Oh...’’

’’Ehm....’’

’’Hahahahaha.......!!!’’

Bumi pun serasa bergetar saat tawa kami meledak bersama. Untung saja kepalaku tak meledak pula karena angan-angan yang menggelembung nyaris tak terkendali: mengangankan kedekatan yang sedemikian dekat dengan Enok! Tapi, apakah ini bukan pungguk merindukan bulan?
’’Kak...?’’
’’Oh, ya?’’
’’Kakak kapan pulang?’’
’’Gak tahu ya Nok. Kenapa emang?’’

’’Nggak kena apa-apa, hehe.....!’’ cengengesnya sambil membalikkan badannya. Seseorang telah menariknya keluar dari toko itu. Seseorang yang ingin kumaki.

Baru dua kali pertemuan kami. Waktunya pun singkat-singkat. Enok boleh pergi, ditarik orang lain atau atas kemauannya sendiri. Tetapi, ia kini serasa telah memenuhi seluruh diriku, seluruh jiwaku. Aku selalu mengangankannya ketika jaga, dan selalu memimpikannya jika tidur. Tidak ada lagi ruang di diriku ini bagi yang lain selain Enok. Tetapi, apa ya yang dirasakan Enok sendiri? Terlalu jauh jarak mesti ditempuh. Terlalu dalam jurang...! Bagaimana aku mesti mengabarkan keadaanku ini kepada Enok? Dengan meneriakkannya, atau membisikkannya? Atau menyerahkan semuanya kepada angin yang mendesau? O....!
Aku tak siap ditolak. Rasanya jauh lebih indah menikmati ini semua di dalam mimpi, daripada harus menghadapi kenyataan jika penolakan itu terjadi.

Kubiarkan kegersangan jiwa ini senantiasa melanda, karena aku sadar bahwa aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Kadang kularikan hati, sesekali kuhibur diri, dan ada pula saatnya mencoba menepis habis semua hasrat yang semakin kuat menjerat. Ah, mengapa bisa jadi begini! Mengapa?

Bila saja aku dapat gadaikan jiwa? Tapi, kepada siapa....? Pertanyaan-pertanyaan hampa terus mengulur, sampai tibilah di hari Minggu yang cerah itu. Kupercepat langkah kakiku, dengan tergesa kusongsong sosok bayang: Enok! Oh, ia sedang menungguku!

’’Kak....!’’

’’Met pagi manisku.....!’’ begitulah godaku, selalu. Dengan santai kami berdua akhirnya melangkahkan kaki memasuki ruang besar perpustakaan pusat, kebanggaan kota ini. Rasanya aku telah sampai di ujung mimpi, dan mendapati kenyataan yang ternyata begitu indah: kami duduk berdampingan di depan komputer. Dan mengalirlah huruf-huruf membentuk sebuah puisi buat Enok:

dirimu yang selalu penuhi lamunanku
membuatku suntuk dibekuk rindu
mengristal segenap kekagumanku
apakah cinta apakah kasih apakah sayang sedia
tak henti mengalir dan bermuara di kedalaman
samodra: hatiku-hatimu

Lalu kutekan ’send’ dan dalam hitungan detik sampailah puisi itu di layar komputer Enok. Seperti yang aku duga, sebuah cubitan diiring kata, ’’Dasar!’’ mendarat di lenganku. []

PROSES RUMIT PENULISAN NOVEL ‘XIE XIE’



Kalau bicara soal 'Proses Kepenulisan' jujur saja, saya sedikit minder, tapi bagaimanapun ini harus saya ungkapkan. Tiga tahun, sebagai penulis yang baru saja belajar menulis dan pekerjaan saya yang ‘rendah’ di mata awam, yaitu hanya sebagai seorang TKW di Hongkong yang tidak pernah mengenyam bangku kuliah, mewujudkan tulisan ini menjadi novel merupakan hal yang dulu menurut saya tidak mungkin.

Ketika saya mulai belajar menulis sejak 2006 dengan masuk di komunitas sastra FLP wilayah Hongkong dan banyak membaca novel-novel remaja karya penulis senior Leyla Imtichanah, akhirnya perlahan saya mencoba mengukir mimpi menjadi novelis. Awalnya sepele, saya nge-Fans dengan boyband Taiwan bernama Fahrenheit. Entahlah apa yang membuat saya begitu 'mencintai' salah satu personil Fahrenheit Aaron Yan yang akhirnya saya tempatkan sebagai salah satu tokoh utama dalam novel ini.

Ketika melihatnya bicara, tersenyum terasa greget saya semakin kuat untuk bisa dekat melalui halusinasi saya- kata teman-teman saya seperti orang gila. Lalu tercipta sebuah ide sederhana, kemudian saya mulai ‘riset’ tempat-tempat yang saya jadikan setting nyata dengan jalan-jalan, mulai belajar bahasa Kantonis lebih dalam, Mandarin, sedikit Jepang dan Korea untuk memberikan warna dalam novel ini.

Ternyata menulis bukan hal sederhana, saya harus membagi waktu. Sedangkan jam kerja saya bisa dibilang selalu overtime. Dari bangun pagi jam 05.00 sudah mulai mengurus anak-anak majikan dan seorang manula. Seluruh pekerjaan rumah tanpa kecuali harus selalu selesai sempurna sampai jam 12.00 malam bahkan kadang lebih. Saya baru bisa masuk kamar setelah semua anggota keluarga tidur, baru saya mandi dan istirahat. Artinya jam terbang menulis sekitar jam 1 sampai jam 2 atau lebih dini hari.

Awalnya saya sempat pesimis, ini tidak mungkin bisa saya lakukan. Tapi saya akali dengan waktu kerja (menjemput anak dadi sekolah, membawa nenek jalan-jalan, di kereta api, di dapur saat masak) saya membawa note kecil untuk menulis bagian-bagian ceritanya, ketika ide muncul, saya segera corat-coret. Malamnya baru saya tuangkan ke dalam laptop (itu saja terkadang sembunyi-sembunyi). Selama dua tahun berhasil menulis sekitar 125 halaman saja.

Lalu saya ikutkan novel saya diajang sayembara novel nasional yang diadakan Penerbit Pro-u Media Jogjakarta. Dari 120 lebih peserta, alhamdulillah bisa masuk 30 besar walau akhirnya kalah sama penulis senior. Tapi bagi saya itu sudah jauh lebih baik. Akhirnya saya mulai optimis. Novel dikembalikan oleh panitia dan beberapa revisi disana-sini saya lakukan. Halaman bertambah menjadi 165 halaman.

Sempat saya sebar ke teman-teman yang bersedia membaca ‘draft’ novel saya secara gratis untuk mendapatkan sedikit apresiasi lokal seantero teman dekat. Lalu vacuum, saya hentikan dulu karena banyak hal mengenai kesehatan saya sangat mengganggu.


MULAI LAGI
Setelah Desember 2009 saya sampai di Indonesia, saya mulai aktif lagi menulis, sekitar bulan Maret saya iseng mengirimkan naskah saya ke penerbit Diva Press yang saya tahu dekat dengan rumah saya di Jogjakarta dari membaca buku-buku terbitan Diva Press.

Tidak banyak berharap, karena Diva adalah salah satu penerbit Major yang besar di kalangan nasional, seperti ketiban durian rasanya hahaha... akhirnya bulan Juni 2010 pihak Diva mengabari bahwa novel saya diterima. Saya sujud syukur sambil menangis dan hujan-hujan di halaman rumah.

Akhirnya beberapa revisi saya lakukan, penambahan halaman dengan menambah konflik, setting saya pertajam juga penambahan tokoh atas permintaan penerbit. Dan menunggu selama 1,5 tahun lamanya, baru bulan Oktober 2011 ini novel perdana saya release.

Sungguh hal yang sulit saya percaya mengingat pendidikan saya yang hanya sebatas lulusan SMK dan tidak tahu sastra, tapi dengan perjuangan yang begitu berat dan tidak pernah menyerah alhamdulillah novel ini menjadi buku dan bisa dibaca semua orang. Jadi bagi siapapun saya tekankan, kita semua bisa menulis, asalkan ada niat, usaha dan doa yang tiada henti. Semangat!! [Mell Shaliha]

HONGKONG, NEGERI IMPIAN


Siapa menduga akhirnya seorang Buruh Migran Indonesia (BMI) yang notebene tidak pernah membaui sastra bisa mendulang mimpi besarnya di Negeri(nya) Jackie Chan. Menimba wawasan dan ilmu nyata tidak hanya melalui ’sumur’ perguruan tinggi. Keterbatasan yang sering dianggap sebagai boomerang dalam pencapaian cita-cita saat ini harus segera ditepis jauh-jauh. Bahwasannya semua mimpi bisa dicapai dengan usaha yang terus menerus dan ketebalan mental yang akhirnya akan membuahkan hasil yang nyata.

Novel Xie Xie Ni De Ai atau dalam judul Bahasa Indonesianya Hongkong, Terima Kasih Cintamu ini adalah salah satu bukti dari sekian pembuktian bahwa seorang buruh migran bukanlah orang-orang yang tertinggal.

Tagline, bahwa novel berjudul Xie Xie Ni De Ai karya Mells Shaliha ini, adalah novel yang menggambarkan perjuangan seorang BMI di Hongkong, dengan tetap mempertahankan prinsip keislaman dan moralitas ditengah gempuran lika-liku dan kultur yang heterogen. Sebuah tema sentral yang sangat inspiratif dan bermuatan dipilih penulis sebagai pegangan dalam novel perdananya ini. Dengan salah satu misi yang dikedepankan adalah tentang hijab. Baik hijab dalam menjaga aurat muslimah juga hijab dalam menjaga pergaulan dengan lawan jenis.

Tokoh Alenia Fatmawati yang dalam kisah ini menjadi pembantu di keluarga Chelsy Tsang mempunyai satu kunci yang harus benar-benar dipegang oleh seorang BMI yang bekerja di luar negeri, yaitu ‘prinsip keimanan’. Berbagai dampak negative pergaulan di luar negeri membawa arus buruk yang sebenarnya harus ditepis demi menjaga kehormatannya.

Problematika remaja dengan kultur yang berbeda seperti tokoh Aanon Yan yang seorang Taiwan, Ryu, Dahe dan Maki kewarganegaraan Jepang, tentunya juga berakibat fatal apabila Ale tidak mampu melawan dengan prinsip yang dipertahankannya. Nilai persahabatan antara anak majikannya bersama seluruh kawan-kawan Chelsy Tsang juga dapat dirasakan Ale sangat kuat. Mereka tidak begitu membedakan status Ale yang seorang pembantu, justru Ale mampu membuka mata mereka bahwa sebuah kepercayaan harus selalu ditanamkan dalam sebuah persahabatan. Perbedaan status, pekerjaan, sosialitas tidak selalu membuat hubungan persahabatan menjadi kaku.

Dalam novel ini penulis berusaha mengeksplorasi pengalaman yang dijumpai selama hidup di luar negeri beserta keanekaragaman masalah pergaulan seperti orientasi seksual seperti ‘gay’ sebagai salah satu keunikan pembelajaran dari efek negatif yang mungkin tidak bisa pembaca jumpai di lingkungan sekitar.

Pemilihan setting luar negeri yaitu Hongkong menjadi ‘sesuatu’ menarik yang bisa membawa pembaca turut ‘menjamah’ negeri China dengan beberapa gambaran tentang objek wisata serta iklim yang menjadi pengetahuan selain bunga rampai yang dapat diperoleh pembaca dalam novel ini. [MEL]

Judul : XIE XIE NI DE AI – Hongkong, Terima Kasih Cintamu
Pengarang : Mell Shaliha
Penerbit : Diva Press
Halaman : 340 Halaman
ISBN : 978-602-978-592-0
Harga : Rp 44.000,00 (di Indonesia)

Sayembara Penulisan Naskah Buku

Puskurbuk Balitbang Kemdikbud 2012

Dalam rangka menggali, mengembangkan, dan mendayagunakan potensi menulis di kalangan siswa, pendidik dan tenaga kependidikan, serta masyarakat umum, Pusat Kurikulum dan Perbukuan Balitbang Kemdikbud menyelenggarakan Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan. Kegiatan sayembara ini diperuntukkan bagi para peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, serta masyarakat umum. Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan tahun 2012 ini memperebutkan hadiah total lhttp://www.blogger.com/img/blank.gifebih dari Rp 1.000.000.000,00 untuk 57 pemenang dari 19 jenis naskah buku pengayaan.


Tema Penulisan
“Membangun manusia Indonesia yang berkarakter, berbudaya, dan kompetitif di era global”

Peserta Sayembara
Peserta sayembara adalah siswa SMA/MA/SMK/MAK, pendidik dan tenaga kependidikan, serta masyarakat umum. Pendidik meliputi guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Tenaga kependidikan meliputi pengelola satuan pendidikan, penilik, pengawas, peneliti, pengembang, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar.

Ketentuan-ketentuan naskah buku sayembara adalah sebagai berikut.

a. Ketentuan Umum
1. Jenis naskah buku pengayaan pengetahuan alam dan matematika, dapat berupa pengetahuan alam fisik, hayati, flora, fauna; pengetahuan matematika; pengetahuan teknologi dan rekayasa; pengetahuan kebaharian, kedirgantaraan, dan kebumian.

2. Jenis naskah buku pengayaan pengetahuan sosial dan humaniora, dapat berupa pengetahuan sejarah dan kemasyarakatan; pengetahuan keagamaan; pengetahuan perekonomian dan manajemen; pengetahuan budaya, bahasa, seni dan sastra.

3. Jenis naskah buku pengayaan keterampilan vokasional yang meliputi:
a) Keterampilan membuat kriya;
b) Penerapan teknologi rekayasa sederhana;
c) Penerapan teknologi pengolahan;
d) Penerapan teknologi budidaya.

4. Jenis naskah buku pengayaan kepribadian, dimaksudkan untuk mengembangkan karakter: (1) religius; (2) jujur; (3) toleransi; (4) disiplin; (5) kerja keras; (6) kreatif; (7) mandiri; (8) demokratis; (9) rasa ingin tahu; (10) semangat kebangsaan; (11) cinta tanah air; (12) menghargai prestasi; (13) bersahabat/komunikatif; (14) cinta damai; (15) gemar membaca; (16) peduli lingkungan; (17) peduli sosial; (18) tanggung jawab yang dituangkan dalam:

a) Kumpulan pantun
b) Kumpulan puisi
c) Kumpulan cerita pendek
d) Novel
e) Drama
f) Biografi

Naskah buku Biografi, tentang:
a. seseorang yang berjasa dalam suatu bidang yang berguna bagi masyarakat;
b. seorang tokoh di daerah yang mendapat penghargaan dari pemerintah;
c. seseorang yang memiliki karakter yang dapat dijadikan contoh bagi bangsa;
d. seseorang yang memiliki keunggulan dan kelebihan yang berguna bagi masyarakat.

5. Naskah buku ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Naskah diberi identitas: (a) judul naskah; (b) jenis naskah; dan (c) peruntukan pembaca buku (misalnya untuk SD/MI; SMP/MTs; SMA/MA/SMK/MAK), (d) kelompok peserta.

6. Naskah dijilid rapi berupa cetak asli (bukan fotokopi atau dummy).
7. Naskah yang diterima Panitia tidak dikembalikan.

b. Ketentuan Peserta
1. Peserta adalah perorangan.
2. Peserta yang mengirimkan naskah harus melampirkan biodata.
3. Peserta dari siswa SMA/MA/ SMK/MAK harus melampirkan surat pengantar dari sekolah dan fotokopi kartu pelajar.
4. Peserta dari pendidik dan tenaga kependidikan harus melampirkan surat pengantar dari lembaga tempat bekerja dan fotokopi SK pendidik atau tenaga kependidikan.
5. Peserta dari masyarakat umum harus melampirkan fotokopi KTP yang masih berlaku.
6. Peserta yang pernah menjadi pemenang sebanyak tiga kali atau lebih sejak tahun 2001 tidak diperbolehkan mengikuti sayembara ini.

c. Ketentuan Naskah
1. Naskah yang diajukan adalah: a. karya asli, b. tidak berseri, c. tidak sedang diikutsertakan pada sayembara lain, sebagian ataupun seluruhnya, d. belum pernah menjadi pemenang sebagian ataupun seluruhnya dalam sayembara mana pun, dan e. belum pernah diterbitkan sebagian ataupun seluruhnya.

2. Persyaratan di atas harus dituangkan dalam surat pernyataan yang ditandatangani di atas meterai Rp 6.000,00 oleh penulis naskah.

3. Naskah diketik dan dicetak pada kertas A4, spasi 1½, jenis huruf arial, times new roman, atau tahoma, ukuran huruf 12 pt, batas margin tepi kertas 3 cm.

4. Jumlah halaman isi naskah yang ditulis oleh siswa minimal 50 halaman dan yang ditulis oleh pendidik, tenaga kependidikan, dan umum minimal 75 halaman.

5. Penggunaan ilustrasi harus proporsional dan terintegrasi dengan teks, mendukung materi/isi teks serta mencantumkan sumber secara jelas.

6. Naskah buku pengayaan tidak dilengkapi dengan ungkapan tujuan mempelajari/membaca dan tidak dilengkapi latihan, soal, tes, lembar kerja, atau jenis evaluasi lainnya.

7. Naskah buku pengayaan tidak bertentangan dengan idiologi negara, ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku, tidak bias gender, serta tidak menimbulkan masalah SARA.

8. Naskah buku pengayaan pengetahuan dan keterampilan harus menggunakan daftar pustaka atas rujukan yang dikutip.

9. Naskah yang dinyatakan sebagai pemenang sayembara, jika ditemukan dan terbukti sebagian atau seluruhnya merupakan jiplakan/plagiasi, segala tanggung jawab hukum yang berkaitan dengan pelanggaran Hak Cipta berada pada penulis naskah. Pusat Kurikulum dan Perbukuan akan membatalkan kemenangannya dan hadiah yang diterima harus dikembalikan kepada negara.

10. Jika suatu naskah buku pengayaan dinyatakan memenangi sayembara, penulis berhak atas penghargaan sayembara tersebut, sedangkan hak cipta (baik hak ekonomi maupun hak moral atas naskah) tetap berada pada penulis sehingga penulis berhak menerbitkannya kepada penerbit yang dipilih.

11. Pemegang hak cipta (hak ekonomi) naskah pemenang sayembara adalah Pusat Kurikulum dan Perbukuan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan hak moral berada pada penulis.

12. Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu judul naskah sayembara.

13. Hasil keputusan Dewan Juri Sayembara tidak dapat diganggu gugat.

d. Hadiah Sayembara
Untuk menghargai kualitas naskah yang memenangi sayembara, Pusat Kurikulum dan Perbukuan Balitbang Kemdikbud menyediakan hadiah uang sebagai berikut:

Kelompok Pelajar:
Juara I = Rp. 15,000,000
Juara II = Rp. 10,000,000
Juara III = Rp 7,500,000

Kelompok Pendidik, Tenaga Kependidikan, dan Masyarakat Umum
Juara I = Rp 25,000,000
Juara II = Rp 20,000,000
Juara III= Rp 15,000,000

e. Pengiriman Naskah
Naskah diterima paling lambat tanggal 3 September 2012 dan dialamatkan kepada: Panitia Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2012 Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan alamat: Jl. Gunung Sahari Raya No. 4 Jakarta Pusat

f. Pengumuman Pemenang
1. Pengumuman dan pemberian hadiah kepada para pemenang akan dilaksanakan pada bulan November 2012.
2. Calon pemenang sayembara akan diundang ke Jakarta untuk mengikuti wawancara dengan Dewan Juri dan menghadiri pengumuman pemenang bagi calon yang dinyatakan sebagai pemenang. Jika calon pemenang tidak dapat mengikuti wawancara, maka yang bersangkutan dianggap mengundurkan diri.

Informasi lebih lanjut tentang sayembara dapat menghubungi Pusat Kurikulum dan Perbukuan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan website : http://puskurbuk.net/ , telp.: 021 3804248 , e-mail: sayembara_puskurbuk@yahoo.com facebook: sayembarapuskurbuk

Festival Sastra Migran Indonesia II


“Melintas Batas, Berjuang , Berkarya, dan Berprestasi”

Assalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh,

Mengawali tahun 2012 Forum Lingkar Pena Hongkong menggelar beberapa lomba dalam serangkaian acara Festival Sastra Migran Indonesia II dan juga Milad FLP HK ke 8.



1. Lomba Photografi
2. Lomba Menulis scenario drama
3. Lomba cipta puisi
4. Lomba kisah inspiratif


LOMBA PHOTOGRAFI

Syarat Karya:
1. Tema foto “Pelangi Migran Indonesia”, yang memotret berbagai sudut pandang interaksi kegiatan , aktivitas Migran Indonesia
2. Lokasi object foto berada di wilayah Hongkong dan Macau
3. Foto adalah karya milik sendiri dan belum pernah memenangkan lomba.
4. Peserta dapat mengirimkan foto berwarna atau hitam putih.
5. Foto merupakan karya tunggal, bukan merupakan foto serial.
6. Pemotretan dapat dilakukan dengan media film ataupun digital. Olah digital yang diperbolehkan sebatas menaikkan kontras, burning, dodging, sharpening, dan cropping. Penambahan elemen dalam foto tidak diperkenankan.
7. Foto dikirimkan dalam bentuk hard copy satu rangkap (1) dan soft copy by email _ fsmi2012.photografi@gmail.com dengan subjek Nama# No Pendaftaran.

Foto dicetak ukuran paling besar 10R Paling kecil 4R tanpa bingkai, tanpa alas, tanpa pencantuman unsur-unsur non-fotografis. Di belakang foto dicantumkan keterangan foto (caption) seperti Judul Foto, Lokasi dan Tahun Pemotretan, beserta keterangan Fotografer: Nama, Alamat, Nomor Telepon dan Email. Menyertakan tanda bukti/kupon pendaftaran.
8. Maksimal 3 foto per peserta/per kupon
9. Karya yang masuk menjadi hak panitia penyelenggara
10. Panitia berhak mendiskualifikasi peserta sebelum dan sesudah penjurian apabila dianggap melakukan kecurangan.
11. Keputusan Dewan Juri Sah dan tidak dapat diganggu gugat.
12. Dengan mengirimkan karya foto berarti peserta telah dianggap menyetujui semua
ketentuan teknis dan persyaratan yang telah ditetapkan oleh Panitia.

Syarat Peserta:
1. Terbuka untuk Umum, seluruh Migrant Indonesia yang berdomisili di Hongkong dan Macau (kecuali anggota FLP HK).
2. Peserta wajib menggunakan nama asli sesuai dengan identitas resmi (KTP/ /Paspor).
3. Wajib mencantumkan nomor telepon yang mudah dihubungi.
4. Membayar biaya pendaftaran sebesar 30 HKD
5. Hadiah pemenang :
Juara 1 Uang tunai 500 HKD + Sertifikat
Juara 2 Uang tunai 300 HKD + Sertifikat
Juara 3 Uang tunai 200 HKD + Sertifikat
6. 1 Kupon berlaku untuk 1 (satu) peserta dengan 3 karya , bila hendak mengirimkan lebih harus menyertakan kupon berikutnya. Dicantumkan nama peserta dan jumlah karya yang dikirim.
7. Pengumpulan Karya Paling lambat 10 Februari 2012
8. Pengumuman Pemenang: Pengumuman Pemenang dan Karya-karya terbaik pilihan dewan juri akan di pamerkan dalam acara gebyar sastra saat puncak acara Sastra Migran Indonesia II 18 maret 2012

Mengajak dan Mengundang:

Seluruh Migrant Indonesia di manapun berada (di luar Hkg dan Macau) untuk turut beperan serta mengapresiasikan karya fotonya . Setiap karya akan turut di pamerkan dalam acara Gebyar Sastra sebagai puncak acara Festival Sastra Migran Indonesia II dan mendapat sertifikat. Foto bisa dikirimkan ke email , fsmi2012.photografi@gmail.com dengan subjec : Parsitipan FSMI II serta melampirkan biodata singkat dan alamat pengiriman serfitikat.


LOMBA MENULIS SKENARIO DRAMA

Kompetisi ini merupakan sebuah kompetisi menulis skenario yang dapat diikuti oleh umum seluruh Migran Indonesia yang berdomisili di Hongkong dan Macau. Anggota FLP HK diperbolehkan ikut kecuali yang menjadi panitia.

Persyaratan naskah skenario diantaranya adalah asli buatan sendiri adanya kesesuaian antara isi naskah dengan tema, tidak mengandung pornografi, mengandung nilai-nilai dan pesan-pesan positif , serta tidak menyinggung SARA. Naskah ini dibuat untuk durasi 10-15 menit.

KRITERIA KHUSUS
1. Tema atau ide cerita di ambil dari salah stu cerita yang terdapat di buku Kumcer Penjajah di Rumahku, FLP HK Publishing 2010. Buku bisa di dapatkan di sekretariat panitia.
2. Naskah asli buatan sendiri.
3. Biaya pendaftaran 50 HKD
4. Peserta merupakan individu atau tim maksimal 2 orang.
5. Naskah dibuat untuk drama dengan durasi 10-15 menit.
6. Penulisan menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang benar (boleh menggunakanbahasa tidak baku asalkan penulisan sesuai dengan kaidah yang benar)
7. Naskah dikirimkan ke email : fsmi2012.skenario@gmail.com dengan subjek #nama#judul asli cerpen#no pendaftaran.
8. Batas akhir pengumpulan karya adalah 5 Februari 2012
9. Hadiah pemenang :
Juara 1 : Uang tunai 700 HKD+ Sertifikat
Juara 2 : Uang tunai 500 HKD +Sertifikat
Juara 3 : Uang tunai 300 HKD +Sertifikat

Juara 1 dan 2 akan di tampilkan dalam acara Gebyar Sastra sebagai puncak acara Festival Sastra Migrant (18 Maret 2012), dan akan di bedah bersama dalam workshop Skenario bersama sutradara Aditya Gumay dan Adenin Adlan (11 Maret 2012).

LOMBA CIPTA PUISI

TEMA LOMBA: “Pelangi Migran Indonesia”

SYARAT PENULISAN:
1. Peserta terbuka untuk umum seluruh Migran Indonesia yang berdomisili di Hongkong dan Macau (kecuali anggota FLP Hongkong)
2. Jumlah halaman maksimal 2 lembar, spasi 1,5, jenis huruf Times New Roman font 12, ukuran kertas A4.
3. Setiap peserta hanya boleh mengirimkan 1 judul puisi/pendaftaran.
4. Biaya pendaftaran 20 HKD
5. Mencantumkan nama penulis dan biodata narasi singkat pada bagian akhir naskah puisi.
6. Kirim karya ke alamat email: fsmi2012.puisi@gmail.com
7. Judul/Subjek email tulis: nama#Judul Puisi#no pendaftaran.
8. Hadiah pemenang :
Juara 1 : Uang tunai 500 HKD + sertifikat
Juara 2 : Uang tunai 300 HKD + sertifikat
Juara 3 : Uang tunai 200 HKD + sertifikat


KRITERIA PENILAIAN
1. Orisinalitas tema.
2. Kreativitas pemilihan kata/diksi.
3. Keindahan dan kedalaman pesan.
4. Kelengkapan naskah puisi. Jika tidak memenuhi syarat peserta di atas maka naskahnya gugur.
Ketentuan mengikat :
1. Keputusan juri tidak bisa di ganggu gugat
2. Dewan juri berhak membatalkan keputusannya , jika di kemudian hari diketahui karya pemnang lomba adalah karya cipta orang lain (plagiat)
3. Hak cipta tetap ada pada penulis, sedang panitia memiliki hak untuk mempublikasikannya.

LOMBA KISAH INSPIRATIF

Tema: Sepenggal Kisah Pelangi Migran Indonesia

Syarat:
1. Peserta untuk umum , seluruh Migrant Indonesia yang berdomisili di Hongkong dan Macau (kecuali anggota FLP HK)
2. Tulisan merupakan hasil kisah nyata , kisah sendiri atau orang lain yang menginspirasi
3. Penulisan diketik menggunakan font TNR, spasi 1,5, minimal 3-4 halaman A4
dengan margins 3 3 3 3, file RTF
4. Naskah dikirim ke fsmi2012.krispi@gmail.com dengan subjek Nama#judul# No pendaftaran dalam bentuk attchament, bukan di badan email
5. Sertakan pula biodata singkat
6. Membayar biaya pendaftaran sebesar 30 HKD
7. Menyertakan surat keaslian naskah, yang menyatakan kisah tersebut adalah kisah nyata.
8. Paling lambat pengumpulan berkas tanggal 5 Februari 2012

Hadiah pemenang :
Juara I 500 HKD +sertifikat
juara 2 300 HKD +sertifikat
juara 3 200 HKD + sertifikat

Sekretariat panitia dan Penerimaan Karya:

1. Sekretariat FLP HK _balakang kolam renang victory
2. Perpustakaan Noormuslima (jiso depan victory)
3. Perpustakaan Al Hikmah, depan Lybrary (an. Lintang)
4. Perpustakaan Insani, Belakang patung victory (an. Bayu)
5. Via Pos , Up: Panitia Lomba Foto Sastra Migran Indonesia II (No 9 Yan Sau Wai, San Tin Yuen Long)
alamat Email pengiriman naskah:
fsmi2012.photografi@gmail.com
fsmi2012.skenario@gmail.com
fsmi2012.puisi@gmail.com
fsmi2012.krispi@gmail.com

No telp informasi :
Hotline 6677 4172
Rita 6098 0552
Dian 6938 6147
Esa 6358 1247
Susi 9447 0419

Pendaftaran di buka mulai 18 Desember 2012 , Selamat Berlomba dan berkreasi. Kayauu!!

Wassalamulaikum warahmatulahi wabarakatuh
Panitia FSMI II 2012
FLP Hongkong

BIG APPLE


Cerpen: HSA

Hari ini hari Minggu pekan ketiga bulan Maret 2005. Dan seperti Minggu-minggu sebelumnya, aku berjalan lenggang kangkung seperti sekretaris yang bangun kesiangan dan ditunggu bos yang akan meeting. Waduh, aku terlambat nih, pasti teman-teman sekampung sudah stand by di Victoria Park. Biasalah kalau Minggu begini, pasti aku ngumpul sama teman-teman sekadar ngobrol melepas rindu setelah disibukkan oleh pekerjaan selama satu minggu.


Kupercepat langkahku, karena aku sudah tak sabar untuk bertemu dengan mereka.

’’Shella...!’’ panggil seseorang dari belakang. Aku pun membalikkan badan, karena aku merasa dipanggil dan memang namaku Shella. Dan kami pun saling bertatap mata. ’’E...e.., Mbak Tari!’’ ucapku seraya melongo saja, seperti tak percaya.

Sudah hampir tiga tahun aku tak bertemu dengan Mbak Tari. Dulu selama di penampungan, waktu mau berangkat ke Hong Kong, kami teman senasib. Apa pun selalu dibagi berdua --kecuali pacar, hehe! Mbak Tari bahkan menganggapku seperti adiknya sendiri. Usia kami hanya terpaut empat tahun, tapi Mbak Tari sudah punya 2 anak, sedangkan aku masih single, karena aku baru lulus SLTA dan langsung daftar ke PJTKI.

Kami saling berpelukan. Yah, seperti tak percaya saja. Tuhan ternyata mempertemukan kembali aku dan Mbak Tari di Hong Kong. Ini pertemuan mengejutkan dan sangat membahagiakan. Kami lalu ngobrol seperti tiada habisnya, menceritakan pengalaman masing-masing.

Namun, selanjutnya aku lebih banyak menjadi pendengar setia dan hanya sesekali menimpalinya bila perlu. Dengan semangat membara, Mbak Tari menceritakan kehidupannya selama di Hong Kong.
Kalau kuperhatikan dandanannya, Mbak Tari pasti hidup mewah. Pakaian yang dikenakannya bermerk, mahal. Pakaian yang tak mungkin dapat kubeli. Soal pakaian, Mbak Tari malah sempat mengejekku. Sudah lama di Hong Kong, tapi cara berpakaianku, kata Mbak Tari, masih saja kuno. Dibilang begitu aku hanya tersenyum kecil. Yah, tujuanku ke Hong Kong memang cari uang untuk ditabung, bukan untuk berfoya-foya, batinku.

’’Shella...!’’ ucap Mbak Tari.

’’E.....e..anu nggak kok Mbak!’’ jawabku.

Aku berkata setengah tergagap. Aku memang sedang melamun tentang keadaan Mbak Tari. Mbak Tari sudah menjalani kehidupan yang glamour walau di Hong Kong ini hanya seorang pembantu rumah tangga. Bagaimana dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil di rumah? Batinku bertanya.

’’Kita jalan-jalan yuk!’’ ajak Mbak Tari.

’’Ok! Eit...!’’ jawabku. ’’Sebentar, ya, Mbak, tak telepon teman-temanku dulu, bilang kalau nanti sore saja aku menemui mereka.’’

’’Ok, silakan!’’
Di telepon, temanku ngedumel, tapi mereka mengizinkan aku pergi bersama Mbak Tari. Dengan catatan, nanti sore aku harus menemui mereka. Yah, hari ini aku jadi seperti orang penting saja, batinku.

’’Beres, Mbak,’’ kataku kepada Mbak Tari, usai menelepon teman-teman, ’’kita ke mana?’’

’’Kamu nurut saja sama aku,’’ kata Mbak Tari.

Aku pun mengikuti Mbak Tari. Sambil berjalan, sesekali kami tertawa bla....bla... kalau ingat waktu-waktu di PT dulu, mandi dengan seember air, kalau tidur dikeroyok nyamuk, apalagi bau WC-nya yang begitu khas: pesing!

Tanpa terasa, kami sampai di Daerah Wan Chai. Aku belum pernah ke tempat ini. Tapi, lain aku lain pula Mbak Tari. Sepertinya dia sudah paham betul daerah ini. Jam yang melingkar di tanganku menunjukkan pukul 2 siang.

’’Ayolah...!’’ ajak Mbak Tari sambil menggandeng tangnku.

Aku terkejut setengah mateng! Mbak Tari menarik tanganku menuju sebuah tempat yang di depannya ada tulisan besar Big Apple dan terdapat sebuah gambar buah apel yang besar sekali. Aku bingung karena tempat itu sangat gelap dan dari dalamnya terdengar hentakan-hentakan musik. Suara itu memekakkan gendang telingaku.

’’Tidak, Mbak!’’ rontaku. ’’Kita pulang saja!’’

Tapi cengkeraman tangan itu begitu kuat. Mbak Tari menarikku masuk ke tempat itu.

Sampai di dalam, aku terkejut bukan kepalang. Di situ banyak gadis belia dan kalau ditilik dari tampangnya, pasti mereka gadis-gadis Indonesia. Mereka berjogetria sambil minum bir. Ada yang berpasang-pasangan dengan bule, tomboi, dan banyak lagi. Sampai usia yang hampir 21 tahun ini, semua itu merupakan pemandangan yang asing bagiku karena mungkin aku kuper alias kurang pergaulan.

Aku berdiri mematung di pojokan dinding tembok. Dan… Mbak Tari ternyata sudah berpelukan mesra dengan seorang bule. Keduanya berpelukan sambil berjoget. Mataku jadi pedih karena kerlap-kerlip lampu yang sangat menyilaukan. Aku bingung tak tahu apa yang mesti kuperbuat. Mbak Tari menghampiriku bersama bulenya.

’’Shella... nih minum!’’ Mbak Tari menyodorkan sebotol bir.

’’Tidak, Mbak, terimakasih!’’ jawabku tegas. Daripada minum bir, lebih baik aku mati kehausan!

Hatiku benar-benar dibuat jengkel oleh Mbak Tari. Dia tak merasa berdosa mengajakku ke tempat menjijikkan ini. Perutku jadi mual melihat tingkah manusia-manusia ini. Diskotik yang biasanya hanya kulihat sekilas lewat sinetron di TV atau baca novel, tanpa sadar kini aku tengah berada di dalamnya. Ini sungguhan, aku tidak sedang bermimpi!

Pikiran dipenuhi banyak tanda tanya yang aku sendiri tak dapat menjawabnya ketika kudengar suara, ’’Buuug!’’ suara itu keras sekali. Seperti pohon pisang yang limbung ke tanah. Mataku jelalatan mencari sumber suara itu.

’’Astaga!’’ ucapku.

Tenyata suara itu berasal dari tubuh Mbak Tari. Mbak Tari limbung ke lantai. Tapi tak seorang pun dari mereka memedulikan Mbak Tari. Bule yang tadi bersamanya juga tidak. Bule itu sudah memeluk perempuan lain.

Dengan cepat kuangkat tubuh Mbak Tari dan kubawa ke pojok sofa. Aku bingung, tak mengerti apa yang harus kulakukan.

Di tengah kepanikan, ternyata masih ada seoarang gadis Indonesia yang berbaik hati. Dia bilang Mbak Tari mabuk. Tanpa ba-bi-bu lagi, dia berusaha menyadarkan Mbak Tari. Sepertinya dia sudah berpengalaman sekali mengurusi orang mabuk. Buktinya, tak berapa lama Mbak Tari sudah kembali sadar dan aku hanya bisa melongo.

Setelah Mbak Tari sadar dari mabuknya, kuajak dia ke kamar mandi, kusuruh dia membasuh mukanya, terus aku ajak keluar dari tempat laknat itu. Berjalan beberapa saat, ada pohon yang rindang di pinggir jalan. Kuajak Mbak Tari istirahat sebentar di bawahnya. Di sana, beberapa lama kami diam membisu.

’’Shella, maafkan aku yang tak tahu diri ini,’’ ucap Mbak Tari lirih, membuka percakapan.

’’Tak apa, Mbak!’’ ucapku.

Dan kupeluk dia, aku ingin memberikan kedamaian hati dan menghiburnya. Dan tanpa kuminta, Mbak Tari menceritakan dari awal sampai akhir, kenapa dirinya sampai mengenal diskotik.

Mbak Tari bilang uang yang dikirimkan ke Indonesia selama bekerja di Hong Kong sekitar tiga tahun telah dihabiskan suaminya. Tidak hanya itu, suaminya juga tak mau mengurusi dua anaknya. Pekerjaannya tiap hari cuma minum minuman keras. Dan kabar burung terakhir yang diterima Mbak Tari, di desa suaminya bermain dengan perempuan. Mbak Tari sakit hati.

Karena itu Mbak Tari mengenal diskotik, jatuh dari pelukan lelaki satu ke pelukan lelaki lain. Dengan cara begitu Mbak Tari membalas perbuatan suaminya.

Tiap Minggu Mbak Tari datang ke Big Apple. Mbak Tari pun terbius oleh segala kenikmatan dunia fana yang hanya sementara. Big Apple menjadi tempat pelariannya bila hatinya kacau.

’’Dengan minum bir, semua permasalahan dapat dilupakan,’’ kata Mbak Tari dengan berlinangan airmata.

’’Sudahlah, Mbak, yang lalu biarlah berlalu!’’ ucapku. ’’Menurutku, Mbak sebaiknya pulang cuti dulu dan melihat permasalahan yang sesungguhnya. Mbak kan hanya dengar dari mulut orang lain tentang suami Mbak di Indonesia. Mungkin ada orang lain iri melihat keadaan Mbak sekarang.’’

Mbak Tari mengisak.

’’Big Apple bukan tempat yang benar untuk pelarian, Mbak. Malah dengan masuk ke situ masalah akan bertambah. Lupakanlah Big Apple, Mbak, karena di sana Mbak Tari hanya mendapat kebahagiaan semu. Ingatlah selalu pada Yang Kuasa, Mbak. Cepatlah bertobat selagi masih ada kesempatan, Mbak.’’

Mbak Tari mengangguk, kemudian ia menyandarkan kepalanya di pundakku. Mbak Tari benar-benar kelihatan lelah. Mbak Tari akhirnya tertidur dan kubiarkan dia terlelap dalam mimpinya yang mungkin indah.

Dalam diam aku merenung. Seandainya manusia tidak mengenal tempat seperti Big Apple, mungkin akan lebih baik. Tapi, bukankah orang harus belajar dari pengalaman?

Pikiranku terus berkecamuk dengan Big Apple. Ya, Allah. Maafkan dosa-dosa hamba-Mu ini. Semoga aku tak sampai menginjak tempat itu lagi, tempat manusia suka mengumbar hawa nafsunya demi kebahagiaan sesaat.

Aku sedang termenung berdoa, ketika suara HP-ku mengejutkanku. Mbak Tari pun terbangun. Ternyata teman-temanku dengan setia telah menunggu di Victoria Park. Ah, masih ada sisa waktu sedikit, pikirku.

Aku segera mengantarkan Mbak Tari naik bus. Setelah itu aku menemui teman-teman. Aku mereka damprat. Aku memakluminya karena aku memang salah, tak menepati janjiku. Aku tak menceritakan kepada siapa pun tentang kejadian yang menimpaku di Big Apple tadi.

Sepertinya hanya mimpi. Biarlah kenangan tentang Big Apple itu menjadi hanya milikku sendiri.


Hong Kong, 7 Juli 2005
--hsa sudah pulang dan menetap di tanah air indonesia

SURAT UNTUK KANG NARTO


--illustrasi: RIHAD HUMALA

Cerpen: Hartanti Darsono


Wanita, apakah memang dikodratkan sebagai kaum lemah ya? Penindasan hak asasi di mana-mana, menjadi korban kekerasan dalam rumah sudah biasa, menjadi korban poligami juga bukan hal yang mengejutkan lagi.

’’Lebih baik kamu yang bekerja ke Hong Kong, lagian gaji ke sana kan besar,’’ kang Narto membujuk istrinya yang enggan bekerja ke luar negri untuk jadi pembantu rumah tangga. Bukanya apa-apa pula, Narti memang tak ingin meninggalkan anak semata wayangnya yang masih berusia 2 tahun itu. Usia anak yang seharusnya dia jaga dengan segala kasih sayangnya. Sejak percakapan malam itu Narti mendiamkan suaminya, walaupun dia merasa bersalah juga berbuat seperti itu.

’’Kang, kamu ini ya aneh, masak istri sendiri disuruh kerja jadi pembantu rumah tangga. Apalagi di negri orang, sama saja kamu memisahkan dia dari anakmu ta?’’ Kang Parman yang adik kandung Kang Narto datang berkunjung sore itu ke rumah Narti.

’’Iya juga, tapi kan kamu tahu, saat ini hanya perempuan saja yang bisa lebih cepat mendapatkan pekerjaan daripada laki-lakinya?’’ Kang Narto masih tetap pada pendirianya.

’’Tapi Kang, kan memang kewajiban kita untuk menghidupi anak-istri, kenapa kita harus menyuruh istri kita bekerja berat?’’ Kang Parman yang berprofesi sebagai penjual bakso itu mengingatkan kakak kandungnya.

Waktu berlalu sejak percakapn kakak beradik di beranda rumah Narti, dan ternyata mungkin semua perkataan adiknya bisa membuka mata hatinya. Nyatanya malam itu ketika rembulan telah muncul bulat-bulat di langit, Kang Narto mendekati istrinya yang masih dengan sikap dinginya di tepian ranjang.

’’Dik, maafkan kakang ya, kalau pernah menyuruhmu pergi keluar negri, sebaiknya kita membuka usaha kecil-kecilan saja di kampung, tidak usah memikirkan yang aneh-aneh. Rezeki juga tidak akan ke mana kan? Kang Narto menatap wajah ayu istrinya dengan senyum. Narti pun membalas senyum suaminya, namun hanya Narti sendiri yang tahu tentang arti senyum itu.

’’Iya Kang, aku tahu kok,’’ akhirnya Kakang akan bicara seperti ini, maafkan Narti juga ya? Narti menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Malam beranjak menuju pagi, dan entah apa yang membuat mata Kang Narto terlelap dalam tidur yang begitu pulas, setelah salat subuh dia kembali tertidur, dan tanpa dia sadari diam-diam Narti menulis sepucuk surat untuk suaminya.

Kagem suamiku Kang Narto
Kang, saya minta maaf jika harus mneinggalkan kakang dan anak kita. Mohon dijaga baik-baik buah hati kita, saya pergi, tidak perlu dicari, yakinlah suatu hari saya akan kembali untuk Kakang dan anak kita, Salam.


Hong Kong, Maret 2007
--Hartanti Darsono, kini sudah pulang dan menetap di Ponorogo

Pentingnya Pendidikan bagi BMI


Oleh Jaladara

Mawar dan Melati adalah dua ga¬dis desa yang sama-sama be¬ker¬ja di luar negeri. Kedua¬nya sa¬ma-sama tamatan SMP. Kemis¬kin¬an dan ketiadaan pekerjaan di negeri sendiri membuat mereka ne¬kad merantau ke tanah se¬be¬rang untuk bekerja, meskipun ha¬nya sebagai pembantu rumah tang-ga. Bekerja sebagai pem¬ban¬tu di luar negeri dirasa lebih ter¬hormat daripada menganggur dan menjadi beban keluarga. Sing¬kat cerita, setelah berta¬hun-tahun bekerja di luar negeri, ke¬duanya berhasil mengumpulkan banyak uang.


Secara rutin Mawar mengi¬rim¬kan uang hasil jerih payahnya pa¬da keluarganya dan seba¬gian di¬tabung untuk masa depannya sen¬diri. Setiap hari ia bekerja mem¬banting tulang mengumpul¬kan uang demi keluarga dan ma¬sa depannya. Ia bangga. Mes¬ki¬pun hanya lulusan SMP, ia bisa be¬kerja dengan menda¬patkan ga¬ji yang relatif lebih besar da¬ri¬pada gaji jika ia bekerja di dalam ne¬geri. Sedangkan Melati, di sam¬ping secara rutin ia mengi¬rimkan sebagian gajinya kepada ke¬luarganya, seba¬gian lagi ia gu¬nakan untuk melanjutkan pen¬didikannya lewat kursus dan pen¬didikan for¬mal (kejar paket C untuk mendapatkan ijazah setara SMA) yang ia lanjutkan dengan me¬ngikuti pendidikan diploma di sela waktu libur kerjanya. Ia tidak puas hanya memiliki ijazah SMP. Kesempatan bekerja di luar ne¬ge¬ri seka¬ligus ia gunakan untuk me¬nuntut ilmu lebih tinggi. Ia ti¬dak ingin selamanya menjadi pem¬bantu rumah tangga. Ia me¬na¬bung sebagian gajinya dalam bentuk tabungan ilmu.

Mari kita bayangkan bagai¬ma¬na masa depan Mawar dan Me¬la¬ti setelah sepuluh tahun be-kerja di luar negeri dan pulang ke kampung halamannya. Ke¬dua¬nya akan pulang dengan ke¬ber-hasilan mengumpulkan uang un¬tuk keluarga dan masa depan me¬reka, serta pengalaman hidup be-kerja di luar negeri. Namun, ada satu nilai lebih dimiliki Me¬la¬ti. Selain menabung dalam ben¬tuk uang, ia juga menabung da¬lam bentuk ilmu yang kelak akan sangat bermanfaat bagi ke¬hi-dupannya setelah tidak lagi be¬kerja sebagai pembantu di luar ne¬geri. Dengan pendidikan yang ia tekuni selama di perantauan, ia memiliki bekal yang cukup un¬tuk mendapat¬kan pekerjaan yang lebih baik daripada pe¬ker¬jaan sebelumnya. Kesempatan un¬tuk dapat bersaing dalam men¬dapatkan pekerjaan yang le¬bih baik, lebih besar daripada ke¬sem¬patan yang dimiliki oleh Mawar.

Kemiskinan dan ketiadaan la¬pangan pekerjaan di dalam ne¬ge¬ri sering menjadi pemicu utama se¬seorang memutuskan untuk be¬kerja di luar negeri. Selain itu, ke¬terbatasan serta rendahnya ting-kat pendidikan yang me¬nye¬babkan seseorang tidak mampu ber¬saing untuk mendapatkan pe-kerjaan yang ada, menjadikan se¬seorang lebih memilih untuk be¬kerja di luar negeri sebagai bu¬ruh migran dengan segala ri¬si¬ko¬nya. Ditambah lagi, adanya iming-iming baik dari seseorang yang pernah bekerja di luar ne¬ge¬ri dan pulang dengan se¬gu¬dang keberhasilan, maupun dari pi¬hak sponsor. Itu semakin mem¬be¬rikan semangat untuk me¬ning¬galkan kampung halaman de¬mi perbaikan ekonomi.

Buruh migran, terutama yang be¬¬kerja sebagai pembantu rumah tangga, sering diidentikkan de¬ngan pekerja tak berpendidi¬kan. Hal ini wajar, karena untuk be¬ker¬ja sebagai pembantu di luar ne¬geri tidak disyaratkan latar be¬la¬kang pendidikan formal yang ting¬gi. Syarat keahlian pun se¬olah dinomorduakan demi me¬menuhi tuntutan permintaan bu¬ruh migran yang sangat tinggi, ter¬utama di kawasan Asia Teng¬gara dan negara-negara Timur Te¬ngah.

Seperti data yang diperoleh da¬ri Kon¬sulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong, jum¬lah buruh migran per Agustus 2009 di negara tersebut men¬ca¬pai 131.181 orang. Secara umum, un¬dang-undang kete¬na¬ga¬ker¬ja¬an di Hong Kong lebih ber¬sa¬ha¬bat kepada BMI daripada ne¬ga¬ra-negara lain, meskipun tidak bi¬sa dipungkiri bahwa pe¬lang¬gar¬an, peng¬aniayaan, dan kasus-ka¬sus ketidakadi¬lan lain masih ke¬rap terjadi. Kebijakan pe¬me¬rin¬tah Hong Kong yang mem¬be¬ri¬kan hak libur di akhir pekan serta tang¬gal-tanggal merah kepada se¬mua BMI, selayaknya di¬gu¬na¬kan dengan sebaik-baiknya. Wak¬tu luang ini akan lebih ber¬man¬faat jika digunakan oleh para bu¬ruh migran untuk menambah il¬mu dengan mengikuti kursus-kur¬sus atau pendidikan di lem¬ba¬ga-lembaga pendidikan yang ba¬nyak terdapat di Hongkong.

Memang, seperti kata Evelyn Un¬derhill, sesuatu yang belum di¬kerjakan, seringkali tampak mus¬tahil; kita baru yakin kalau ki¬ta telah berhasil melakukannya de¬ngan baik.

Di samping itu, tidak mudah un¬tuk meluang¬kan waktu dan juga uang untuk melakukan usaha ter¬sebut. Namun, jika kita memiliki ke¬inginan yang kuat untuk me¬nim¬ba ilmu seba¬gai bekal masa de¬pan yang lebih baik, niscaya ki¬ta akan bisa. Kita harus pandai-pan¬dai me¬ngatur anggaran peng¬ha¬silan dan pendapa¬tan dan men¬coba menyisihkannya untuk mem¬biayai pendidikan yang akan ki¬ta ambil. Anggaplah kita tengah me¬nabung sebagian penghasilan ki¬ta dalam bentuk pendidikan, yang suatu saat bisa kita nikmati hasilnya.

Bung Karno pernah berkata bahwa apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan (perubahan), maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun.

Maka kita tidak perlu merasa malu atau takut untuk menempuh pendidikan hanya karena bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Justru latar belakang ini harus kita jadikan sebagai pemicu untuk terus belajar dan belajar untuk meningkatkan kualitas diri agar lebih baik lagi. Karena dengan mengupayakan pendidikan, di samping membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan lebih, juga akan mening¬katkan harkat dan martabat kita sebagai manusia yang berpendidikan.

Pengetahuan ini juga akan menye¬lamatkan kita dari perilaku dan tindakan ketidakadilan yang terjadi di kalangan buruh migran. Dengan semakin menge¬tahui hak dan kewajiban sebagai buruh migran seperti yang telah diatur oleh undang-undang pemerintah, jika suatu ketika terjadi ketidakadilan atau pelang¬garan atas hak-hak buruh migrant, kita memiliki pengetahuan dan mengerti bagaimana caranya menuntut hak yang semestinya kita terima dengan jalur dan prosedur yang benar.

Sudah seharusnya buruh migran mulai memotivasi diri untuk meningkatkan jenjang pendidikan lebih tinggi daripada pendidikan yang dibawa ketika mulai menginjakkan kaki di luar negeri. Dengan demikian, akan semakin terbuka pula kesempatan untuk memperluas pilihan hidup saat kembali ke tanah air, sehingga akan dengan mudah menentukan karier, pilihan jenis pekerjaan, ataupun kese¬jah¬teraan untuk masa depan. Seperti yang dikatakan oleh William Feather bahwa cara un¬tuk menjadi di depan adalah memulai seka¬rang. Jika memulai sekarang, tahun depan kita akan tahu banyak hal yang sekarang tidak diketahui, dan kita tak akan mengetahui masa depan jika kita me¬nunggu-nunggu.

Meski agak terlambat, saya mengucap¬kan selamat tahun baru Muharam 1431 Hi¬jriyah, selamat Natal dan tahun 2010. Se¬moga di tahun-tahun yang akan datang kita lebih semangat memperbaiki diri dan memanfaatkan kesempatan yang ada demi masa depan yang lebih baik. Maka teguh¬kan niat dan bulatkan tekad serta mulailah da¬ri sekarang. Cayou taeka! (*)

Berita Indonesia, Edisi 102, Februari 2010

Ospek Universitas Terbuka Hong Kong


Dari jauh tampak sekumpulan orang sedang berbaris dan bernyanyi riang gembira di tepi pantai. Mereka memakai jaket Alfamater berwarna kuning dan memakai topi yang terbuat dari koran bekas ,unik dan lucu-lucu. Mereka adalah calon mahasiswa Universitas Terbuka di Hong Kong (UT-HK) yang sedang mengikuti orientasi study dan pengenalan kampus (Ospek) di Victoria Park. Minggu 18 Desember 2011.

Menurut salah satu panitia penyelenggara , Emy dan Yani mengatakan Ospek ini bertemakan “Sukses Bersama GITC” . Acara ini bertujuan mempersatukan mahasiswa Universitas Terbuka untuk mencapai kesuksesan di bawah naungan Global Indonesia training Center (GITC). Acara dialog di mulai pukul 1 siang hingga 4 sore dan acara yang di pandu langsung oleh senior mahasiswa UT ini juga di meriahkan dengan beragam acara, seperti perkenalan dan permainan, katanya

Yang sangat menarik dari acara perkenalan calon mahasiswa UT tersebut yaitu ketika salah satu calon mahasiswa UT jurusan Komunikasi, Sri Lestari maju dan berkata bahwa ; Ia kuliah dan menekuni bidang komunikasi ini tujuannya untuk mengapai cita-citanya. Ia ingin menjadi pegawai sosial yang perduli lingkungan dan peduli masyarakat miskin yang ada di pelosok tanah air,katanya

Sri ingin menjadi humas atau trainer yang dapat memberikan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan kepada masyarakat luas. Bagi kaum yang tidak mampu semoga mereka dapat terdorong untuk semakin maju ,tidak malas dan teruslah berusaha untuk meraih kesuksesan sehingga generasi muda penerus bangsa http://www.blogger.com/img/blank.gifhttp://www.blogger.com/img/blank.gifkita menjadi orang-orang yang maju dan berkembang dari segi kemampuan dan pemikirannya, paparnya

Dengan di bentuknya kelompok belajar,diharapkan kita semua semakin kompak dalam kebersamaan dan semoga nantinya kita bukan hanya memiliki titel saja tapi kita juga harus mempunyai kredibilitas, imbuh salah seorang panitia.*

Naskah dan Foto dari Blog Tati Tia Surati

KECEWA yang berbuah MANIS


Yany Wijaya Kusuma

Tadi pagi, begitu melek byar, aku melihat duit di samping kiriku di atas komputer. Rupanya nyonya, diam-diam meletakkan duit gajianku di atas komputer. Tidak hanya duit gajian tapi juga lengkap dengan kalender 2012. Begitu melihat warnanya, wowww.....
Kesukaanku, ijooooooo.....!


Wis, mataku langsung melek byar weruh duit, tambah ijo pisan weruh rupa ijo....ha ha...komplit..plit... Rasa amarah semalam, langsung menguap. he he.... (Mungkin Nyonya sedang menghiburku untuk menebus rasa bersalahnya.)

Keluar dari kamar, bukannya ke kamar mandi trus gosok gigi tapi melongok kamar momonganku. Dua-duanya masih tidur nyenyak. Aku mencari nyonya yang telah bangun lebih awal. Tak ku temukan dia, entah di mana. Aku longok setiap sudut kamar sampai dapur, tak ada juga. Jogging, mungkin saja, pikirku. Maka, aku pun ke kamar mandi. Begitu keluar, ku dapati nyonya kemluthik bikin kopi. Untuknya dan untukku juga. ehmmm....betapa baik hatinya nyonya ku ini, kataku dalam hati. (Dan ini salah satu alasan, kenapa aku mau menandatangani kontrak lagi dengannya 2 hari yang lalu.)

Sambil meringis, aku menyapa dia sebiasa mungkin dengan menekan rasa mangkel di dada," Cou san! Nyonya, yang di atas komputer itu duit buatku yah?"

"Iya. So mui....nih, kopimu cepet diminum!"

"He he he....tengkiyu untuk gaji dan kopinya ya nyah..." tersenyum, sambil lalu.

Tiga langkah meninggalkanku, nyonya balik lagi dan memelukku sambil berucap," Yani, maafkan aku ya, semalam memarahimu. Aku lagi stress banget sampai aku pun tak bisa tidur dengan tenang. Maka, pagi ini aku bangun lebih awal darimu. Kamu memaafkan aku kan?"

Aku mengangguk tanpa kata. Ya, sudahlah. Toh, nyonya juga sudah minta maaf. Dan itu yang aku suka dari nyonya, dia tak segan meminta maaf padaku atau pada siapa saja. Jujur saja aku kecewa dengan sikap nyonya semalam, malah boleh dibilang aku nggondok banget. Bagaimana tidak? nyonya tiba-tiba saja ngamuk tanpa sebab padaku dan terjadi di tengah malam. Tentu, aku pun ingin melampiaskan balik amarahku padanya. Karena aku juga manusia biasa yang punya emosi tapi aku tak mampu melakukannya. Dia terlalu baik untuk ku sakiti. Maka, aku pun melawan hatiku sendiri dan meluapkan amarah dalam tangis semalam. Selalu begitu. Huhhhh!!!

Pagi ini begitu beku karena suhu udara mencapai 8 derajat celcius, hingga kopi panas pun tak terasa. Segera ku reguk habis secangkir kopiku. Menengok jam, melesat ke kamar Sailo, membangunkannya. Beberapa menit kemudian, siap berangkat ke sekolah. Tak seperti biasa, nyonyaku nginthil mengantarkan sailo sampai gerbang sekolah. Mencium, memeluknya, membisikkan sesuatu," Sailo, mommy fan kung. Lei kwai la ha, deng cece hwa. Mo yai-yai. Cece hou sek lei a.Yu guo emhai, cece cau ka lah. Okey, bye-bye...see you tonight.

Sailo mengangguk lalu beralih memelukku seraya berkata," bye-bye cece...." kemudian berlari masuk.

Dalam perjalanan sekembalinya dari sekolah Sailo, aku dan nyonya diam tak banyak kata. Sampai di persimpangan jalan, sebelum say good bye, nyonya bertanya," Cece, lei mo ye le ma?"
Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala.

"Take it easy, okey! see you tonight. Bye-bye...." Nyonya melambaikan tangan sambil berlalu pergi.
http://www.blogger.com/img/blank.gif
Aku terpaku memandangi nyonya di ujung jalan sampai dia menghilang. Dalam hati aku bersyukur, betapa beruntungnya aku memiliki majikan yang baik hati. Sedangkan banyak teman BMI yang terlunta-lunta karena memiliki majikan yang jahat. Berdoa yang terbaik untuk kawan-kawanku semua. Semoga selalu sabar dan tawakal. Dulu aku juga pernah tertindas tapi percayalah di balik kekecewaan pasti ada moment manis suatu hari nanti. Tetap semangat!

Aku berjalan pulang, ngopi lagi sambil pesbukan sebentar. Ya, wis saiki ngepel sik ya........

Dari blog: Yany Wijaya Kusuma

PESAN TERAKHIR

Oleh: Geppy Heny Setyowati

Cerita ini ingin aku buat untuk suamiku di rumah. Dia selalu bertanya tentang kabarku di Hongkong. Apakah aku selalu baik-baik saja. Sebenarnya aku ingin sekali bercerita banyak dengan suamiku. Tentang ulah majikanku yang terasa sangat menjengkelkan hati. Banyak saja ulah yang dia perbuat terhadapku. Apa pun pekerjaan yang aku lakukan, tidak pernah bisa terselesaikan dengan baik dan benar dimatanya. Kesalahan ini itu yang terkadang tidak masuk diakal. Dalam hati bertanya apa sebenarnya maunya dia. Kenapa dia tega banget ngerjain aku.


Aneh memang dia majikanku seakan memberi perintah tugas-tugas, yang tanpa ada dasarnya. Seperti kejadian waktu dia pindahan rumah kemarin. Perlakuan yang sangat tidak manusiawi dia tunjukkan kepadaku. Di depan para tukang-tukang yang sedang merenovasi rumahnya. Dia berlagak sok juragan kaya.

"Ani...", dia memanggil dengan teriakan yang sangat keras walau jarak dia berdiri hanya terhalang ruang tamu yang tidak terlalu besar. Kontan aku terburu-buru menghampirinya, bukan karena takut, tetapi terkejut dengan teriakannya yang membuat aku lari tergopoh-gopoh menghampiri. Dan ternyata, apa yang dia perintahkan terhadapku. Disuruhnya aku mengelap alas kakinya. Jeritannya melengking sempat membuat para tukang berhenti sesaat, terkejut. Perkepala menenggok kearah aku dan majikanku. Ada yang mendesah, berdehem dan tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.

"Ia, ada apa nyonya", jawabku setelah sampai di tempat.

"Sini bersihin sandar jepitku", tanpa membantah aku melangkah ke dapur untuk mengambil lap alas kaki. Kembali melangkah ke tempat di mana dia tadi berdiri. Dengan mengangkat satu kaki kirinya yang bertumpu pada kaki kanan. Dengan tangan kiri berkacak pinggang dan tangan kanan berpegangan pada palang pintu ruang tamu. Tanpa sungkan dia menyerahkan sandal jepit yang masih melekat pada kaki kirinya.

"Ya,.. Tuhan". Batin hatiku beginikah cara dia memperlakukan aku. Beginikah cara dia untuk selalu merendahkan martabat orang lain, yang sebangsa denganku, bekerja sebagai BMI. Entah mengapa majikan perempuanku selalu berlaku yang tidak sewajarnya terhadapku. Dia seakan menganggap dirinyalah yang telah menghidupi aku beserta seluruh keluargaku. Dengan beranggapan, bahwa dialah yang memberi pekerjaan. Maka apa yang dia kehendaki bisa dengan mudah ia dapatkan. Terkadang aku sempat berpikir bahwa orang ini mungkin saja gila. Karena saat dia mengetahui aku sering mengerjakan sholat, dia meresa tidak suka. Dan pernah memberi saran kepadaku satu ide konyol menurut pemikirannya. Begini dia pernah bilang terhadapku.

"Apadengan sholat itu Tuhanmu bisa memberimu uang?" tanyanya dengan ketus dan ada kesan mengejek. Saat itu aku menjawab

"Tuhan memberiku rejeki yang halal."

"Kalau begitu kamu bekerja saja dengan Tuhanmu", katanya dengan enteng.

Dengan perasaan tersinggung aku hanya diam menghadapi cerocosnya yang sudah tidak masuk diakal. Begitulah sifat dia, otaknya telah dipenuhi dengan pikiran duniawi, tanpa ada kesempatan bagi dia untuk sekedar mengenal siapa sebenarnya Sang-pencipta yang sesungguhnya. Dan dia selalu memperlakukan orang lain yang di bawahnya sekehendak hatinya. Seakan tidak ada rasa menghargai terhadap orang lain. Apa saja uncapan yang sempat keluar dari bibirnya hanya ucapan makian dan cacian terhadap siapa pun. Mungkin dalam pikirannya yang tak waras, dia merasa bahwa, dia itu orang yang terpandai, terkaya, danberkuasa.

Saat orang lain membantunya, dia tidak merasa telah ditolong, tetapi beraganggap bahwa orang itu perlu dan harus bisa menolong dan membantunya. Karena segala sesuatunya dia berorientasi pada ukuran uang. Uanglah yang telah ia jadikan Tuhan atau mungkin Dewanya. Tidak terkecuali aku yang di sini sebagai pembantunya. Beginikah perkiraan pikirannya yang merendahkan diri orang lain dihadapannya bahkan tidak segan dia menunjukkan ulahnya itu dihadapan orang banyak.

"Oh...Tuhan."

Akuhanya tersenyum menyikapi segala perlakuannya terhadapku. Walau dalam hati telah dihinakan dengan ulahnya. Seakan tiada harganya, aku dihadapanya. Aku tidak mengutuknya tetapi berdo'a semoga saja dia bisa merubah sikapnya yang buruk itu. Semoga masih ada sedikit dalam hatinya menyadari tantang ulahnya yang buruk. Tetapi dalam satu sisi aku mempunyai keyakinan. Karena kita ini menusia yang sama dihadapan Tuhan. Mungkin Tuhan belum mengetuk hatinya, semoga dia segera ingat akan segala khilafnya.

Dalam hati sempat berkata "Kau pun juga bekerja ikut dengan orang, yang posisinya sama sepertiku, mempunyai seorang bos atau atasan." Kenapa engkau nyonya tidak mau melihat ini semua. Bahwa perlakuan ini pun suatu saat bisa berbalik kepadamu. Kalau pun kau saat ini berlaku merendahkan aku dengan perlakuanmu. Suatu saat kau pun akan diperlakukan sama pula oleh orang lain, dipermalukan di hadapan seluruh orang yang kamu kenal dan akan menjadikanmu terhina, lebih parah dari pada apa yang pernah aku rasakan saat ini. Tuhan engkau pasti memberikan pelajaran yang sangat berharga terhadapnya," aku yakin itu.

Aku sering mengatakan bahwa dia itu seorang yang sakit. Entah kenapa dia seakan menyimpan suatu ketakutan tersendiri. Kalau tidak, tak mungkin dia berlaku demikan terhadapku. Dan di hadapan orang lain yang sama mempunyai hati dan nurani.

Salah satu kesukaan dia makan kuaci. Saat aku memberikan keranjang sampah yang sudah aku cuci bersih. Dan aku alasi dengan kantong plastik di dalam tempat sampah. Masih saja dia membuang kulit kuaci itu disembarang tempat. "Duh... gusti, semoga ini semua engkau jadikan pelajaranku kelak bila aku engkau beri kesempatan untuk sanggup mengatur hartamu yang berlebihan dan dapat memanusiakan manusia dengan selayaknya." Saat aku bergumam sendiri di dapur dia sempat melirikku sekilas tetapi tidak begitu memperdulikannya.

Dari dapur aku dengar gelak tawanya yang tidak berhenti. "Dasar orang sinting, makan kuaci dengan melihat berita kok tertawa terpingkal-pingkal sendriri. Dari pandanganya dia merasa senang, karena mampu membuat hati ini nelangsa. Makanya setiap kali melihatku dia selalu berulah. Kejorokan yang sering membuat aku jengkel. Meludah disembarang tempat, walaupun dia meludah di rumahnya sendiri. Bikin penyakit saja. Kotor. Jorok sekali menurutku.

Saat pagi setelah dia bangun tidur, dia melangkah ke kamar kecil menggunakan wastafel untuk gosok gigi. Kegiatan apa yang dilakukannya selepas cuci mulut, selalu membuat kotoran dengan pasta gigi yang menempel di mana-mana. Hal ini terjadi selama aku kerja disini selama 6 bulan, tidak pernah tidak telewatkan, ceceran pasta gigi menempel di dinding kamar mandi, di cermin dan digelas tempat dia biasa menggunakannya utuk berkumur. Entah apa maksud dari perbuatannya. Mungkin dia beranggapan kalau tidak mengotori tempat-tempat itu, aku tidak akan membersihkannya.

Apa semua ini memang disengaja atau memang dia itu seorang yang sangat jorok sekali. Ceceran kapas bekas pembersih wajah juga tercecer dikasur dan di lantai. Tak ada tempat yang setelah di tempatinya akantetap bersih dan rapi seperti sedia kala. Pernah dia menggoreskan sebaris lipstik diseprei tempat tidur. Saat itu juga aku langsung memberitahukan kejadian itu. Pikirku mumpung dia belum berangkat kerja. Saat dia sedang mengenakan sepatu, aku segera menghampiri dan menunjukan goresan lipstik di seprai kepadanya.

"Nyonya, maaf ini seperti goresan lipstik yang menempel diseprei". Sambil menunjukan garis merah di pinggir separai.

"Coba lihat," dia mengamati sebentar lalu berkata. "Kamu cuci bersih saja".

"Maaf nyonya, kalau goresan lipstik ini susah menghilangkanya kalau tidak dengan pemutih pakaian, sedangkan seperai ini berwarna merah muda" jawabku menyatakan argumentasiku entah di terima tidak yang penting aku sudah berusaha mengeluarkan pendapat yang aku yakini benar bahwa ini goresan lipstik.

Sekilas dia memandangiku, dan mulai memperhatikan sekali lagi. Lalu dia memberi perintah. "Kamu cuci saja pakai sabun cuci. Kalau tidak bisa hilang nanti aku taruh di tempat pencucian."

"Ia nyonya..." jawabku sambil menerima kembali seperai dari tangannya.

Setelah merapikan kamar mandi dan tempat tidur aku beranjak hendak ke pasar untuk berbelanja. Aku ingat bahwa tadi sebelum berangkat dia tidak menitip pesan apa-apa kepadaku. Mungkin dia akan pulang malam lagi seperti hari-hari biasanya. Selang beberapa menit dia meneleponku.

"Yati, kamu mau belanja apa hari ini?"

"Maaf nyonya mau makan apa?" tanyaku melalui telepon genggamku.

"Aku tidak makan, kamu beli saja apa yang ingin kamu makan malam ini".

"Hari ini nyonya tidak makan dirumah?" aku mencoba bertanya dengan hati was-was kalau kali ini dia mencari sebab untuk memarahiku. Karena tadi pagi tidak seperti hari biasanya, dia belum mengumandangkan lagu wajibnya.

"Tidak, aku tidak akan pulang hari ini?"

"O,ya nyonya." aku menjawab dengan membuat senyum termanis agar dia tidak merasa jengkel.

"Aku sudah mengirim cek gaji kamu bulan ini ke rekening kamu, dua hari lagi kamu bisa ambil langsung di bank." wuah tidak seperti biasanya selalu marah dulu sebelum memberi gaji. Mungkin hari yang spesial bagi dia kali batinku dalam hati sambil semakin memperlebar senyum girangku.

"Trimakasih nyonya". jawabku sebelum dia menutup telepon.

Aku mulai menghitung uang belanja sebelum merencanakan ingin makan apa malam ini. Uang tinggal HK$ 200,- untuk belanja selama tiga hari, kukira cukup dan masih ada sisa buat mejeng bentar nanti di internt. Aku langkahkan kaki menuju pasar, di bawah flat sudah menunggu Ida dengan tas belanjanya.

"Gimana bosmu hari ini? Tanya Ida.

"Hari ini lumayan lunak, nanti malam dia tidak makan malam. Mungkin akan nginap lagi di rumah pacarnya kali". Aku memberitahu kabar majikanku pada Ida.

"Jadi bisa ngenet dong hari ini?" jawab Ida dengan semyum lebar.
Kami melangkah bersama menuju arah pasar. Tentunya mampir dulu ke lantai 3 setelah selesai berbelanja di lantai 1 membelu daging dan ayam lalu naik lagi ke lantai 2 untuk membeli sayur mayur.

"Ia, aku juga mau cek emailku hari ini". sambil menjinjing tas belanja warna biru terang.

Hari itu aku bisa haa....hiiii... sebentar selama satu jam. Aku mulai melirik status teman-temanku di Facebook. Sedikit banyak telah mengurangi saraf keteganganku dengan majikan. Segala perlakuan yang tidak mengenakkan seketika hilang saat melihat status-status kocak dari teman-teman.

Aku melihat jam tanganku menunjukan pukul 11.30 segera aku berpamitan untuk segara hengkang dari depan layar monitor. Aku lihat Ida sedang kasak -kusuk sendirian dengan pacarnya yang bekerja di Jepang.

"Ida aku dah waktunya pulang nich, kamu ikut pulang gak?" tanyaku untuk mengingatkan dia bahwa waktunya sudah habis.

"Ia...,tunggu bentar aku mau off".

"Akutunggu di luar ya?

"Ok,dah selesai."

Sepanjang perjalanan pulang tak hentinya aku tertawa mendengar kekocakan temanku yang satu ini. Seakan tak ada habisnya bahan pembicaraan yang selalu membuat aku tertawa terbahak-bahak. Kadang sampai tidak tahan dibuatnya. Sungguh Ida jagonya humur batin dalam hatiku. Aku sampai gak kuat menahan tawa hingga terasa mau terkencing-kencing.

Sesampainya di rumah langsung aku berlari menuju ke kamar mandi untuk menghilangkan hajatku yang sudah tidak bisa di tahan lagi. Dasar si Ida batin hatiku, bisa-bisanya ngerjain orang hingga segitunya. Masih saja aku menyisakan senyum-senyum lucu bila mengingat kekonyolannya tadi.

Saat aku mulai sibuk dengan diriku di kamar mandi aku melihat bercak-bercak darah merah yang mengental. Dalam hati aku berpikir, darah siapa ini kok berceceran di kamarmandi. Aku mulai menelusuri bercak darah itu hingga sampai di kamar tidur majikanku.

"Nyonya...," teriakku panik karena aku melihat dia telah terbaring diranjang dengan kedua urat nadinya terpotong.

***

D E A

Oleh: Geppy Heny Setyowati

(Permintaan dari seorang teman yang menginginkan kisah nyata Dea ini di tuliskan dalam bentuk tulisan)


Semua yang pernah memasuki tempat penampungan sudah pasti bisa memahami apa yang terjadi disana. Hidup dalam kurungan seakan berada dalam penjara. Sebenarnya banyak juga teman disana. Tetapi aku merasa begitu sulit beradaptasi dengan lingkuan baruku. Aku lebih senang melakukan segala sesuatu sendiri.


Hari pertama aku ditempatkan di ruang Mulyosari- Surabaya. Konon kabarnya tempat itu bekas puskesmas yang melayani warga 24 jam. Di kamar tiga aku mendapat tempat tidur atas. Ku kira kejadian ini pertama kali aku alami dengan nyata. Setelah selesai mandi dan makan sore. Aku langsung masuk kedalam tempat tidurku. Tepat jam 22.00 sudah diharuskan tidur semua. Tetapi aku tidak bisa tidur karena mendengar suara tangisan balita yang tidak berhenti mulai aku merebahkan badanku. Lalu aku bergumam sendiri mengatakan siapa yang mempunyai bayi sudah malam begini dibiarkan menangis tanpa henti.

Beberapa saat tangisan bayi itu mereda, selang kemudian terdengar lagi semakin keras. Lalu aku berkata kalau boleh aku menghentikan tangisan bayi itu aku ingin bayi itu tidur disampingku. Setelah selesai aku berkata demikian tiba-tiba teman-teman satu kamarku yang ada 4 orang tidur dibawah pada lari keluar kamar. Aku hanya melihat mereka dengan kebingunggan. Kenapa kok tiba-tiba mereka lari.

Aku tidak menghiraukan mereka dan aku mulai merebahkan diri melanjutkan tidurku yang sempat terganggu tangisan bayi. Setelah hampir tertidur aku merasakan ranjang yang aku tiduri tiba-tiba bergetar hebat. Perasaanku berkata mungkin teman yang tadi pergi berlari keluar kembali menempati ranjangku. Goncangan ranjang begitu kuat aku rasakan, karena tergolong murid baru aku tidak berani bersuara. Hanya diam saja membisu. Dan seketika aku merasakan benda yang amat berat jatuh berada di sampingku. Dan aku masih mengira kalau itu tubuh temanku yang tidak kebagian tempat tidur.

Aku mencium bau wangi yang sangat menyengat, lagi-lagi aku tidak berani berkomentar banyak terhadap semua teman baruku. Semuannya aku sembungyikan dalam hati. Tetapi teman ini keterlaluan dia mebenturkan aku sampai terjepit ke bibir tempat tidur dan seakan ranjang itu hanya dia sendiri yang meniduri. Dengan sedikit mendongkol aku berusaha menyikut dia dan bilang minta tempatnya sedikit. Tetapi aku merasakan sikutku seperti membentur benda yang amat keras dan kasar. Malam itu pun akhirnya aku bisa tidur dengan tenang walau terkadang tercium bau bangkai tikus atau kodok mungkin.

Pagi hari setelah aku melakukan sholat subuh aku beranjak ke ranjangku lagi. Dari pintu aku melihat sosok wajah ayu yang beranjak naik ke ranjangku. Aku berkenalan dengannya dia menyebukan namanya Dea. Asal Madiun pernah menikahi orang Manado dan mendapatkan seorang anak perempuan bernama Dea. Jadi dia memakai nama anaknya sebagai panggilan kesayangan menurutnya.

Karena pagi itu Sutikno sedang piket jadi dia melihatku dengan keherana kenapa kok aku bicara sendirian. Saat aku melihat kearah Dea, dia hanya memberi isyarat aku untuk diam saja. Lalu Sutikno bilang kenapa ya aku kok tiba-tiba jadi merinding begini lalu Sutikno pergi meninggalkan aku berdua dengan Dea. Pagi hari kegiatan rutinnya senam pagi. Tapi aku tidak melihat dea ikut senam hari ini. Maklum baru dapet teman baru jadi perhatian.

Aku bertemu dengan Dea lagi pas pada saat pelajaran awal dimulai. Dea mengambil tempat duduk di sampingku. Dan aku pun dengan tenang memberikan tempat di sampingku. Hanya sunggingan senyumku yang mengisyaratkan Dea boleh duduk sebangku denganku. Saat pelajaran di mulai aku memang jarang sekali ngobrol dengannya. Hingga waktu pelajaran usai yang ditandai dengan istirahat siang. Saat makan siang aku masih belum mendapatkan teman baru. Pasalnya mereka telam membentuk grub sendiri-sendiri. Jadinya aku canggung untuk ikut bergabung bersama mereka. Dan pandanganku mulai mencari dimana Dea berada. Dengan wajah yang terus menyunging senyum pucat dia menghampiriku dan menemaniku makan siang. Saat aku bertanya apa sudah makan dia menjawab kalau barusan selesai makan. Lalu aku menimpali kapan makan siang aku kok tidak melihat Deanya makan. Lalu Dea bilang tadi waktu aku sholat dhuhur Dea sudah ambil piring.

Datang seorang kawan yang tidak aku kenal bilang “makan jangan sambil ngomong sendiri”, aku hanya tanggapi dengan senyum. Saat pelajaran pertama hingga usai aku jarang sekali berkomunikasi dengan Dea. Begitu pun Dea seakan mengeti peraturan yang melarang berbicara saat pelajaran berlangsung. Akhirnya malam kedua pun aku alami.

Malam itu Dea langsung menyusulku naik ke atas tempat tidur. Lalu aku bilang hai jangan tidur di sini? Gak boleh tidur berdua nanti kalau ketahuan Pembina bisa dihukum. Lalu Dea bilang tidak ada tempat untuk tidur semua ruangan penuh. Yah akhirnya aku perbolehkan Dea tidur seranjang denganku. Saat hendak tidur Dea bertanya? “kamu kalau tidur biasanya berdo’a tidak” aku jawab yang harus. Langsung saat itu dia bangun dari ranjang. Aku tanya kamu mau pergi kemana? Katanya mau tidur bareng jawabku. Dea bilang kamu berdo’a saja dulu aku matu kebelakang bentar. Karena ku kira Dea akan ambil air wudhu sebelum tidur jadi aku langusng aja berdo’a. Setelah beberapa saat menunggu, Dea kembali lagi. Dan bertanya sudah do’a belum? Aku jawab sudah. Lalu dia naik ke atas pembaringan dan aku mulai tidur dengan badan aku miringkan menghadap tembok.

Entah jam berapa aku tidak tahu karena kamar didalam lampunya di matikan jadi aku tidak bisa melihat jam. Apa lagi aku lupa gak bawa jam tanganku yang tertinggal di meja belajar. Saat itu hidungku mencium bau bangkai yang sangat menyengat. Dan antara sadar dan tidak aku seperti tidur bersama pocong. Karena tidak ingin berpikiran macam-macam akhirnya aku peluk sekalian tubuh pocong dengan posisi tangan mendekap tubuh pocong dan kaki aku tindihkan ke tubuh pocong itu. Lalu aku sembungikan wajahku tepat di sisi tubuh pocong dengan perasaan takut dalam hati membaca bacaan ayat kursi yang pada akhir bacaan “wa laa ya’uuduhuu hifzhuhumaa wa huwal aliyyul azhiim” insyaAllah yang artinya “dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. Ku ulang berkali-kali. Sampai aku tertidur dan tenang kembali. Setelah itu aku lepaskan dekapanku. Setelah tersadar entah jam berapa ranjangku jadi longgar karena aku tidak melihat Dea tidur di sisiku. Dalam hati berpikir mungkin dia sudah bangun.

Wuah panjang sekali kalau diceritakan saat aku berteman dengan Dea. Yang ternyata menurut ustadku sosok Dea ini ternyata Jin yang sudah lama menempati bangunan Mulyosari. Kukira Dea adalah sesosok jin muslim karena dia juga sholat 5 waktu dan terkadang juga bersama-sama denganku menjalankan sholat qiaumul lail sholat tengah malam yang biasa di sebut sholat tahajud. Menjalankan puasa senin-kamis dan juga puasa Ramadan. Karena sifat jin yang kadang usil juga, pernah aku dikenalkan dengan beberapa teman-temannya. Sering aku di panggil ke ruang pembina yang menanyakan pada jam pelajarannya aku tidak ada ditempat. Padahal aku tidak penah absen mengikuti pelajarannya. Dan saat ujianpun aku bisa menyelesaikan dengan baik.

Sempat juga aku menjanani tes terapi yang disebabkan ulah Dea ini yang sering mengajak aku ngobrol bersama. Karena banyak siswa lain sering melihat aku bercakap-cakap seorang diri. Lebih parah lagi ada yang menyangka aku mempunyai kapribadian ganda. Bahkan, dibilang stres, gila dan aneh-aneh.*

PETIR

Nyi Penengah Dewanti

Petir itu datang meremangkan roma, aku sendirian dalam gulita. Menerialaplah jiwaku yang kecil ini, mengambil air wudhu, sujud dalam lindungan-Mu Ya Ilahi Robi. Bumi dan langit menyusupkan tali getar. Engkaulah yang Mahabesar Ya Allah, tiada kekuatan yang lebih hebat selain kuasaMu. Lindungilah hamba dari marabahaya yang mengancam.

Hujan dan petir saling bersahutan di luar sana. Menyiram bumi, membelah kota. Semesta bersyukur menyambut rintikkanya, dan aku bertafakur meredam segala ketakutan. Jadikanlah hujan ini berkah Ya Allah, dan jauhkanlah kami dari wabah. Kilat cahaya memasuki jendela memecah sunyi, suaranya membuat detak jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

Kokok ayam melangit bersahutan, membangunkan aku dari tidur semalam. Ternyata aku masih memakai mukena, dan merebahkan diri di atas sajadah. Ah… ketakutan yang berlebihan. Segera aku melepas mukena, dan mengambil air wudhu kembali, melaksanakan shalat subuh. Kemudian bergegas, membereskan buku dan kertas yang masih berserakan. Gara-gara mati lampu semalam, tugasku masih separuh kukerjakan. Semoga dosen pembimbingku tidak mempermasalahkannya aku harap. Aku berjalan keluar kamar, membuka pintu, masih sepi.

”Keyla, sini.” Nita memanggilku dari balik dapur. Aku berjalan menujunya.

”Ada apa Ta?” jawabku.

”Mau aku bikinin mie sekalian?” tanyanya halus, aku memincingkan mata.
”Tumben lo baik banget.” Aku curiga, pasti ada sesuatu yang ia inginkan, biasanya sih seperti itu, pengalamanku selama berteman dengannya.

”Tapi…” Nah, kan baru saja aku membatin.

”Temani aku tidur nanti malam ya, aku takut petir,” tiba-tiba ia mendekat.

”Simbol petir itu perwujudan setan. Ketika petir menggelegar, pasti ada setan di situ. Setan jatuh bagaikan kilat,” bisiknya lagi, bulu kudukku mulai berdiri.

”Key,” tangan Nita menarik bajuku cepat.

”Hmmm… wadha wapha….” mulutku tetap menikmati mie goreng buatan Nita.

”Aku seperti melihat sepasang mata, di balik sinar jendela,” refleks wajahku menoleh ke Nita.

”Ini sudah pagi, Ta. Jangan mengada-ada,” aku duduk merapat ke Nita.

”Serius,” ia mencoba meyakinkanku, dengan tatapannya. Aku beranjak dari kursi, berjalan mendekati jendela.

”Sssrtt…. ” korden jendela kubuka.

”Tuh liat, itu sinar matahari, Odong,” Aku memanggil Nita dengan: Odong, sesekali kalau diantara kami jadi nyebelin. Sebel sayang maksudnya, buat candaan.

”Alhamdulillah Ya Allah,” serunya girang, karena hari sudah menampakan terang.

”Udah ah, aku mandi duluan, ya. Giliran kamu yang cuci piringnya,” aku mengangguk.

Kos ini memang sepi, jauh dari pusat perkotaan, diapit, pemakaman di belakang, dan masjid di sebelahnya. Letaknya yang tidak terlalu ramai, dan murah, membuat kebanyakan mahasiswa seperti aku memilih tempat ini. Alasannya simpel, biar lebih konsen dalam belajar, tidak terlalu bising dengan deru motor dan kendaraan beroda empat.

[]

Lelaki yang duduk di makam.

Sore itu aku pulang kuliah, agak telat dari biasanya. Gara-gara tugas belum kelar. Pak Lucky memberiku jadwal bimbingan di akhir jam kelas sore. Alamat jalan menuju kostan sudah agak sepi, dan gelap. Hal yang paling menakutkan adalah aku harus melewati makam itu sendirian. Aku mencoba menelpon Nita untuk menemani berbincang sejenak melewati jalan. Apesnya Nita tidak mengangkat panggilanku. Jantungku hampir saja copot, di pojok pusara pemakaman ada bayangan hitam sedang menunduk takzim. Pekuburan memang rumah masa depan umat manusia, tapi kenapa aku selalu was-was, hanya melewati pelatarannya saja. Kuamati dengan seksama, jelas itu bukan setan. Perawakannya atletis , tapi kenapa ia sendirian ya, saudaranya yang lain apa tidak ikut mengantar . Sepertinya taburan bunga mawar itu masih baru menghiasi gundukan tanah, masih bagus, dan aku bergegas berjalan cepat meninggalkan kuburan.

Kurebahkan lelah di sofa ruang tamu kost. Tas kutaruh di lantai begitu saja. Vallent diam saja cuek menikmati lembaran majalah fashion. Menoleh sebentar saat aku tiba, dan kembali asyik melanjutkan memilah-milah baju keluaran terbaru, kudengar sayup-sayup tawa dari ruang tengah.

”Lent, biasanya anak-anak yang ngekos di sini? Yang pulang agak larut malam siapa?” tanyaku pada Vallent, memecah keheningan.

“Nia, pulangnya sekitar pukul 8 malam. Ada yang penting?”

”Oh nggak apa-apa, siapa tahu bisa bareng.”

[]

Cuaca semalam agak bersahabat, meski hujan tapi tidak ada gemuruh Guntur, dan kilatan cahaya langit. Aku tidak perlu menemani Nita sesuai janjiku, ia menginap di kostan temennya. Dia mengirimikan sms meminta maaf tidak sempat mengangkat telfon karena sedang di kamar mandi. Rasanya otakku mau pecah, digeber skripsi akhir-akhir ini, pindahan kos ternyata juga menguras waktu dan tenaga. Musim penghujan membuat baju-bajuku tidak kering.

Aku beranjak ke belakang memeriksa jemuran. Lumayan kering, tapi masih sedikit lembab. Mataku berhati-hati mengamati pekuburan, takut tiba-tiba muncul sesuatu yang tidak diinginkan. Benar saja, aku melihatnya lagi, lelaki berkaos hitam itu masih setia duduk di makam. Kebetulan ada semacam rumah kecil yang di bangun untuk, tempat berteduh bagi para penggali lubang makam, di situ ada keranda mayat, beberapa sapu dan sekop untuk membersihkan ataupun menggali kuburan, Apa mungkin dia penjaga makam ya.

[]

Hujan deras turun begitu saja saat aku turun dari angkot. Untung saja aku bawa payung. Bergegas kukibarkan payung hitam motif bunga milikku. Aku peka sekali terhadap warna hitam, entahlah aku dapat menangkap segera, segala hal yang berwarna hitam. Aku tak percaya apa yang kulihat sekarang, diantara hujan yang menderas dan ia masih duduk disamping makam. Antara naluri kemanusiaan, berperang melawan ketakutan aku mencoba memasuki gerbang pintu rumah masa depan, berjinjit menghindari genangan air, tak sengaja aku terlpeleset sebelum sampai temapt di mana lelaki itu berada. Aku mengibaskan dress ku yang sedikit terkena bercak lumpur. Kemudian aku mulai menatap kedepan menuju dia… dia, tidak ada. Mataku tidak mungkin katarak secepat ini, atau mungkin aku rabun tiba-tiba, aku melepas kaca mataku yang berembun terkena tetesan hujan. Memakainya kembali, melihat situasi, dan nihil.

Aku hampir pingsan, di kagetkan Pak Rahman. Dia tersenyum menatapku, tatapannya seakan mengerti kalau aku sedang benar-benar ketakutan.

”Mbak Keyla, baik-baik saja?” tatapan matanya menangkap sinyal kekhawatiran.

“Pak, tadi saya melihat ada lelaki duduk di sebelah makam itu kehujanan. Saya ingin membantunya meminjamkan payung saya untuk berteduh. Saya tidak sengaja jatuh, dan pria itu raib.” Pelan-pelan suaraku bergetar menuturkan.
”Mari saya antar ke luar pintu gerbang Mbak Keyla.” Aku tak mengerti, pertanyaanku tidak langsung dijawab, Pak Rahman. Tapi aku menuruti kata-katanya untuk segera keluar dari kawasan yang menyeramkan buatku.

”Jangan diganggu ya Mbak Keyla, kalau melihat lagi. Bairkan saja.”

”Maksud Bapak?”

”Apapun yang mbak lihat di sekitar pekuburan ini, biarkanlah. Berusahalah untuk bersikap wajar.” Aku mengigil dan merinding, hujan masih sederas tadi.

”Mungkin mereka hanya ingin berkenalan saja dengan Mbak Keyla, dan sesekali menampakan diri. Tapi setelah itu mereka biasanya sudah tidak mengganggu lagi.” Dengan kata sehalus mungkin Pak Rahman menjelaskan. Aku tidak lagi bisa berfikir, segalanya membayang kembali.

Tentang hujan di malam itu, petir, sepasang mata di balik sinar jendela, dan lelaki yang duduk di makam. Dia adalah salah satu warga yang telah dijemput Sang Mahakuasa, ketika selesai melaksanakan shalat subuh sepulang dari masjid. Tidak sengaja ada pohon yang rebah, tumbang jatuh ke tanah menghantam tubuhnya, di jalan depan pekuburan, yang letaknya tidak jauh dari masjid. Setiap yang bernyawa tetap akan mati, begitulah juga manusia yang diciptakan dari tanah.

”Dari bumilah Kami ciptakan kamu, dan ke dalamnya Kami akan menggembalikan kamu dan daripadanya pula Kami akan mengeluarkan kamu sekali lagi.”*