PESAN TERAKHIR

Oleh: Geppy Heny Setyowati

Cerita ini ingin aku buat untuk suamiku di rumah. Dia selalu bertanya tentang kabarku di Hongkong. Apakah aku selalu baik-baik saja. Sebenarnya aku ingin sekali bercerita banyak dengan suamiku. Tentang ulah majikanku yang terasa sangat menjengkelkan hati. Banyak saja ulah yang dia perbuat terhadapku. Apa pun pekerjaan yang aku lakukan, tidak pernah bisa terselesaikan dengan baik dan benar dimatanya. Kesalahan ini itu yang terkadang tidak masuk diakal. Dalam hati bertanya apa sebenarnya maunya dia. Kenapa dia tega banget ngerjain aku.


Aneh memang dia majikanku seakan memberi perintah tugas-tugas, yang tanpa ada dasarnya. Seperti kejadian waktu dia pindahan rumah kemarin. Perlakuan yang sangat tidak manusiawi dia tunjukkan kepadaku. Di depan para tukang-tukang yang sedang merenovasi rumahnya. Dia berlagak sok juragan kaya.

"Ani...", dia memanggil dengan teriakan yang sangat keras walau jarak dia berdiri hanya terhalang ruang tamu yang tidak terlalu besar. Kontan aku terburu-buru menghampirinya, bukan karena takut, tetapi terkejut dengan teriakannya yang membuat aku lari tergopoh-gopoh menghampiri. Dan ternyata, apa yang dia perintahkan terhadapku. Disuruhnya aku mengelap alas kakinya. Jeritannya melengking sempat membuat para tukang berhenti sesaat, terkejut. Perkepala menenggok kearah aku dan majikanku. Ada yang mendesah, berdehem dan tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.

"Ia, ada apa nyonya", jawabku setelah sampai di tempat.

"Sini bersihin sandar jepitku", tanpa membantah aku melangkah ke dapur untuk mengambil lap alas kaki. Kembali melangkah ke tempat di mana dia tadi berdiri. Dengan mengangkat satu kaki kirinya yang bertumpu pada kaki kanan. Dengan tangan kiri berkacak pinggang dan tangan kanan berpegangan pada palang pintu ruang tamu. Tanpa sungkan dia menyerahkan sandal jepit yang masih melekat pada kaki kirinya.

"Ya,.. Tuhan". Batin hatiku beginikah cara dia memperlakukan aku. Beginikah cara dia untuk selalu merendahkan martabat orang lain, yang sebangsa denganku, bekerja sebagai BMI. Entah mengapa majikan perempuanku selalu berlaku yang tidak sewajarnya terhadapku. Dia seakan menganggap dirinyalah yang telah menghidupi aku beserta seluruh keluargaku. Dengan beranggapan, bahwa dialah yang memberi pekerjaan. Maka apa yang dia kehendaki bisa dengan mudah ia dapatkan. Terkadang aku sempat berpikir bahwa orang ini mungkin saja gila. Karena saat dia mengetahui aku sering mengerjakan sholat, dia meresa tidak suka. Dan pernah memberi saran kepadaku satu ide konyol menurut pemikirannya. Begini dia pernah bilang terhadapku.

"Apadengan sholat itu Tuhanmu bisa memberimu uang?" tanyanya dengan ketus dan ada kesan mengejek. Saat itu aku menjawab

"Tuhan memberiku rejeki yang halal."

"Kalau begitu kamu bekerja saja dengan Tuhanmu", katanya dengan enteng.

Dengan perasaan tersinggung aku hanya diam menghadapi cerocosnya yang sudah tidak masuk diakal. Begitulah sifat dia, otaknya telah dipenuhi dengan pikiran duniawi, tanpa ada kesempatan bagi dia untuk sekedar mengenal siapa sebenarnya Sang-pencipta yang sesungguhnya. Dan dia selalu memperlakukan orang lain yang di bawahnya sekehendak hatinya. Seakan tidak ada rasa menghargai terhadap orang lain. Apa saja uncapan yang sempat keluar dari bibirnya hanya ucapan makian dan cacian terhadap siapa pun. Mungkin dalam pikirannya yang tak waras, dia merasa bahwa, dia itu orang yang terpandai, terkaya, danberkuasa.

Saat orang lain membantunya, dia tidak merasa telah ditolong, tetapi beraganggap bahwa orang itu perlu dan harus bisa menolong dan membantunya. Karena segala sesuatunya dia berorientasi pada ukuran uang. Uanglah yang telah ia jadikan Tuhan atau mungkin Dewanya. Tidak terkecuali aku yang di sini sebagai pembantunya. Beginikah perkiraan pikirannya yang merendahkan diri orang lain dihadapannya bahkan tidak segan dia menunjukkan ulahnya itu dihadapan orang banyak.

"Oh...Tuhan."

Akuhanya tersenyum menyikapi segala perlakuannya terhadapku. Walau dalam hati telah dihinakan dengan ulahnya. Seakan tiada harganya, aku dihadapanya. Aku tidak mengutuknya tetapi berdo'a semoga saja dia bisa merubah sikapnya yang buruk itu. Semoga masih ada sedikit dalam hatinya menyadari tantang ulahnya yang buruk. Tetapi dalam satu sisi aku mempunyai keyakinan. Karena kita ini menusia yang sama dihadapan Tuhan. Mungkin Tuhan belum mengetuk hatinya, semoga dia segera ingat akan segala khilafnya.

Dalam hati sempat berkata "Kau pun juga bekerja ikut dengan orang, yang posisinya sama sepertiku, mempunyai seorang bos atau atasan." Kenapa engkau nyonya tidak mau melihat ini semua. Bahwa perlakuan ini pun suatu saat bisa berbalik kepadamu. Kalau pun kau saat ini berlaku merendahkan aku dengan perlakuanmu. Suatu saat kau pun akan diperlakukan sama pula oleh orang lain, dipermalukan di hadapan seluruh orang yang kamu kenal dan akan menjadikanmu terhina, lebih parah dari pada apa yang pernah aku rasakan saat ini. Tuhan engkau pasti memberikan pelajaran yang sangat berharga terhadapnya," aku yakin itu.

Aku sering mengatakan bahwa dia itu seorang yang sakit. Entah kenapa dia seakan menyimpan suatu ketakutan tersendiri. Kalau tidak, tak mungkin dia berlaku demikan terhadapku. Dan di hadapan orang lain yang sama mempunyai hati dan nurani.

Salah satu kesukaan dia makan kuaci. Saat aku memberikan keranjang sampah yang sudah aku cuci bersih. Dan aku alasi dengan kantong plastik di dalam tempat sampah. Masih saja dia membuang kulit kuaci itu disembarang tempat. "Duh... gusti, semoga ini semua engkau jadikan pelajaranku kelak bila aku engkau beri kesempatan untuk sanggup mengatur hartamu yang berlebihan dan dapat memanusiakan manusia dengan selayaknya." Saat aku bergumam sendiri di dapur dia sempat melirikku sekilas tetapi tidak begitu memperdulikannya.

Dari dapur aku dengar gelak tawanya yang tidak berhenti. "Dasar orang sinting, makan kuaci dengan melihat berita kok tertawa terpingkal-pingkal sendriri. Dari pandanganya dia merasa senang, karena mampu membuat hati ini nelangsa. Makanya setiap kali melihatku dia selalu berulah. Kejorokan yang sering membuat aku jengkel. Meludah disembarang tempat, walaupun dia meludah di rumahnya sendiri. Bikin penyakit saja. Kotor. Jorok sekali menurutku.

Saat pagi setelah dia bangun tidur, dia melangkah ke kamar kecil menggunakan wastafel untuk gosok gigi. Kegiatan apa yang dilakukannya selepas cuci mulut, selalu membuat kotoran dengan pasta gigi yang menempel di mana-mana. Hal ini terjadi selama aku kerja disini selama 6 bulan, tidak pernah tidak telewatkan, ceceran pasta gigi menempel di dinding kamar mandi, di cermin dan digelas tempat dia biasa menggunakannya utuk berkumur. Entah apa maksud dari perbuatannya. Mungkin dia beranggapan kalau tidak mengotori tempat-tempat itu, aku tidak akan membersihkannya.

Apa semua ini memang disengaja atau memang dia itu seorang yang sangat jorok sekali. Ceceran kapas bekas pembersih wajah juga tercecer dikasur dan di lantai. Tak ada tempat yang setelah di tempatinya akantetap bersih dan rapi seperti sedia kala. Pernah dia menggoreskan sebaris lipstik diseprei tempat tidur. Saat itu juga aku langsung memberitahukan kejadian itu. Pikirku mumpung dia belum berangkat kerja. Saat dia sedang mengenakan sepatu, aku segera menghampiri dan menunjukan goresan lipstik di seprai kepadanya.

"Nyonya, maaf ini seperti goresan lipstik yang menempel diseprei". Sambil menunjukan garis merah di pinggir separai.

"Coba lihat," dia mengamati sebentar lalu berkata. "Kamu cuci bersih saja".

"Maaf nyonya, kalau goresan lipstik ini susah menghilangkanya kalau tidak dengan pemutih pakaian, sedangkan seperai ini berwarna merah muda" jawabku menyatakan argumentasiku entah di terima tidak yang penting aku sudah berusaha mengeluarkan pendapat yang aku yakini benar bahwa ini goresan lipstik.

Sekilas dia memandangiku, dan mulai memperhatikan sekali lagi. Lalu dia memberi perintah. "Kamu cuci saja pakai sabun cuci. Kalau tidak bisa hilang nanti aku taruh di tempat pencucian."

"Ia nyonya..." jawabku sambil menerima kembali seperai dari tangannya.

Setelah merapikan kamar mandi dan tempat tidur aku beranjak hendak ke pasar untuk berbelanja. Aku ingat bahwa tadi sebelum berangkat dia tidak menitip pesan apa-apa kepadaku. Mungkin dia akan pulang malam lagi seperti hari-hari biasanya. Selang beberapa menit dia meneleponku.

"Yati, kamu mau belanja apa hari ini?"

"Maaf nyonya mau makan apa?" tanyaku melalui telepon genggamku.

"Aku tidak makan, kamu beli saja apa yang ingin kamu makan malam ini".

"Hari ini nyonya tidak makan dirumah?" aku mencoba bertanya dengan hati was-was kalau kali ini dia mencari sebab untuk memarahiku. Karena tadi pagi tidak seperti hari biasanya, dia belum mengumandangkan lagu wajibnya.

"Tidak, aku tidak akan pulang hari ini?"

"O,ya nyonya." aku menjawab dengan membuat senyum termanis agar dia tidak merasa jengkel.

"Aku sudah mengirim cek gaji kamu bulan ini ke rekening kamu, dua hari lagi kamu bisa ambil langsung di bank." wuah tidak seperti biasanya selalu marah dulu sebelum memberi gaji. Mungkin hari yang spesial bagi dia kali batinku dalam hati sambil semakin memperlebar senyum girangku.

"Trimakasih nyonya". jawabku sebelum dia menutup telepon.

Aku mulai menghitung uang belanja sebelum merencanakan ingin makan apa malam ini. Uang tinggal HK$ 200,- untuk belanja selama tiga hari, kukira cukup dan masih ada sisa buat mejeng bentar nanti di internt. Aku langkahkan kaki menuju pasar, di bawah flat sudah menunggu Ida dengan tas belanjanya.

"Gimana bosmu hari ini? Tanya Ida.

"Hari ini lumayan lunak, nanti malam dia tidak makan malam. Mungkin akan nginap lagi di rumah pacarnya kali". Aku memberitahu kabar majikanku pada Ida.

"Jadi bisa ngenet dong hari ini?" jawab Ida dengan semyum lebar.
Kami melangkah bersama menuju arah pasar. Tentunya mampir dulu ke lantai 3 setelah selesai berbelanja di lantai 1 membelu daging dan ayam lalu naik lagi ke lantai 2 untuk membeli sayur mayur.

"Ia, aku juga mau cek emailku hari ini". sambil menjinjing tas belanja warna biru terang.

Hari itu aku bisa haa....hiiii... sebentar selama satu jam. Aku mulai melirik status teman-temanku di Facebook. Sedikit banyak telah mengurangi saraf keteganganku dengan majikan. Segala perlakuan yang tidak mengenakkan seketika hilang saat melihat status-status kocak dari teman-teman.

Aku melihat jam tanganku menunjukan pukul 11.30 segera aku berpamitan untuk segara hengkang dari depan layar monitor. Aku lihat Ida sedang kasak -kusuk sendirian dengan pacarnya yang bekerja di Jepang.

"Ida aku dah waktunya pulang nich, kamu ikut pulang gak?" tanyaku untuk mengingatkan dia bahwa waktunya sudah habis.

"Ia...,tunggu bentar aku mau off".

"Akutunggu di luar ya?

"Ok,dah selesai."

Sepanjang perjalanan pulang tak hentinya aku tertawa mendengar kekocakan temanku yang satu ini. Seakan tak ada habisnya bahan pembicaraan yang selalu membuat aku tertawa terbahak-bahak. Kadang sampai tidak tahan dibuatnya. Sungguh Ida jagonya humur batin dalam hatiku. Aku sampai gak kuat menahan tawa hingga terasa mau terkencing-kencing.

Sesampainya di rumah langsung aku berlari menuju ke kamar mandi untuk menghilangkan hajatku yang sudah tidak bisa di tahan lagi. Dasar si Ida batin hatiku, bisa-bisanya ngerjain orang hingga segitunya. Masih saja aku menyisakan senyum-senyum lucu bila mengingat kekonyolannya tadi.

Saat aku mulai sibuk dengan diriku di kamar mandi aku melihat bercak-bercak darah merah yang mengental. Dalam hati aku berpikir, darah siapa ini kok berceceran di kamarmandi. Aku mulai menelusuri bercak darah itu hingga sampai di kamar tidur majikanku.

"Nyonya...," teriakku panik karena aku melihat dia telah terbaring diranjang dengan kedua urat nadinya terpotong.

***

0 tanggapan: