Tampilkan postingan dengan label AGENDA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AGENDA. Tampilkan semua postingan

Festival Sastra Migran Indonesia II


“Melintas Batas, Berjuang , Berkarya, dan Berprestasi”

Assalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh,

Mengawali tahun 2012 Forum Lingkar Pena Hongkong menggelar beberapa lomba dalam serangkaian acara Festival Sastra Migran Indonesia II dan juga Milad FLP HK ke 8.



1. Lomba Photografi
2. Lomba Menulis scenario drama
3. Lomba cipta puisi
4. Lomba kisah inspiratif


LOMBA PHOTOGRAFI

Syarat Karya:
1. Tema foto “Pelangi Migran Indonesia”, yang memotret berbagai sudut pandang interaksi kegiatan , aktivitas Migran Indonesia
2. Lokasi object foto berada di wilayah Hongkong dan Macau
3. Foto adalah karya milik sendiri dan belum pernah memenangkan lomba.
4. Peserta dapat mengirimkan foto berwarna atau hitam putih.
5. Foto merupakan karya tunggal, bukan merupakan foto serial.
6. Pemotretan dapat dilakukan dengan media film ataupun digital. Olah digital yang diperbolehkan sebatas menaikkan kontras, burning, dodging, sharpening, dan cropping. Penambahan elemen dalam foto tidak diperkenankan.
7. Foto dikirimkan dalam bentuk hard copy satu rangkap (1) dan soft copy by email _ fsmi2012.photografi@gmail.com dengan subjek Nama# No Pendaftaran.

Foto dicetak ukuran paling besar 10R Paling kecil 4R tanpa bingkai, tanpa alas, tanpa pencantuman unsur-unsur non-fotografis. Di belakang foto dicantumkan keterangan foto (caption) seperti Judul Foto, Lokasi dan Tahun Pemotretan, beserta keterangan Fotografer: Nama, Alamat, Nomor Telepon dan Email. Menyertakan tanda bukti/kupon pendaftaran.
8. Maksimal 3 foto per peserta/per kupon
9. Karya yang masuk menjadi hak panitia penyelenggara
10. Panitia berhak mendiskualifikasi peserta sebelum dan sesudah penjurian apabila dianggap melakukan kecurangan.
11. Keputusan Dewan Juri Sah dan tidak dapat diganggu gugat.
12. Dengan mengirimkan karya foto berarti peserta telah dianggap menyetujui semua
ketentuan teknis dan persyaratan yang telah ditetapkan oleh Panitia.

Syarat Peserta:
1. Terbuka untuk Umum, seluruh Migrant Indonesia yang berdomisili di Hongkong dan Macau (kecuali anggota FLP HK).
2. Peserta wajib menggunakan nama asli sesuai dengan identitas resmi (KTP/ /Paspor).
3. Wajib mencantumkan nomor telepon yang mudah dihubungi.
4. Membayar biaya pendaftaran sebesar 30 HKD
5. Hadiah pemenang :
Juara 1 Uang tunai 500 HKD + Sertifikat
Juara 2 Uang tunai 300 HKD + Sertifikat
Juara 3 Uang tunai 200 HKD + Sertifikat
6. 1 Kupon berlaku untuk 1 (satu) peserta dengan 3 karya , bila hendak mengirimkan lebih harus menyertakan kupon berikutnya. Dicantumkan nama peserta dan jumlah karya yang dikirim.
7. Pengumpulan Karya Paling lambat 10 Februari 2012
8. Pengumuman Pemenang: Pengumuman Pemenang dan Karya-karya terbaik pilihan dewan juri akan di pamerkan dalam acara gebyar sastra saat puncak acara Sastra Migran Indonesia II 18 maret 2012

Mengajak dan Mengundang:

Seluruh Migrant Indonesia di manapun berada (di luar Hkg dan Macau) untuk turut beperan serta mengapresiasikan karya fotonya . Setiap karya akan turut di pamerkan dalam acara Gebyar Sastra sebagai puncak acara Festival Sastra Migran Indonesia II dan mendapat sertifikat. Foto bisa dikirimkan ke email , fsmi2012.photografi@gmail.com dengan subjec : Parsitipan FSMI II serta melampirkan biodata singkat dan alamat pengiriman serfitikat.


LOMBA MENULIS SKENARIO DRAMA

Kompetisi ini merupakan sebuah kompetisi menulis skenario yang dapat diikuti oleh umum seluruh Migran Indonesia yang berdomisili di Hongkong dan Macau. Anggota FLP HK diperbolehkan ikut kecuali yang menjadi panitia.

Persyaratan naskah skenario diantaranya adalah asli buatan sendiri adanya kesesuaian antara isi naskah dengan tema, tidak mengandung pornografi, mengandung nilai-nilai dan pesan-pesan positif , serta tidak menyinggung SARA. Naskah ini dibuat untuk durasi 10-15 menit.

KRITERIA KHUSUS
1. Tema atau ide cerita di ambil dari salah stu cerita yang terdapat di buku Kumcer Penjajah di Rumahku, FLP HK Publishing 2010. Buku bisa di dapatkan di sekretariat panitia.
2. Naskah asli buatan sendiri.
3. Biaya pendaftaran 50 HKD
4. Peserta merupakan individu atau tim maksimal 2 orang.
5. Naskah dibuat untuk drama dengan durasi 10-15 menit.
6. Penulisan menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang benar (boleh menggunakanbahasa tidak baku asalkan penulisan sesuai dengan kaidah yang benar)
7. Naskah dikirimkan ke email : fsmi2012.skenario@gmail.com dengan subjek #nama#judul asli cerpen#no pendaftaran.
8. Batas akhir pengumpulan karya adalah 5 Februari 2012
9. Hadiah pemenang :
Juara 1 : Uang tunai 700 HKD+ Sertifikat
Juara 2 : Uang tunai 500 HKD +Sertifikat
Juara 3 : Uang tunai 300 HKD +Sertifikat

Juara 1 dan 2 akan di tampilkan dalam acara Gebyar Sastra sebagai puncak acara Festival Sastra Migrant (18 Maret 2012), dan akan di bedah bersama dalam workshop Skenario bersama sutradara Aditya Gumay dan Adenin Adlan (11 Maret 2012).

LOMBA CIPTA PUISI

TEMA LOMBA: “Pelangi Migran Indonesia”

SYARAT PENULISAN:
1. Peserta terbuka untuk umum seluruh Migran Indonesia yang berdomisili di Hongkong dan Macau (kecuali anggota FLP Hongkong)
2. Jumlah halaman maksimal 2 lembar, spasi 1,5, jenis huruf Times New Roman font 12, ukuran kertas A4.
3. Setiap peserta hanya boleh mengirimkan 1 judul puisi/pendaftaran.
4. Biaya pendaftaran 20 HKD
5. Mencantumkan nama penulis dan biodata narasi singkat pada bagian akhir naskah puisi.
6. Kirim karya ke alamat email: fsmi2012.puisi@gmail.com
7. Judul/Subjek email tulis: nama#Judul Puisi#no pendaftaran.
8. Hadiah pemenang :
Juara 1 : Uang tunai 500 HKD + sertifikat
Juara 2 : Uang tunai 300 HKD + sertifikat
Juara 3 : Uang tunai 200 HKD + sertifikat


KRITERIA PENILAIAN
1. Orisinalitas tema.
2. Kreativitas pemilihan kata/diksi.
3. Keindahan dan kedalaman pesan.
4. Kelengkapan naskah puisi. Jika tidak memenuhi syarat peserta di atas maka naskahnya gugur.
Ketentuan mengikat :
1. Keputusan juri tidak bisa di ganggu gugat
2. Dewan juri berhak membatalkan keputusannya , jika di kemudian hari diketahui karya pemnang lomba adalah karya cipta orang lain (plagiat)
3. Hak cipta tetap ada pada penulis, sedang panitia memiliki hak untuk mempublikasikannya.

LOMBA KISAH INSPIRATIF

Tema: Sepenggal Kisah Pelangi Migran Indonesia

Syarat:
1. Peserta untuk umum , seluruh Migrant Indonesia yang berdomisili di Hongkong dan Macau (kecuali anggota FLP HK)
2. Tulisan merupakan hasil kisah nyata , kisah sendiri atau orang lain yang menginspirasi
3. Penulisan diketik menggunakan font TNR, spasi 1,5, minimal 3-4 halaman A4
dengan margins 3 3 3 3, file RTF
4. Naskah dikirim ke fsmi2012.krispi@gmail.com dengan subjek Nama#judul# No pendaftaran dalam bentuk attchament, bukan di badan email
5. Sertakan pula biodata singkat
6. Membayar biaya pendaftaran sebesar 30 HKD
7. Menyertakan surat keaslian naskah, yang menyatakan kisah tersebut adalah kisah nyata.
8. Paling lambat pengumpulan berkas tanggal 5 Februari 2012

Hadiah pemenang :
Juara I 500 HKD +sertifikat
juara 2 300 HKD +sertifikat
juara 3 200 HKD + sertifikat

Sekretariat panitia dan Penerimaan Karya:

1. Sekretariat FLP HK _balakang kolam renang victory
2. Perpustakaan Noormuslima (jiso depan victory)
3. Perpustakaan Al Hikmah, depan Lybrary (an. Lintang)
4. Perpustakaan Insani, Belakang patung victory (an. Bayu)
5. Via Pos , Up: Panitia Lomba Foto Sastra Migran Indonesia II (No 9 Yan Sau Wai, San Tin Yuen Long)
alamat Email pengiriman naskah:
fsmi2012.photografi@gmail.com
fsmi2012.skenario@gmail.com
fsmi2012.puisi@gmail.com
fsmi2012.krispi@gmail.com

No telp informasi :
Hotline 6677 4172
Rita 6098 0552
Dian 6938 6147
Esa 6358 1247
Susi 9447 0419

Pendaftaran di buka mulai 18 Desember 2012 , Selamat Berlomba dan berkreasi. Kayauu!!

Wassalamulaikum warahmatulahi wabarakatuh
Panitia FSMI II 2012
FLP Hongkong

Puisi untuk Ultah Jawa Timur

Beberapa pekan lagi, 12 Oktober 2010 adalah tanggal yang telah ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Jawa Timur, yang beberapa tahun belakangan biasa selalu diperingati/dimeriahkan dengan berbagai macam kegiatan, termasuk pertunjukan kesenian: wayangan, pentas musik, dan lain-lainnya. Jika Anda setuju, inilah saatnya Puisi ikut ambil bagian dalam kesempatan yang baik itu.

Ini sebuah gagasan tentang ’’PUISI JAWA TIMUR’’ dalam pengertian yang sangat sederhana, jauh dari isu yang belakangan menghangat seputar ’’PENYAIR JAWA TIMUR’’.

Beberapa pekan lagi, 12 Oktober 2010 adalah tanggal yang telah ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Jawa Timur, yang beberapa tahun belakangan biasa selalu diperingati/dimeriahkan dengan berbagai macam kegiatan, termasuk pertunjukan kesenian: wayangan, pentas musik, dan lain-lainnya. Jika Anda setuju, inilah saatnya Puisi ikut ambil bagian dalam kesempatan yang baik itu.

Ketika berpidato di dalam acara Tadarus Puisi di Bulan Suci tadi malam (27 Agustus 2010) di Eks Taman Budaya Jawa Timur, Kepala UPT Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Provinsi Jawa Timur Drs. Karsono, M.Pd, melontarkan keinginannya agar kegiatan baca puisi yang melibatkan para penyair dan siswa dari tingkat TK hingga perguruan tinggi bisa diagendakan pula pada momentum lainnya seperti: Hari Pahlawan, Hari Pendidikan Nasional, Hari Sumpah Pemuda, maupun Hari Jadi Provinsi Jawa Timur. Nah, pintu sudah dibuka. Kita mau memasukinya atau tidak?

Maka, marilah kita bayangkan, ada satu malam yang kita semarakkan dengan lantunan puisi, untuk ikut serta memeringati HARI JADI JAWA TIMUR, melibatkan:
[1] Penyair/Seniman
[2] Pejabat
[3] Pengusaha
[4] Wartawan
[5] Siswa/Mahasiswa
[6] Guru/Dosen
[7] dll, Masyarakat Umum yang bersedia melibatkan diri
dan
[8] Secara khusus kita bisa mengundang kawan-kawan BURUH MIGRAN ASAL Jawa Timur untuk, setidak-tidaknya menyertakan puisi-puisi mereka dalam ANTOLOGI yang seharusnya dicetak untuk menandai PARTISIPASI PUISI dalam Peringatan Hari Jadi jawa Timur.

Khususon buat adik-adik pelajar yang masih bingung mau nulis puisi macam mana buat acara ini nanti, ayo kita buat puisi yang njawartimuri:

[a] Tentang lokasi/tempat, misal: Pantai Lombeng, atau tentang Kabupaten/Kota, kecamatan, Desa, Jalan, dan sebagainya
[b] Tentang ikon Jawa Timur misal: Tugu Pahlawan, Suramadu, dan lain-lainnya
[c] Tentang harapan-harapan yang seharusnya diupayakan pencapaiannya oleh Jawa Timur dengan segenap potensinya
[d] dan lain-lain.

Catatan:
[1] Untuk mengindari tudingan mencari untung pribadi/kelompok secara material/nonmaterial, sebaiknya kita siapkan puisinya, dan kemudian mendorong agar gagasan ini bisa dilakukan oleh: Pemprov Jatim, dan/atau Dinas Pendidikan Jatim, dan/atau Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, dan atau Dewan Kesenian Jatim, dan atau UPT Pendidikan dan Kesenian Jatim, dan/atau … siapa lagi ya?

[2] atau, siapa pun yang bersedia mengelola dan memproses lebih lanjut gagasan ini dalam tempo yang tidak terlalu alon-alon.

[3] Puisi ditulis dalam bahasa Indonesia, atau bahasa daerah: Madura, Jawa, Osing

[4] Kirimkan puisi Anda ke alamat: puisi_jatim@yahoo.co.id

--jangan lupa sertakan biodata singkat pengirim puisi

[5] Jika tidak ada aral, ACARA PEMBACAAN PUISI JAWA TIMUR
digelar di …. Pada 16 Oktober 2010


Bagaimana pendapat Anda?



’’PANITIA PUISI JATIM’’

---Anda bisa mengawali dukungan dengan mengopipaste dan men-STATUS-kan (di dinding Facebook) berikut ini:

MENGUNDANG:
Segenap warga Jawa Timur di mana pun berada, untuk ikut memeringati Hari Jadi Jawa Timur dengan mengirimkan sebanyak-banyaknya 5 judul PUISI dalam bahasa Indonesia, atau bahasa daerah: Madura, Jawa, Osing. Krimkan puisi Anda ke alamat: puisi_jatim@yahoo.co.id --selambatnya kami tunggu hingga 20 September 2010.

Sedih dan Gembira


April adalah bulan yang selalu saja mengingatkan kita kepada perempuan hebat bernama Kartini. Ia adalah lambang perlawanan terhadap ketertinggalan dan penindasan atas perempuan. Karena itulah ia dijuluki pahlawan emansipasi perempuan.

Kini kita membayangkan, andai saja Ibu Kartini masih berada di tengah-tengah kita, ia akan menangis sejadi-jadinya melihat kaumnya masih saja dipinggirkan, masih saja harus terpelanting dari negri yang dicintainya, untuk menegakkan kehidupannya. Sudah begitu, masih dapat perlakuan kurang baik pula. Masih dicitrakan sebagai warga negara kelas sekian pula. Padahal, sekian banyak warga lain ikut (lebih) menikmati cucuran keringat, airmata, dan bahkan darah mereka!

Apalagi jika sampai dengar kabar mengenai bergelimpangannya BMI korban penipuan orang-orang jahat. Dan notabene, pelaku kejahatan itu sebagian besar adalah: laki-laki. Kaum perempuan adalah kaum ibu. Dari merekalah generasi penerus bangsa dilahirkan. Kalau ada pepatah mengatakan ibu adalah bumi, dan laki-laki adalah langit, seharusnyalah tidak dimaknai bahwa langit lebih tinggi daripada bumi dan karenanya lebih mulia. Langit dan bumi adalah pasangan, yang satunya tidaklah lebih tinggi dan lebih mulia daripada lainnya. Bumi menumbuhkan segala macam flora, hal yang tak bisa dilakukan oleh langit. Dan langit menurunkan hujan, hal yang tidak dilakukan oleh bumi. Karena itulah, pertentangan mana lebih mulia: laki-laki atau perempuan, hanyalah urusan orang-orang cupet nalar (pikiran sempit). Yang pasti, kalau ada kaum atau bangsa yang menistakan perempuannya, niscaya bangsa itu sedang berada di bibir jurang kehancurannya sendiri. Dan tangis Ibu Kartini akan semakin menjadi-jadi.

Tetapi, ada kabar lain yang bisa membuat Ibu Kartini trersenyum bangga. Banyak BMI-HK yang gigih menuntut ilmu sambil banting-tulang mengais rezeki di Negeri Beton ini. Ada yang ambil kursus, ada yang ambil diploma, ada pula yang rajin ke perpustakaan, dan kemudian menuliskan buah pikirannya. Ibu Kartini pasti tersenyum bangga. Dan akan mengelus dengan penuh kasih setiap kaumnya yang tak kenal putus asa memerjuangkan hak-haknya sebagai manusia, melawan siapa pun yang merendahkan atau bahkan menistakan perempuan.

Apalagi bila dengar rencana kawan-kawan akan menyelenggarakan Festival Sastra Buruh Migran. Ibu Kartini pasti bertambah bangga lagi. Bukan hanya di dalam perasaan, tetapi pastilah disertai tindakan. Beliau akan segera menghubungi Ketua Panitianya, dan meminta agar beliau diberi kesempatan untuk membuka acara yang sangat bergengsi itu. Beliau putri seorang bupati, pasti tidak akan terlalu susah untuk mendapatkan tiket pesawat kelas eksekutif sekalipun.

Maka, jika kelak Festival Sastra Buruh Migran jadi digelar di HK, kalau tidak dibuka Presiden atau Menakertrans, atau Menteri Pemberdayaan Perempuan, biarlah dibuka Ibu Kita Kartini!*

Forum Kebudayaan Indonesia

Teman2 yang Peduli Budaya

Salam Budaya,

Kami informasikan bahwa pada Sarasehan Budaya 2008 tgl. 5 Juli 2008 dengan Tema Menggalang Potensi Budaya Bangsa, yang diselenggarakan di Studio-B RRI jakarta dan disiarkan secara Langsung oleh RRI, telah berlangsung dengan sukses. hadir antara lain Menteri PAN Bapak Taufik Effendi, Dirjen Potensi Pertahanan Budi Susilo Supandji, Adang Dorodjatun, Edi Sedyawati, Ridwan Saidi, Eri Riana Hardja Pamekas dan T. Boedianta. Sarasehean dipandu oleh Dirut RRI Parni Hardi.



Pada akhir sarasehan ditandatangani Deklarasi Pembentukan 'Forum Kebudayaan Indonesia' oleh 34 orang yang mewakili budayawan, penggiat budaya dan wakil-wakil berbagai organisasi budaya. Organisasi ini tidak akan menghilangkan peran dan identitas masing-masing organisasi, tapi lebih merupakan semacam forum komunikasi. Diharapkan teman-teman yang peduli budaya dan atau mewakili organisasi berbagai unsur budaya dapat ikut meratifikasi DEKLARASI ini agar lebih solid.

Rapat pertama Forum telah dilaksanakan pada tanggal 16 Juli 2008, membahas Draft Blueprint "Restorasi Budaya Bangsa'. sengaja dilih kata 'restorasi', karena kita pernah jaya di jaman Sriwijaya dan Majapahit, sehingga diharapkan dapat me-restore nilai-nilai luhur bangsa kita di masa lalu. Alamat Sekretariat Forum Kebudayaan Indonesia adalah Menara Batavia, Lantai 25, Jln. KH Mas mansur Kav 126, Jakarta 10220, atau email pedulibudaya@ gmail.com. Jakarta. Selanjutnya, Forum Kebudayaan Indonesia akan menyelenggarakan Sarasehan Budaya bulanan dengan mengangkat tema-tema budaya yang aktual, kulminasinya akan diselenggarakan semacam Konggres pada bulan Oktober 2008 bertempat di Borobudur, Magelang.

jakarta, 18 Juli 2008

Luluk Sumiarso

Guru Guru Kab Bojonegoro Berguru kepada Mantan BMI-HK


Dewan Pendidikan Kabupaten Bojonegoro mengundang Eni Kusuma penulis buku Anda Luar Biasa!!! untuk memotivasi para guru di wilayah tersebut. Acaranya akan digelar 20 April 2008.


Eni Kusuma, selain menyiapkan senuah buku kumpulan cerpen, buku baru setelah ALB-nya kini sudah terbit pula, judulnya, Good Housekeeping.[]

Bedah Novel Sejarah Sosial Politik ’’Bulan Jingga di Kepala’’

Novel sejarah sosial politik “Bulan Jingga dalam Kepala” karya pemikir muda Fadjrul Rachman akan dibedah Halim HD, M Shoim Anwar bersama pengarangnya tgl 13 Maret 2008 di Toko Buku Togamas Jl Diponegoro Surabaya. Mulai pukul 19.00. Silkan hadir. Gratis, lho.

[Sumber: SMS dari Bung Halim] dan berikut ini sebuah resensi atas buku tersebut…



Bulan Jingga dalam Kepala (bagian pertama)

Judul : Bulan Jingga dalam Kepala
Penulis : M. Fadjroel Rachman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2007
Tebal : 425 hlm

Setelah malang melintang di hiruk pikuknya dunia mahasiswa di era 80-an, bersastra sambil berpolitik di kampus, dikejar-kejar tentara, dianggap sebagai orang yang berbahaya, dan akhirnya dipenjarakan oleh Pemerintah Orde Baru karena dianggap sebagai otak aksi mahasiswa yang menuntut Soeharto turun dari kursi kepresidenannya dalam aksi 5 Agustus 1989 . Kini M Fadjroel Rachman yang masih konsisten mengkritisi pemerintah melalui tulisan-tulisannya di media masa dan puisi-puisi perjuangannya membuat sebuah novel sejarah politik Indonesia dan dunia kontemporer dengan kehidupan tokoh utamanya yang mirip dengan pengalaman hidupnya.

Novel perdana Fadjroel yang diberinya judul Bulan Jingga dalam Kepala ini diawali dengan kisah Surianata saat menghadapi kematian di hadapan regu tembak di kawasan Tangkuban Perahu Lembang. Lalu kisah Surianata mundur ke belakang, tujuh tahun sebelum ia dihukum mati. Surianata masih kuliah di ITB. Ia bersama kawan-kawannya aktif berdiskusi dalam sebuah kelompok rahasia yang dinamai Lingkar Sokrates yang senantiasa mengevaluasi kondisi ekonomi, sosial, dan politik mutakhir, tak hanya itu saja mereka juga berlatih membela diri, dan menyiapkan diri dengan gagasan radikal perubahan sosial.

Dalam novel ini dikisahkan Indonesia berada dibawah kekuasaan otoriter Jendral Suprawiro yang dengan kekuasaannya telah menculik, membunuh, mencuri harta rakyat dan memenjarkan orang seenaknya terutama para aktivis politik dan mahasiswa yang menentang pemerintahannya.

Melihat keadaan negerinya yang semakin parah, akhirnya Surianata dan kawan-kawannya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa Jendral Suprawiro dan rezim fasisnya harus digulingkan!. Untuk itu mereka menggalang kerjasama dengan kampus-kampus lain untuk melakukan aksi demo dengan tujuan menurunkan Jenderal Suprawiro dari tahtanya.

Setelah selama setahun melakukan berbagai demonstrasi, akhirnya aksi mahasiswa mencapai puncaknya ketika beberapa mahasiswa tewas ditembak ketika melakukan aksi demo. Inilah momentum sejarah yang mengetuk pintu para mahasiswa termasuk Surianata untuk melakukan aksi yang lebih besar lagi. Kali ini dengan lokasi tepat di simbol kekuasaan negara, Istana Merdeka!

Istana Merdeka segera dikepung seratusan ribu mahasiswa. Tentara dan polisi tak kuasa menahan amuk massa yang marah terhadap pemimpinnya. Presiden dan keluarganya terkepung di Istana Merdeka. Surinata dan kawan-kawannya menerebos ke ruang Istana Merdeka. Ia berhadapan langsung dengan Jenderal Suprawiro. Pistol dengan pistol saling teracung, baku tembak terjadi hingga akhirnya menewaskan Jenderal Suprawiro, malangnya Bulan Pratiwi (5 thn) putri Jendral Suprawiro tertembak juga secara tidak sengaja oleh Surianata.

Kematian Jenderal Suprawiro disambut sorak massa yang mengepung Istana Merdeka. Sang Presiden yang telah tewas digantung terbalik seperti pemimpin fasis Italia, Benito Mussolini. Mahasiswa menjadi pahlawan. Sayang ternyata para mahasiswa tak siap dengan langkah selajutnya, situasi menjadi chaos, Jakara dilanda amuk masa. Pemerintahan beralih ke kekuasaan para Jenderal yang dulu merupakan kaki tangan Jenderal Suprawiro. Surianata diadili dan djijatuhi hukuman mati karena telah membunuh Presiden dan putrinya. !

Surianata memang puas telah membunuh Jenderal Suprawiro, namun batinnya menangis dan tak tenang karena secara tak sengaja ia telah membunuh Bulan Pratiwi yang tak berdosa. Berkali-kali Surianata membatin bahwa pembunuhan yang ia lakukan membuat jiwanya seperti lepra yang membusuk. Pertempuran dunia batin inilah yang selalu 'mengganggu' Surianata dalam penjara hingga detik-detik terakhir hidupnya berakhir.

Fiksi dengan aroma sejarah, politik, yang juga melukiskan hiruk pikuk gerakan mahasiswa Indonesia dalam menumbangkan rezim fasis inilah yang diangkat dengan gamblang oleh Fadjorel. Dalam novel ini juga terlihat secara jelas bagaimana adanya penghianatan dalam gerakan mahasiswa dan bagaimana pula intrik-intrik politik para jenderal yang menggunakan aksi mahasiswa untuk membawa mereka pada puncak kekuasaan tertiinggi. Dan bagaimana juga akhirnya jika kekerasan dipergunakan untuk menumbangkan sebuah rezim.

Dalam novel ini Fadjroel bertutur secara mengesankan, ia tak ragu menggunakan kalimat-kalimat puitis dalam mendeskripsikan sesuatu. Hal ini menjadi paradoks yang mengasyikan karena menggabungkan gemulainya sastra dengan kerasnya dunia politik dan kehidupan Surianata dalam penjara. Penggunaan kalimat-kalimat puitisnya tersaji secara pas karena Fadjroel mengetahui kapan ia harus berlarik-larik dengan kalimat puitis dan kapan ia harus mempercepat tempo kisahnya.

Beberapa kotbah politik dan sejarah dari para tokoh-tokohnya terselip dalam porsi yang cukup banyak dalam novel ini. Di novel ini pengetahuan penulis tentang filsafat, sosiologi, politik tumpah ruah didalamnya, selain itu diwarnai pula dengan taburan nama-nama pembuat sejarah. Termasuk kisah penyaliban Yesus Kristus yang cukup banyak disinggung di novel ini. Namun Fadjorel bukan menulisnya menurut sudut pandang iman, melainkan dari sisi "kebiadaban dunia" atas apa yang dilakukan terhadap Yesus.
Masih banyak hal-hal yang menarik dalam novel ini, seperti kerasnya kehidupan di penjara dimana sadisme dan perilaku seks menyimpang selalu membayang-bayangi mereka yang hidup di penjara. Setting ITB, UI, Kuil Yasukumi Tokyo, Kamp Nazi Sachhensuen dan Holocoust Memorial Berlin juga turut mewarnai novel ini. Lalu ada pula sedikit taburan kisah cinta antara Surianata dan Bunga Langit yang tak cengeng dan tetap rasional ditengah perjuangan mereka.

Di tengah segala hal yang menarik dalam novel ini, satu hal yang berpotensi menggundang pertanyaan di benak pembacanya yaitu soal setting waktunya. Fadjorel sama sekali tak menulis angka tahun dalam kisahnya. Novel ini hanya menyebutkan kejadian di tahun X. Berbagai peristiwa sejarah dan situasi politik riil dan beberapa nama-nama asli tokoh-tokoh pembuat sejarah muncul dalam novel ini, namun ia tak memaparkannya sesuai dengan kronologis waktunya. Berbagai peristiwa sejarah yang kejadiannya berlainan tahun bisa saja terjadi dalam satu periode waktu.

Contohnya ketika Surianata dalam penjara disebutkan bahwa Xanana Gusmao masih berada di LP Cipinang dan Timor Leste belum merdeka. Namun ketika itu pula Surianata meminta kawan-kawannya untuk membawakan novel Tin Drum karya Gunter Grass karena ia ingin membaca novel tersebut setelah Grass mengaku dirinya sebagai anggota pasukan SS Hitler. Hal yang tidak sesuai dengan kronologis waktu rill karena sejatinya Grass mengaku bahwa dirinya anggota SS di tahun 2006, dan ketika itu Timor Leste telah merdeka dan Xanana telah menjadi presiden.

Ketika hal ini saya tanyakan langsung pada Fadjroel, ia menjawab melalui emailnya bahwa ia memang tidak membuat kronologi sejarah politik pada novel ini. Ia hanya tertarik pada peristiwa politik lalu memberi makna atas peristiwa tersebut. Menurutnya novel ini memang tidak dimaksudkan membuat kronologi sejarah. Ia hanya melihat makna peristiwa-peristiwa lalu disambungkan menjadi makna baru.

Dalam kreatifitas menulis fiksi hal seperti diatas sah-sah saja dilakukan. Hanya saja, tanpa penjelasan dari penulisnya hal ini berpotensi menimbulkan kejanggalan bagi pembacanya yang umumnya terbiasa dengan fiksi sejarah berdasarkan kronologis waktunya seperti tetralogi Pramoedya atau novel sejarah seri Gajah Mada karya Langit Kresna H, dll

Yang kedua, ketika Istana Merdeka dikepung masa kenapa pula Jendral Suprawiro tak dievakuasi oleh paspampres, bukankah kedatangan masa bisa diprediksi dan bukankah aturan pengamanan kepala negara seharusnya telah melakukan evakuasi bagi kepala negara dan keluarganya dari istana ketika keadaan menggenting?

Yang ketiga, surat terakhir Surianata kepada kedua orangtuanya penuh dengan kotbah politik, ah rasanya hal ini terlalu berlebihan, bukankah surat kepada orang tua biasanya lebih personal ?. Bagi saya surat seperti yang ditulis Surianata tampaknya lebih cocok ditujukan kepada kawan-kawan seperjuangannya untuk terus membakar semangat mereka.

Ditengah segala kelebihan dan kekurangannya, novel sejarah politik yang penuh liku, padat, mengungkap kemarahan, kekayaan alam fikir dan batin seorang Fadjroel ini layak diapresiasi oleh mereka yang ingin mengetahui lebih banyak sepak terjang pergerakan dan pola pikir ideal mahasiswa dalam memperjuangkan kebebasan politik. Walau berupa fiksi, tak belebihan jika dikatakan bahwa novel ini dapat dijadikan kisah pembelajaran bagaimana seharusnya para pejuang demokrasi harus berpikir dan bersikap agar apa yang dicita-citakannya dapat terwujud dengan baik.

Selain itu novel ini juga berbicara perjuangan manusia meraih kebebasan, melawan sifat kebinatangan penguasa yang selalu ada sejak zaman dahulu kala. Kebinatangan yang tak akan pernah hilang selamanya dan akan terus membayangi akal budi kita. Seperti bulan yang bersembunyi dalam terang matahari, lalu berkuasa penuh di tengah gelap. Selalu berulang hingga kiamat. Itulah bulan jingga dalam kepala manusia.

@h_tanzil
salam,
h_tanzil

dari gramedia online

PAMERAN FOTO BMI LAGI: KALI INI DI STADION KANJURUHAN, MALANG


PAMERAN foto bertajuk Hong Kong dan BMI Kita akan digelar lagi. Kali ini FBBMI bekerja sama dengan Pemkab Malang. Waktu sudah dipilih, antara tanggal 10 - 15 Maret ini Mendadak banget, ya? Soalnya, sekalian dibarengkan dengan acara Pameran Bunga. Ehe, MAlang kan kota (baca: kabupaten) bunga juga!


TEMPATnya pun sudah ditentukan, di Stadion KAnjuruhan, Kepanjen, MAlang. Tania Roos, mantan BMI-HK yang sukses melobi Pemkab Malang baru memberikan kepastian tanggal dan tempat itu kemarin, melalui telepon, setelah pekan yang lalu saya dan PAk Kuswinarto mengantarkan proposalnya.

Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya ini, maka, kami harus menyiapkan materi fotonya. Selain foto-foto yang sudah dipamerkan di Surabaya, Jember, Trenggalek, Tulungagung, Tangerang, ad lagi tambahan materi dari SBMI Jatim, berkat kebaikan Mas Cholili.

Seperti biasanya, selain pamer foto, akan digelar pula diskusi dan pembacaan cerpen/puisi. Tania sendiri diharap akan tampil sebagai pembaca cerpen sekaligus menjadi salah seorang narasumber untuk diskusinya, selain, katanya, 2 atau tiga orang dari lingkungan Pemkab Kabupaten Malang telah pula menyatakan kesediaannya untuk menjadi narasumber.

Akhirnya, kami mohon doa restu, semoga pamerannya lancar, dan diskusinya pun gayeng.