Sumbangan Para BMI-HK terhadap Perkembangan Bahasa dan Sastra Indonesia

Setelah sekian lama menunggu, tibalah kini upaya penerbitan buku karya BMI-HK pada tahapan baru: 6 dari sekitar 16 buku yang direncanakan terbit sudah jadi dummy-nya. Rihad Humala yang membuat lukisan sampulnya saya ajak memenuhi undangan Pak Untung Subagyo (mewakili Penerbit Grasindo di Surabaya) untuk melihat dan mengoreksi ke-6 dummy buku itu, Selasa (17 Juni 2008) lalu. Enam buku yang sudah jadi dummy-nya itu ialah: Aku Ingin Jadi Pelacur (Melur),...

Sumbangan Para BMI-HK terhadap Perkembangan Bahasa dan Sastra Indonesia

Setelah sekian lama menunggu, tibalah kini upaya penerbitan buku karya BMI-HK pada tahapan baru: 6 dari sekitar 16 buku yang direncanakan terbit sudah jadi dummy-nya. Rihad Humala yang membuat lukisan sampulnya saya ajak memenuhi undangan Pak Untung Subagyo (mewakili Penerbit Grasindo di Surabaya) untuk melihat dan mengoreksi ke-6 dummy buku itu, Selasa (17 Juni 2008) lalu. Enam buku yang sudah jadi dummy-nya itu ialah: Aku Ingin Jadi Pelacur (Melur), Senja Merah (Nadia Cahyani), Di Balik Rimbun Melati (Niswana Maqia Ilma), Kaki Langit Hong Kong...

Seniman pun Berhak atas Anggaran Publik [5]

Kebijakan MengambangKebijakan Pemprov Jatim terkait kesenian masih mengambang. Sementara pelaksana program kesenian juga masih bertumpu pada urat nadi pemerintah. Mengapa ini bisa terjadi? Berikut wawancara Edi Purwanto dari Tim Ngaji Kesenian dengan Joko Saryono, Dosen Sastra Universitas Malang.Bagaimana Pemprov Jatim menangani kesenian?Kebijakan kesenian tidak jelas, tak terkelola secara baik. Pemerintah tidak memiliki kejelasan struktural yang akhirnya berdampak pada program. Saya melihat pemerintah belum memiliki lembaga yang jelas dalam mengurusi...

Seniman pun Berhak atas Anggaran Publik [4]

Pos Kebudayaan Lantas berapa nilai belanja untuk pos pengembangan kesenian dan kebudayaan di Jatim? Mengamati RAPBD 2007 yang sampai kini masih jadi bahan perdebatan, tercatat Rp 28 miliar lebih disalurkan lewat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dana itu rencana digunakan untuk memutar program pengembangan nilai budaya sebesar Rp 5 miliar lebih, pengelolaan kekayaan budaya Rp 12 miliar lebih, dan program pengelolaan keragaman budaya Rp 5 miliar lebih. Total Rp 22 miliar lebih disalurkan lewat Dinas Pariwisata, yang anehnya hanya sekitar Rp 75 juta...

Seniman pun Berhak atas Anggaran Publik [3]

Anggaran Kering, Realisasi MinimKonon negara adalah perwujudan dari kepentingan publik. Sewajarnya aparat dan pejabat yang duduk dalam lembaga-lembaga negara menjadi pelayan bagi publik. Komunitas seniman adalah bagian dari publik. Seperti halnya kelompok profesi lain mereka pun berhak memperoleh layanan dan fasilitas publik. Inilah logika demokrasi kita. Sayangnya, kenyataan tak selalu sejalan dengan logika. Penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Pemerintah Provinsi Jawa Timur, misalnya. Kamis (21/12/2006), jalan voting...

Seniman pun Berhak atas Anggaran Publik [2]

Kebijakan Top-downPenghargaan, festival-festival dan gebyar-gebyar inilah rupanya yang menjadi program dinas-dinas terkait dengan pengelolaan kebudayaan. Bukan program pengembangan kebudayaan rakyat agar lebih dinamis. Bukan pula perbaikan nasib para seniman dengan kemudahan dan fasilitas bagi mereka. “Aneh, kayaknya pemerintah punya program sendiri,” tutur Autar Abdilah yang bersama seniman pernah mengusulkan program dana talangan untuk seniman kepada pemerintah, namun ditolak. Apalagi seperti dibenarkan Sinarto—Wakil Ketua Taman Budaya Jatim—pemerintah,...

Seniman pun Berhak atas Anggaran Publik [1]

Program Pemerintah Sebatas Gebyar-gebyar“Seharusnya kesenian seperti ludruk dapat dana pengembangan. Jangankan dana, nengok saja mereka nggak mau,” ujar Sakia Sunaryo, seniman ludruk, awak grup Irama Budaya Surabaya, dengan raut muka penuh kesal. Mereka yang dimaksud di sini adalah para pejabat dan pegawai pemerintah yang juga sering disebut sebagai pelayan publik.Sakia, yang sudah meludruk nobong selama 20 tahun itu, pantas kesal karena pemerintah seolah tak peduli pada nasib seniman ludruk ketimbang industri kesenian modern. Padahal, menurut...

Politik Anggaran Kesenian Jawa Timur

Oleh: Edi PurwantoRencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Jawa Timur tahun 2007, hingga kini masih menjadi perdebatan pro dan kontra di DPRD Jatim. Walaupun sudah disepakati dengan cara voting pada saat sidang paripurna pada tanggal 21 Desember 2006 lalu, tapi ternyata hingga tulisan ini kami tulis, RAPBD itu masih berada di meja Mendagri. Walaupun dengan cara voting akan tetapi RAPBD itu sudah menjadi ketetapan bersama dalam rapat paripurna. Rupanya isu pemilihan Gubernur Jatim pada tahun 2008 nanti, ikut mewarnai kericuhan yang...

Reorientasi Festival Seni Surabaya

Oleh: Tjahjono WidarmantoFestival Seni Surabaya (FSS) 2008 kembali digelar. Tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, FSS menyajikan beragam bentuk seni mulai teater, tari, musik, sastra, dan pasar seni. Format FSS itu sudah dipakai berulang-ulang meski temanya dari tahun ke tahun selalu berbeda. Dan, seperti kita tahu bersama, tema yang disodorkan pantia jarang direspons oleh penyaji yang diundang maupun yang melalui proses seleksi. Maka, tidak heran kalau ada kritikan tajam bahwa FSS sekadar ''nanggap'' kelompok seni yang sudah jadi saja.Diakui...

HUT Surabaya: Seniman Lokal Hanya Jadi Penonton

SURABAYA-Pesta ratusan juta rupiah di Taman Surya, yang mengundang sejumlah artis ibu kota bertarif mahal, sebagai puncak acara HUT Surabaya ke 715, Sabtu (31/5) malam, ternyata justru membuat sejumlah seniman asli Surabaya nelangsa. Mereka menganggap, pemkot tidak memanusiakan mereka sebagai seniman lokal. Yang sedikit banyak, ikut membangun Surabaya dengan caranya sendiri.“Sungguh ironis, yang memeriahkan ulang tahun Surabaya malah Eko Patrio dan artis ibu kota lain,” itulah kalimat ironis yang disampaikan salah satu pelawak Surabaya, Djadi...

Seminar Budaya Jatim Digelar di Malang

Surabaya - Balai Bahasa Surabaya (yang dalam waktu dekat akan berganti nama: Balai BAhasa JAwa Timur, bon) akan menggelar seminar mengenai keragaman sosial budaya Jawa Timur untuk penutur asing dengan harapan semua kekayaan sosial budaya Jawa Timur dapat lebih dikenal di kalangan masyarakat internasional.”Seminar ini akan digelar di Malang, 18 Juni 2008 dengan tujuan untuk menggali nilai-nilai sosial budaya Jawa Timur, mengangkat dan memberdayakan budaya Jawa Timur serta memajukan pengajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) melalui kemajemukan...