Menggagas Festival Pekerja Migran 2012


Setelah sukses dengan Festival Sastra Buruh 2007 (Blitar, Jawa Timur) FLP-HK sudah menggelar Festival Sastra Migran 2010 dan akan disusul acara serupa 2012 ini, di Hong Kong. Di Indonesia, masih sepi. Padahal, penerbitan buku-buku karya BMI/Mantan BMI semakin marak. Perhatian dari kalanhgan akademik pun semakin terlihat. Seorang dosen Unesa (Surabaya) yang kini sedang menyelesaikan program S-3-nya juga berniat menjadikan karya-karya BMI untuk bahan disertasinya.

Acara internasional sebergengsi UWRF Ubud Writers and Readers Festival 2011 pun mulai memperhitungkan dan mengundang penulis dari kalangan BMI.

Namun demikian, semaraknya dapur produksi penulisan di kalangan BMI ini tetap saja terasa kurang diimbangi oleh kegiatan-kegiatan pendukungnya. Seolah-olah hanya didorong-dorong untuk berproduksi, setelah itu selesai. Buku terbit, masuk pasar, dan didiamkan. Sungguh eman jika acara yang sudah dimulai dengan baik dan susah-payah bernama Festival Sastra Buruh itu tidak dilanjutkan dengan baik.

Baiklah, setidaknya di HK sudah ada FLP yang meneruskan tradisi yang baik itu. Dan di Indonesia, jika tidak ada aral melintang, Mei 2012 nanti kita akan menggelar Festival Pekerja Migran. Bukan hanya untuk sastra, tetapi juga untuk merayakan segala produk baik yang benda maupun takbenda, yang dihasilkan oleh para BMI. Karena itulah, yang akan digelar bukan hanya sastra dan seputarnya, melainkan juga hal-hal lain, bahkan termasuk bakti sosial menanam pohon. Yang sudah diangankan adalah: bedah buku, pameran/bursa buku, pameran foto, pemutaran film, sarasehan sastra, sarasehan budaya, bakti sosial tanam pohon, telekonference, pentas sastra, pentas seni.

Buku yang akan dibedah, diusahakan adalah karya puncak para pekerja migran (BMI) yang mulai saat ini dihimpun. Caranya, para BMI penulis, diharapkan mengirimkan karya terbaiknya (yang belum dibukukan), baik yang baru, yang pernah dimuat di media cetak maupun elektronik, berupa puisi, cerpen, opini, features, memoar, ke pos-el: forumburuhmigran@gmail.com. Jangan lupa melengkapinya dengan biodata dan foto penulis. Ditunggu oleh panitia, selambat-lambatnya hingga 30 Maret 2012.

Partisipasi BMI di seluruh dunia akan sangat menentukan keberhasilan kegiatan ini. Selain mengirimkan karya, menyebarkan informasi ini melalui akun Facebook, milis, atau media lain, adalah bagian dari ujud partisipasi itu. Di Indonesia, sudah ada pihak yang bersedia memfasilitasi agar dapat digelar teleconference-nya. Jika ternyata tidak ada penyandang dana yang sanggup mencukupi kebutuhana acara ini, para penulis juga akan diminta bergotong-royong untuk membayar iuran penerbitan buku. Berdasarkan pengalaman menerbitkan buku Pasewakan setebal 500-an halaman (September 2011), sudah cukup jika masing-masing penulis, tanpa memandang apakah karyanya berupa puisi, cerpen, atau opini, menyumbangkan Rp 100.000 (seratus ribu rupiah).

Itu pun baru dapat diputuskan nanti. Yang terpenting sekarang, segeralah kirimkan karya Anda melalui alamat yang sudah disebutkan tadi. Dan sebarkan informasi ini ke rekan-rekan penulis dari kalangan BMI lainnya. Setuju?


BONARI NABONENAR

SAPI DAN MANUSIA

Belum berbilang bulan, Australia menghentikan ekspor sapi ke Indonesia, karena mengetahui (melalui rekaman video) sapi-sapi itu disembelih dengan cara yang tidak wajar, dengan disakiti terlebih dulu. Maka, penghentian ekspor itu adalah sebentuk protes terhadap para penjagal yang tidak ’berperikehewanan’. Protes kepada Indonesia. Ini soal sapi.

Dan ini soal manusia, dari kelompok yang sering disebut-sebut, juga oleh pejabat, sebagai pahlawan devisa. Ialah Ruyati, pekerja migran asal Bekasi, dihukum pancung di Arab Saudi, Sabtu (18/6) lalu, setelah pengadilan setempat memvonisnya sebagai pelaku pembunuhan atas majikannya. Jika faktanya Ruyati (almarhumah) memang membunuh, apakah motivasinya? Jangan-jangan justru sesungguhnya ia sekadar membela diri? Itu pertanyaan-pertanyaan yang pasti akan menggoda kita. Parahnya, Pemerintah Arab Saudi tidak mengkomunikasikannya dengan Pemerintah Indonesia, melalui Kedubes setempat misalnya, sehingga seperti dilansir detik.com, BNP2TKI merasa kecolongan dan Kemenlu RI pun melayangkan protes atas kejadian ini.

Itu berarti, tidak ada yang dilakukan Pemerintah RI hingga Ruyati menemui ajalnya. Padahal, 12 tahun silam, hukum pancung itu nyaris saja menimpa Zaenab, dan dapat dibatalkan setelah Raja Saudi ditelepon Presiden RI (Gus Dur) saat itu.

Ya, Kemenlu RI sudah melayangkan surat atau nota protes. Cuma itu. Sayang, kita belum dapat ikut membaca bagaimana bunyi kalimat nota protes itu. Maka, saya menulis status di Facebook, ’’Pahlawane dibunuh kok ora nantang perang? --ngono kuwi yen angger nggambleh ngarani pahlawan. Mung lelamisan…’’ Artinya lebih-kurang, ’’Pahlawannya dibunuh mengapa tidak menantang untuk berperang? Begitulah jika asal saja menyebut ’pahlawan’, hanya sebagai pemanis bibir.’’

Apakah benar saya menyetujui perang? Oh, tidak. Pasti tidak. Tetapi, saya mengangap penting untuk bersitegang. Ini menyangkut nyawa manusia yang dibunuh dengan sengaja, betapa pun atas nama hukum. Wong arep mateni anake uwong kok kulawargane dikabari wae ora, sadurunge!’’ Mau membunuh manusia kok memberi kabar keluarganya pun tidak, sebelumnya! Adalah penting untuk bersitegang. Bersitegang seperti apa? Ya, entahlah. Tetapi, setidaknya, jangan hanya sekadar mengirimkan surat, bagaimana pun bunyinya surat itu. Pasti saya tidak tahu cara paling tepat untuk meningkatkan ketegangan itu, sebab jika saya tahu, bisa jadi sayalah Ketua BNP2TKI atau bahkan Menakertrans-nya.

Nah, hal lain yang ingin saya ingatkan lagi adalah, janganlah seenaknya –terutama para pejabat itu-- menyebut-nyebut para pekerja migran kita sebagai Pahlawan Devisa. Sebab dari situlah saya tarik logika ke arah ’’peperangan’’ tadi itu. Jadi penalarannya begini. Pahlawan adalah kata yang sering digunakan untuk menyebut para kusumaning bangsa yang gugur di medan perang. Mereka dibunuh oleh pihak musuh di dalam peperangan. Pahlawan adalah mereka yang menakar harga kehormatan bangsa persis sama dengan jiwa dan raganya sendiri. Maka, mereka rela mati demi kehormatan bangsanya. Dan negara yang dijalankan oleh pemerintah, pun menghormatinya, antara lain dengan memakamkan di pemakaman istimewa, yang sering disebut sebagai Makam Pahlawan. Nah, ketika sang pahlawan sudah mempertaruhkan jiwa-raganya, dan kalah dalam pertaruhan itu, negara hanya mengeluarkan sepucuk surat? Ya, karena memang sebatas itulah yang bisa dilakukan sebagai reaksi. Sampai di sini, kita sudah dapat kesimpulan: ’’Janganlah terlalu mudah menyebutkan kata: pahlawan.’’

Memberikan komentar pada status FB seperti saya sebutkan tadi, seorang Dosen Teater dari Universitas Negeri Surabaya menulis, "Ora isin karo Australia sing Sapine ora "disapikan" oleh para jagal, memilih menolak melakukan ekspor sapi ke Indonesia..." yang lebih-kurang berarti, ’’Tidak malu dengan Australia yang ketika sapi-sapinya tidak ’’disapikan’’ oleh para jagal lalu memilih menolak melakukan ekspor sapi ke Indonesia.’’

Jadi, rasa hormat Pemerintah kita terhadap jiwa manusia, jiwa rakyatnya, lebih rendah daripada rasa hormat Pemerintah Australia terhadap para sapinya? Duh Gusti…!*

Komunitas per Kabupaten/Kota

Sudah ada banyak situs jejaring soSial dalam format Grup di Facebook atau mungkin juga di situs lain yang mengundang orang-orang, para pihak, untuk peduli pada para pekerja migran. Termasuk, tentu saja, para pekerja migran itu sendiri. Dan, ketika dalam pekan-pekan terakhir Februari 2011 ini terbetik gagasan dan kemudian dengan segera dilakukan, membuat grup-grup untuk mengumpulkan balung pisah, atau menjalin silaturahmi berdasarkan pekerjaan (sebagai pekerja migran) dan daerah asal (berdasarkan kabupaten/kota) ternyata ada yang khawatir bahwa grup-grup seperti itu berpotensi memecah belah. Oh, tidak!

Saya, memang, yang selama ini ikut menggawangi majalah ini, sering berhadapan dengan pertanyaan begini: ’’Saya mau pulang kampung terus nih, apa ya bisnis yang paling bagus sekarang?’’ Pertanyaan seperti itu, berkaitan dengan si penanya yang mau pulang kampung, pastilah mengundang pertanyaan balik: ’’Lha, Anda pulang kampungnya ke mana?’’

Kalau sudah menyangkut peluang usaha/bisnis, apa pun bidangnya, pastilah berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Bahkan, ambil contoh saja misalnya: Trenggalek, antara kecamatan yang satu akan berbeda dengan kecamatan lainnya. Karena itulah, sesungguhnya berbagai lembaga yang peduli pada pekerja migran, baik lembaga pemerintah meupun nonpemerintah, sesungguhnya penting untuk memiliki data berdasarkan dsaerah asal ini.

Ketika data itu ada, misalnya lagi, seandainya Bupati Tuban hendak bertemu/mengunjungi warganya yang ada di Hong Kong, atau Taiwan, untuk membicarakan program apa yang seharusnya diprioritaskan pemerintah untuk membantu para pekerja migrannya menginvestasikan dana yang mereka dapat dari membanting tulang di negri lain itu, secara teknis akan sangat gampang.

Dan begitulah seharusnya, memang, kalau sudah menyangkut birokrasi pemerintahan. Segala bantuan, kerjasama, atau apa antara lembaga pemerintah di Indonesia, jika dari kabupaten tertentu atau provinsi tertentu, seharusnya secara langsung menyentuh warga kabupaten/provinsi yang bersangkutan. Kecuali program dari pemerintah pusat, yang, tak perlu memandang asal daerahnya selama masih warga Negara Indonesia. Adalah tidak mathuk, misalnya, Bupati Wonosobo, datang ke Hong Kong mengajak berdiskusi pekerja migran di sini yang sebagian besar berasal dari luar Wonosobo, sedangkan lebih banyak lagi warga Wonosobo jusrtru tidak kebagian kursi. Dalam hal-seperti itulah dibentuknya grup/komunitas per daerah kabupaten/kota menjadi penting.

Terlebih lagi, misalnya, ketika ikatan persaudaraan sudah semakin erat sejak di perantauan, bukan tidak mungkin ketika sama-sama memutuskan pulang kampung kemudian sepakat membangun usaha bersama. Alangkah indahnya, bukan?

Jadi, mengapa harus dikhawatirkan adanya potensi memecah-belah itu? Barangkali di sinilah pentingnya mengingat kata-kata ini: ’’Yang penting adalah niatnya.’’ Selama diniatkan untuk kebaikan, percayalah, potensi-potensi negatif akan cepat terdeteksi, dan dengan begitu bisa diantisipasi bersama-sama. Semoga!

BONARI NABONENAR

Aksi Solidaritas ala BMI Hong Kong


GERAKAN BMI PEDULI MERAPI


HONG KONG – Keprihatinan dan solidaritas terhadap korban erupsi Gunung Merapi tidak cuma datang dari warga Indonesia di dalam negeri. Ribuan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hong Kong pun ikut merasakan duka yang dialami saudara-saudara kita di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah.


Solidaritas Merapi ala Buruh Migran Indonesia (begitu para TKI Hong Kong menyebut dirinya), dilakukan dengan menggelar aksi penggalangan dana yang melibatkan 9 (sembilan) organisasi BMI di Hong Kong. Mereka adalah Apakabar Fans Club (AK-Fans), Sanggar Budaya Indonesia - Hong Kong, Golpindo, CK Funky Dancer, Alexa Dancer, Terali Dancer, Forum Lingkar Pena (FLP) Hong Kong, Majelis Taklim, dan Melati Sari. Aksi para buruh migran ini diberi nama ”Gerakan BMI Peduli Merapi”

Kenapa hanya Merapi, sedangkan Mentawai dan Wasior juga membutuhkan bantuan? Menurut Yuni Sze, koordinator gerakan ini, pihaknya sengaja konsen menghimpun dana untuk Merapi, utamanya karena pertimbangan kedekatan emosional – karena banyak BMI Hong Kong yang berasal dari kawasan di seputar Merapi. Juga, kedekatan geografis, karena Merapi terletak di Pulau Jawa.

”Mayoritas BMI Hong Kong berasal dari Pulau Jawa dan – berdasarkan kesepakatan teman-teman – seluruh dana hasil penggalangan ini akan diserahkan langsung oleh beberapa teman BMI yang sedang cuti dan pulang kampung,” ujar Yuni. Tentu saja, ada survei pendahuluan untuk memastikan bantuan tersebut hendak diwujudkan dalam bentuk apa. ”Yang pasti, dengan menyerahkannya sendiri, teman-teman BMI di Hong Kong berharap dapat mengetahui secara langsung kondisi para korban bencana,” imbuh Yuni Sze.

Penggalangan dana itu sendiri dilakukan dalam tiga kesempatan: 7, 14 dan 21 November, mengingat BMI di Hong Kong hanya libur pada hari Minggu. Selain dengan cara membagikan Tabloid Apakabar (salah satu media berbahasa Indonesia yang terbit di Hong Kong) sembari menyodorkan kotak amal, mereka juga ”ngamen keliling” di seputar Victoria Park dan Causeway Bay. Seperti diketahui, kedua tempat tersebut adalah pusat berkumpulnya para BMI Hong Kong yang libur pada hari Minggu. Ada yang main gitar, ada yang menyanyi, ada pula yang menyodorkan kotak sumbangan.

Dana yang terhimpun sampai dengan Minggu, 21 November lalu, mencapai HK$ 64.000 atau senilai Rp 73.600.000 (akumulasi kurs HK$ 1= Rp 1.150). Menurut Yuni Sze, seluruh dana tersebut akan didistribusikan kepada para korban bencana Merapi, dan dilakukan terhitung sejak 23 s.d. 29 November. Penyerahan bantuan BMI Hong Kong ini akan dipusatkan di tiga titik: Kabupaten Sleman, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Boyolali.

Nanda, ketua Sanggar Budaya Indonesia di Hong Kong, mengatakan, organisasinya antusias bergabung dalam Gerakan BMI Peduli Merapi, karena dalam aksi ini tercermin rasa kebersamaan dan guyub rukun para buruh migran dari berbagai organisasi. ”Di Hong Kong, aksi penggalangan dana banyak dilakukan. Tetapi yang bergabung dalam satu wadah seperti ini belum ada. Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan solid,” imbuh Nanda.

Menurut Yuni Sze, keseluruhan dana yang terkumpul dari aksi solidaritas bencana Merapi ini mencapai HK$ 64,000 atau sekira Rp 73.600.000. ”Dibandingkan kebutuhan riil di lapangan, jumlah sumbangan tersebut tentu sangat kecil. Namun, buat kami yang di Hong Kong, apa yang kami lakukan sepenuhnya mencerminkan keprihatinan sekaligus dukungan kami terhadap saudara-saudara kita yang tertimpa bencana,” kata Yuni.

Saat ini di Hong Kong terdapat ± 130.000 buruh migran Indonesia, yang sebagian besar bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Mereka berkumpul tiap hari Minggu, karena pemerintah Hong Kong memang memberikan jatah hari libur kepada para pembantu rumah tangga (domestic helper), sehari di tiap akhir pekan. Inilah sisi lain dari kehidupan buruh migran atau tenaga kerja Indonesia di luar negeri.[Yunie Tse/Pangeran Asa]


Info lanjut tentang pemberian bantuan BMI Hong Kong kepada para korban bencana Merapi, hubungi Asa Amiwan: 081805182424

Superni (BMI- HK) Kena Kanker


Waktu kunjungan besuk di rumah sakit Queen Elizabeth (QE), Habis sudah. Saya peluk dan cium keningnya sebelum meninggalnya. Air matanya mengalir lagi, entah ini tangisan yang keberapa kalinya sejak saya rutin membesuknya. Tangisan karena terharu saat dia sakit ternyata banyak kawan yang semulanya tak dikenalnya mengunjunginya. Saya mengetahui dia sakit dari anggota Shelter Koalisi Organisasi Tenaga Kerja Indonesia di Hong Kong (KOTKIHO).

"Bunda, jangan pergi," pintanya memelas.

"Besok bunda kesini lagi, nak. Kamu istirahat ya. Jangan lupa berdoa," tangis saya nyaris pecah saat akan pamit pulang.

Setelah saya cek lagi dua termos kecil tempat air panas, agar cukup untuk minumnya malam nanti dan membetulkan selimutnya dengan berat saya tinggalkan Superni, yang berbaring lunglai menahan sakit di ranjang, akibat serangan kangker ganas pada bagian tulang belakang tubuhnya.

Superni (33) Buruh Migran Indonesia ( BMI), berasal dari gang Ali Andong, Sawangan, Bojong Sari Lama, Depok. Ibu dari 3 anak ini, ke Hong Kong, kali pertamanya bulan September tahun 2005 melalui PJTKI, Yonasindo Intra Pratama, Karang Sari, Tangerang. Di salurkan ke agen Goltex, Central. Hong Kong.

Kontrak pertama di Shek Thong Tsui, dengan job kerja mengurus seorang kakek. Baru 7 bln bekerja sang kakek, meninggal dunia. Pindah ke majikan kedua di Taipo tapi sayangnya setelah setahun bakerja, majikan pindah bekerja ke Canada. Wong Tai Sin, adalah tempat tinggal majikan ketiga, dengan tugas kerja sama dengan di kontrak pertama yaitu menjaga kakek. Superni, mengakui jika majikan ketiga ini pun sangat baik seperti majikan-majikan sebelumnya. Sehingga kontrak ketiga sudah dijalaninya kurang lebih 3 tahun, tanpa kendala apa pun.

Dipertengahan bulan september, Superni tiba-tiba merasakan ngilu bahkan mengalami kram dikedua belah kakinya, begitu juga pada bagian pinggang. Majikan membawanya ke dokter di wong Tai Sin, bahkan sampai dua belas kali ke dokter dan dikasih suntikan, sakit yang dialami Superni belum sembuh juga. Bahkan terasa makin menyiksa. Setelah Superni mencoba ke dokter lain yang masih di wilayah Wong Tai Sin juga, dokter kedua tidak melakukan pengobatan tapi malah menulis surat pengantar agar Superni melakukan pengobatan ke rumalah sakit Kwong Wah di Yau Ma Tei.

Dua hari tiga malam, tepatnya mulai tgl 12 September, Superni tinggal di rumah sakit Kwong Wah untuk menjalani pemerikasaan atas sakit yang dideritanya.

"Saya tidak menyangka bunda, jika saya kena kengker. Bahkan sudah stadium tiga," katanya dengan wajah sedih.

Pada tgl 15/09.Dengan alasan lebih lengkapnya peralatan pengabotan, Superni, dipindah ke rumah sakit Queen Elizabeth (QE), di King's Park, Jordan. Tepatnya di lantai 3, ruang E, nomor ranjang 33. Waktu kunjungan pasien, siang jam 12 - 1, sedangkan malam hari jam 6 - 8.

Ketika saya tanyai penyebab awal sakit, seingatnya pernah jatuh terpeleset saat belanja di pasar. Setelah jatuh sering terasa ngilu ditulang bagian belakang tapi tak pernah diraukan. Dia pikir cuma akibat capek kerja saja.

Ketika awal Superni menderita sakit, majikan bersikap baik ke Superni. Dia sering menengok Superni di rumah sakit tapi kemudian kunjungan semakin jarang, sejak majikan bersama agen suatu malam, datang ke rumah sakit meminta Superni untuk menandatangani surat putus kerja. Superni menolak untuk diberhentikan kerja dengan alasan dia masih sakit dan masih membutuhkan pengobatan.

"Saya berangkat dari Indonesia sehat, pulang pun ingin dalam keadaan sehat atau sekalian saya pulang dalam keadaan meninggal," ungkapnya suatu malam saat saya membesuknya.

Dia juga sempat menceritakan keadaan ekonomi orang tuanya dan juga keluarganya yang bisa dikatakan masih serba pas-passan. Anak pertamanya berumur 13 th, kedua 10 th dan si bungsu 6 th. Suaminya dengan pekerjaan tidak tetap. Sejak muda Superni pekerja keras, sebelum ke Hong Kong pernah bekerja di Taiwan dan Malaysia..

"Saya tidak ingin jadi beban keluarga, sakit kangkerkan pengobatannya mahal di Indonesia. Jika di Hong Kong tidak bisa sehat, saya milih mati saja," Sering kalimat itu diucapkan dengan tatapan mata kosong.

Sepengetahuan saya, Superni cukup tegar menjalani sakitnya. Malah saya dan kawan- kawan dari anggota Shelter yang menjenguknya kasian tak tega melihat saat Superni kesakitan merasakan ngilu dan katanya sekujur kaki, pinggul dan punggungnya seperti digigit ribuan semut api. Dia merintih sambil mengucap istifar juga menyebut nama Allah.

Karena Superni tak kuat lagi untuk jalan ke kamar mandi bahkan mengangkat bagian pantat ( maaf) saat mau buang air kecil, maka dia harus selalu menggunakan pampers. Sehari semalam bisa menghabiskan 4 sampai 6 pampers. Sedihnya Superni harus membeli pampers sendiri, majikan dan rumah sakit tidak menyediakannya.

Saya kaget ketika suatu hari menengoknya lagi, kalau tidak salah dikunjungan yang empat kalinya mukanya pucat dan suaranya serak bahkan nyaris tidak bisa bicara. Pokoknya kondisi kesehatannya jauh lebih buruk dari hari-hari sebelumnya. Ternyata itu akibat dia mengurangi air bahkan minum obat dengan dibantu roti bukan air. Tujuan dia untuk ngirit pampers.

"Lama-lama sayakan tidak punya uang, bunda," keluhnya sambil menangis.

Beberapa kawannya dan kawan saya saat datang menjenguknya dengan membawa makanan dan pampers juga. Ketika saya tanya apakah pihak Konsulat Indonesia, mengetahui sakitnya. Dia menjawab mengetahuinya sebab salah satu kawannya pernah melaporkan sakitnya tapi pihak Konsulat Indonesia belum ada yang mengunjunginya. Sedang Masalah majikan dan agen yang mendesaknya untuk menandatangani pemutusan kerja, kasusnya sudah dilaporkan pada kantor Domestic Helpers & Migrant Workers Programme - Christian Action.

Superni masih menunggu hasil diagnosa dokter tentang harus menjalani operasi atau tidaknya. Menurut keterangan dokter semua baru akan diketahui hasilnya tanggal 18 mendatang.

Pembaca di Hong Kong.yang ingin membantu Superni silahkan datang langsung ke rumah sakit atau bisa menghubungi Wiwin, sebagai koordinator pengumpul dana bantuan untuk Superni dengan nomor telpon 92475043. Semoga amallan kita bisa meringankan beban deritanya. [Mega Vristian]

MENGAPA MESTI TURUN JALAN DENGAN ATRIBUT ORGANISASI MASING-MASING?


Pengalaman dalam kurun waktu puluhan tahun ini, saya belum pernah melihat ada staf KJRI yang mau menerima statement dari para pendemo secara simbolis. Jangankan itu, setiap kali ada demo, kantor malah ditutup rapat. Bisa dimaklumi kalau ada ketakutan, jaga-jaga, mencegah kalau pendemo bertindak anarkis dengan menyerbu masuk gedung. Tapi di dalam pengawalan puluhan polisi yang begitu ketat, ketakutan seperti ini tidak lagi berdasar. Lalu apa namanya?

Mencermati seringnya demo tanpa respon berarti sampai kini, saya mulai mencari-cari, apa, ya sebabnya?

Mungkin selama ini yang tampak sering teriak-teriak --dan oleh sebagian BMI lainnya dikatakan kurang kerjaan -- ya kelompokitu-itu saja;

KOTKIHO. IMWU, PILAR, GAMMI, Aliansi. Karena bendera atau atributnya ya cuma itu. Sudah begitu, demonya pisah-pisah lagi. tidak pernah terlihat bendera mereka berkibar dalam satu barisan.

Mungkin, publik mengira, bahwa yang menuntut hak, yang perang melawan penindasan BMI, yang menentang pungutan liar, ya cuma beberapa gelintir aliansi itu. Padahal tercatat di KJRI bahwa organisasi BMI ada hampir seratusan. Banyak yang mengira organisasi lainnya seperti yang aktif di bidang seni, pendidikan, keagamaan, budaya, kewirausahaan, kepenulisan, dll. adalah kumpulan BMI yang tidak peduli dengan issu-issu tentang pelanggaran hukum ketenagakerjaan yang --menurut survey ATKI dan KOTKIHO-- hampir semuanya pernah mengalami pemerasan oleh agen dan PJTKI.

Saat sekelompok BMI turun jalan menuntut penghapusan potongan gaji berlebihan, misalnya. Dalam waktu yang sama, sebagian besar kelompok lain juga mengadakan kegiatan masing-masing.
"Halahh...yang demo keciiiiillll jumlahnya, nggak ada apa-apanya tuh. Santai sajalah..." Mungkin saja begitu pikir pihak-pihak yang di demo. Menyakitkan lagi ketika saya dengar komentar dengan telinga saya sendiri, bahwa demo-demo itu didomplengi oleh kepentingan pihak yang tidak bertanggung jawab ! Alamakkkkk..!!!

Publik mengira, bahwa BMI yang "baik-baik" yang "kuai" yang "manis-manis", tidak neko-neko, jauh lebih besar jumlahnya. Tiap Minggu, pengajian-pengajian akbar didatangi ribuan jamaah, digelar di beberapa tempat dalam sehari itu. Aneka lomba seperti joged, nari, MTQ, nyanyi, dsb. jauh lebih menarik ketimbang ikut gabung untuk demontrasi.

Publik tidak tahu, sesungguhnya kita yang manis-manis ini juga memendam rasa dendam, keluhan, atas biaya mahal--bahasa halusnya pemerasan-- agen selama ini.

Lha, emang apa harus semuanya turun demo? nggak perlu seneng-seneng, nggak butuh belajar? nggak perlu ngaji?

Kawan, nggak perlu semua anggota grupmu ikut demo. Tapi setidaknya selembar atribut/ bendera organisasimu saja bergabung, itu sudah cukup terlihat sebagai kekompakan. minimal orang akan melihat, 'ooo, ternyata CK Dancer juga anti penindasan BMI, ternyata FLP yang sering bekerja sama dengan KJRI itu juga menuntut diberlakukan kontrak mandiri, oooo..ternyata seluruh awak Posmih juga anti kedzoliman agen..dsb.

Lhohhhh..nggak tahu,ya? si Widya itu anak FLP sering gabung KOTKIHO woooo...

Mana publik kenal kalau Widya anak FLP? Yang masuk satu barisan dengan bendera KOTKIHO thok itu ya KOTKIHO thok. Anggi Camat yang ikut demo dengan PILAR itu ya mana kelihatan kalau mewakili Sekarbumi?

Belajar dari banyak kelompok protester yang turun jalan waktu May Day. Ratusan atribut mewakili jutaan suara tampak kompak berada dalam satu barisan panjang. Media menyorot. Para reporter melaporkan ke publik. Para fotografer mengabadikan. Visualisasi itu akan terus melekat dalam benak publik, termasuk pemerintah sebagai pihak yang diprotes.

Bila tiap kali protes dengan membawa banyak orang beserta bendera atas nama seluruh organisasi dan kelompok BMI, tentu publik akan melihat lain. Kompak ! Satu suara !

Jadi? Benderane thok wae? Orangnya nggak perlu banyak?
Kawan, tetesan air saja hanya akan mampu melumerkan selembar tissue. Seember air akan bisa memindahkan seonggok kerikil. bendungan yang jebol akan bisa menghanyutkan beberapa desa.
Begitu juga kekuatan pikiran manusia yang berkumpul dalam satu gerakan/doa.

Sure? Jaminan akan sukses demo kita?
Mmmm...tinggal pihak yang diprotes itu masuk golongan janma limpat, sak klebat prasasat tamat, atau golongan janma gebleg, diduleg sansaya ndableg ?

Kalau mereka limpat (cung meing, peka, cerdas, cepet tanggap), ya baru dengar desah resah kita sudah merespon," ada yang bisa kami bantu?' Itulah respon pemerintah/bangsa yang tinggi martabatnya, well educated, berbudaya.

Tapi kalau sudah berkompak ria dalam demo, satu suara dalam tuntutan, sampek kertas isi petisi, laporan kasus2 diduleg-dulegna, tetep gak ada tindakan yang sifatnya strategis (padan katanya retorika), yaaaa...jangan bilang mereka janma gebleg dulu..
Ada baiknya kita instropeksi dulu. Mungkin kita gak sadar telah melontarkan kata-kata kasar, menghujat. Ada pepatah bilang, kalau mau madunya, jangan tendang sarang tawone. Kalau mau nangkap ikannya, jangan diubeg-ubeg kolamnya....

Lha piye maneh...? saking geblege...

Walahh embuhhh... daripada engkel-engkelan terus ngene...
Bismillah..ana tawakallah..
Mugi Gusti Allah nuntun Bapak Konjen, Pak Teguh Wardoyo, kersa nampi statement kawula BMI sedaya, ingkang niat demo dinten menika,
ngelikaken pemerintah, buruh alit meniko mboten prayogi dados susonanipun agen, PJTKI, dalah negari.
Samestinipun wong gedhe nyusoni sing cilik...
BMI grudugan dugi KJRI mriki namung niat nylametaken pemerintah, sampun ngantos kuwalat kados .....
.....jambu mete.....

Causeway Bay, 10 Oktober 2010
01 Zul Qa'dah 1431 H

Sumber: Susie Utomo

Puisi untuk Ultah Jawa Timur

Beberapa pekan lagi, 12 Oktober 2010 adalah tanggal yang telah ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Jawa Timur, yang beberapa tahun belakangan biasa selalu diperingati/dimeriahkan dengan berbagai macam kegiatan, termasuk pertunjukan kesenian: wayangan, pentas musik, dan lain-lainnya. Jika Anda setuju, inilah saatnya Puisi ikut ambil bagian dalam kesempatan yang baik itu.

Ini sebuah gagasan tentang ’’PUISI JAWA TIMUR’’ dalam pengertian yang sangat sederhana, jauh dari isu yang belakangan menghangat seputar ’’PENYAIR JAWA TIMUR’’.

Beberapa pekan lagi, 12 Oktober 2010 adalah tanggal yang telah ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Jawa Timur, yang beberapa tahun belakangan biasa selalu diperingati/dimeriahkan dengan berbagai macam kegiatan, termasuk pertunjukan kesenian: wayangan, pentas musik, dan lain-lainnya. Jika Anda setuju, inilah saatnya Puisi ikut ambil bagian dalam kesempatan yang baik itu.

Ketika berpidato di dalam acara Tadarus Puisi di Bulan Suci tadi malam (27 Agustus 2010) di Eks Taman Budaya Jawa Timur, Kepala UPT Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Provinsi Jawa Timur Drs. Karsono, M.Pd, melontarkan keinginannya agar kegiatan baca puisi yang melibatkan para penyair dan siswa dari tingkat TK hingga perguruan tinggi bisa diagendakan pula pada momentum lainnya seperti: Hari Pahlawan, Hari Pendidikan Nasional, Hari Sumpah Pemuda, maupun Hari Jadi Provinsi Jawa Timur. Nah, pintu sudah dibuka. Kita mau memasukinya atau tidak?

Maka, marilah kita bayangkan, ada satu malam yang kita semarakkan dengan lantunan puisi, untuk ikut serta memeringati HARI JADI JAWA TIMUR, melibatkan:
[1] Penyair/Seniman
[2] Pejabat
[3] Pengusaha
[4] Wartawan
[5] Siswa/Mahasiswa
[6] Guru/Dosen
[7] dll, Masyarakat Umum yang bersedia melibatkan diri
dan
[8] Secara khusus kita bisa mengundang kawan-kawan BURUH MIGRAN ASAL Jawa Timur untuk, setidak-tidaknya menyertakan puisi-puisi mereka dalam ANTOLOGI yang seharusnya dicetak untuk menandai PARTISIPASI PUISI dalam Peringatan Hari Jadi jawa Timur.

Khususon buat adik-adik pelajar yang masih bingung mau nulis puisi macam mana buat acara ini nanti, ayo kita buat puisi yang njawartimuri:

[a] Tentang lokasi/tempat, misal: Pantai Lombeng, atau tentang Kabupaten/Kota, kecamatan, Desa, Jalan, dan sebagainya
[b] Tentang ikon Jawa Timur misal: Tugu Pahlawan, Suramadu, dan lain-lainnya
[c] Tentang harapan-harapan yang seharusnya diupayakan pencapaiannya oleh Jawa Timur dengan segenap potensinya
[d] dan lain-lain.

Catatan:
[1] Untuk mengindari tudingan mencari untung pribadi/kelompok secara material/nonmaterial, sebaiknya kita siapkan puisinya, dan kemudian mendorong agar gagasan ini bisa dilakukan oleh: Pemprov Jatim, dan/atau Dinas Pendidikan Jatim, dan/atau Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, dan atau Dewan Kesenian Jatim, dan atau UPT Pendidikan dan Kesenian Jatim, dan/atau … siapa lagi ya?

[2] atau, siapa pun yang bersedia mengelola dan memproses lebih lanjut gagasan ini dalam tempo yang tidak terlalu alon-alon.

[3] Puisi ditulis dalam bahasa Indonesia, atau bahasa daerah: Madura, Jawa, Osing

[4] Kirimkan puisi Anda ke alamat: puisi_jatim@yahoo.co.id

--jangan lupa sertakan biodata singkat pengirim puisi

[5] Jika tidak ada aral, ACARA PEMBACAAN PUISI JAWA TIMUR
digelar di …. Pada 16 Oktober 2010


Bagaimana pendapat Anda?



’’PANITIA PUISI JATIM’’

---Anda bisa mengawali dukungan dengan mengopipaste dan men-STATUS-kan (di dinding Facebook) berikut ini:

MENGUNDANG:
Segenap warga Jawa Timur di mana pun berada, untuk ikut memeringati Hari Jadi Jawa Timur dengan mengirimkan sebanyak-banyaknya 5 judul PUISI dalam bahasa Indonesia, atau bahasa daerah: Madura, Jawa, Osing. Krimkan puisi Anda ke alamat: puisi_jatim@yahoo.co.id --selambatnya kami tunggu hingga 20 September 2010.