Ketika Pembantu Rumah Tangga Menjadi Keniscayaan

Oleh H. Ainur Roziq AR
Pengabdi di Departemen Agama Kab. Sidoarjo

"Dalam nuraninya, PRT tentu tidak ingin selamanya menjadi PRT. Mereka tentu ingin suatu saat bisa mencukupi kebutuhan keluarganya tidak dengan "membantu" orang lain. Karena itu, adalah perbuatan mulia jika kita turut membantu mewujudkan cita-citanya. Misalnya, memberi kesempatan PRT mengikuti kursus-kursus keterampilan."



Tak terbantahkan, dewasa ini pembantu rumah Tangga (PRT) menempati bagian penting dalam sebuah keluarga. Kebutuhan PRT dalam sebuah keluarga saat ini merupakan suatu keniscayaan, terlebih keluarga yang berdomisili di kota besar seperti Surabaya. Ada beberapa alasan mengapa PRT saat ini menjadi sebuah kebutuhan. Salah satunya, kebanyakan profesi warga metropolis adalah pekerja perkantoran yang menuntut mobilitas tinggi, sehingga waktu kesehariannya habis dipergunakan untuk menyelesaikan urusan bisnis atau perkerjaannya. Lain halnya dengan warga yang berdomisili di desa (kampung), yang mobilitasnya sedang-sedang saja. Warga kampong yang berprofesi petani bahkan berangkat pagi hari dan sudah siang siang harinya.

Para wanita (isteri) di Metropolis juga banyak yang bekerja di luar rumah, setidaknya punya usaha sendiri di rumah. Sehingga, pekerjaan yang berkaitan dengan kerumah-tanggaan seperti mencuci, memasak, menyapu, merapikan perabotan rumah, menyeterika, dan lain-lain sering tidak terselesaikan dengan baik. Biasanya, PRT merupakan jalan keluar untuk menyelesaikan pekerjaan kerumah-tanggaan tersebut. Keluarga yang dari sisi ekonomi mapan bahkan tak jarang enggan mengejakan pekerjaan yang berkaitan dengan dapur dan sumur.

Warga metropolis, sepertinya, memang amat bergantung PRT dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Itu terbukti saat Lebaran tiba. Tidak sedikit mereka yang memilih menginap di hotel beberapa hari karena ditinggal mudik PRT-nya. Mereka rela mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk membayar sewa hotel beberapa hari. Padahal, PRT umumnya bergaji sekitar Rp 500 ribu per-bulan. Ironis.

Bagi warga kota yang belum punya PRT, hari-hari pasca-Lebaran seperti saat ini sering diisi kelayapan ke sana kemari untuk mencari PRT. Ada yang rela blusukan ke kampung-kampung, ada yang memasang iklan di koran, ada pula yang mengandalkan jasa penampungan PRT. Intinya, saat ini kehadiran PRT dalam sebuah keluarga metropolis adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar.

Reposisi PRT

Sejauh ini, masyarakat umumnya mendudukkan PRT sebagai warga dengan strata lebih rendah daripada mereka yang berprofesi lain. Pandangan seperti ini tentunya harus segera dihilangkan. Sebab, ini warisan kolonial. Pandangan itu akan berpengaruh pada perlakuan majikan terhadap PRT. Sang majikan akan berlaku seenaknya tanpa mempetimbangkan keterbatasan kemampuan yang dimiliki PRT. Si PRT dipaksa mengerjakan hal-hal di luar tugas dan "jam kerja"-nya.

Padahal, mereka juga manusia, yang perlu dihargai hak-hak kemanusiaannya dan dimaklumi batas-batas kemampuannya. Orang-orang yang memperlakukan PRT di luar kewajaran umumnya menganggap PRT sebagai manusia "kelas bawah" yang harus patuh dan tunduk kepada majikan. Apa pun perintah majikan tidak boleh ditolak. Ketika diperintah majikan, seorang PRT tidak boleh berkata "tidak". Pendek kata, berprofesi PRT siap melayani sang majikan 24 jam penuh.

Persepsi seperti itu tentu tidak manusiawi. Sebab, PRT juga manusia, bukan robot. Ia punya rasa capek, punya batas kemampuan, dan butuh istirahat. Sudah saatnya kita mengangkat derajat PRT, memperlakukan PRT secara wajar, menyuruhnya sesuai batas kemampuannya, dan tidak memandang rendah (under-estimate) PRT. Tuhan menciptakan manusia berderajat sama.

Pada galibnya, orang yang berprofesi sebagai PRT berasal dari kalangan ekonomi lemah dan berpendidikan rendah. Kedua faktor itulah yang menyebabkan seseorang tidak punya daya tawar/saing di "bursa kerja" yang semestinya dan memilih menjadi PRT. Meski demikian, dalam hati nurani PRT itu tentu tidak ingin selamanya menjadi PRT. Mereka tentu ingin suatu saat bisa mencukupi kebutuhan keluarganya tidak dengan "membantu" orang lain tapi dengan membuka usaha sendiri atau beralih ke profesi lain yang lebih "terhormat."

Karena itu, jika kita kebetulan punya PRT, adalah perbuatan mulia jika kita turut membantu mewujudkan cita-citanya. Untuk itu, sebaiknya PRT diberi kesempatan mengikuti kursus-kursus keterampilan seperti menjahit, mengobras, membordir, memotong rambut, membuat kue, dan sejenisnya. Bisa juga dengan memberikan kesempatan untuk sekolah di lembaga formal yang diminatinya. Dengan upaya semacam itu, wawasan dan pengetahuan PRT menjadi bertambah dan akhirnya dapat mengubah nasibnya menjadi lebih baik.

Saat ini pun, kian sulit menemukan PRT yang baik. Dengan semakin pesatnya perkembangan industrialisasi di kota-kota besar, tenaga kerja yang terserap juga semakin banyak. Banyak masyarakat pedesaan/kampung eksodus ke kota untuk menjadi karyawan pabrik/perusahaan. Sebagai konsekuensinya, mencari PRT saat ini menjadi lebih sulit daripada 10 tahun lalu. Orang-orang kampung/desa lebih memilih bekerja di pabrik daripada sebagai PRT.

Kondisi semacam ini sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang berniat jahat dengan berpura-pura menjadi PRT tapi punya tujuan kejahatan. Sering kita baca di koran ada PRT kabur dari majikannya dengan menggondol barang-barang berharga milik majikan. Karena itu, kita harus hati-hati jika ingin menghadirkan PRT dalam rumah kita. Ada beberapa langkah agar kita terhindar dari niat jahat PRT.

Pertama, kita harus tahu secara jelas identitasnya, khususnya alamat yang bersangkutan. Jangan sampai kita punya PRT seperti membeli kucing dalam karung, tidak jelas asal-usulnya. Ini penting. Sengan begitu, kalau ada kejadian apa-apa (bukan hanya tindak kejahatan), kita bisa mengontak keluarganya atau melacak ke alamat yang bersangkutan.

Kedua, berusaha menyimpan barang-barang berharga di tempat yang amat rahasia, yang hanya keluarganya saja yang mengetahuinya. Hal ini dilakukan agar tidak memancing niat jahat dari PRT.

Ketiga, mengawasi secara ketat PRT minimal selama satu bulan. Dalam satu bulan tersebut kita harus menilai tentang moral dan akhlaknya. Jika moralnya baik maka pengawasannya bisa diperlonggar.

Keempat, tidak memberikan kepercayaan 100 persen kepada PRT dalam menyelesaikan tugas-tugas kerumahtanggaan sebelum dia diketahui merupakan orang yang benar-benar terjaga kepercayaannya.

Kelima, diusahakan tidak meninggalkan sendirian PRT di rumah dalam waktu yang lama. Kalau pergi ke luar kota sekeluarga diupayakan si PRT diajak serta, hal ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. (*)

Jawa Pos, [Senin, 13 Oktober 2008]

0 tanggapan: