D E A

Oleh: Geppy Heny Setyowati

(Permintaan dari seorang teman yang menginginkan kisah nyata Dea ini di tuliskan dalam bentuk tulisan)


Semua yang pernah memasuki tempat penampungan sudah pasti bisa memahami apa yang terjadi disana. Hidup dalam kurungan seakan berada dalam penjara. Sebenarnya banyak juga teman disana. Tetapi aku merasa begitu sulit beradaptasi dengan lingkuan baruku. Aku lebih senang melakukan segala sesuatu sendiri.


Hari pertama aku ditempatkan di ruang Mulyosari- Surabaya. Konon kabarnya tempat itu bekas puskesmas yang melayani warga 24 jam. Di kamar tiga aku mendapat tempat tidur atas. Ku kira kejadian ini pertama kali aku alami dengan nyata. Setelah selesai mandi dan makan sore. Aku langsung masuk kedalam tempat tidurku. Tepat jam 22.00 sudah diharuskan tidur semua. Tetapi aku tidak bisa tidur karena mendengar suara tangisan balita yang tidak berhenti mulai aku merebahkan badanku. Lalu aku bergumam sendiri mengatakan siapa yang mempunyai bayi sudah malam begini dibiarkan menangis tanpa henti.

Beberapa saat tangisan bayi itu mereda, selang kemudian terdengar lagi semakin keras. Lalu aku berkata kalau boleh aku menghentikan tangisan bayi itu aku ingin bayi itu tidur disampingku. Setelah selesai aku berkata demikian tiba-tiba teman-teman satu kamarku yang ada 4 orang tidur dibawah pada lari keluar kamar. Aku hanya melihat mereka dengan kebingunggan. Kenapa kok tiba-tiba mereka lari.

Aku tidak menghiraukan mereka dan aku mulai merebahkan diri melanjutkan tidurku yang sempat terganggu tangisan bayi. Setelah hampir tertidur aku merasakan ranjang yang aku tiduri tiba-tiba bergetar hebat. Perasaanku berkata mungkin teman yang tadi pergi berlari keluar kembali menempati ranjangku. Goncangan ranjang begitu kuat aku rasakan, karena tergolong murid baru aku tidak berani bersuara. Hanya diam saja membisu. Dan seketika aku merasakan benda yang amat berat jatuh berada di sampingku. Dan aku masih mengira kalau itu tubuh temanku yang tidak kebagian tempat tidur.

Aku mencium bau wangi yang sangat menyengat, lagi-lagi aku tidak berani berkomentar banyak terhadap semua teman baruku. Semuannya aku sembungyikan dalam hati. Tetapi teman ini keterlaluan dia mebenturkan aku sampai terjepit ke bibir tempat tidur dan seakan ranjang itu hanya dia sendiri yang meniduri. Dengan sedikit mendongkol aku berusaha menyikut dia dan bilang minta tempatnya sedikit. Tetapi aku merasakan sikutku seperti membentur benda yang amat keras dan kasar. Malam itu pun akhirnya aku bisa tidur dengan tenang walau terkadang tercium bau bangkai tikus atau kodok mungkin.

Pagi hari setelah aku melakukan sholat subuh aku beranjak ke ranjangku lagi. Dari pintu aku melihat sosok wajah ayu yang beranjak naik ke ranjangku. Aku berkenalan dengannya dia menyebukan namanya Dea. Asal Madiun pernah menikahi orang Manado dan mendapatkan seorang anak perempuan bernama Dea. Jadi dia memakai nama anaknya sebagai panggilan kesayangan menurutnya.

Karena pagi itu Sutikno sedang piket jadi dia melihatku dengan keherana kenapa kok aku bicara sendirian. Saat aku melihat kearah Dea, dia hanya memberi isyarat aku untuk diam saja. Lalu Sutikno bilang kenapa ya aku kok tiba-tiba jadi merinding begini lalu Sutikno pergi meninggalkan aku berdua dengan Dea. Pagi hari kegiatan rutinnya senam pagi. Tapi aku tidak melihat dea ikut senam hari ini. Maklum baru dapet teman baru jadi perhatian.

Aku bertemu dengan Dea lagi pas pada saat pelajaran awal dimulai. Dea mengambil tempat duduk di sampingku. Dan aku pun dengan tenang memberikan tempat di sampingku. Hanya sunggingan senyumku yang mengisyaratkan Dea boleh duduk sebangku denganku. Saat pelajaran di mulai aku memang jarang sekali ngobrol dengannya. Hingga waktu pelajaran usai yang ditandai dengan istirahat siang. Saat makan siang aku masih belum mendapatkan teman baru. Pasalnya mereka telam membentuk grub sendiri-sendiri. Jadinya aku canggung untuk ikut bergabung bersama mereka. Dan pandanganku mulai mencari dimana Dea berada. Dengan wajah yang terus menyunging senyum pucat dia menghampiriku dan menemaniku makan siang. Saat aku bertanya apa sudah makan dia menjawab kalau barusan selesai makan. Lalu aku menimpali kapan makan siang aku kok tidak melihat Deanya makan. Lalu Dea bilang tadi waktu aku sholat dhuhur Dea sudah ambil piring.

Datang seorang kawan yang tidak aku kenal bilang “makan jangan sambil ngomong sendiri”, aku hanya tanggapi dengan senyum. Saat pelajaran pertama hingga usai aku jarang sekali berkomunikasi dengan Dea. Begitu pun Dea seakan mengeti peraturan yang melarang berbicara saat pelajaran berlangsung. Akhirnya malam kedua pun aku alami.

Malam itu Dea langsung menyusulku naik ke atas tempat tidur. Lalu aku bilang hai jangan tidur di sini? Gak boleh tidur berdua nanti kalau ketahuan Pembina bisa dihukum. Lalu Dea bilang tidak ada tempat untuk tidur semua ruangan penuh. Yah akhirnya aku perbolehkan Dea tidur seranjang denganku. Saat hendak tidur Dea bertanya? “kamu kalau tidur biasanya berdo’a tidak” aku jawab yang harus. Langsung saat itu dia bangun dari ranjang. Aku tanya kamu mau pergi kemana? Katanya mau tidur bareng jawabku. Dea bilang kamu berdo’a saja dulu aku matu kebelakang bentar. Karena ku kira Dea akan ambil air wudhu sebelum tidur jadi aku langusng aja berdo’a. Setelah beberapa saat menunggu, Dea kembali lagi. Dan bertanya sudah do’a belum? Aku jawab sudah. Lalu dia naik ke atas pembaringan dan aku mulai tidur dengan badan aku miringkan menghadap tembok.

Entah jam berapa aku tidak tahu karena kamar didalam lampunya di matikan jadi aku tidak bisa melihat jam. Apa lagi aku lupa gak bawa jam tanganku yang tertinggal di meja belajar. Saat itu hidungku mencium bau bangkai yang sangat menyengat. Dan antara sadar dan tidak aku seperti tidur bersama pocong. Karena tidak ingin berpikiran macam-macam akhirnya aku peluk sekalian tubuh pocong dengan posisi tangan mendekap tubuh pocong dan kaki aku tindihkan ke tubuh pocong itu. Lalu aku sembungikan wajahku tepat di sisi tubuh pocong dengan perasaan takut dalam hati membaca bacaan ayat kursi yang pada akhir bacaan “wa laa ya’uuduhuu hifzhuhumaa wa huwal aliyyul azhiim” insyaAllah yang artinya “dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. Ku ulang berkali-kali. Sampai aku tertidur dan tenang kembali. Setelah itu aku lepaskan dekapanku. Setelah tersadar entah jam berapa ranjangku jadi longgar karena aku tidak melihat Dea tidur di sisiku. Dalam hati berpikir mungkin dia sudah bangun.

Wuah panjang sekali kalau diceritakan saat aku berteman dengan Dea. Yang ternyata menurut ustadku sosok Dea ini ternyata Jin yang sudah lama menempati bangunan Mulyosari. Kukira Dea adalah sesosok jin muslim karena dia juga sholat 5 waktu dan terkadang juga bersama-sama denganku menjalankan sholat qiaumul lail sholat tengah malam yang biasa di sebut sholat tahajud. Menjalankan puasa senin-kamis dan juga puasa Ramadan. Karena sifat jin yang kadang usil juga, pernah aku dikenalkan dengan beberapa teman-temannya. Sering aku di panggil ke ruang pembina yang menanyakan pada jam pelajarannya aku tidak ada ditempat. Padahal aku tidak penah absen mengikuti pelajarannya. Dan saat ujianpun aku bisa menyelesaikan dengan baik.

Sempat juga aku menjanani tes terapi yang disebabkan ulah Dea ini yang sering mengajak aku ngobrol bersama. Karena banyak siswa lain sering melihat aku bercakap-cakap seorang diri. Lebih parah lagi ada yang menyangka aku mempunyai kapribadian ganda. Bahkan, dibilang stres, gila dan aneh-aneh.*

PETIR

Nyi Penengah Dewanti

Petir itu datang meremangkan roma, aku sendirian dalam gulita. Menerialaplah jiwaku yang kecil ini, mengambil air wudhu, sujud dalam lindungan-Mu Ya Ilahi Robi. Bumi dan langit menyusupkan tali getar. Engkaulah yang Mahabesar Ya Allah, tiada kekuatan yang lebih hebat selain kuasaMu. Lindungilah hamba dari marabahaya yang mengancam.

Hujan dan petir saling bersahutan di luar sana. Menyiram bumi, membelah kota. Semesta bersyukur menyambut rintikkanya, dan aku bertafakur meredam segala ketakutan. Jadikanlah hujan ini berkah Ya Allah, dan jauhkanlah kami dari wabah. Kilat cahaya memasuki jendela memecah sunyi, suaranya membuat detak jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

Kokok ayam melangit bersahutan, membangunkan aku dari tidur semalam. Ternyata aku masih memakai mukena, dan merebahkan diri di atas sajadah. Ah… ketakutan yang berlebihan. Segera aku melepas mukena, dan mengambil air wudhu kembali, melaksanakan shalat subuh. Kemudian bergegas, membereskan buku dan kertas yang masih berserakan. Gara-gara mati lampu semalam, tugasku masih separuh kukerjakan. Semoga dosen pembimbingku tidak mempermasalahkannya aku harap. Aku berjalan keluar kamar, membuka pintu, masih sepi.

”Keyla, sini.” Nita memanggilku dari balik dapur. Aku berjalan menujunya.

”Ada apa Ta?” jawabku.

”Mau aku bikinin mie sekalian?” tanyanya halus, aku memincingkan mata.
”Tumben lo baik banget.” Aku curiga, pasti ada sesuatu yang ia inginkan, biasanya sih seperti itu, pengalamanku selama berteman dengannya.

”Tapi…” Nah, kan baru saja aku membatin.

”Temani aku tidur nanti malam ya, aku takut petir,” tiba-tiba ia mendekat.

”Simbol petir itu perwujudan setan. Ketika petir menggelegar, pasti ada setan di situ. Setan jatuh bagaikan kilat,” bisiknya lagi, bulu kudukku mulai berdiri.

”Key,” tangan Nita menarik bajuku cepat.

”Hmmm… wadha wapha….” mulutku tetap menikmati mie goreng buatan Nita.

”Aku seperti melihat sepasang mata, di balik sinar jendela,” refleks wajahku menoleh ke Nita.

”Ini sudah pagi, Ta. Jangan mengada-ada,” aku duduk merapat ke Nita.

”Serius,” ia mencoba meyakinkanku, dengan tatapannya. Aku beranjak dari kursi, berjalan mendekati jendela.

”Sssrtt…. ” korden jendela kubuka.

”Tuh liat, itu sinar matahari, Odong,” Aku memanggil Nita dengan: Odong, sesekali kalau diantara kami jadi nyebelin. Sebel sayang maksudnya, buat candaan.

”Alhamdulillah Ya Allah,” serunya girang, karena hari sudah menampakan terang.

”Udah ah, aku mandi duluan, ya. Giliran kamu yang cuci piringnya,” aku mengangguk.

Kos ini memang sepi, jauh dari pusat perkotaan, diapit, pemakaman di belakang, dan masjid di sebelahnya. Letaknya yang tidak terlalu ramai, dan murah, membuat kebanyakan mahasiswa seperti aku memilih tempat ini. Alasannya simpel, biar lebih konsen dalam belajar, tidak terlalu bising dengan deru motor dan kendaraan beroda empat.

[]

Lelaki yang duduk di makam.

Sore itu aku pulang kuliah, agak telat dari biasanya. Gara-gara tugas belum kelar. Pak Lucky memberiku jadwal bimbingan di akhir jam kelas sore. Alamat jalan menuju kostan sudah agak sepi, dan gelap. Hal yang paling menakutkan adalah aku harus melewati makam itu sendirian. Aku mencoba menelpon Nita untuk menemani berbincang sejenak melewati jalan. Apesnya Nita tidak mengangkat panggilanku. Jantungku hampir saja copot, di pojok pusara pemakaman ada bayangan hitam sedang menunduk takzim. Pekuburan memang rumah masa depan umat manusia, tapi kenapa aku selalu was-was, hanya melewati pelatarannya saja. Kuamati dengan seksama, jelas itu bukan setan. Perawakannya atletis , tapi kenapa ia sendirian ya, saudaranya yang lain apa tidak ikut mengantar . Sepertinya taburan bunga mawar itu masih baru menghiasi gundukan tanah, masih bagus, dan aku bergegas berjalan cepat meninggalkan kuburan.

Kurebahkan lelah di sofa ruang tamu kost. Tas kutaruh di lantai begitu saja. Vallent diam saja cuek menikmati lembaran majalah fashion. Menoleh sebentar saat aku tiba, dan kembali asyik melanjutkan memilah-milah baju keluaran terbaru, kudengar sayup-sayup tawa dari ruang tengah.

”Lent, biasanya anak-anak yang ngekos di sini? Yang pulang agak larut malam siapa?” tanyaku pada Vallent, memecah keheningan.

“Nia, pulangnya sekitar pukul 8 malam. Ada yang penting?”

”Oh nggak apa-apa, siapa tahu bisa bareng.”

[]

Cuaca semalam agak bersahabat, meski hujan tapi tidak ada gemuruh Guntur, dan kilatan cahaya langit. Aku tidak perlu menemani Nita sesuai janjiku, ia menginap di kostan temennya. Dia mengirimikan sms meminta maaf tidak sempat mengangkat telfon karena sedang di kamar mandi. Rasanya otakku mau pecah, digeber skripsi akhir-akhir ini, pindahan kos ternyata juga menguras waktu dan tenaga. Musim penghujan membuat baju-bajuku tidak kering.

Aku beranjak ke belakang memeriksa jemuran. Lumayan kering, tapi masih sedikit lembab. Mataku berhati-hati mengamati pekuburan, takut tiba-tiba muncul sesuatu yang tidak diinginkan. Benar saja, aku melihatnya lagi, lelaki berkaos hitam itu masih setia duduk di makam. Kebetulan ada semacam rumah kecil yang di bangun untuk, tempat berteduh bagi para penggali lubang makam, di situ ada keranda mayat, beberapa sapu dan sekop untuk membersihkan ataupun menggali kuburan, Apa mungkin dia penjaga makam ya.

[]

Hujan deras turun begitu saja saat aku turun dari angkot. Untung saja aku bawa payung. Bergegas kukibarkan payung hitam motif bunga milikku. Aku peka sekali terhadap warna hitam, entahlah aku dapat menangkap segera, segala hal yang berwarna hitam. Aku tak percaya apa yang kulihat sekarang, diantara hujan yang menderas dan ia masih duduk disamping makam. Antara naluri kemanusiaan, berperang melawan ketakutan aku mencoba memasuki gerbang pintu rumah masa depan, berjinjit menghindari genangan air, tak sengaja aku terlpeleset sebelum sampai temapt di mana lelaki itu berada. Aku mengibaskan dress ku yang sedikit terkena bercak lumpur. Kemudian aku mulai menatap kedepan menuju dia… dia, tidak ada. Mataku tidak mungkin katarak secepat ini, atau mungkin aku rabun tiba-tiba, aku melepas kaca mataku yang berembun terkena tetesan hujan. Memakainya kembali, melihat situasi, dan nihil.

Aku hampir pingsan, di kagetkan Pak Rahman. Dia tersenyum menatapku, tatapannya seakan mengerti kalau aku sedang benar-benar ketakutan.

”Mbak Keyla, baik-baik saja?” tatapan matanya menangkap sinyal kekhawatiran.

“Pak, tadi saya melihat ada lelaki duduk di sebelah makam itu kehujanan. Saya ingin membantunya meminjamkan payung saya untuk berteduh. Saya tidak sengaja jatuh, dan pria itu raib.” Pelan-pelan suaraku bergetar menuturkan.
”Mari saya antar ke luar pintu gerbang Mbak Keyla.” Aku tak mengerti, pertanyaanku tidak langsung dijawab, Pak Rahman. Tapi aku menuruti kata-katanya untuk segera keluar dari kawasan yang menyeramkan buatku.

”Jangan diganggu ya Mbak Keyla, kalau melihat lagi. Bairkan saja.”

”Maksud Bapak?”

”Apapun yang mbak lihat di sekitar pekuburan ini, biarkanlah. Berusahalah untuk bersikap wajar.” Aku mengigil dan merinding, hujan masih sederas tadi.

”Mungkin mereka hanya ingin berkenalan saja dengan Mbak Keyla, dan sesekali menampakan diri. Tapi setelah itu mereka biasanya sudah tidak mengganggu lagi.” Dengan kata sehalus mungkin Pak Rahman menjelaskan. Aku tidak lagi bisa berfikir, segalanya membayang kembali.

Tentang hujan di malam itu, petir, sepasang mata di balik sinar jendela, dan lelaki yang duduk di makam. Dia adalah salah satu warga yang telah dijemput Sang Mahakuasa, ketika selesai melaksanakan shalat subuh sepulang dari masjid. Tidak sengaja ada pohon yang rebah, tumbang jatuh ke tanah menghantam tubuhnya, di jalan depan pekuburan, yang letaknya tidak jauh dari masjid. Setiap yang bernyawa tetap akan mati, begitulah juga manusia yang diciptakan dari tanah.

”Dari bumilah Kami ciptakan kamu, dan ke dalamnya Kami akan menggembalikan kamu dan daripadanya pula Kami akan mengeluarkan kamu sekali lagi.”*

BERJUANG MELALUI BUKU


Tanggal 18 Desember adalah Hari Buruh Migran Sedunia. Di Indonesia, para aktivis, pemeduli, dan para buruh sendiri memeringatinya di Wonosobo (Jawa Tengah), Malang (Jawa Timur), dan di kota-kota lain hingga Jakarta dengan berbagai kegiatan. Ada pawai, pemutaran film, diskusi, dan peluncuran buku.

Di Malang (kawasan yang tergolong banyak mengirimkan tenaga kerjanya ke luar negri) ada peringatan yang dikemas lebih sebagai acara kesenian: baca puisi, monolog, orasi budaya, dan peluncuran buku, di Pendopo Dewan Kesenian Kota Malang (Jl Majapahit) malam itu (18/12).

Buku yang diluncurkan adalah Sebongkah Tanah Retak yang dilabeli sebagai ’’novel inspiratif.’’ Penulisnya, Rida Fitria, ialah ibu tiga orang anak, istri Aak Abdullah Al Kudus yang penyair dan pendiri SBMI (Serikat Buruh Migran Indonesia) itu. Sebongkah Tanah Retak bercerita tentang seorang tokoh, Ijah, yang menjadi petarung kehidupan dengan menjadi pekerja migran. Bekerja 2 tahun di Arab Saudi, pulang, dan terpaksa kembali menjadi pekerja migran. Kali kedua ini tidak kembali ke Arab, melainkan ke Hong Kong.
Rida Fitria tentu tidak hanya mau bergagah-gagah menjadi penulis novel dengan terbitnya Sebongkah Tanah Retak ini. Jika novel ini kemudian lebih melambungkan namanya yang kini sudah dikenal sebagai aktivis itu, tentu hanyalah sebagai efek samping saja. Yang lebih terasa adalah betapa penulis meniatkan penulisan novel ini sebagai sebentuk perjuangan. Rida Fitria telah berjuang dengan senjata: pena. Begitulah.

Kalau berbicara soal gairah penulisan, BMI-HK pasti tak kalah kenceng-nya dibanding para penulis di Indonesia. Cobalah hitung, berapa sudah buku diterbitkan oleh BMI-HK di tahun 2010 yang baru saja lewat?

Jangan bicara soal amatir dan professional dulu. Gairah penulisan yang makantar-kantar di antara para pekerja migran di HK ini sudahlah merupakan api perjuangan itu sendiri. Perkara bagaimana membuat kobaran api itu kelak menjadi lebih indah dari letusan magma dan lebih tinggi derajat panasnya daripada wedhus gembel, itu urusan lain.

Apalagi kalau sudah bicara soal buku. Lho, baru menulis, itu saja: m e n u l i s , itu sudah bisa bernilai perjuangan, lho! Kandhani, kok! [bon]

Menggagas Festival Pekerja Migran 2012


Setelah sukses dengan Festival Sastra Buruh 2007 (Blitar, Jawa Timur) FLP-HK sudah menggelar Festival Sastra Migran 2010 dan akan disusul acara serupa 2012 ini, di Hong Kong. Di Indonesia, masih sepi. Padahal, penerbitan buku-buku karya BMI/Mantan BMI semakin marak. Perhatian dari kalanhgan akademik pun semakin terlihat. Seorang dosen Unesa (Surabaya) yang kini sedang menyelesaikan program S-3-nya juga berniat menjadikan karya-karya BMI untuk bahan disertasinya.

Acara internasional sebergengsi UWRF Ubud Writers and Readers Festival 2011 pun mulai memperhitungkan dan mengundang penulis dari kalangan BMI.

Namun demikian, semaraknya dapur produksi penulisan di kalangan BMI ini tetap saja terasa kurang diimbangi oleh kegiatan-kegiatan pendukungnya. Seolah-olah hanya didorong-dorong untuk berproduksi, setelah itu selesai. Buku terbit, masuk pasar, dan didiamkan. Sungguh eman jika acara yang sudah dimulai dengan baik dan susah-payah bernama Festival Sastra Buruh itu tidak dilanjutkan dengan baik.

Baiklah, setidaknya di HK sudah ada FLP yang meneruskan tradisi yang baik itu. Dan di Indonesia, jika tidak ada aral melintang, Mei 2012 nanti kita akan menggelar Festival Pekerja Migran. Bukan hanya untuk sastra, tetapi juga untuk merayakan segala produk baik yang benda maupun takbenda, yang dihasilkan oleh para BMI. Karena itulah, yang akan digelar bukan hanya sastra dan seputarnya, melainkan juga hal-hal lain, bahkan termasuk bakti sosial menanam pohon. Yang sudah diangankan adalah: bedah buku, pameran/bursa buku, pameran foto, pemutaran film, sarasehan sastra, sarasehan budaya, bakti sosial tanam pohon, telekonference, pentas sastra, pentas seni.

Buku yang akan dibedah, diusahakan adalah karya puncak para pekerja migran (BMI) yang mulai saat ini dihimpun. Caranya, para BMI penulis, diharapkan mengirimkan karya terbaiknya (yang belum dibukukan), baik yang baru, yang pernah dimuat di media cetak maupun elektronik, berupa puisi, cerpen, opini, features, memoar, ke pos-el: forumburuhmigran@gmail.com. Jangan lupa melengkapinya dengan biodata dan foto penulis. Ditunggu oleh panitia, selambat-lambatnya hingga 30 Maret 2012.

Partisipasi BMI di seluruh dunia akan sangat menentukan keberhasilan kegiatan ini. Selain mengirimkan karya, menyebarkan informasi ini melalui akun Facebook, milis, atau media lain, adalah bagian dari ujud partisipasi itu. Di Indonesia, sudah ada pihak yang bersedia memfasilitasi agar dapat digelar teleconference-nya. Jika ternyata tidak ada penyandang dana yang sanggup mencukupi kebutuhana acara ini, para penulis juga akan diminta bergotong-royong untuk membayar iuran penerbitan buku. Berdasarkan pengalaman menerbitkan buku Pasewakan setebal 500-an halaman (September 2011), sudah cukup jika masing-masing penulis, tanpa memandang apakah karyanya berupa puisi, cerpen, atau opini, menyumbangkan Rp 100.000 (seratus ribu rupiah).

Itu pun baru dapat diputuskan nanti. Yang terpenting sekarang, segeralah kirimkan karya Anda melalui alamat yang sudah disebutkan tadi. Dan sebarkan informasi ini ke rekan-rekan penulis dari kalangan BMI lainnya. Setuju?


BONARI NABONENAR

SAPI DAN MANUSIA

Belum berbilang bulan, Australia menghentikan ekspor sapi ke Indonesia, karena mengetahui (melalui rekaman video) sapi-sapi itu disembelih dengan cara yang tidak wajar, dengan disakiti terlebih dulu. Maka, penghentian ekspor itu adalah sebentuk protes terhadap para penjagal yang tidak ’berperikehewanan’. Protes kepada Indonesia. Ini soal sapi.

Dan ini soal manusia, dari kelompok yang sering disebut-sebut, juga oleh pejabat, sebagai pahlawan devisa. Ialah Ruyati, pekerja migran asal Bekasi, dihukum pancung di Arab Saudi, Sabtu (18/6) lalu, setelah pengadilan setempat memvonisnya sebagai pelaku pembunuhan atas majikannya. Jika faktanya Ruyati (almarhumah) memang membunuh, apakah motivasinya? Jangan-jangan justru sesungguhnya ia sekadar membela diri? Itu pertanyaan-pertanyaan yang pasti akan menggoda kita. Parahnya, Pemerintah Arab Saudi tidak mengkomunikasikannya dengan Pemerintah Indonesia, melalui Kedubes setempat misalnya, sehingga seperti dilansir detik.com, BNP2TKI merasa kecolongan dan Kemenlu RI pun melayangkan protes atas kejadian ini.

Itu berarti, tidak ada yang dilakukan Pemerintah RI hingga Ruyati menemui ajalnya. Padahal, 12 tahun silam, hukum pancung itu nyaris saja menimpa Zaenab, dan dapat dibatalkan setelah Raja Saudi ditelepon Presiden RI (Gus Dur) saat itu.

Ya, Kemenlu RI sudah melayangkan surat atau nota protes. Cuma itu. Sayang, kita belum dapat ikut membaca bagaimana bunyi kalimat nota protes itu. Maka, saya menulis status di Facebook, ’’Pahlawane dibunuh kok ora nantang perang? --ngono kuwi yen angger nggambleh ngarani pahlawan. Mung lelamisan…’’ Artinya lebih-kurang, ’’Pahlawannya dibunuh mengapa tidak menantang untuk berperang? Begitulah jika asal saja menyebut ’pahlawan’, hanya sebagai pemanis bibir.’’

Apakah benar saya menyetujui perang? Oh, tidak. Pasti tidak. Tetapi, saya mengangap penting untuk bersitegang. Ini menyangkut nyawa manusia yang dibunuh dengan sengaja, betapa pun atas nama hukum. Wong arep mateni anake uwong kok kulawargane dikabari wae ora, sadurunge!’’ Mau membunuh manusia kok memberi kabar keluarganya pun tidak, sebelumnya! Adalah penting untuk bersitegang. Bersitegang seperti apa? Ya, entahlah. Tetapi, setidaknya, jangan hanya sekadar mengirimkan surat, bagaimana pun bunyinya surat itu. Pasti saya tidak tahu cara paling tepat untuk meningkatkan ketegangan itu, sebab jika saya tahu, bisa jadi sayalah Ketua BNP2TKI atau bahkan Menakertrans-nya.

Nah, hal lain yang ingin saya ingatkan lagi adalah, janganlah seenaknya –terutama para pejabat itu-- menyebut-nyebut para pekerja migran kita sebagai Pahlawan Devisa. Sebab dari situlah saya tarik logika ke arah ’’peperangan’’ tadi itu. Jadi penalarannya begini. Pahlawan adalah kata yang sering digunakan untuk menyebut para kusumaning bangsa yang gugur di medan perang. Mereka dibunuh oleh pihak musuh di dalam peperangan. Pahlawan adalah mereka yang menakar harga kehormatan bangsa persis sama dengan jiwa dan raganya sendiri. Maka, mereka rela mati demi kehormatan bangsanya. Dan negara yang dijalankan oleh pemerintah, pun menghormatinya, antara lain dengan memakamkan di pemakaman istimewa, yang sering disebut sebagai Makam Pahlawan. Nah, ketika sang pahlawan sudah mempertaruhkan jiwa-raganya, dan kalah dalam pertaruhan itu, negara hanya mengeluarkan sepucuk surat? Ya, karena memang sebatas itulah yang bisa dilakukan sebagai reaksi. Sampai di sini, kita sudah dapat kesimpulan: ’’Janganlah terlalu mudah menyebutkan kata: pahlawan.’’

Memberikan komentar pada status FB seperti saya sebutkan tadi, seorang Dosen Teater dari Universitas Negeri Surabaya menulis, "Ora isin karo Australia sing Sapine ora "disapikan" oleh para jagal, memilih menolak melakukan ekspor sapi ke Indonesia..." yang lebih-kurang berarti, ’’Tidak malu dengan Australia yang ketika sapi-sapinya tidak ’’disapikan’’ oleh para jagal lalu memilih menolak melakukan ekspor sapi ke Indonesia.’’

Jadi, rasa hormat Pemerintah kita terhadap jiwa manusia, jiwa rakyatnya, lebih rendah daripada rasa hormat Pemerintah Australia terhadap para sapinya? Duh Gusti…!*

Komunitas per Kabupaten/Kota

Sudah ada banyak situs jejaring soSial dalam format Grup di Facebook atau mungkin juga di situs lain yang mengundang orang-orang, para pihak, untuk peduli pada para pekerja migran. Termasuk, tentu saja, para pekerja migran itu sendiri. Dan, ketika dalam pekan-pekan terakhir Februari 2011 ini terbetik gagasan dan kemudian dengan segera dilakukan, membuat grup-grup untuk mengumpulkan balung pisah, atau menjalin silaturahmi berdasarkan pekerjaan (sebagai pekerja migran) dan daerah asal (berdasarkan kabupaten/kota) ternyata ada yang khawatir bahwa grup-grup seperti itu berpotensi memecah belah. Oh, tidak!

Saya, memang, yang selama ini ikut menggawangi majalah ini, sering berhadapan dengan pertanyaan begini: ’’Saya mau pulang kampung terus nih, apa ya bisnis yang paling bagus sekarang?’’ Pertanyaan seperti itu, berkaitan dengan si penanya yang mau pulang kampung, pastilah mengundang pertanyaan balik: ’’Lha, Anda pulang kampungnya ke mana?’’

Kalau sudah menyangkut peluang usaha/bisnis, apa pun bidangnya, pastilah berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Bahkan, ambil contoh saja misalnya: Trenggalek, antara kecamatan yang satu akan berbeda dengan kecamatan lainnya. Karena itulah, sesungguhnya berbagai lembaga yang peduli pada pekerja migran, baik lembaga pemerintah meupun nonpemerintah, sesungguhnya penting untuk memiliki data berdasarkan dsaerah asal ini.

Ketika data itu ada, misalnya lagi, seandainya Bupati Tuban hendak bertemu/mengunjungi warganya yang ada di Hong Kong, atau Taiwan, untuk membicarakan program apa yang seharusnya diprioritaskan pemerintah untuk membantu para pekerja migrannya menginvestasikan dana yang mereka dapat dari membanting tulang di negri lain itu, secara teknis akan sangat gampang.

Dan begitulah seharusnya, memang, kalau sudah menyangkut birokrasi pemerintahan. Segala bantuan, kerjasama, atau apa antara lembaga pemerintah di Indonesia, jika dari kabupaten tertentu atau provinsi tertentu, seharusnya secara langsung menyentuh warga kabupaten/provinsi yang bersangkutan. Kecuali program dari pemerintah pusat, yang, tak perlu memandang asal daerahnya selama masih warga Negara Indonesia. Adalah tidak mathuk, misalnya, Bupati Wonosobo, datang ke Hong Kong mengajak berdiskusi pekerja migran di sini yang sebagian besar berasal dari luar Wonosobo, sedangkan lebih banyak lagi warga Wonosobo jusrtru tidak kebagian kursi. Dalam hal-seperti itulah dibentuknya grup/komunitas per daerah kabupaten/kota menjadi penting.

Terlebih lagi, misalnya, ketika ikatan persaudaraan sudah semakin erat sejak di perantauan, bukan tidak mungkin ketika sama-sama memutuskan pulang kampung kemudian sepakat membangun usaha bersama. Alangkah indahnya, bukan?

Jadi, mengapa harus dikhawatirkan adanya potensi memecah-belah itu? Barangkali di sinilah pentingnya mengingat kata-kata ini: ’’Yang penting adalah niatnya.’’ Selama diniatkan untuk kebaikan, percayalah, potensi-potensi negatif akan cepat terdeteksi, dan dengan begitu bisa diantisipasi bersama-sama. Semoga!

BONARI NABONENAR

Aksi Solidaritas ala BMI Hong Kong


GERAKAN BMI PEDULI MERAPI


HONG KONG – Keprihatinan dan solidaritas terhadap korban erupsi Gunung Merapi tidak cuma datang dari warga Indonesia di dalam negeri. Ribuan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hong Kong pun ikut merasakan duka yang dialami saudara-saudara kita di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah.


Solidaritas Merapi ala Buruh Migran Indonesia (begitu para TKI Hong Kong menyebut dirinya), dilakukan dengan menggelar aksi penggalangan dana yang melibatkan 9 (sembilan) organisasi BMI di Hong Kong. Mereka adalah Apakabar Fans Club (AK-Fans), Sanggar Budaya Indonesia - Hong Kong, Golpindo, CK Funky Dancer, Alexa Dancer, Terali Dancer, Forum Lingkar Pena (FLP) Hong Kong, Majelis Taklim, dan Melati Sari. Aksi para buruh migran ini diberi nama ”Gerakan BMI Peduli Merapi”

Kenapa hanya Merapi, sedangkan Mentawai dan Wasior juga membutuhkan bantuan? Menurut Yuni Sze, koordinator gerakan ini, pihaknya sengaja konsen menghimpun dana untuk Merapi, utamanya karena pertimbangan kedekatan emosional – karena banyak BMI Hong Kong yang berasal dari kawasan di seputar Merapi. Juga, kedekatan geografis, karena Merapi terletak di Pulau Jawa.

”Mayoritas BMI Hong Kong berasal dari Pulau Jawa dan – berdasarkan kesepakatan teman-teman – seluruh dana hasil penggalangan ini akan diserahkan langsung oleh beberapa teman BMI yang sedang cuti dan pulang kampung,” ujar Yuni. Tentu saja, ada survei pendahuluan untuk memastikan bantuan tersebut hendak diwujudkan dalam bentuk apa. ”Yang pasti, dengan menyerahkannya sendiri, teman-teman BMI di Hong Kong berharap dapat mengetahui secara langsung kondisi para korban bencana,” imbuh Yuni Sze.

Penggalangan dana itu sendiri dilakukan dalam tiga kesempatan: 7, 14 dan 21 November, mengingat BMI di Hong Kong hanya libur pada hari Minggu. Selain dengan cara membagikan Tabloid Apakabar (salah satu media berbahasa Indonesia yang terbit di Hong Kong) sembari menyodorkan kotak amal, mereka juga ”ngamen keliling” di seputar Victoria Park dan Causeway Bay. Seperti diketahui, kedua tempat tersebut adalah pusat berkumpulnya para BMI Hong Kong yang libur pada hari Minggu. Ada yang main gitar, ada yang menyanyi, ada pula yang menyodorkan kotak sumbangan.

Dana yang terhimpun sampai dengan Minggu, 21 November lalu, mencapai HK$ 64.000 atau senilai Rp 73.600.000 (akumulasi kurs HK$ 1= Rp 1.150). Menurut Yuni Sze, seluruh dana tersebut akan didistribusikan kepada para korban bencana Merapi, dan dilakukan terhitung sejak 23 s.d. 29 November. Penyerahan bantuan BMI Hong Kong ini akan dipusatkan di tiga titik: Kabupaten Sleman, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Boyolali.

Nanda, ketua Sanggar Budaya Indonesia di Hong Kong, mengatakan, organisasinya antusias bergabung dalam Gerakan BMI Peduli Merapi, karena dalam aksi ini tercermin rasa kebersamaan dan guyub rukun para buruh migran dari berbagai organisasi. ”Di Hong Kong, aksi penggalangan dana banyak dilakukan. Tetapi yang bergabung dalam satu wadah seperti ini belum ada. Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan solid,” imbuh Nanda.

Menurut Yuni Sze, keseluruhan dana yang terkumpul dari aksi solidaritas bencana Merapi ini mencapai HK$ 64,000 atau sekira Rp 73.600.000. ”Dibandingkan kebutuhan riil di lapangan, jumlah sumbangan tersebut tentu sangat kecil. Namun, buat kami yang di Hong Kong, apa yang kami lakukan sepenuhnya mencerminkan keprihatinan sekaligus dukungan kami terhadap saudara-saudara kita yang tertimpa bencana,” kata Yuni.

Saat ini di Hong Kong terdapat ± 130.000 buruh migran Indonesia, yang sebagian besar bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Mereka berkumpul tiap hari Minggu, karena pemerintah Hong Kong memang memberikan jatah hari libur kepada para pembantu rumah tangga (domestic helper), sehari di tiap akhir pekan. Inilah sisi lain dari kehidupan buruh migran atau tenaga kerja Indonesia di luar negeri.[Yunie Tse/Pangeran Asa]


Info lanjut tentang pemberian bantuan BMI Hong Kong kepada para korban bencana Merapi, hubungi Asa Amiwan: 081805182424