Kartini Kini Kesrimpet Jarik

Dan apalah artinya perayaan Hari Kartini tanpa
mengetahui pemikiran-pemikirannya?

Dari tahun ketahun peringatan Kartini adalah sama. Yaitu wanita memakai kebaya dan jarik sedangkan yang laki-laki memakai blangkon dan beskap atau setidaknya baju batik dengan celana panjang warna gelap. Betapa membosankan, itu menurutku.



Selain dengan ditandainya pakaian adat yang njawani(menujukkan ke-jawa-annya) juga diadakan lomba-lomba seperti peragaan busana, merias, merancang busana, dan lainnya yang intinya adalah menunjukkan kemampuan kewanitaan.

Paduan suara juga kerap kita dengar melantunkan lagu Ibu Kita Kartini karangan WR Supratman. Lagu yang seharusnya ada tiga bait itu terpaksa dipotong hanya satu bait saja untuk dinyanyikan. Alasannya? Mungkin untuk menyingkat waktu atau mungkin karena bait pertama saja yang lebih mengena. Tapi akan ironis sekali kalau dikatakan dengan sejujurnya bahwa mereka(yang menyanyi itu ataupun Anda yang sedang membaca artikel ini) tidak hafal atau bahkan tidak mengetahui akan bait kedua dan ketiga dari lagu tersebut.

Terlebih kalau diadakan pertanyaan massal tentang segala hal yang menyangkut ke-Kartinian, tentang tanggal lahir atau nama bapa/ibunya, tentang pemikiran-pemikiran hebatnya seperti yang terangkum dalam “Door Duisternis Tot Licht” yang disusun oleh JH Abendanon yang kemudian diterjemahkan oleh Balai Pustaka, Armijn Pane yang lebih kita kenal dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang. Adakah yang bisa menjawab dengan benar? Atau adakah yang bisa menjawabnya? Buku terkenal itu lho!!?? Ironis, tragis sekali khan? Berarti kekaguman itu atas dasar apa ya??? Lha wong ditanyai tentang itu aja ga bisa jawab. Jarik dan gelungan yang dipakai mereka itu atas dasar apa? Sebagai trend setter sehari mengingat Kartini dulu selalu berkebaya dan berjarik ataukah hanya karena ingin tampil ayu dan medoki(terlihat kefemininannya) atau acara seremonial saja? Wah lha nek kayak gitu, mending saya katakan pada Kartini buat pake kaos singlet plus rok mini saja. Ups, mungkin cara penilaian saya salah, ya....semoga saja.

Kartini yang katanya simbah saya yaitu mbah Pramudya Ananta Toer(karena sama-sama dari Blora-nya, hehehe...) lewat Panggil Aku Kartini Saja adalah sosok yang mempunyai pemikiran-pemikiran luhur yaitu mensetarakan kedudukan pria dan wanita ini adalah anak bupati. Dan itu juga yang menjadi ganjalan dihati saya. ANAK BUPATI !! Ya, bukankah kita telah terbiasa dengan melihat siapa yang ngomong bukan apa yang diomongkan? Dan kalau yang ngomong adalah anak bupati, ya tentu saja...sekali lagi anak bupati je!! Bukankah sesiapapun bisa memiliki pemikiran-pemikiran serupa?? Dalam hal ini Rie pribadi lebih cenderung untuk mengagumi Nyai Ontosoroh seperti dalam novelnya mbah Pramudya AT ataupun mbak Eni Kusuma seorang mantan TKW yang berhasil menjadi penulis hebat itu.

Jelasnya bagi saya, dan masih dalam versi saya, perayaan Kartini seharusnya adalah perayaan kebangkitan wanita, sebagai tonggak atas munculnya pemikiran-pemikiran dan kesadaran dari wanita Indonesia untuk mensetarakan dirinya dengan laki-laki. Pemikiran-pemikiran yang menjadi arus besar yang membawa gelombang jaman dengan semangat jaman bukan menoleh pada peradaban beku yang berkebudayaan masa lalu.

Wanita Indonesia yang menjadi pahlawan adalah wanita(siapapun dia) yang bisa membawa bangsanya ataupun sesiapa pada peradaban dunia yang lebih maju bukan dikekang demi sebuah arus kebodohan atau keuntungan politik.

Kepada pahlawan Indonesia saya ucapkan selamat merayakan hari Kebangkitan Wanita!!

dikopipaste dari cewek blora

0 tanggapan: