Le Clezio, Suara bagi Si Lemah


Siapakah sejatinya seorang sastrawan? Di mata Jean-Marie Gustave Le Clézio (68), peraih Hadiah Nobel Sastra 2008, sastrawan, secara khusus novelis, bukanlah filsuf, bukan pula teknisi bahasa tutur. ”Dia adalah seseorang yang menulis, tentu saja, dan melalui novel dia bertanya,” katanya.


Pandangan itulah yang membawa Le Clézio menekuni dunia sastra sepanjang hidupnya. Sejak masih belia, usia 8 tahun, Le Clézio sudah menulis. Hingga kini, lebih dari 50 novel, esai, cerita pendek, telah lahir dari tangannya.

Konsistensi Le Clézio membuahkan Hadiah Nobel Sastra 2008 yang diumumkan oleh Svenska Akademien (Akademi Swedia) pada 10 Oktober lalu di Stockholm. Saat mengumumkan penghargaan itu, Horace Engdahl, Sekretaris Tetap Akademi Swedia, menyebut Le Clézio sebagai ”pengarang angkatan baru dengan petualangan puitis dan ekstasi sensual, serta penjelajah kemanusiaan di luar kekuasaan peradaban.”

Engdahl juga menggambarkan Le Clézio sebagai seorang pengarang kosmopolitan, seorang musafir, seorang warga dunia, dan seorang nomaden.

”Dia tidak secara khusus seorang penulis Perancis, kalau Anda melihat dia dari pandangan kultural. Dia melampaui berbagai fase berbeda dalam perkembangannya sebagai penulis dan telah melibatkan peradaban lain, juga cara hidup lain, dalam karyanya,” ujar Engdahl, seperti dikutip The New York Times.

”Saya senang dan sangat terharu karena tidak mengira sama sekali. Ini kehormatan besar. Saya tidak percaya, kemudian merasa kagum, dan akhirnya merasa gembira,” kata Le Clézio kepada wartawan dalam konferensi pers di Paris, seusai namanya diumumkan sebagai penerima Hadiah Nobel Sastra 2008.

Kendati tidak dikenal di Amerika Serikat, Le Clézio dipandang sebagai figur besar dalam kesusastraan Eropa. Lahir di Nice, Perancis, 13 April 1940, dia enggan mengidentifikasi dirinya secara kaku sebagai seorang Perancis.

”Saya memulai di Perancis, tetapi ayah saya seorang warga negara Inggris yang lahir di Mauritius. Jadi, saya memandang diri saya sebagai sebuah campuran, seperti banyak orang di Eropa sekarang ini,” tuturnya seperti dikutip The Guardian.

Le Clézio adalah penulis Perancis pertama yang menerima Hadiah Nobel Sastra sejak penulis keturunan Perancis-China, Gao Xinjiang, menerima penghargaan prestisius itu tahun 2000. Selain menulis dalam bahasa Perancis, Le Clézio juga menulis dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Swedia.

Evolusi

Debut Le Clézio di dunia sastra adalah novel berjudul Le Procès-Verbal (1963), diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Interrogation (1964). Novel ini langsung menyedot perhatian dibandingkan dengan karya Jean-Paul Sartre, Nausea, dan karya Albert Camus, The Outsider.

Novel yang berkisah tentang seorang laki-laki muda yang berakhir di rumah sakit jiwa itu memenangi penghargaan Prix Renaudot. Novel itu pula yang memperkenalkan keasyikan utama Le Clézio, yaitu pelarian dari norma ke dalam cara pikir yang ekstrem.

Le Procès-Verbal segera disusul serangkaian karya lain yang menggambarkan situasi krisis, termasuk kumpulan cerita pendek La Fièvre (1965) dan Le Déluge (1966). Kisah-kisah di dalamnya menuturkan tentang kesulitan dan ketakutan yang menghantui kota-kota besar di Barat.

Gaya bertutur Le Clézio kemudian berevolusi dalam karya- karya berikutnya, menjadi lebih liris. Ia berbicara banyak soal lingkungan. Itu terlihat dari karya semisal Terra Amata (1967), Le Livre des Fuites (1969), La Guerre (1970), dan Les Géants (1973).

Terobosan besar Le Clézio sebagai novelis adalah Désert (1980). Novel ini berkisah tentang kebudayaan yang hilang di gurun Afrika Utara, dan dikontraskan dengan Eropa yang dilihat melalui kacamata seorang imigran. Lalla, sang tokoh utama, adalah pekerja asal Aljazair yang menjadi antitesis utopis atas keburukan dan kebrutalan masyarakat Eropa. Désert meraih penghargaan Grand Prix Paul Morand yang dianugerahkan Académie Française.

Faktor yang menentukan karya-karya Le Clézio adalah waktu yang dihabiskannya di berbagai belahan dunia. Ketika berusia delapan tahun, keluarganya pindah ke Nigeria di mana ayahnya bertugas sebagai dokter bedah di angkatan bersenjata Inggris. Ia menuntut ilmu di Inggris dan Perancis, kemudian bekerja sebagai guru di Amerika Serikat.

Tahun 1967 Le Clézio ditugaskan ke Thailand untuk tugas militer. Oleh karena protes menentang prostitusi anak, dia dipindahkan ke Meksiko. Tahun 1970-1974 dia tinggal bersama suku Indian Embera di Panama. Dari tempat itu, dia menghasilkan Haï dan Voyage de l’autre Côté. Ia juga menerjemahkan beberapa karya besar tradisi Indian, seperti Les Prophéties du Chilam Balam.

Tahun 1975 Le Clézio bertemu istrinya, Jemima, seorang Maroko. Berdua, mereka membagi waktu antara Nice, Mauritius, dan Albuquerque di New Mexico sejak tahun 1990.

Suara ”underdog”

Mendekati era 1990-an, karyanya bergerak ke arah eksplorasi dunia dan sejarah keluarga. Perkembangan itu dimulai dengan novel Onitsha (1991) yang dilanjutkan dengan La Quarantaine (1995). Pergerakan itu berpuncak pada Révolution (2003) dan L’Africain (2004). Révolution menyimpulkan tema paling penting dari karya-karyanya, yaitu kenangan, pembuangan, reorientasi masa muda, dan konflik budaya.

Karya Le Clézio yang terhitung baru adalah Ballaciner (2007), sebuah esai personal tentang sejarah seni film dan pentingnya film dalam kehidupan dia. Karya terbarunya, Ritournelle de la Faim, baru saja diterbitkan.

”Ada dua fase dalam karier Le Clézio,” kata Adrian Tahourdin, editor Times Literary Supplement. ”Ada karya awal yang eksperimental hingga pertengahan 1970-an, kemudian beralih ke dalam gaya yang lebih liris, naratif tradisional, dan mulai mengeksplorasi budaya lebih banyak,” ujarnya.

Alison Anderson, salah satu penerjemah karya Le Clézio ke dalam bahasa Inggris, menyebut Le Clézio sebagai pendukung kaum underdog, orang yang tidak memiliki suara sendiri.

”Dia adalah suara mereka,” ujar Anderson.

”Saya kira Komite Nobel telah membuat pilihan bagi suara kasih sayang dan empati, yang tidak perlu sesuai dengan mode paling mutakhir, tetapi sangat penting,” tuturnya.

Le Clézio yang tidak menyangka akan mendapat penghargaan Nobel Sastra hanya mengatakan, ”Saya merasa menjadi bagian kecil dari planet ini. Sastra memungkinkan saya untuk mengekspresikannya.”

Lalu, apa yang dia inginkan setelah menerima penghargaan bergengsi itu?

”Pesan saya jelas, kita harus terus membaca novel karena novel adalah sarana bagus untuk mempertanyakan dunia saat ini, tanpa mendapat jawaban yang terlalu sistematis, terlalu otomatis,” ujar Le Clézio. (FRO)

Kompas, Selasa, 21 Oktober 2008 | 00:59 WIB

0 tanggapan: