Seni dan Kebangsaan

Audifax


Serumpun padi tumbuh di sawah
Hijau menguning daunnya
Tumbuh di sawah penuh berlumpur
Di pangkuan ibu pertiwi


Serumpun Padi (R. Maladi)

Adakah sebuah simbol yang bisa mempersatukan pluralitas yang ada di Indonesia?
Para founding father Indonesia bisa dikatakan telah memikirkan ''simbol'' yang bisa mempersatukan keberbedaan yang merentang dari Sabang sampai Merauke. Setidaknya, itulah yang membuat kita bisa memberi jawaban teoretis: Simbol Garuda Pancasila pada pertanyaan di atas. Jawaban inilah yang diajarkan sejak sekolah dasar hingga pendidikan tinggi, sehingga tertanam dalam alam-pra-sadar, mirip ingatan akan nomor pin, nomor telepon, dan sejenisnya; yang sewaktu-waktu bisa di-recall dari memori. Akhirnya, otomatisasi semacam ini membuat esensi dan eksistensi dari pluralisme (beserta segala keindahannya) menjadi terlupakan; seolah selesai hanya dengan jawaban: Simbol Garuda Pancasila!


Rasa (sense) akan pluralitas justru sering me¬lenyap dalam gempita perayaan di mana-mana, dalam berbagai ritual kosong yang tak lebih dari otomatisasi. Kebhinnekatunggalikaan dirayakan tiap Hari Kartini dan 17 Agustus, tetapi toh ketakmampuan menerima kebhinnekaan juga merebak di mana-mana. Inilah titik di mana ''rasa'' akan pluralitas sudah kehilangan kemampuan untuk merasakan keindahan pluralitas, seperti halnya tanpa ''rasa'' orang akan kesulitan memahami keindahan suatu karya seni.

Keindahan karya seni memiliki kesimetrian dengan keindahan pluralitas, yaitu pada kemampuannya untuk tak pernah tuntas menyampaikan makna. Sense of art sejatinya adalah keterbukaan pada kehadiran liyan atau apa pun yang berbeda dariku. Ketika aku mengapresiasi keindahan karya seni, di situ ada ''liyan'' yang mengajak aku untuk mentransendensi dari imanensiku. Keindahan seni selalu absurd dalam berbagai kemungkinan apresiasi atas kemenampakannya. Inilah keindahan yang merayakan ''rasa'' keterbukaan pada liyan. Di sinilah rasa-akan-pluralitas (sense of plurality) berdekatan dengan rasa-akan-seni (sense of art), ketika keduanya sama-sama merayakan Yang-Lain (The Other, Liyan) dalam kehidupan... kehidupan kebangsaan.

Seperti halnya ketika ketiadaan, kesementaraan, kejanggalan, ketakterkataan, keterpesonaan, dan ketakterjelasan senantiasa membayangi keindahan karya seni. Demikian pula hal-hal itu sejatinya membayangi keindahan kehidupan suatu bangsa yang plural. Maka, menjalani hari-hari kehidupan dalam bangsa yang plural ibarat menjalani hari-hari mengapresiasi keindahan karya seni.

Garuda Pancasila yang menggenggam pita bertulis ''Bhinneka Tunggal Ika'' boleh saja menjadi simbol yang menjawab pertanyaan tentang pluralitas, tetapi pluralitas itu sendiri mesti dipahami sebagai sesuatu yang mendahului simbol itu. Jika tidak, niscaya keterjebakan pada simbol dan ritualitas yang bakal terjadi. Lalu apa yang mendahului simbol Garuda Pancasila? Di sinilah kita bicara sesuatu yang bahkan mendahului ontologi dari segala konsep dan simbol. Inilah sesuatu yang dalam pemikiran platonian dikenal dengan nama ''idea'' atau sesuatu yang lebih suka saya sebut ''arche''.

Garuda Pancasila sejatinya adalah representasi dari idea atau arche. Artinya, simbol itu mencoba mengomunikasikan sesuatu yang sebenarnya tak terkatakan. Apa yang tak terkatakan itulah sebuah rasa keindahan yang mendahului manifestasi bentuk, tetapi sekaligus larut dalam proses kehidupan sehari-hari sebagai spirit yang menuntun (spiritus rector) ketika manusia berhadapan dengan bentuk. Simbol Garuda Pancasila tidak memiliki sejarah dalam dirinya sendiri. Sejarahnya justru terletak pada Yang-Lain, yaitu pluralitas yang merentang dari Sabang sampai Merauke.

Di sinilah kita bisa merenung lebih jauh bahwa historisitas bukanlah ''kebenaran'', melainkan responsibilitas (tanggung jawab). Ketika kita tak terjebak menjadikan historisitas sebagai kebenaran, historisitas itu akan tetap berada pada misterinya. Nah, misteri historisitas inilah yang menyatukan ''rasa at home'' bagi siapa pun yang mampu merasakan ''rasa keindahan'' akibat menampaknya Yang-Lain atau segala perbedaan yang merentang di wilayah Nusantara. Orang yang menghargai historisitas justru tak akan menjadikan dirinya terjebak dalam masa lalu atau menjadikan masa lalu sebagai kebenaran fundamental.

Orang yang menghargai historisitas justru akan menjadikan historisitas itu sendiri tetap dalam misterinya, misteri yang keindahannya akan selalu menyampaikan nuansa at home dan kita gunakan untuk memandu perjalanan ke masa depan, perjalanan yang penuh perjumpaan demi perjumpaan dalam kehidupan bersama dengan Yang-Lain. Pada titik inilah baru kita bisa merasakan keindahan sebuah hidup berkebangsaan di negeri yang begitu plural ini.

Di titik inilah Garuda Pancasila bukan sesuatu yang jauh di awang-awang dalam transendensinya, seperti sering diritualkan dalam peringatan Pancasila Sakti, ditempelkan di atas papan tulis setiap kelas, atau dipasang di kantor-kantor di seantero negeri, seolah simbol itu memberi berkat bagi pemasangnya. Kekuatan simbol Garuda Pancasila justru terasa ketika ia hadir dalam kehidupan bukan sekadar sebagai simbol, tetapi sebagai spirit yang menampak dalam tindak-laku sehari-hari, dalam bagaimana masing-masing dari ''aku'' yang berhadapan dengan ''liyan'' dalam sebuah hidup berkebangsaan.

Yang hendak saya sampaikan bahwa Garuda Pancasila sebagai ontologi-simbolis yang membawa pesan pluralitas bangsa adalah juga sebuah afirmasi pada ketakmungkinan untuk membunuh apa pun kondisi yang menampak pada wajah liyan. Ontologi simbol Garuda Pancasila sejatinya merupakan sesuatu yang memuat pesan pluralitas. Dengan demikian, simbol itu adalah pengingat bagaimana kita menerima penampakan Yang-Lain di hadapan kita sebagai ''wajah'' serta bagaimana dengan keramahan kita mampu menjalin relasi dengan liyan yang tak mungkin kita reduksi pada suatu upaya mengomprehensikan menjadi sebuah konsep tunggal; karena liyan dalam pluralitas adalah sesuatu yang infinit. Dalam infinitas itulah terdapat tema-tema yang sejatinya merupakan pembentuk ontologi Garuda Pancasila.

Kita bisa memahami lebih jauh bahwa apresiasi keindahan seni bukan sesuatu yang ada dalam paradigma: sesuatu yang harus aku lakukan, melainkan sesuatu yang mesti kita biarkan meng-ada. Kita harus membuka diri secara pasif terhadap ''ada'', menyerahkan imanensi kita pada keberadaan Yang-Lain yang secara misterius takkan habis. Di sini lalu ''ada'' itu adalah ''waktu'' itu sendiri, karena ''ada'' ini kemudian melampaui segala kesementaraan. Inilah ''ada'' yang terdapat pada keindahan karya-karya seni yang rasa keindahannya melampaui zaman. Lewat pemahaman semacam ini, niscaya kehidupan bersama bangsa yang plural tetap terjaga keindahannya.

Dengan demikian, seni adalah sesuatu yang penting bagi kehidupan, terutama bagaimana memahami hidup itu sendiri sebagai seni. Lewat cara inilah hidup bisa tampil dalam keindahan layaknya seni. Dalam kehidupan di sebuah bangsa yang begitu plural, memahami kehidupan layaknya seni adalah sesuatu yang penting, karena di situlah bisa ditemukan kemanusiaan. Saya sepakat dengan Nano Riantiarno dalam sebuah wawancara di Koran Tempo 7 Januari 2007. Apa pentingnya belajar kesenian buat anak-anak? Nano mengatakan: Sentuhan seni sejak kecil merupakan investasi batiniah yang luar biasa. Rasa keindahan dan alam akan memengaruhi ekspresi dia, di mana pun. Kalau dia menjadi ekonom, ulasannya bukan saja membandingkan dari segi ekonomi, melainkan juga di luar itu. Dia akan banyak membaca novel, puisi, nonton teater sehingga ulasannya menjadi sesuatu yang menyentuh secara kemanusiaan.

Membiasakan melihat keindahan hidup sebagai seni, memang selayaknya dibiasakan sejak masa kanak-kanak. Dengan cara ini diharapkan kelak jika dewasa, sang anak mampu melihat kehidupan secara lebih manusiawi, lebih mampu menerima kemenampakan Yang-Lain sebagai sebuah kemungkinan untuk mentransendensi dari imanensi dan karenanya selalu ada keindahan dalam setiap kemungkinan itu.

Serumpun jiwa suci
Hidupnya nista abadi
Serumpun padi mengandung janji
Harapan ibu pertiwi


*) Audifax, Research Director di SMART Human Re-Search & Psychological Development, Surabaya

Jawa Pos, Minggu, 23 Agustus 2009

0 tanggapan: