Bongkar Human Trafficking di Tulungagung [2]

Pria Bayar Rp 8 Juta, Wanita Potong Gaji


Para korban trafficking bersedia pergi ke Malaysia karena diiming-iming pekerjaan dan gaji tinggi oleh Tomo Cs. Namun, mereka tak tahu kalau PJTKI yang akan memberangkatkannya adalah fiktif. Mereka pun mengaku telah menyerahkan uang adiministrasi, bahkan setelah bekerja di luar negeri gajinya akan dipotong.



Berdasar informasi yang dihimpun Radar Tulungagung, besarnya uang yang dibayar masing-masing korban tidak sama. Ada yang cuma Rp 750 ribu, hingga Rp 8 juta. Tapi ada juga yang tidak membayar sepeser pun. Yang tak bayar ini dialami oleh semua korban wanita. Mereka hanya dikenai sistem potong gaji kalau sudah bekerja.

Itu berbeda dengan calon TKI laki-laki yang masih juga dikenai membayar biaya dengan kisaran di atas. "Kami dikenai potong gaji selama lima bulan," tutur Priadi, 25, salah satu korban asal Ponorogo.

Dalam kejadian itu Priadi mengaku telah membayar uang Rp 1 juta. Selama ini Priadi memang ngebet bisa merantau ke Malaysia dengan mencari ringgit untuk mengubah nasibnya agar lebih baik. Ungkapan hampir senada juga disampaikan beberapa korban lain seperti Maimunah, Suliha dan Darmi. Mereka menuturkan tertarik dengan promosi yang ditawarkan oleh PL (semacam tenaga perekrut lapangan PJTKI) karena proses dan biayanya yang relatif mudah serta efisien.

Berbagai dokumen penting seperti KTP, KK dan akta kelahiran juga telah diberikan. "Kami sama sekali tidak tahu jika dokumen kami tidak digunakan. Apalagi diganti palsu," tutur Maimunah dengan nada menyesal. Kebanyakan korban merasa malu dengan kejadian tersebut. Bahkan tidak sedikit yang mengaku kapok. Tidak ingin melanjutkan keinginan mereka mencari ringgit ke negeri Jiran. "Lain kali kalau tidak benar-benar resmi saya tidak mau. Kami benar-benar merasa dirugikan serta malu dengan kejadian ini," ujar Maimunah.

Anehnya, meski sebagian korban mengaku telah menyetor uang hingga jutaan rupiah, tersangka Tomo justru mengatakan sebaliknya. Di hadapan polisi dia mengaku hanya mematok bayaran Rp 550 ribu dari para korban yang disebutnya sebagai calon TKI. Berkurangnya nilai pembayaran itu diduga karena permainan para PL yang bertugas melakukan perekrutan di lapangan. Tomo juga menolak disebut sebagai pemilik PJTKI fiktif. "Saya cuma membuatkan dokumen palsu ini lho Pak. Itu pun baru dua bulan ini berjalan," kilahnya. (des/cam)

Dikopipaste dari Jawa Pos Radar Tulungagung, Jumat, 29 Feb 2008

0 tanggapan: