Pentingnya Pendidikan bagi BMI


Oleh Jaladara

Mawar dan Melati adalah dua ga¬dis desa yang sama-sama be¬ker¬ja di luar negeri. Kedua¬nya sa¬ma-sama tamatan SMP. Kemis¬kin¬an dan ketiadaan pekerjaan di negeri sendiri membuat mereka ne¬kad merantau ke tanah se¬be¬rang untuk bekerja, meskipun ha¬nya sebagai pembantu rumah tang-ga. Bekerja sebagai pem¬ban¬tu di luar negeri dirasa lebih ter¬hormat daripada menganggur dan menjadi beban keluarga. Sing¬kat cerita, setelah berta¬hun-tahun bekerja di luar negeri, ke¬duanya berhasil mengumpulkan banyak uang.


Secara rutin Mawar mengi¬rim¬kan uang hasil jerih payahnya pa¬da keluarganya dan seba¬gian di¬tabung untuk masa depannya sen¬diri. Setiap hari ia bekerja mem¬banting tulang mengumpul¬kan uang demi keluarga dan ma¬sa depannya. Ia bangga. Mes¬ki¬pun hanya lulusan SMP, ia bisa be¬kerja dengan menda¬patkan ga¬ji yang relatif lebih besar da¬ri¬pada gaji jika ia bekerja di dalam ne¬geri. Sedangkan Melati, di sam¬ping secara rutin ia mengi¬rimkan sebagian gajinya kepada ke¬luarganya, seba¬gian lagi ia gu¬nakan untuk melanjutkan pen¬didikannya lewat kursus dan pen¬didikan for¬mal (kejar paket C untuk mendapatkan ijazah setara SMA) yang ia lanjutkan dengan me¬ngikuti pendidikan diploma di sela waktu libur kerjanya. Ia tidak puas hanya memiliki ijazah SMP. Kesempatan bekerja di luar ne¬ge¬ri seka¬ligus ia gunakan untuk me¬nuntut ilmu lebih tinggi. Ia ti¬dak ingin selamanya menjadi pem¬bantu rumah tangga. Ia me¬na¬bung sebagian gajinya dalam bentuk tabungan ilmu.

Mari kita bayangkan bagai¬ma¬na masa depan Mawar dan Me¬la¬ti setelah sepuluh tahun be-kerja di luar negeri dan pulang ke kampung halamannya. Ke¬dua¬nya akan pulang dengan ke¬ber-hasilan mengumpulkan uang un¬tuk keluarga dan masa depan me¬reka, serta pengalaman hidup be-kerja di luar negeri. Namun, ada satu nilai lebih dimiliki Me¬la¬ti. Selain menabung dalam ben¬tuk uang, ia juga menabung da¬lam bentuk ilmu yang kelak akan sangat bermanfaat bagi ke¬hi-dupannya setelah tidak lagi be¬kerja sebagai pembantu di luar ne¬geri. Dengan pendidikan yang ia tekuni selama di perantauan, ia memiliki bekal yang cukup un¬tuk mendapat¬kan pekerjaan yang lebih baik daripada pe¬ker¬jaan sebelumnya. Kesempatan un¬tuk dapat bersaing dalam men¬dapatkan pekerjaan yang le¬bih baik, lebih besar daripada ke¬sem¬patan yang dimiliki oleh Mawar.

Kemiskinan dan ketiadaan la¬pangan pekerjaan di dalam ne¬ge¬ri sering menjadi pemicu utama se¬seorang memutuskan untuk be¬kerja di luar negeri. Selain itu, ke¬terbatasan serta rendahnya ting-kat pendidikan yang me¬nye¬babkan seseorang tidak mampu ber¬saing untuk mendapatkan pe-kerjaan yang ada, menjadikan se¬seorang lebih memilih untuk be¬kerja di luar negeri sebagai bu¬ruh migran dengan segala ri¬si¬ko¬nya. Ditambah lagi, adanya iming-iming baik dari seseorang yang pernah bekerja di luar ne¬ge¬ri dan pulang dengan se¬gu¬dang keberhasilan, maupun dari pi¬hak sponsor. Itu semakin mem¬be¬rikan semangat untuk me¬ning¬galkan kampung halaman de¬mi perbaikan ekonomi.

Buruh migran, terutama yang be¬¬kerja sebagai pembantu rumah tangga, sering diidentikkan de¬ngan pekerja tak berpendidi¬kan. Hal ini wajar, karena untuk be¬ker¬ja sebagai pembantu di luar ne¬geri tidak disyaratkan latar be¬la¬kang pendidikan formal yang ting¬gi. Syarat keahlian pun se¬olah dinomorduakan demi me¬menuhi tuntutan permintaan bu¬ruh migran yang sangat tinggi, ter¬utama di kawasan Asia Teng¬gara dan negara-negara Timur Te¬ngah.

Seperti data yang diperoleh da¬ri Kon¬sulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong, jum¬lah buruh migran per Agustus 2009 di negara tersebut men¬ca¬pai 131.181 orang. Secara umum, un¬dang-undang kete¬na¬ga¬ker¬ja¬an di Hong Kong lebih ber¬sa¬ha¬bat kepada BMI daripada ne¬ga¬ra-negara lain, meskipun tidak bi¬sa dipungkiri bahwa pe¬lang¬gar¬an, peng¬aniayaan, dan kasus-ka¬sus ketidakadi¬lan lain masih ke¬rap terjadi. Kebijakan pe¬me¬rin¬tah Hong Kong yang mem¬be¬ri¬kan hak libur di akhir pekan serta tang¬gal-tanggal merah kepada se¬mua BMI, selayaknya di¬gu¬na¬kan dengan sebaik-baiknya. Wak¬tu luang ini akan lebih ber¬man¬faat jika digunakan oleh para bu¬ruh migran untuk menambah il¬mu dengan mengikuti kursus-kur¬sus atau pendidikan di lem¬ba¬ga-lembaga pendidikan yang ba¬nyak terdapat di Hongkong.

Memang, seperti kata Evelyn Un¬derhill, sesuatu yang belum di¬kerjakan, seringkali tampak mus¬tahil; kita baru yakin kalau ki¬ta telah berhasil melakukannya de¬ngan baik.

Di samping itu, tidak mudah un¬tuk meluang¬kan waktu dan juga uang untuk melakukan usaha ter¬sebut. Namun, jika kita memiliki ke¬inginan yang kuat untuk me¬nim¬ba ilmu seba¬gai bekal masa de¬pan yang lebih baik, niscaya ki¬ta akan bisa. Kita harus pandai-pan¬dai me¬ngatur anggaran peng¬ha¬silan dan pendapa¬tan dan men¬coba menyisihkannya untuk mem¬biayai pendidikan yang akan ki¬ta ambil. Anggaplah kita tengah me¬nabung sebagian penghasilan ki¬ta dalam bentuk pendidikan, yang suatu saat bisa kita nikmati hasilnya.

Bung Karno pernah berkata bahwa apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan (perubahan), maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun.

Maka kita tidak perlu merasa malu atau takut untuk menempuh pendidikan hanya karena bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Justru latar belakang ini harus kita jadikan sebagai pemicu untuk terus belajar dan belajar untuk meningkatkan kualitas diri agar lebih baik lagi. Karena dengan mengupayakan pendidikan, di samping membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan lebih, juga akan mening¬katkan harkat dan martabat kita sebagai manusia yang berpendidikan.

Pengetahuan ini juga akan menye¬lamatkan kita dari perilaku dan tindakan ketidakadilan yang terjadi di kalangan buruh migran. Dengan semakin menge¬tahui hak dan kewajiban sebagai buruh migran seperti yang telah diatur oleh undang-undang pemerintah, jika suatu ketika terjadi ketidakadilan atau pelang¬garan atas hak-hak buruh migrant, kita memiliki pengetahuan dan mengerti bagaimana caranya menuntut hak yang semestinya kita terima dengan jalur dan prosedur yang benar.

Sudah seharusnya buruh migran mulai memotivasi diri untuk meningkatkan jenjang pendidikan lebih tinggi daripada pendidikan yang dibawa ketika mulai menginjakkan kaki di luar negeri. Dengan demikian, akan semakin terbuka pula kesempatan untuk memperluas pilihan hidup saat kembali ke tanah air, sehingga akan dengan mudah menentukan karier, pilihan jenis pekerjaan, ataupun kese¬jah¬teraan untuk masa depan. Seperti yang dikatakan oleh William Feather bahwa cara un¬tuk menjadi di depan adalah memulai seka¬rang. Jika memulai sekarang, tahun depan kita akan tahu banyak hal yang sekarang tidak diketahui, dan kita tak akan mengetahui masa depan jika kita me¬nunggu-nunggu.

Meski agak terlambat, saya mengucap¬kan selamat tahun baru Muharam 1431 Hi¬jriyah, selamat Natal dan tahun 2010. Se¬moga di tahun-tahun yang akan datang kita lebih semangat memperbaiki diri dan memanfaatkan kesempatan yang ada demi masa depan yang lebih baik. Maka teguh¬kan niat dan bulatkan tekad serta mulailah da¬ri sekarang. Cayou taeka! (*)

Berita Indonesia, Edisi 102, Februari 2010

Ospek Universitas Terbuka Hong Kong


Dari jauh tampak sekumpulan orang sedang berbaris dan bernyanyi riang gembira di tepi pantai. Mereka memakai jaket Alfamater berwarna kuning dan memakai topi yang terbuat dari koran bekas ,unik dan lucu-lucu. Mereka adalah calon mahasiswa Universitas Terbuka di Hong Kong (UT-HK) yang sedang mengikuti orientasi study dan pengenalan kampus (Ospek) di Victoria Park. Minggu 18 Desember 2011.

Menurut salah satu panitia penyelenggara , Emy dan Yani mengatakan Ospek ini bertemakan “Sukses Bersama GITC” . Acara ini bertujuan mempersatukan mahasiswa Universitas Terbuka untuk mencapai kesuksesan di bawah naungan Global Indonesia training Center (GITC). Acara dialog di mulai pukul 1 siang hingga 4 sore dan acara yang di pandu langsung oleh senior mahasiswa UT ini juga di meriahkan dengan beragam acara, seperti perkenalan dan permainan, katanya

Yang sangat menarik dari acara perkenalan calon mahasiswa UT tersebut yaitu ketika salah satu calon mahasiswa UT jurusan Komunikasi, Sri Lestari maju dan berkata bahwa ; Ia kuliah dan menekuni bidang komunikasi ini tujuannya untuk mengapai cita-citanya. Ia ingin menjadi pegawai sosial yang perduli lingkungan dan peduli masyarakat miskin yang ada di pelosok tanah air,katanya

Sri ingin menjadi humas atau trainer yang dapat memberikan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan kepada masyarakat luas. Bagi kaum yang tidak mampu semoga mereka dapat terdorong untuk semakin maju ,tidak malas dan teruslah berusaha untuk meraih kesuksesan sehingga generasi muda penerus bangsa http://www.blogger.com/img/blank.gifhttp://www.blogger.com/img/blank.gifkita menjadi orang-orang yang maju dan berkembang dari segi kemampuan dan pemikirannya, paparnya

Dengan di bentuknya kelompok belajar,diharapkan kita semua semakin kompak dalam kebersamaan dan semoga nantinya kita bukan hanya memiliki titel saja tapi kita juga harus mempunyai kredibilitas, imbuh salah seorang panitia.*

Naskah dan Foto dari Blog Tati Tia Surati

KECEWA yang berbuah MANIS


Yany Wijaya Kusuma

Tadi pagi, begitu melek byar, aku melihat duit di samping kiriku di atas komputer. Rupanya nyonya, diam-diam meletakkan duit gajianku di atas komputer. Tidak hanya duit gajian tapi juga lengkap dengan kalender 2012. Begitu melihat warnanya, wowww.....
Kesukaanku, ijooooooo.....!


Wis, mataku langsung melek byar weruh duit, tambah ijo pisan weruh rupa ijo....ha ha...komplit..plit... Rasa amarah semalam, langsung menguap. he he.... (Mungkin Nyonya sedang menghiburku untuk menebus rasa bersalahnya.)

Keluar dari kamar, bukannya ke kamar mandi trus gosok gigi tapi melongok kamar momonganku. Dua-duanya masih tidur nyenyak. Aku mencari nyonya yang telah bangun lebih awal. Tak ku temukan dia, entah di mana. Aku longok setiap sudut kamar sampai dapur, tak ada juga. Jogging, mungkin saja, pikirku. Maka, aku pun ke kamar mandi. Begitu keluar, ku dapati nyonya kemluthik bikin kopi. Untuknya dan untukku juga. ehmmm....betapa baik hatinya nyonya ku ini, kataku dalam hati. (Dan ini salah satu alasan, kenapa aku mau menandatangani kontrak lagi dengannya 2 hari yang lalu.)

Sambil meringis, aku menyapa dia sebiasa mungkin dengan menekan rasa mangkel di dada," Cou san! Nyonya, yang di atas komputer itu duit buatku yah?"

"Iya. So mui....nih, kopimu cepet diminum!"

"He he he....tengkiyu untuk gaji dan kopinya ya nyah..." tersenyum, sambil lalu.

Tiga langkah meninggalkanku, nyonya balik lagi dan memelukku sambil berucap," Yani, maafkan aku ya, semalam memarahimu. Aku lagi stress banget sampai aku pun tak bisa tidur dengan tenang. Maka, pagi ini aku bangun lebih awal darimu. Kamu memaafkan aku kan?"

Aku mengangguk tanpa kata. Ya, sudahlah. Toh, nyonya juga sudah minta maaf. Dan itu yang aku suka dari nyonya, dia tak segan meminta maaf padaku atau pada siapa saja. Jujur saja aku kecewa dengan sikap nyonya semalam, malah boleh dibilang aku nggondok banget. Bagaimana tidak? nyonya tiba-tiba saja ngamuk tanpa sebab padaku dan terjadi di tengah malam. Tentu, aku pun ingin melampiaskan balik amarahku padanya. Karena aku juga manusia biasa yang punya emosi tapi aku tak mampu melakukannya. Dia terlalu baik untuk ku sakiti. Maka, aku pun melawan hatiku sendiri dan meluapkan amarah dalam tangis semalam. Selalu begitu. Huhhhh!!!

Pagi ini begitu beku karena suhu udara mencapai 8 derajat celcius, hingga kopi panas pun tak terasa. Segera ku reguk habis secangkir kopiku. Menengok jam, melesat ke kamar Sailo, membangunkannya. Beberapa menit kemudian, siap berangkat ke sekolah. Tak seperti biasa, nyonyaku nginthil mengantarkan sailo sampai gerbang sekolah. Mencium, memeluknya, membisikkan sesuatu," Sailo, mommy fan kung. Lei kwai la ha, deng cece hwa. Mo yai-yai. Cece hou sek lei a.Yu guo emhai, cece cau ka lah. Okey, bye-bye...see you tonight.

Sailo mengangguk lalu beralih memelukku seraya berkata," bye-bye cece...." kemudian berlari masuk.

Dalam perjalanan sekembalinya dari sekolah Sailo, aku dan nyonya diam tak banyak kata. Sampai di persimpangan jalan, sebelum say good bye, nyonya bertanya," Cece, lei mo ye le ma?"
Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala.

"Take it easy, okey! see you tonight. Bye-bye...." Nyonya melambaikan tangan sambil berlalu pergi.
http://www.blogger.com/img/blank.gif
Aku terpaku memandangi nyonya di ujung jalan sampai dia menghilang. Dalam hati aku bersyukur, betapa beruntungnya aku memiliki majikan yang baik hati. Sedangkan banyak teman BMI yang terlunta-lunta karena memiliki majikan yang jahat. Berdoa yang terbaik untuk kawan-kawanku semua. Semoga selalu sabar dan tawakal. Dulu aku juga pernah tertindas tapi percayalah di balik kekecewaan pasti ada moment manis suatu hari nanti. Tetap semangat!

Aku berjalan pulang, ngopi lagi sambil pesbukan sebentar. Ya, wis saiki ngepel sik ya........

Dari blog: Yany Wijaya Kusuma

PESAN TERAKHIR

Oleh: Geppy Heny Setyowati

Cerita ini ingin aku buat untuk suamiku di rumah. Dia selalu bertanya tentang kabarku di Hongkong. Apakah aku selalu baik-baik saja. Sebenarnya aku ingin sekali bercerita banyak dengan suamiku. Tentang ulah majikanku yang terasa sangat menjengkelkan hati. Banyak saja ulah yang dia perbuat terhadapku. Apa pun pekerjaan yang aku lakukan, tidak pernah bisa terselesaikan dengan baik dan benar dimatanya. Kesalahan ini itu yang terkadang tidak masuk diakal. Dalam hati bertanya apa sebenarnya maunya dia. Kenapa dia tega banget ngerjain aku.


Aneh memang dia majikanku seakan memberi perintah tugas-tugas, yang tanpa ada dasarnya. Seperti kejadian waktu dia pindahan rumah kemarin. Perlakuan yang sangat tidak manusiawi dia tunjukkan kepadaku. Di depan para tukang-tukang yang sedang merenovasi rumahnya. Dia berlagak sok juragan kaya.

"Ani...", dia memanggil dengan teriakan yang sangat keras walau jarak dia berdiri hanya terhalang ruang tamu yang tidak terlalu besar. Kontan aku terburu-buru menghampirinya, bukan karena takut, tetapi terkejut dengan teriakannya yang membuat aku lari tergopoh-gopoh menghampiri. Dan ternyata, apa yang dia perintahkan terhadapku. Disuruhnya aku mengelap alas kakinya. Jeritannya melengking sempat membuat para tukang berhenti sesaat, terkejut. Perkepala menenggok kearah aku dan majikanku. Ada yang mendesah, berdehem dan tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.

"Ia, ada apa nyonya", jawabku setelah sampai di tempat.

"Sini bersihin sandar jepitku", tanpa membantah aku melangkah ke dapur untuk mengambil lap alas kaki. Kembali melangkah ke tempat di mana dia tadi berdiri. Dengan mengangkat satu kaki kirinya yang bertumpu pada kaki kanan. Dengan tangan kiri berkacak pinggang dan tangan kanan berpegangan pada palang pintu ruang tamu. Tanpa sungkan dia menyerahkan sandal jepit yang masih melekat pada kaki kirinya.

"Ya,.. Tuhan". Batin hatiku beginikah cara dia memperlakukan aku. Beginikah cara dia untuk selalu merendahkan martabat orang lain, yang sebangsa denganku, bekerja sebagai BMI. Entah mengapa majikan perempuanku selalu berlaku yang tidak sewajarnya terhadapku. Dia seakan menganggap dirinyalah yang telah menghidupi aku beserta seluruh keluargaku. Dengan beranggapan, bahwa dialah yang memberi pekerjaan. Maka apa yang dia kehendaki bisa dengan mudah ia dapatkan. Terkadang aku sempat berpikir bahwa orang ini mungkin saja gila. Karena saat dia mengetahui aku sering mengerjakan sholat, dia meresa tidak suka. Dan pernah memberi saran kepadaku satu ide konyol menurut pemikirannya. Begini dia pernah bilang terhadapku.

"Apadengan sholat itu Tuhanmu bisa memberimu uang?" tanyanya dengan ketus dan ada kesan mengejek. Saat itu aku menjawab

"Tuhan memberiku rejeki yang halal."

"Kalau begitu kamu bekerja saja dengan Tuhanmu", katanya dengan enteng.

Dengan perasaan tersinggung aku hanya diam menghadapi cerocosnya yang sudah tidak masuk diakal. Begitulah sifat dia, otaknya telah dipenuhi dengan pikiran duniawi, tanpa ada kesempatan bagi dia untuk sekedar mengenal siapa sebenarnya Sang-pencipta yang sesungguhnya. Dan dia selalu memperlakukan orang lain yang di bawahnya sekehendak hatinya. Seakan tidak ada rasa menghargai terhadap orang lain. Apa saja uncapan yang sempat keluar dari bibirnya hanya ucapan makian dan cacian terhadap siapa pun. Mungkin dalam pikirannya yang tak waras, dia merasa bahwa, dia itu orang yang terpandai, terkaya, danberkuasa.

Saat orang lain membantunya, dia tidak merasa telah ditolong, tetapi beraganggap bahwa orang itu perlu dan harus bisa menolong dan membantunya. Karena segala sesuatunya dia berorientasi pada ukuran uang. Uanglah yang telah ia jadikan Tuhan atau mungkin Dewanya. Tidak terkecuali aku yang di sini sebagai pembantunya. Beginikah perkiraan pikirannya yang merendahkan diri orang lain dihadapannya bahkan tidak segan dia menunjukkan ulahnya itu dihadapan orang banyak.

"Oh...Tuhan."

Akuhanya tersenyum menyikapi segala perlakuannya terhadapku. Walau dalam hati telah dihinakan dengan ulahnya. Seakan tiada harganya, aku dihadapanya. Aku tidak mengutuknya tetapi berdo'a semoga saja dia bisa merubah sikapnya yang buruk itu. Semoga masih ada sedikit dalam hatinya menyadari tantang ulahnya yang buruk. Tetapi dalam satu sisi aku mempunyai keyakinan. Karena kita ini menusia yang sama dihadapan Tuhan. Mungkin Tuhan belum mengetuk hatinya, semoga dia segera ingat akan segala khilafnya.

Dalam hati sempat berkata "Kau pun juga bekerja ikut dengan orang, yang posisinya sama sepertiku, mempunyai seorang bos atau atasan." Kenapa engkau nyonya tidak mau melihat ini semua. Bahwa perlakuan ini pun suatu saat bisa berbalik kepadamu. Kalau pun kau saat ini berlaku merendahkan aku dengan perlakuanmu. Suatu saat kau pun akan diperlakukan sama pula oleh orang lain, dipermalukan di hadapan seluruh orang yang kamu kenal dan akan menjadikanmu terhina, lebih parah dari pada apa yang pernah aku rasakan saat ini. Tuhan engkau pasti memberikan pelajaran yang sangat berharga terhadapnya," aku yakin itu.

Aku sering mengatakan bahwa dia itu seorang yang sakit. Entah kenapa dia seakan menyimpan suatu ketakutan tersendiri. Kalau tidak, tak mungkin dia berlaku demikan terhadapku. Dan di hadapan orang lain yang sama mempunyai hati dan nurani.

Salah satu kesukaan dia makan kuaci. Saat aku memberikan keranjang sampah yang sudah aku cuci bersih. Dan aku alasi dengan kantong plastik di dalam tempat sampah. Masih saja dia membuang kulit kuaci itu disembarang tempat. "Duh... gusti, semoga ini semua engkau jadikan pelajaranku kelak bila aku engkau beri kesempatan untuk sanggup mengatur hartamu yang berlebihan dan dapat memanusiakan manusia dengan selayaknya." Saat aku bergumam sendiri di dapur dia sempat melirikku sekilas tetapi tidak begitu memperdulikannya.

Dari dapur aku dengar gelak tawanya yang tidak berhenti. "Dasar orang sinting, makan kuaci dengan melihat berita kok tertawa terpingkal-pingkal sendriri. Dari pandanganya dia merasa senang, karena mampu membuat hati ini nelangsa. Makanya setiap kali melihatku dia selalu berulah. Kejorokan yang sering membuat aku jengkel. Meludah disembarang tempat, walaupun dia meludah di rumahnya sendiri. Bikin penyakit saja. Kotor. Jorok sekali menurutku.

Saat pagi setelah dia bangun tidur, dia melangkah ke kamar kecil menggunakan wastafel untuk gosok gigi. Kegiatan apa yang dilakukannya selepas cuci mulut, selalu membuat kotoran dengan pasta gigi yang menempel di mana-mana. Hal ini terjadi selama aku kerja disini selama 6 bulan, tidak pernah tidak telewatkan, ceceran pasta gigi menempel di dinding kamar mandi, di cermin dan digelas tempat dia biasa menggunakannya utuk berkumur. Entah apa maksud dari perbuatannya. Mungkin dia beranggapan kalau tidak mengotori tempat-tempat itu, aku tidak akan membersihkannya.

Apa semua ini memang disengaja atau memang dia itu seorang yang sangat jorok sekali. Ceceran kapas bekas pembersih wajah juga tercecer dikasur dan di lantai. Tak ada tempat yang setelah di tempatinya akantetap bersih dan rapi seperti sedia kala. Pernah dia menggoreskan sebaris lipstik diseprei tempat tidur. Saat itu juga aku langsung memberitahukan kejadian itu. Pikirku mumpung dia belum berangkat kerja. Saat dia sedang mengenakan sepatu, aku segera menghampiri dan menunjukan goresan lipstik di seprai kepadanya.

"Nyonya, maaf ini seperti goresan lipstik yang menempel diseprei". Sambil menunjukan garis merah di pinggir separai.

"Coba lihat," dia mengamati sebentar lalu berkata. "Kamu cuci bersih saja".

"Maaf nyonya, kalau goresan lipstik ini susah menghilangkanya kalau tidak dengan pemutih pakaian, sedangkan seperai ini berwarna merah muda" jawabku menyatakan argumentasiku entah di terima tidak yang penting aku sudah berusaha mengeluarkan pendapat yang aku yakini benar bahwa ini goresan lipstik.

Sekilas dia memandangiku, dan mulai memperhatikan sekali lagi. Lalu dia memberi perintah. "Kamu cuci saja pakai sabun cuci. Kalau tidak bisa hilang nanti aku taruh di tempat pencucian."

"Ia nyonya..." jawabku sambil menerima kembali seperai dari tangannya.

Setelah merapikan kamar mandi dan tempat tidur aku beranjak hendak ke pasar untuk berbelanja. Aku ingat bahwa tadi sebelum berangkat dia tidak menitip pesan apa-apa kepadaku. Mungkin dia akan pulang malam lagi seperti hari-hari biasanya. Selang beberapa menit dia meneleponku.

"Yati, kamu mau belanja apa hari ini?"

"Maaf nyonya mau makan apa?" tanyaku melalui telepon genggamku.

"Aku tidak makan, kamu beli saja apa yang ingin kamu makan malam ini".

"Hari ini nyonya tidak makan dirumah?" aku mencoba bertanya dengan hati was-was kalau kali ini dia mencari sebab untuk memarahiku. Karena tadi pagi tidak seperti hari biasanya, dia belum mengumandangkan lagu wajibnya.

"Tidak, aku tidak akan pulang hari ini?"

"O,ya nyonya." aku menjawab dengan membuat senyum termanis agar dia tidak merasa jengkel.

"Aku sudah mengirim cek gaji kamu bulan ini ke rekening kamu, dua hari lagi kamu bisa ambil langsung di bank." wuah tidak seperti biasanya selalu marah dulu sebelum memberi gaji. Mungkin hari yang spesial bagi dia kali batinku dalam hati sambil semakin memperlebar senyum girangku.

"Trimakasih nyonya". jawabku sebelum dia menutup telepon.

Aku mulai menghitung uang belanja sebelum merencanakan ingin makan apa malam ini. Uang tinggal HK$ 200,- untuk belanja selama tiga hari, kukira cukup dan masih ada sisa buat mejeng bentar nanti di internt. Aku langkahkan kaki menuju pasar, di bawah flat sudah menunggu Ida dengan tas belanjanya.

"Gimana bosmu hari ini? Tanya Ida.

"Hari ini lumayan lunak, nanti malam dia tidak makan malam. Mungkin akan nginap lagi di rumah pacarnya kali". Aku memberitahu kabar majikanku pada Ida.

"Jadi bisa ngenet dong hari ini?" jawab Ida dengan semyum lebar.
Kami melangkah bersama menuju arah pasar. Tentunya mampir dulu ke lantai 3 setelah selesai berbelanja di lantai 1 membelu daging dan ayam lalu naik lagi ke lantai 2 untuk membeli sayur mayur.

"Ia, aku juga mau cek emailku hari ini". sambil menjinjing tas belanja warna biru terang.

Hari itu aku bisa haa....hiiii... sebentar selama satu jam. Aku mulai melirik status teman-temanku di Facebook. Sedikit banyak telah mengurangi saraf keteganganku dengan majikan. Segala perlakuan yang tidak mengenakkan seketika hilang saat melihat status-status kocak dari teman-teman.

Aku melihat jam tanganku menunjukan pukul 11.30 segera aku berpamitan untuk segara hengkang dari depan layar monitor. Aku lihat Ida sedang kasak -kusuk sendirian dengan pacarnya yang bekerja di Jepang.

"Ida aku dah waktunya pulang nich, kamu ikut pulang gak?" tanyaku untuk mengingatkan dia bahwa waktunya sudah habis.

"Ia...,tunggu bentar aku mau off".

"Akutunggu di luar ya?

"Ok,dah selesai."

Sepanjang perjalanan pulang tak hentinya aku tertawa mendengar kekocakan temanku yang satu ini. Seakan tak ada habisnya bahan pembicaraan yang selalu membuat aku tertawa terbahak-bahak. Kadang sampai tidak tahan dibuatnya. Sungguh Ida jagonya humur batin dalam hatiku. Aku sampai gak kuat menahan tawa hingga terasa mau terkencing-kencing.

Sesampainya di rumah langsung aku berlari menuju ke kamar mandi untuk menghilangkan hajatku yang sudah tidak bisa di tahan lagi. Dasar si Ida batin hatiku, bisa-bisanya ngerjain orang hingga segitunya. Masih saja aku menyisakan senyum-senyum lucu bila mengingat kekonyolannya tadi.

Saat aku mulai sibuk dengan diriku di kamar mandi aku melihat bercak-bercak darah merah yang mengental. Dalam hati aku berpikir, darah siapa ini kok berceceran di kamarmandi. Aku mulai menelusuri bercak darah itu hingga sampai di kamar tidur majikanku.

"Nyonya...," teriakku panik karena aku melihat dia telah terbaring diranjang dengan kedua urat nadinya terpotong.

***

D E A

Oleh: Geppy Heny Setyowati

(Permintaan dari seorang teman yang menginginkan kisah nyata Dea ini di tuliskan dalam bentuk tulisan)


Semua yang pernah memasuki tempat penampungan sudah pasti bisa memahami apa yang terjadi disana. Hidup dalam kurungan seakan berada dalam penjara. Sebenarnya banyak juga teman disana. Tetapi aku merasa begitu sulit beradaptasi dengan lingkuan baruku. Aku lebih senang melakukan segala sesuatu sendiri.


Hari pertama aku ditempatkan di ruang Mulyosari- Surabaya. Konon kabarnya tempat itu bekas puskesmas yang melayani warga 24 jam. Di kamar tiga aku mendapat tempat tidur atas. Ku kira kejadian ini pertama kali aku alami dengan nyata. Setelah selesai mandi dan makan sore. Aku langsung masuk kedalam tempat tidurku. Tepat jam 22.00 sudah diharuskan tidur semua. Tetapi aku tidak bisa tidur karena mendengar suara tangisan balita yang tidak berhenti mulai aku merebahkan badanku. Lalu aku bergumam sendiri mengatakan siapa yang mempunyai bayi sudah malam begini dibiarkan menangis tanpa henti.

Beberapa saat tangisan bayi itu mereda, selang kemudian terdengar lagi semakin keras. Lalu aku berkata kalau boleh aku menghentikan tangisan bayi itu aku ingin bayi itu tidur disampingku. Setelah selesai aku berkata demikian tiba-tiba teman-teman satu kamarku yang ada 4 orang tidur dibawah pada lari keluar kamar. Aku hanya melihat mereka dengan kebingunggan. Kenapa kok tiba-tiba mereka lari.

Aku tidak menghiraukan mereka dan aku mulai merebahkan diri melanjutkan tidurku yang sempat terganggu tangisan bayi. Setelah hampir tertidur aku merasakan ranjang yang aku tiduri tiba-tiba bergetar hebat. Perasaanku berkata mungkin teman yang tadi pergi berlari keluar kembali menempati ranjangku. Goncangan ranjang begitu kuat aku rasakan, karena tergolong murid baru aku tidak berani bersuara. Hanya diam saja membisu. Dan seketika aku merasakan benda yang amat berat jatuh berada di sampingku. Dan aku masih mengira kalau itu tubuh temanku yang tidak kebagian tempat tidur.

Aku mencium bau wangi yang sangat menyengat, lagi-lagi aku tidak berani berkomentar banyak terhadap semua teman baruku. Semuannya aku sembungyikan dalam hati. Tetapi teman ini keterlaluan dia mebenturkan aku sampai terjepit ke bibir tempat tidur dan seakan ranjang itu hanya dia sendiri yang meniduri. Dengan sedikit mendongkol aku berusaha menyikut dia dan bilang minta tempatnya sedikit. Tetapi aku merasakan sikutku seperti membentur benda yang amat keras dan kasar. Malam itu pun akhirnya aku bisa tidur dengan tenang walau terkadang tercium bau bangkai tikus atau kodok mungkin.

Pagi hari setelah aku melakukan sholat subuh aku beranjak ke ranjangku lagi. Dari pintu aku melihat sosok wajah ayu yang beranjak naik ke ranjangku. Aku berkenalan dengannya dia menyebukan namanya Dea. Asal Madiun pernah menikahi orang Manado dan mendapatkan seorang anak perempuan bernama Dea. Jadi dia memakai nama anaknya sebagai panggilan kesayangan menurutnya.

Karena pagi itu Sutikno sedang piket jadi dia melihatku dengan keherana kenapa kok aku bicara sendirian. Saat aku melihat kearah Dea, dia hanya memberi isyarat aku untuk diam saja. Lalu Sutikno bilang kenapa ya aku kok tiba-tiba jadi merinding begini lalu Sutikno pergi meninggalkan aku berdua dengan Dea. Pagi hari kegiatan rutinnya senam pagi. Tapi aku tidak melihat dea ikut senam hari ini. Maklum baru dapet teman baru jadi perhatian.

Aku bertemu dengan Dea lagi pas pada saat pelajaran awal dimulai. Dea mengambil tempat duduk di sampingku. Dan aku pun dengan tenang memberikan tempat di sampingku. Hanya sunggingan senyumku yang mengisyaratkan Dea boleh duduk sebangku denganku. Saat pelajaran di mulai aku memang jarang sekali ngobrol dengannya. Hingga waktu pelajaran usai yang ditandai dengan istirahat siang. Saat makan siang aku masih belum mendapatkan teman baru. Pasalnya mereka telam membentuk grub sendiri-sendiri. Jadinya aku canggung untuk ikut bergabung bersama mereka. Dan pandanganku mulai mencari dimana Dea berada. Dengan wajah yang terus menyunging senyum pucat dia menghampiriku dan menemaniku makan siang. Saat aku bertanya apa sudah makan dia menjawab kalau barusan selesai makan. Lalu aku menimpali kapan makan siang aku kok tidak melihat Deanya makan. Lalu Dea bilang tadi waktu aku sholat dhuhur Dea sudah ambil piring.

Datang seorang kawan yang tidak aku kenal bilang “makan jangan sambil ngomong sendiri”, aku hanya tanggapi dengan senyum. Saat pelajaran pertama hingga usai aku jarang sekali berkomunikasi dengan Dea. Begitu pun Dea seakan mengeti peraturan yang melarang berbicara saat pelajaran berlangsung. Akhirnya malam kedua pun aku alami.

Malam itu Dea langsung menyusulku naik ke atas tempat tidur. Lalu aku bilang hai jangan tidur di sini? Gak boleh tidur berdua nanti kalau ketahuan Pembina bisa dihukum. Lalu Dea bilang tidak ada tempat untuk tidur semua ruangan penuh. Yah akhirnya aku perbolehkan Dea tidur seranjang denganku. Saat hendak tidur Dea bertanya? “kamu kalau tidur biasanya berdo’a tidak” aku jawab yang harus. Langsung saat itu dia bangun dari ranjang. Aku tanya kamu mau pergi kemana? Katanya mau tidur bareng jawabku. Dea bilang kamu berdo’a saja dulu aku matu kebelakang bentar. Karena ku kira Dea akan ambil air wudhu sebelum tidur jadi aku langusng aja berdo’a. Setelah beberapa saat menunggu, Dea kembali lagi. Dan bertanya sudah do’a belum? Aku jawab sudah. Lalu dia naik ke atas pembaringan dan aku mulai tidur dengan badan aku miringkan menghadap tembok.

Entah jam berapa aku tidak tahu karena kamar didalam lampunya di matikan jadi aku tidak bisa melihat jam. Apa lagi aku lupa gak bawa jam tanganku yang tertinggal di meja belajar. Saat itu hidungku mencium bau bangkai yang sangat menyengat. Dan antara sadar dan tidak aku seperti tidur bersama pocong. Karena tidak ingin berpikiran macam-macam akhirnya aku peluk sekalian tubuh pocong dengan posisi tangan mendekap tubuh pocong dan kaki aku tindihkan ke tubuh pocong itu. Lalu aku sembungikan wajahku tepat di sisi tubuh pocong dengan perasaan takut dalam hati membaca bacaan ayat kursi yang pada akhir bacaan “wa laa ya’uuduhuu hifzhuhumaa wa huwal aliyyul azhiim” insyaAllah yang artinya “dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. Ku ulang berkali-kali. Sampai aku tertidur dan tenang kembali. Setelah itu aku lepaskan dekapanku. Setelah tersadar entah jam berapa ranjangku jadi longgar karena aku tidak melihat Dea tidur di sisiku. Dalam hati berpikir mungkin dia sudah bangun.

Wuah panjang sekali kalau diceritakan saat aku berteman dengan Dea. Yang ternyata menurut ustadku sosok Dea ini ternyata Jin yang sudah lama menempati bangunan Mulyosari. Kukira Dea adalah sesosok jin muslim karena dia juga sholat 5 waktu dan terkadang juga bersama-sama denganku menjalankan sholat qiaumul lail sholat tengah malam yang biasa di sebut sholat tahajud. Menjalankan puasa senin-kamis dan juga puasa Ramadan. Karena sifat jin yang kadang usil juga, pernah aku dikenalkan dengan beberapa teman-temannya. Sering aku di panggil ke ruang pembina yang menanyakan pada jam pelajarannya aku tidak ada ditempat. Padahal aku tidak penah absen mengikuti pelajarannya. Dan saat ujianpun aku bisa menyelesaikan dengan baik.

Sempat juga aku menjanani tes terapi yang disebabkan ulah Dea ini yang sering mengajak aku ngobrol bersama. Karena banyak siswa lain sering melihat aku bercakap-cakap seorang diri. Lebih parah lagi ada yang menyangka aku mempunyai kapribadian ganda. Bahkan, dibilang stres, gila dan aneh-aneh.*

PETIR

Nyi Penengah Dewanti

Petir itu datang meremangkan roma, aku sendirian dalam gulita. Menerialaplah jiwaku yang kecil ini, mengambil air wudhu, sujud dalam lindungan-Mu Ya Ilahi Robi. Bumi dan langit menyusupkan tali getar. Engkaulah yang Mahabesar Ya Allah, tiada kekuatan yang lebih hebat selain kuasaMu. Lindungilah hamba dari marabahaya yang mengancam.

Hujan dan petir saling bersahutan di luar sana. Menyiram bumi, membelah kota. Semesta bersyukur menyambut rintikkanya, dan aku bertafakur meredam segala ketakutan. Jadikanlah hujan ini berkah Ya Allah, dan jauhkanlah kami dari wabah. Kilat cahaya memasuki jendela memecah sunyi, suaranya membuat detak jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

Kokok ayam melangit bersahutan, membangunkan aku dari tidur semalam. Ternyata aku masih memakai mukena, dan merebahkan diri di atas sajadah. Ah… ketakutan yang berlebihan. Segera aku melepas mukena, dan mengambil air wudhu kembali, melaksanakan shalat subuh. Kemudian bergegas, membereskan buku dan kertas yang masih berserakan. Gara-gara mati lampu semalam, tugasku masih separuh kukerjakan. Semoga dosen pembimbingku tidak mempermasalahkannya aku harap. Aku berjalan keluar kamar, membuka pintu, masih sepi.

”Keyla, sini.” Nita memanggilku dari balik dapur. Aku berjalan menujunya.

”Ada apa Ta?” jawabku.

”Mau aku bikinin mie sekalian?” tanyanya halus, aku memincingkan mata.
”Tumben lo baik banget.” Aku curiga, pasti ada sesuatu yang ia inginkan, biasanya sih seperti itu, pengalamanku selama berteman dengannya.

”Tapi…” Nah, kan baru saja aku membatin.

”Temani aku tidur nanti malam ya, aku takut petir,” tiba-tiba ia mendekat.

”Simbol petir itu perwujudan setan. Ketika petir menggelegar, pasti ada setan di situ. Setan jatuh bagaikan kilat,” bisiknya lagi, bulu kudukku mulai berdiri.

”Key,” tangan Nita menarik bajuku cepat.

”Hmmm… wadha wapha….” mulutku tetap menikmati mie goreng buatan Nita.

”Aku seperti melihat sepasang mata, di balik sinar jendela,” refleks wajahku menoleh ke Nita.

”Ini sudah pagi, Ta. Jangan mengada-ada,” aku duduk merapat ke Nita.

”Serius,” ia mencoba meyakinkanku, dengan tatapannya. Aku beranjak dari kursi, berjalan mendekati jendela.

”Sssrtt…. ” korden jendela kubuka.

”Tuh liat, itu sinar matahari, Odong,” Aku memanggil Nita dengan: Odong, sesekali kalau diantara kami jadi nyebelin. Sebel sayang maksudnya, buat candaan.

”Alhamdulillah Ya Allah,” serunya girang, karena hari sudah menampakan terang.

”Udah ah, aku mandi duluan, ya. Giliran kamu yang cuci piringnya,” aku mengangguk.

Kos ini memang sepi, jauh dari pusat perkotaan, diapit, pemakaman di belakang, dan masjid di sebelahnya. Letaknya yang tidak terlalu ramai, dan murah, membuat kebanyakan mahasiswa seperti aku memilih tempat ini. Alasannya simpel, biar lebih konsen dalam belajar, tidak terlalu bising dengan deru motor dan kendaraan beroda empat.

[]

Lelaki yang duduk di makam.

Sore itu aku pulang kuliah, agak telat dari biasanya. Gara-gara tugas belum kelar. Pak Lucky memberiku jadwal bimbingan di akhir jam kelas sore. Alamat jalan menuju kostan sudah agak sepi, dan gelap. Hal yang paling menakutkan adalah aku harus melewati makam itu sendirian. Aku mencoba menelpon Nita untuk menemani berbincang sejenak melewati jalan. Apesnya Nita tidak mengangkat panggilanku. Jantungku hampir saja copot, di pojok pusara pemakaman ada bayangan hitam sedang menunduk takzim. Pekuburan memang rumah masa depan umat manusia, tapi kenapa aku selalu was-was, hanya melewati pelatarannya saja. Kuamati dengan seksama, jelas itu bukan setan. Perawakannya atletis , tapi kenapa ia sendirian ya, saudaranya yang lain apa tidak ikut mengantar . Sepertinya taburan bunga mawar itu masih baru menghiasi gundukan tanah, masih bagus, dan aku bergegas berjalan cepat meninggalkan kuburan.

Kurebahkan lelah di sofa ruang tamu kost. Tas kutaruh di lantai begitu saja. Vallent diam saja cuek menikmati lembaran majalah fashion. Menoleh sebentar saat aku tiba, dan kembali asyik melanjutkan memilah-milah baju keluaran terbaru, kudengar sayup-sayup tawa dari ruang tengah.

”Lent, biasanya anak-anak yang ngekos di sini? Yang pulang agak larut malam siapa?” tanyaku pada Vallent, memecah keheningan.

“Nia, pulangnya sekitar pukul 8 malam. Ada yang penting?”

”Oh nggak apa-apa, siapa tahu bisa bareng.”

[]

Cuaca semalam agak bersahabat, meski hujan tapi tidak ada gemuruh Guntur, dan kilatan cahaya langit. Aku tidak perlu menemani Nita sesuai janjiku, ia menginap di kostan temennya. Dia mengirimikan sms meminta maaf tidak sempat mengangkat telfon karena sedang di kamar mandi. Rasanya otakku mau pecah, digeber skripsi akhir-akhir ini, pindahan kos ternyata juga menguras waktu dan tenaga. Musim penghujan membuat baju-bajuku tidak kering.

Aku beranjak ke belakang memeriksa jemuran. Lumayan kering, tapi masih sedikit lembab. Mataku berhati-hati mengamati pekuburan, takut tiba-tiba muncul sesuatu yang tidak diinginkan. Benar saja, aku melihatnya lagi, lelaki berkaos hitam itu masih setia duduk di makam. Kebetulan ada semacam rumah kecil yang di bangun untuk, tempat berteduh bagi para penggali lubang makam, di situ ada keranda mayat, beberapa sapu dan sekop untuk membersihkan ataupun menggali kuburan, Apa mungkin dia penjaga makam ya.

[]

Hujan deras turun begitu saja saat aku turun dari angkot. Untung saja aku bawa payung. Bergegas kukibarkan payung hitam motif bunga milikku. Aku peka sekali terhadap warna hitam, entahlah aku dapat menangkap segera, segala hal yang berwarna hitam. Aku tak percaya apa yang kulihat sekarang, diantara hujan yang menderas dan ia masih duduk disamping makam. Antara naluri kemanusiaan, berperang melawan ketakutan aku mencoba memasuki gerbang pintu rumah masa depan, berjinjit menghindari genangan air, tak sengaja aku terlpeleset sebelum sampai temapt di mana lelaki itu berada. Aku mengibaskan dress ku yang sedikit terkena bercak lumpur. Kemudian aku mulai menatap kedepan menuju dia… dia, tidak ada. Mataku tidak mungkin katarak secepat ini, atau mungkin aku rabun tiba-tiba, aku melepas kaca mataku yang berembun terkena tetesan hujan. Memakainya kembali, melihat situasi, dan nihil.

Aku hampir pingsan, di kagetkan Pak Rahman. Dia tersenyum menatapku, tatapannya seakan mengerti kalau aku sedang benar-benar ketakutan.

”Mbak Keyla, baik-baik saja?” tatapan matanya menangkap sinyal kekhawatiran.

“Pak, tadi saya melihat ada lelaki duduk di sebelah makam itu kehujanan. Saya ingin membantunya meminjamkan payung saya untuk berteduh. Saya tidak sengaja jatuh, dan pria itu raib.” Pelan-pelan suaraku bergetar menuturkan.
”Mari saya antar ke luar pintu gerbang Mbak Keyla.” Aku tak mengerti, pertanyaanku tidak langsung dijawab, Pak Rahman. Tapi aku menuruti kata-katanya untuk segera keluar dari kawasan yang menyeramkan buatku.

”Jangan diganggu ya Mbak Keyla, kalau melihat lagi. Bairkan saja.”

”Maksud Bapak?”

”Apapun yang mbak lihat di sekitar pekuburan ini, biarkanlah. Berusahalah untuk bersikap wajar.” Aku mengigil dan merinding, hujan masih sederas tadi.

”Mungkin mereka hanya ingin berkenalan saja dengan Mbak Keyla, dan sesekali menampakan diri. Tapi setelah itu mereka biasanya sudah tidak mengganggu lagi.” Dengan kata sehalus mungkin Pak Rahman menjelaskan. Aku tidak lagi bisa berfikir, segalanya membayang kembali.

Tentang hujan di malam itu, petir, sepasang mata di balik sinar jendela, dan lelaki yang duduk di makam. Dia adalah salah satu warga yang telah dijemput Sang Mahakuasa, ketika selesai melaksanakan shalat subuh sepulang dari masjid. Tidak sengaja ada pohon yang rebah, tumbang jatuh ke tanah menghantam tubuhnya, di jalan depan pekuburan, yang letaknya tidak jauh dari masjid. Setiap yang bernyawa tetap akan mati, begitulah juga manusia yang diciptakan dari tanah.

”Dari bumilah Kami ciptakan kamu, dan ke dalamnya Kami akan menggembalikan kamu dan daripadanya pula Kami akan mengeluarkan kamu sekali lagi.”*

BERJUANG MELALUI BUKU


Tanggal 18 Desember adalah Hari Buruh Migran Sedunia. Di Indonesia, para aktivis, pemeduli, dan para buruh sendiri memeringatinya di Wonosobo (Jawa Tengah), Malang (Jawa Timur), dan di kota-kota lain hingga Jakarta dengan berbagai kegiatan. Ada pawai, pemutaran film, diskusi, dan peluncuran buku.

Di Malang (kawasan yang tergolong banyak mengirimkan tenaga kerjanya ke luar negri) ada peringatan yang dikemas lebih sebagai acara kesenian: baca puisi, monolog, orasi budaya, dan peluncuran buku, di Pendopo Dewan Kesenian Kota Malang (Jl Majapahit) malam itu (18/12).

Buku yang diluncurkan adalah Sebongkah Tanah Retak yang dilabeli sebagai ’’novel inspiratif.’’ Penulisnya, Rida Fitria, ialah ibu tiga orang anak, istri Aak Abdullah Al Kudus yang penyair dan pendiri SBMI (Serikat Buruh Migran Indonesia) itu. Sebongkah Tanah Retak bercerita tentang seorang tokoh, Ijah, yang menjadi petarung kehidupan dengan menjadi pekerja migran. Bekerja 2 tahun di Arab Saudi, pulang, dan terpaksa kembali menjadi pekerja migran. Kali kedua ini tidak kembali ke Arab, melainkan ke Hong Kong.
Rida Fitria tentu tidak hanya mau bergagah-gagah menjadi penulis novel dengan terbitnya Sebongkah Tanah Retak ini. Jika novel ini kemudian lebih melambungkan namanya yang kini sudah dikenal sebagai aktivis itu, tentu hanyalah sebagai efek samping saja. Yang lebih terasa adalah betapa penulis meniatkan penulisan novel ini sebagai sebentuk perjuangan. Rida Fitria telah berjuang dengan senjata: pena. Begitulah.

Kalau berbicara soal gairah penulisan, BMI-HK pasti tak kalah kenceng-nya dibanding para penulis di Indonesia. Cobalah hitung, berapa sudah buku diterbitkan oleh BMI-HK di tahun 2010 yang baru saja lewat?

Jangan bicara soal amatir dan professional dulu. Gairah penulisan yang makantar-kantar di antara para pekerja migran di HK ini sudahlah merupakan api perjuangan itu sendiri. Perkara bagaimana membuat kobaran api itu kelak menjadi lebih indah dari letusan magma dan lebih tinggi derajat panasnya daripada wedhus gembel, itu urusan lain.

Apalagi kalau sudah bicara soal buku. Lho, baru menulis, itu saja: m e n u l i s , itu sudah bisa bernilai perjuangan, lho! Kandhani, kok! [bon]

Menggagas Festival Pekerja Migran 2012


Setelah sukses dengan Festival Sastra Buruh 2007 (Blitar, Jawa Timur) FLP-HK sudah menggelar Festival Sastra Migran 2010 dan akan disusul acara serupa 2012 ini, di Hong Kong. Di Indonesia, masih sepi. Padahal, penerbitan buku-buku karya BMI/Mantan BMI semakin marak. Perhatian dari kalanhgan akademik pun semakin terlihat. Seorang dosen Unesa (Surabaya) yang kini sedang menyelesaikan program S-3-nya juga berniat menjadikan karya-karya BMI untuk bahan disertasinya.

Acara internasional sebergengsi UWRF Ubud Writers and Readers Festival 2011 pun mulai memperhitungkan dan mengundang penulis dari kalangan BMI.

Namun demikian, semaraknya dapur produksi penulisan di kalangan BMI ini tetap saja terasa kurang diimbangi oleh kegiatan-kegiatan pendukungnya. Seolah-olah hanya didorong-dorong untuk berproduksi, setelah itu selesai. Buku terbit, masuk pasar, dan didiamkan. Sungguh eman jika acara yang sudah dimulai dengan baik dan susah-payah bernama Festival Sastra Buruh itu tidak dilanjutkan dengan baik.

Baiklah, setidaknya di HK sudah ada FLP yang meneruskan tradisi yang baik itu. Dan di Indonesia, jika tidak ada aral melintang, Mei 2012 nanti kita akan menggelar Festival Pekerja Migran. Bukan hanya untuk sastra, tetapi juga untuk merayakan segala produk baik yang benda maupun takbenda, yang dihasilkan oleh para BMI. Karena itulah, yang akan digelar bukan hanya sastra dan seputarnya, melainkan juga hal-hal lain, bahkan termasuk bakti sosial menanam pohon. Yang sudah diangankan adalah: bedah buku, pameran/bursa buku, pameran foto, pemutaran film, sarasehan sastra, sarasehan budaya, bakti sosial tanam pohon, telekonference, pentas sastra, pentas seni.

Buku yang akan dibedah, diusahakan adalah karya puncak para pekerja migran (BMI) yang mulai saat ini dihimpun. Caranya, para BMI penulis, diharapkan mengirimkan karya terbaiknya (yang belum dibukukan), baik yang baru, yang pernah dimuat di media cetak maupun elektronik, berupa puisi, cerpen, opini, features, memoar, ke pos-el: forumburuhmigran@gmail.com. Jangan lupa melengkapinya dengan biodata dan foto penulis. Ditunggu oleh panitia, selambat-lambatnya hingga 30 Maret 2012.

Partisipasi BMI di seluruh dunia akan sangat menentukan keberhasilan kegiatan ini. Selain mengirimkan karya, menyebarkan informasi ini melalui akun Facebook, milis, atau media lain, adalah bagian dari ujud partisipasi itu. Di Indonesia, sudah ada pihak yang bersedia memfasilitasi agar dapat digelar teleconference-nya. Jika ternyata tidak ada penyandang dana yang sanggup mencukupi kebutuhana acara ini, para penulis juga akan diminta bergotong-royong untuk membayar iuran penerbitan buku. Berdasarkan pengalaman menerbitkan buku Pasewakan setebal 500-an halaman (September 2011), sudah cukup jika masing-masing penulis, tanpa memandang apakah karyanya berupa puisi, cerpen, atau opini, menyumbangkan Rp 100.000 (seratus ribu rupiah).

Itu pun baru dapat diputuskan nanti. Yang terpenting sekarang, segeralah kirimkan karya Anda melalui alamat yang sudah disebutkan tadi. Dan sebarkan informasi ini ke rekan-rekan penulis dari kalangan BMI lainnya. Setuju?


BONARI NABONENAR