Naik Garuda Gratis karena Tulisan


Beberapa waktu lalu (08/02/06) Tarini Sorrita (34), salah seorang anggota Cafe de Kossta, pulang kampung (Cirebon, Jawa Barat). Kesempatan cuti itu sekaligus dimanfaatkan Rini --begitulah sapaan akrap ibu seorang gadis 11 tahun ini—untuk meluncurkan buku cerpen-nya, Penari Naga Kecil (PNK). Acara peluncuran buku cerpen itu menyusul kesuksesan pentas sastra buruh migran yang sebelumnya telah beberapa kali digelar di Surabaya, Blitar, Jogjakarta, Wonosobo, Jember, bersama para penulis: Denok Rokhmatika, Etik Juwita, Maria Bo Niok, Winna Karni, Tania Roos.



Menjelang tengah malam yang dingin pada tanggal 10, Rini bertolak dari Cirebon ke Jogjakarta bersama ayah, ibu, dan putri tunggalnya, Wati Suhartini (11).

Siang harinya, saya datang dan segera bergabung dengan mereka yang sudah beristirahat bersama panitia: Maria Bo Niok yang kemudian jadi moderator acara dan Mr Gunkid. Bahkan cuci muka pun belum sempat, Maria sudah mengajak pergi ke Sekolah PRT (Pekerja Rumah Tangga) yang didirikan oleh Serikat Pekerja Rumah Tangga Jogjakarta. Bertemu para siswa dan aktivis SPRT itu sungguh menyenangkan.

Sore, kami berempat langsung menuju Toko Buku Togamas di Jl Gejayan, tempat diskusi dan peluncuran buku PNK. Lepas magrib salah seorang panitia yang ditugasi menjemput orangtua dan anak Rini datang di tempat acara.

Cuaca Jogjakarta sedang sangat bersahabat. Tamu berdatangan. Ada aktivis LSM, ada mahasiswa, ada penulis. Tak kepalang tanggung, pengarang trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari, dan pengamat sastra M Nurrahmat yang Kepala SMU 8 Jogjakarta diundang sebagai pembicara. Mereka pun sudah siap di tempat beberapa lama sebelum waktu yang ditentukan. Banyak pula rekan-rekan pers yang datang meliput. Ada dari Kompas, Gatra, Kedaulatan Rakyat, dan lain-lain, dan bahkan ada pula wartawan TVRI yang datang bersama jurukameranya. Penyair dan akademisi sastra Prof Dr Rachmat Djoko Pradopo pun hadir dan memberikan ucapan selamat secara khusus kepada Rini.

Para anggota SPRT Jogja, seorang di antara mereka didapuk membacakan salah satu cerpen karya Tarini dan seorang yang lain lagi membacakan puisi karya mereka sendiri, telah siap jauh waktu.
Acara berjalan lancar dan menarik. Semua komentar bernada dukungan dan menyemangati Rini. Setelah memberikan beberapa catatan, bahkan, M. Nurrahmat mengatakan, ’’Saya acungkan dua jempol untuk Mbak Rini!’’

Pesan Ahmad Tohari buat Rini, lebih-kurang begini, ’’Mbak Rini, salah satu kunci sukses seorang penulis itu ialah jangan pernah merasa jadi atau mencapai puncak sebagai penulis. Sebab, begitu perasaan itu timbul, tamatlah riwayat kita!’’

Tanggal 13 Februai, malam, Rini sudah berada di Surabaya, tepatnya di Gedung Cak Durasim, Kompleks Taman Budaya Jawa Timur, Jl Gentengkali 85 Surabaya dalam acara yang sama, diskusi dan pembacaan cerpennya. Didapuk sebagai pembahas adalah sastrawan Beni Setia (Madiun) dan Dra Emy Susanti, Msi, Ketua Pusat Studi Wanita Universitas Airlangga.

Acara yang juga dimeriahkan dengan kedatangan ratusan siswa SMU Trimurti Surabaya bersama guru bahasa Indonesia mereka, Ibu Ndari, diawali sambutan Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur, Dr. Setya Yuwana Sudikan, dan Kepala Taman Budaya Jawa Timur, Drs. Pribadi Agus Santosa, Msi.

Kata Beni, mengambil salah satu cerpen Rini sebagai acuan, Rini adalah tipe pekerja rumah tangga yang benar-benar profesional, bahkan telah memiliki kuatan yang bisa dibilang luar biasa yang memungkinkan ia berani dan bisa jothakan alias diam-diaman dengan Sang Majikan. ’’Lihatlah ini,’’ kata Beni sambil menunjuk sebuah gambar di dalam buku Penari Naga Kecil, ’’Rini bisa diam-diaman dengan majikannya, dan hanya berkomunikasi dengan tulisan pada secarik kertas!’’

Sementara itu, Emy menilai bahwa Rini bisa menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan di antara kita tidak perlu menibulkan masalah. ’’Rini bisa bersahabat dengan orang-orang dari negara mana saja tanpa masalah, seperti terlihat pada cerpennya Ular Putih, Ular Coklat, Ular Hitam!’’

Ada yang jauh lebih menarik daripada cerpen-cerpen Rini di dalam bukunya itu, yakni cerita tentang pengalaman Rini dengan Terminal III Bandara Soekarno-Hatta – kemudian Rini bertutur mengenai kejengkelannya saat harus mampir di Terminal Tiga. [b]

0 tanggapan: