MENGAPA MESTI TURUN JALAN DENGAN ATRIBUT ORGANISASI MASING-MASING?


Pengalaman dalam kurun waktu puluhan tahun ini, saya belum pernah melihat ada staf KJRI yang mau menerima statement dari para pendemo secara simbolis. Jangankan itu, setiap kali ada demo, kantor malah ditutup rapat. Bisa dimaklumi kalau ada ketakutan, jaga-jaga, mencegah kalau pendemo bertindak anarkis dengan menyerbu masuk gedung. Tapi di dalam pengawalan puluhan polisi yang begitu ketat, ketakutan seperti ini tidak lagi berdasar. Lalu apa namanya?

Mencermati seringnya demo tanpa respon berarti sampai kini, saya mulai mencari-cari, apa, ya sebabnya?

Mungkin selama ini yang tampak sering teriak-teriak --dan oleh sebagian BMI lainnya dikatakan kurang kerjaan -- ya kelompokitu-itu saja;

KOTKIHO. IMWU, PILAR, GAMMI, Aliansi. Karena bendera atau atributnya ya cuma itu. Sudah begitu, demonya pisah-pisah lagi. tidak pernah terlihat bendera mereka berkibar dalam satu barisan.

Mungkin, publik mengira, bahwa yang menuntut hak, yang perang melawan penindasan BMI, yang menentang pungutan liar, ya cuma beberapa gelintir aliansi itu. Padahal tercatat di KJRI bahwa organisasi BMI ada hampir seratusan. Banyak yang mengira organisasi lainnya seperti yang aktif di bidang seni, pendidikan, keagamaan, budaya, kewirausahaan, kepenulisan, dll. adalah kumpulan BMI yang tidak peduli dengan issu-issu tentang pelanggaran hukum ketenagakerjaan yang --menurut survey ATKI dan KOTKIHO-- hampir semuanya pernah mengalami pemerasan oleh agen dan PJTKI.

Saat sekelompok BMI turun jalan menuntut penghapusan potongan gaji berlebihan, misalnya. Dalam waktu yang sama, sebagian besar kelompok lain juga mengadakan kegiatan masing-masing.
"Halahh...yang demo keciiiiillll jumlahnya, nggak ada apa-apanya tuh. Santai sajalah..." Mungkin saja begitu pikir pihak-pihak yang di demo. Menyakitkan lagi ketika saya dengar komentar dengan telinga saya sendiri, bahwa demo-demo itu didomplengi oleh kepentingan pihak yang tidak bertanggung jawab ! Alamakkkkk..!!!

Publik mengira, bahwa BMI yang "baik-baik" yang "kuai" yang "manis-manis", tidak neko-neko, jauh lebih besar jumlahnya. Tiap Minggu, pengajian-pengajian akbar didatangi ribuan jamaah, digelar di beberapa tempat dalam sehari itu. Aneka lomba seperti joged, nari, MTQ, nyanyi, dsb. jauh lebih menarik ketimbang ikut gabung untuk demontrasi.

Publik tidak tahu, sesungguhnya kita yang manis-manis ini juga memendam rasa dendam, keluhan, atas biaya mahal--bahasa halusnya pemerasan-- agen selama ini.

Lha, emang apa harus semuanya turun demo? nggak perlu seneng-seneng, nggak butuh belajar? nggak perlu ngaji?

Kawan, nggak perlu semua anggota grupmu ikut demo. Tapi setidaknya selembar atribut/ bendera organisasimu saja bergabung, itu sudah cukup terlihat sebagai kekompakan. minimal orang akan melihat, 'ooo, ternyata CK Dancer juga anti penindasan BMI, ternyata FLP yang sering bekerja sama dengan KJRI itu juga menuntut diberlakukan kontrak mandiri, oooo..ternyata seluruh awak Posmih juga anti kedzoliman agen..dsb.

Lhohhhh..nggak tahu,ya? si Widya itu anak FLP sering gabung KOTKIHO woooo...

Mana publik kenal kalau Widya anak FLP? Yang masuk satu barisan dengan bendera KOTKIHO thok itu ya KOTKIHO thok. Anggi Camat yang ikut demo dengan PILAR itu ya mana kelihatan kalau mewakili Sekarbumi?

Belajar dari banyak kelompok protester yang turun jalan waktu May Day. Ratusan atribut mewakili jutaan suara tampak kompak berada dalam satu barisan panjang. Media menyorot. Para reporter melaporkan ke publik. Para fotografer mengabadikan. Visualisasi itu akan terus melekat dalam benak publik, termasuk pemerintah sebagai pihak yang diprotes.

Bila tiap kali protes dengan membawa banyak orang beserta bendera atas nama seluruh organisasi dan kelompok BMI, tentu publik akan melihat lain. Kompak ! Satu suara !

Jadi? Benderane thok wae? Orangnya nggak perlu banyak?
Kawan, tetesan air saja hanya akan mampu melumerkan selembar tissue. Seember air akan bisa memindahkan seonggok kerikil. bendungan yang jebol akan bisa menghanyutkan beberapa desa.
Begitu juga kekuatan pikiran manusia yang berkumpul dalam satu gerakan/doa.

Sure? Jaminan akan sukses demo kita?
Mmmm...tinggal pihak yang diprotes itu masuk golongan janma limpat, sak klebat prasasat tamat, atau golongan janma gebleg, diduleg sansaya ndableg ?

Kalau mereka limpat (cung meing, peka, cerdas, cepet tanggap), ya baru dengar desah resah kita sudah merespon," ada yang bisa kami bantu?' Itulah respon pemerintah/bangsa yang tinggi martabatnya, well educated, berbudaya.

Tapi kalau sudah berkompak ria dalam demo, satu suara dalam tuntutan, sampek kertas isi petisi, laporan kasus2 diduleg-dulegna, tetep gak ada tindakan yang sifatnya strategis (padan katanya retorika), yaaaa...jangan bilang mereka janma gebleg dulu..
Ada baiknya kita instropeksi dulu. Mungkin kita gak sadar telah melontarkan kata-kata kasar, menghujat. Ada pepatah bilang, kalau mau madunya, jangan tendang sarang tawone. Kalau mau nangkap ikannya, jangan diubeg-ubeg kolamnya....

Lha piye maneh...? saking geblege...

Walahh embuhhh... daripada engkel-engkelan terus ngene...
Bismillah..ana tawakallah..
Mugi Gusti Allah nuntun Bapak Konjen, Pak Teguh Wardoyo, kersa nampi statement kawula BMI sedaya, ingkang niat demo dinten menika,
ngelikaken pemerintah, buruh alit meniko mboten prayogi dados susonanipun agen, PJTKI, dalah negari.
Samestinipun wong gedhe nyusoni sing cilik...
BMI grudugan dugi KJRI mriki namung niat nylametaken pemerintah, sampun ngantos kuwalat kados .....
.....jambu mete.....

Causeway Bay, 10 Oktober 2010
01 Zul Qa'dah 1431 H

Sumber: Susie Utomo

0 tanggapan: