Memimpikan 5.000 Buku BMI-HK Ludes dalam Sebulan

Melalui catatan di facebook-nya, Mega Vristian kembali mengabarkan bahwa sekian banyak buku telah lahir dari para pekerja rumah tangga asal Indonesia di HK. Itu menunjukkan bahwa dunia penulisan di kalangan BMI-HK makin semarak. Itu adalah kabar yang luar biasa baiknya.

Sayangnya, di sekitar kabar baik itu ada beberapa kabar yang kurang baik. Pertama, keasyikan menulis catatan harian, sebagai bagian dari mengasah ketrampilan menulis sambil mendokumentasikan pikiran/perasaan, tampaknya tergerus oleh keasyikan ber-facebook-ria. Ini memang baru dugaan. Tetapi, adalah fakta bahwa beberapa situs pribadi BMI-HK tidak lagi sering di-update, bahkan ada pula yag sudah mangkrak total.

Kabar kurang baik lainnya adalah, semangat menulis yang selalu makantar-kantar ketika berada di HK, ketika saban Minggu bisa bertemu dengan teman-teman seminat-seperhatian, bagaikan mendadak surut dan terkesan mandheg jegreg ketika pulang ke tanah air. Mereka yang ’berkibar’ ketika masih di HK tiba-tiba terlipat (baca: mandeg) ketika sudah berada di kampung halaman. Jika di sini disebut dua nama saja: Eni Kusuma dan Maria Bo Niok, tampaknya mereka memang berbeda dengan BMI penulis lainnya: mereka justru mulai berkibar begitu tiba di tanahair. Lalu ke manakah kibarnya Etik Juwita, Wina Karnie, Mei Suwartini, dan lain-lainnya yang pernah meratui dunia penulisan di kalangan BMI-HK?

Kabar kurang baik lainnya lagi adalah sambutan komunitas BMI sendiri terhadap karya tulisan/buku teman BMI lain juga kurang signifikan. Kalaulah ada sambutan hangat, pertama-tama adalah dari sesama penulis atau sesama BMI yang aktif di komunitas-komunitas literer. Lihatlah contoh soal berikut ini. Buku kumpulan cerpen Mutiara untuk Ayah karya Niswana Ilma Agustin bersama Nadia Cahyani yang dicetak 2.000 eksemplar sekitar 8 bulan lalu, hingga saat ini baru terjual separohnya (sekitar 1.000 eksemplar). Padahal, harga buku itu tidak tergolong mahal, hanya HKD 35/buku. Padahal, jumlah BMI di seantero HK saat ini sudah hampir mendekati angka 150.000 orang (?). Apakah gerangan sebabnya 2.000 buku itu tidak habis terjual pada bulan pertama? Bukankah seratus ribu lebih BMI-HK itu semua bisa membaca, dan pasti tidak berat (walau fakta banyak yang keberatan) untuk membelanjakan HKD 35 –itu tak sampai seharga sebungkus nasi yang beredar di Victoria Park, bukan?

Sekali lagi, ini bukan semata-mata persoalan kita penggila sastra/tulisan atau bukan, kawan! Ini lebih ke persoalan solidaritas. Dengan membeli buku karya sesama BMI, apakah Anda baca dengan sukacita atau Anda simpan saja, atau Anda hibahkan ke siapa, sesungguhnya Anda telah ikut menggalang kekuatan BMI itu sendiri. Meludeskan 5.000 buku terbitan/karya sesama BMI dalam bulan pertama setelah dicetak seharusnya bukanlah perkara susah di Negeri Beton ini. Dan jika itu terjadi, bergetarlah dunia Sastra Indonesia. Percayalah. Bukankah HK itu tak seberapa luasnya? Bukankah banyak komunitas/organisasi bisa menjadi agen distribusinya? Bukankah jejaring komunikasi real maupun virtual sangat potensial untuk dimanfaatkan bagi promosi, sosialisasi, dan transaksi?

Ini memang masih serba asumsi. Dan kalau kita boleh berasumsi mengenai faktor kendala, selain faktor peluang tadi, maka adalah kemauan dan kesadaran kita itu yang masih perlu dipupuk terus. Betul?

Kita sering mengeluh, pihak lain kurang perhatian terhadap BMI/mantan BMI. Perhatian dalam hal apa? Ya dalam semua hal. Nah, untuk ’’melawan’’ sikap seperti itu, sesungguhnya ada yang bisa dilakukan kawan-kawan, komunitas/organisasi BMI-HK, misalnya membuat acara dengan mendatangkan mantan BMI-HK untuk berbagi pengalaman, menjadi narasumber dalam workshop penulisan, atau membacakan karyanya, misalnya.

Bagaimana kalau nyaris tidak ada yang tertarik untuk menghadiri/menjadi peserta acara tersebut? Begitulah yang namanya perjuangan. Kalau ada kemauan, seharusnya ada jalan. Sekali dicoba, gagal, dicoba lagi. Selama kawan-kawan masih terlalu silau dengan nama-nama besar yang kemedol, selama itu pula pihak lain akan meremehkan. Saya sering mendengar kawan-kawan BMI berseru, ’’Siapa mau peduli nasib kita, jika bukan kita sendiri?’’ Nah, siapa yang mau nanggap mantan BMI baca puisi di Negeri Beton ini, jika kita hanya mau takjub kepada wajah cantik dan wajah ganteng yang sering nongol di televisi?*

BONARI NABONENAR

Potret Susi

Cerpen: Ratna Khaerudina

Pulang liburan wajah Susi berubah mendung tak seperti waktu berangkat libur pagi tadi. Kakinya seperti enggan untuk melangkah pulang ke rumah si bos. Terbayang setumpuk pekerjaan yang sudah melambai-lambai menantinya. Mencuci piring, membersihkan dapur yang berantakan, kotor dan berminyak. Belum lagi harus memandikan dua anaksi bos yang super duper nakal. Mandi saja mesti bawa mainan yang aneh-aneh. Ujung-ujungnya Susi juga nanti yang ngebeersihin lagi mainan-mainan itu. Itu masih diiringi irama lagu wajib ciptaan nyonya yang khas; khas pedasnya dan bikin kuping memerah.


Fiuhh!! Membayangkan itu semua, Susi jadi semakin malas pulang. Dia duduk dengan menopang dagu di sudut taman bawah rumah bosnya. Nelangsa.

Ting tong...ting tong...

Susi memencet bel rumah si bos. Tak dikasih kunci jadi ya harus pencet bel, kalau tidak memangnya mau berdiri semalaman di luar. Susi berdebar-debar menanti si bos membukakan pintu untuknya. Selalu rasa cemas itu menggempakan hati Susi setiap pulang liburan. Meskipun sudah berjalan hampir setahun lebih, tapi rasa resah tak jelas itu masih betah berkawan dengan hatinya.
Sepuluh menit menunggu di luar tak ada tanda-tanda si bos membukakan pintu untuknya. Susi mencoba memencet bel sekali lagi, tapi si bos tak kunjung membuka pintu, Susi cemas, namun Susi takut untuk menelpon ke rumah.

"Ah, mungkin sedang pada makan di restoran." Susi membatin, seperti sudah hafal tabiat bosnya. Susi pasrah menunggu di luar, memberikan tubuhnya jadi santapan musim dingin.

"Susiii....Bangun!! Dasar pemalas! Sudah gila ya? Masa tidur di depan pintu?"
Susi gelagapan mendengar suara menyerupai petir yang sudah lekat diotaknya. Di depannya, nyonya dan antek-anteknya sudah berdiri pongah. Tuan cuma cengar-cengir kelihatan sekali kalau dia seorang ISTI ( Ikatan Suami Takut Istri). Bos-bos kecil tak kalah dengan induknya, datang-datang malah langsung menyiram susi dengan sisa soya milk. Sengaja banget. Nakal. Tak beradat. Beraninya saja sama pembantu. Memang yang gila juga siapa? Mereka sendiri tidak kasih kunci, bagaimana mau masuk ke dalam rumah? Susi menggeremeng dalam hati. ***

Semua sudah beres, sudah dijalaninya sesuai prosedur, tinggal kasih susu buat anak-anak, lalu tidur. Susi sudah siap-siap hendak menggapai selimut ketika tiba-tiba nyonya memanggilnya keras sekali. Tergopoh-gopoh susi datang dengan membungkuk-bungkuk hormat macam kawulo alit yang mau menghadap sang raja.

"Nyonya, ada apa panggil saya?" Tanya Susi dengan menahan gondok,karena jam istirahatnya terganggu. "Libur ndak libur kok sama saja kerja, Duh Gusti semoga diberi kesabaran," dumel Susi dalam hati.

"Stim dulu botol susu itu baru tidur. Pemalas sekali sih kamu, gak ada inisiatif sama sekali." kata nyonya antagonis.
"Masa hari libur masih kerja juga, Nya?" Jawab Susi takut-takut menyuarakan isi hati.
"Heh, Sejak kapan kamu berani melawan perintahku? Lekas laksanakan tak usah banyak oceh! Kamu mau diterminit?"
Huh...! Demi mendengar kalimat sakti "terminit" (PHK), Susi langsung ngeloyor pergi menyetim botol, meskipun dengan setengah hati. Susi tidak mau diterminit. Betapa susahnya nanti kalau sampai diterminit. Siapa yang akan ngasih uang bapak-ibunya di kampung. Siapa akan membiayai sekolah buat adik-adik dan seabrek kebutuhan yang belum tercukupi. Ya! Bersabar saja demi semua itu. Oh uang betapa kau membuat semua orang jadi kliyengan.***

Musim dingin membuat sekujur tubuh jadi semakin ngilu. Kadang suhu drop hingga minus. Bibir pecah berdarah-darah, begitu pula tangan dan kaki yang juga kering bagaikan musim kemarau.
Namun begitu, cuaca kadang tidak bisa diramalkan. Seperti juga nasib Susi, tak ada badai tak ada hujan tiba-tiba Nyonya men-terminit-nya. Susi megap-megap menahan sedih dan kecewa. Hari itu juga Susi diantar Nyonya kembali keagent.

"Apa salah saya, Bu? Kok saya di-terminit?" tanya Susi pada salah satu staff agent yang kelihatan judes.
"Majikan bilang kamu tuh pemalas, gak ada inisiatif, you know?" jawab siagent penuh arogansi.
"Malas bagaimana, Bu? Saya sudah bekerja sesuai dengan yang mereka inginkan kok." Susi membela diri berharap si agen berbaik hati untuk membantunya agar dirinya tidak di-terminit.
Bagaimanalah nanti nasib keluarganya padahal semua beban tertanggung dipundaknya. Susi memohon pada agen agar membujuk majikannya untuk membatalkan itu semua. Bukan tanpa sebab Susi memohon begitu rupa, dia tak ingin potongan gaji lagi jika nanti dapat majikan baru. Agen selalu saja semaunya sendiri mengatur-atur nasib orang, semua nasib BMI ( Buruh Migran Indonesia) seperti tergantung di tangan agen. Menggemaskan.

"Pokoknya, majikan kamu bilang kamu itu malas. Sekarang majikan tak mau kamu lagi. Sebaiknya kamu cari majikan baru saja. Kami akan bantu kok, ya?" bujuk agen pada Susi.
Dia tahu sekali apa yang ada diotak si agen. Nasibnya kini di agen harus mencari majikan baru, lantas memberi uang lagi pada si agen sebagai kompensasi mencari majikan baru untuknya.
Susi sekarang hanya pasrah. Ditatapnya sekeliling ruangan agen. Ada enam BMI sepertinya di situ. Didekatinya mereka dan ditanyai satu persatu, ternyata semua juga di-terminit majikan. Ada yang baru 3 bulan, ada yang baru habis potongan, bahkan ada yang tinggal 2 bulan lagi habis kontrak malah di-terminit.
Susi jadi merasa tak sendiri namun otaknya berputar-putar. Hatinya enggan menerima nasib itu. Nasib bisa berubah selama mau untuk mengubahnya. Susi mondar-mandir di depan ke-enam BMI ynag di-terminit tersebut.
Di sebuah taman yang agak lengang, Susi mengumpulkan mereka, mencoba mengajak mereka untuk mau merubah nasib mereka sendiri. Mencoba mengadu pada labour (Departemen Tenaga Kerja) atau setidaknya KJRI agar mau menginvestigasi agen yang sewenang-wenang men-terminit para BMI dengan alasan tak jelas.

"Kita ini sudah kaya dagangan saja, teman-teman. Coba bayangkan, massa kita harus potongan lagi paling tidak 5 bulan. Kalau begini caranya, habislah masa tua kita di sini tanpa menghasilkan apa-apa, ayolah kita cari dukungan dari BMI-BMI lain yang bernasib sama dengan kita dan kita juga bisa minta bantuan pada pihak KJRI." Susi mencoba membuka pembicaraan.
"Aku tidak mau ikutlah, Sus. Aku takut sama agen kita yang galak itu. Biarlah aku nyari majikan lagi, potongan lagi juga ndak apa-apa . Wong niatnya kesini memang mau kerja kok. Aku ndak mau ikut aneh-aneh gitu." Salah satu dari mereka mengeluarkan pendapatnya.
"Aku juga ndak ikutanlah, Sus." susul yang lain.
Semua menyatakan tidak akan ikut dengan rencana Susi untuk merubah nasib. Mutlak. Susi kini sendiri ditinggalkan oleh mereka. Hatinya semakin sembab melihat kenyataan itu.
Susi membawa tubuhnya kembali ke agen. Hatinya belum menyerah. AApapun itu, Susi ingin ada perubahan atas nasibnya saat ini. Kalau bisa, juga nasib teman-teman lain yang diperlakukan seperti barang dagangan. Celakanya, mereka sama sekali tidak menyadari hal itu.
Setibanya di agen, Susi mendapati semua mata mengawasinya, apalagi orang-orang agen, tatapannya penuh selidik ke arahnya. Sepertinya, dia seorang maling ayam yang pantas untuk digebugi orang sekampung. Susi agak jerih juga, namun dirinya terus melangkah karena tak merasa berbuat kesalahan apa-apa.

"Sus, kamu mau coba-coba melawan ya? Mau sok jadi pahlawan ya?" tanya salah seorang staff agen dengan sadis. Tangannya menuding-nuding kepala Susi.
Dia, langsung faham, pengkhianatan telah terjadi dan itu dilakukan oleh teman senasibnya juga. Susi makin sesak jiwanya, namun ia tak menyalahkan keadaan, apalagi menyalahkan mereka.
"Pantas saja majikanmu men-terminit kamu. Sebagai hukuman nanti kamu ikut Bu Linda, kerja di sana sampai ada majikan yang mau sama kamu. Jangan harap ada gaji atau libur. Mengerti!! kata Si Agen.
"Saya akan bekerja di rumah Bu Linda kalau saya digaji. Kalau tidak saya tidak akan pergi," jawab Susi tegas.
"Kamu dibilangin kok ngeyel, kamu mau ditangkap polisi, huh?" Si agen coba-coba menakuti Susi. Rupanya mereka telah salah duga. Susi bukanlah pembantu kebanyakan yang menerima dengan tunduk segala perintah si agen.
"Kebetulan sekali kalau mau panggil polisi.Saya tidak usah capek-capek mendatangkan polisi kemari untuk mengambil dokumen saya yang telah kalian tahan," jawab Susi tak kalah galak.
Harga dirinya sudah merasa terluka sekali. Beban yang menghimpit membuatnya harus berani berpijak dengan kuat pada kakinya sendiri.
Si agen ingin muntab tapi sepertinya akan percuma saja, bahkan mungkin malah bisa terjadi hal-hal yang tidak dimauinya. Yang kini dihadapinya bukanlah pembantu atau buruh biasa. Jelas sekali si agen telah kalah karena tiba-tiba saja Si Agen mengambil semua dokumen Susi lantas menyerahkannya meski disertai teriakan yang sangat tak beradab.

"Pergi dari agen sini! Pergiiii!" teriak Si agen.

Susi mengambil tasnya. Dengan gontai melangkah keluar dari agen. Pikirannya masih kalut karena di-terminit dan belum juga menemukan majikan baru.
Di sebuah taman Susi berhenti dan mencari tempat duduk. Dicarinya nomor yang sangat penting baginya. Nomor yang menurutnya hanya itu yang bisa menjadi dewa penolong dan mengerti segala isi hatinya. Nomor keberuntungan yang selalu membuatnya merasa tenang karena sebentar lagi pasti segala urusan akan segera bisa teratasi.
Penuh perasaan Susi memencet nomor sakti tersebut. Hrapannya kian menggunung ketika di seberang terdengar suara menyahut.

"Hallo Pak, ini KJRI kan?" tanya Susi dengan suara membuncah.

"Iya benar, katakan ada keperluan apa?" saut suara diseberang sana.
"Begini Pak, saya di-terminit dan saya butuh perlindungan dari Bapak, karena saya diperlakukan sewenang-wenang oleh agen, Pak." Susi memuntahkan seluruh unek-uneknya dalam hati.
"Si Agen itu, Pak. Masa semua BMI di sini seperti dibuat mainan. Sesuka-sukanya mereka main terminit dan setelah itu disuruh bekerja tanpa diupah. Pokoknya hak-hak kita tidak dipenuhi, Pak." lanjut Susi pula dengan antusias.
"Kita mau, Bapak bertindak untuk kami para pekerja yang ada di HongKong agar kami tidak diperlakukan semena-mena," pungkasnya.

"Mbak, sebaiknya mbak cari agen lagi dan cari majikan baru. Sudah untung mbak bisa bekerja di HongKong daripada di Indonesia, paling-paling mbak juga jadi pembantu dan itu gajinya sedikit sekali. Kok masih mau protes segala. Gitu aja kok repot. Sudah maaf mbak, ini kantor mau tutup."

Krekk!! Suara telpon terputus. Susi terbengong-bengong, harapanya langsung melumer lagi seperti agar-agar. Oh, ya nasib. (End)


Juara 1 Lomba Cerpen FLPHK & KJRI-HK (Mei 2010)

Sedih dan Gembira


April adalah bulan yang selalu saja mengingatkan kita kepada perempuan hebat bernama Kartini. Ia adalah lambang perlawanan terhadap ketertinggalan dan penindasan atas perempuan. Karena itulah ia dijuluki pahlawan emansipasi perempuan.

Kini kita membayangkan, andai saja Ibu Kartini masih berada di tengah-tengah kita, ia akan menangis sejadi-jadinya melihat kaumnya masih saja dipinggirkan, masih saja harus terpelanting dari negri yang dicintainya, untuk menegakkan kehidupannya. Sudah begitu, masih dapat perlakuan kurang baik pula. Masih dicitrakan sebagai warga negara kelas sekian pula. Padahal, sekian banyak warga lain ikut (lebih) menikmati cucuran keringat, airmata, dan bahkan darah mereka!

Apalagi jika sampai dengar kabar mengenai bergelimpangannya BMI korban penipuan orang-orang jahat. Dan notabene, pelaku kejahatan itu sebagian besar adalah: laki-laki. Kaum perempuan adalah kaum ibu. Dari merekalah generasi penerus bangsa dilahirkan. Kalau ada pepatah mengatakan ibu adalah bumi, dan laki-laki adalah langit, seharusnyalah tidak dimaknai bahwa langit lebih tinggi daripada bumi dan karenanya lebih mulia. Langit dan bumi adalah pasangan, yang satunya tidaklah lebih tinggi dan lebih mulia daripada lainnya. Bumi menumbuhkan segala macam flora, hal yang tak bisa dilakukan oleh langit. Dan langit menurunkan hujan, hal yang tidak dilakukan oleh bumi. Karena itulah, pertentangan mana lebih mulia: laki-laki atau perempuan, hanyalah urusan orang-orang cupet nalar (pikiran sempit). Yang pasti, kalau ada kaum atau bangsa yang menistakan perempuannya, niscaya bangsa itu sedang berada di bibir jurang kehancurannya sendiri. Dan tangis Ibu Kartini akan semakin menjadi-jadi.

Tetapi, ada kabar lain yang bisa membuat Ibu Kartini trersenyum bangga. Banyak BMI-HK yang gigih menuntut ilmu sambil banting-tulang mengais rezeki di Negeri Beton ini. Ada yang ambil kursus, ada yang ambil diploma, ada pula yang rajin ke perpustakaan, dan kemudian menuliskan buah pikirannya. Ibu Kartini pasti tersenyum bangga. Dan akan mengelus dengan penuh kasih setiap kaumnya yang tak kenal putus asa memerjuangkan hak-haknya sebagai manusia, melawan siapa pun yang merendahkan atau bahkan menistakan perempuan.

Apalagi bila dengar rencana kawan-kawan akan menyelenggarakan Festival Sastra Buruh Migran. Ibu Kartini pasti bertambah bangga lagi. Bukan hanya di dalam perasaan, tetapi pastilah disertai tindakan. Beliau akan segera menghubungi Ketua Panitianya, dan meminta agar beliau diberi kesempatan untuk membuka acara yang sangat bergengsi itu. Beliau putri seorang bupati, pasti tidak akan terlalu susah untuk mendapatkan tiket pesawat kelas eksekutif sekalipun.

Maka, jika kelak Festival Sastra Buruh Migran jadi digelar di HK, kalau tidak dibuka Presiden atau Menakertrans, atau Menteri Pemberdayaan Perempuan, biarlah dibuka Ibu Kita Kartini!*

Penghargaan Prestasi dan Dedikasi bidang Sastra/Penulisan bagi BMI/Mantan BMI Hong Kong

Selain sumbangan berupa devisa, Buruh Migran Indonesia (BMI) juga memiliki andil besar dalam bidang Budaya, termasuk Pariwisata. Selama ini kita kenal adanya buruh yang juga bekarya sebagai seniman, termasuk di antaranya sebagai penulis/sastrawan.

Di dalam bidang penulisan, ada BMI-HK yang kemudian kembali ke tanah air dan hidup sebagai penulis/motivator (Eni Kusuma, Banyuwangi). Eni dipandang sebagai sosok yang mampu menginspirasi, terlebih bagi sesama BMI/mantan BMI. Etik Juwita, mulai jadi cerpenis ketika masih bekerja di Hong Kong, salah satu cerpennya yang pernah dimuat Jawa Pos berjudul Bukan Yem terpilih dan masuk 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008 versi Pena Kencana.

Karena ketrampilannya menulis, Tania Rosandini (Malang), bahkan kemudian alih pekerjaan dari pekerja rumah tangga (di Hong Kong) menjadi jurnalis Radar Taiwan (di Taiwan). Ada beberapa BMI-HK yang juga bekerja sebagai koresponden tetap dan penulis lepas untuk media cetak yang terbit di Indonesia.

Terbentuknya komunitas/organisasi seni di kalangan buruh migran asal Indonesia di Hong Kong seperti: Forum Lingkar Pena, Sanggar Budaya, Sekar Bumi, dan lain-lain yang tidak hanya terlibat dalam acara-acara di kalangan BMI, melainkan juga berpartisipasi dalam acara-acara kesenian antarbangsa menunjukkan bahwa mereka layak disebut juga sebagai Duta Bangsa di bidang Budaya/Pariwisata.

Para BMI/Mantan BMI-HK juga telah menunjukkan sumbangan yang nyata terhadap pemberdayaan bangsanya melalui penguatan/peningkatan program memasyarakatkan tradisi baca/tulis di kampung halaman mereka, seperti yang dibangun oleh Maria Bo Niok (Wonosobo, Jawa Tengah) dengan rumah baca Istana Rumbia-nya. Di Jawa Timur ada juga kelompok belajar seperti yang dibangun oleh Nadia Cahyani (Magetan) dkk.

Mereka, para BMI/Mantan BMI-HK berprestasi/berdedikasi itu telah menunjukkan bahwa kepergian mereka bukan hanya untuk mengentaskan diri dan keluarga mereka dari berbagai persoalan. Mereka ternyata telah menunjukkan kepedulian yang luar biasa terhadap masyarakat di sekitarnya.

Oleh karena itulah, memberikan dukungan kepada mereka dalam bentuk penghormatan/penghargaan –betapa pun kecil nilai nominalnya—sebagai bentuk dukungan terhadap prestasi, dedikasi, konsistensi mereka adalah penting. Penting untuk lebih menginspirasi seluruh anak negri ini, bukan hanya sesama BMI/Mantan BMI.

Forum Budaya Buruh Migran Indonesia (FBBMI) menggagas pemberian penghargaan bagi BMI/Mantan BMI-HK yang berprestasi, berdedikasi, dan konsisten terkait bidang penulisan/sastra dalam rangka ikut memeringati Hari Buruh Sedunia (1 Mei) 2010.

Penghargaan direncanakan diberikan dalam bentuk piagam, piala, dan sejumlah uang.

Penghargaan diberikan untuk:

[1] Organisasi
Penghargaan Prestasi dan Dedikasi bidang Sastra/Penulisan Bagi BMI/Mantan BMI Hong Kong 2010 diberikan kepada sebanyak-banyaknya 3 organisasi yang:
[a] Berkedudukan di HK baik resmi (memiliki legalitas formal) maupun tidak resmi (informal)
[b] Menunjukkan aktivitas yang secara langsung maupun tidak langsung merupakan bagian dari upaya pemberdayaan diri/lingkungan melalui kegiatan membaca dan/atau menulis
[c] lolos seleksi

[2] Perorangan
Penghargaan Prestasi dan Dedikasi bidang Sastra/Penulisan Bagi BMI/Mantan BMI Hong Kong diberikan kepada sebanyak-banyaknya 5 orang yang:
[a] berstatus sebagai BMI-HK/Mantan BMI-HK
[b] menunjukkan prestasi/dedikasi/konsistensi dalam bidang penulisan fiksi/nonfiksi.
[c] lolos seleksi

[3] Buku
Penghargaan Prestasi dan Dedikasi bidang Sastra/Penulisan Bagi BMI/Mantan BMI Hong Kong diberikan untuk sebanyak-banyaknya 10 buah buku yang:
[a] merupakan hasil karya BMI-HK/Mantan BMI-HK
[b] dapat berupa buku fiksi/nonfiksi
[c] lolos seleksi


Catatan:
[1] Ini masih berupa keinginan
[2] Tim Sleksi akan dibentuk kemudian
[3] Mohon dikoreksi, dan jika ada yang perlu ditambah/dikurangi

[4] Kontak:
forumburuhmigran@gmail.com
bonarine@gmail.com

fcebook

Mantan TKI Jadi Wakil Bupati

Haruskah Indonesia menggunakan Tenaga Nuklir?

Gary Dean

Keinginan Indonesia untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) menimbulkan kegelisahan di seluruh kawasan Asia Tenggara dan Australia. Pemerintah Indonesia sudah memesan beberapa studi kelayakan untuk pembangunan PLTN berkapasitas 1.800 MW yang mungkin akan dibangun di desa Ujungwatu di Semenanjung Muria. Menurut laporan Kompas 31 Januari 1996, Pembangunan PLTN di sana akan dimulai tahun 1998 dan diharapkan mulai berproduksi tahun 2003.


Kepulauan Indonesia — terutama pulau Jawa — dikenal mempunyai ketidakmantapan geotektonik. Oleh karena ini banyak orang di negara-negara tetangga Indonesia prihatin akan akibat-akibat yang mungkin timbul kalau ada kecelakaan yang disebabkan oleh gempa bumi atau letusan gunung berapi.

Kecelakaan PLTN Chernobyl beberapa tahun lalu membuktikan bahwa debu radioaktip dari suatu kecelakaan PLTN bisa menyebar hingga beribu-ribu kilometer jauhnya dari tempat kecelakaan. Beribu-ribu orang meninggal dunia akibat kecelakaan itu, dan berjuta-juta orang lainnya menderita karena lingkungan hidup mereka dicemari debu radioaktip.

Pulau Jawa sendiri adalah salah satu tempat yang terpadat penduduknya di dunia. Debu radioaktip dari suatu kecelakaan PLTN di Jawa, selain merusak lingkungan setempat, pasti akan mempengaruhi setiap tetangganya: Australia, Singapura, Malaysia, Brunei, Muang Thai, Papua Nugini, Pilipina, Vietnam dan Kamboja. Tergantung arah angin pada waktu kecelakaannya sebuah awan radioaktip mungkin bisa menyebar sejauh Selandia Baru!

Dalam kasus Australia, akibat ekonomi dari kecelakaan PLTN akan merupakan bencana besar untuk seluruh wilayahnya. Lebih dari 15% pendapatan ekspor Australia diperoleh dari produksi pertanian. Nama baik Australia sebagai leveransir makanan yang sehat dan besih dengan segera akan dirusakkan dan tidak dapat diperbaiki. Akibatnya ketegangan akan mucul dalam hubungan Australia dan Indonesia.

Apakah Menteri Negara Riset dan Teknologi BJ Habibie sudah bulat tekad dengan proyek ini? Sampai sekarang dia masih mengeluarkan beberapa pernyataan yang melukiskan kebimbangannya akan proyek ini.

Walaupun kami sadar bahwa keputusan itu adalah hak otonomi pemerintah Indonesia, sebagai seorang warga Australia, saya yakin bahwa sebagian besar penduduk Australia sungguh-sungguh berharap bahwa pada akhirnya kesadaran atas besarnya resiko PLTN, yang tidak mengenal batas negara, akan menjadi cukup kuat untuk membatalkan rencana proyek PLTN ini.

Indonesia mempunyai sangat banyak sumber tenaga yang belum dikembangkan, tetapi sayang sekali bahwa sedikit pikiran saja diberikan ke cara-cara alternatif untuk menghasilkan tenaga listrik. Misalnya di Indonesia tenaga listik bisa dibangkitkan dari panas bumi, atau tenaga geotermis. Bertahun-tahun Pembangkit Listrik Tenaga Geotermis dijalankan di Alaska dan Selandia Baru dengan memakai teknologi yang tidak membahayakan kehidupan manusia atau lingkungkan alam kita.

Indonesia juga mempunyai cadangan gas alam besar sekali yang bisa dipergunakan untuk menghasilkan tenaga listrik. Gas alam merupakan bahan bakar yang jauh lebih bersih dibandingkan minyak bumi atau batu bara, dan menghasilkan jauh lebih seditkit polutan udara.

Teknologi yang dipakai untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas Alam sudah lama didirikan, agak murah, dan aman dipakai. Selain itu masih banyak sumber tenaga lain seperti air, angin dan sinar matahari.

Kita harap debat umum di Indonesia tentang usul PLTN di Muria akan memberi lebih banyak perhatian ke alternatif-alternatif pembangkit listrik tenaga nuklir. Juga kita harapkan bahwa pemerintah Indonesia, dalam mengambil keputusan tentang PLTN, akan memperhatikan keprihatinan banyak orang, baik tentang linkungan alam maupun keberatan tetangga-tetangga dan sekutu-sekutu Indonesia. []

Gary Dean, Nopember 1996

Sumber: Gary Dean

Novelis Ratna Indraswari Kena Stroke

MALANG - Novelis Kota Malang Ratna Indraswari Ibrahim sejak Rabu (2/12) lalu tergolek lemah di RSSA Malang. Wanita kelahiran Malang 24 April 1949 itu terkena serangan stroke. Hasil CT-scan menunjukkan pembuluh darah di atas otak pecah. Diprediksi, pemecahan pembuluh darah ini akibat penyempitan otak karena faktor usia.

Saat Radar menjenguknya di Pavilliun RSSA ruang Bougenville kamar 206, wanita yang konsisten melajang itu tampak sedang tidur. Beberapa aktivis dan penggemar sastra Kota Malang kemarin tampak menjenguk wanita yang telah melahirkan hampir 100 karya novel itu. Bahkan istri Wali Kota Malang Heri Pudji Utami Peni Suparto secara khusus datang menjenguk. Heri datang sekitar pukul 13.00 ditemani sang ajudan. Sedangkan kerabat dekat Ratna, yakni adik-adik dan kakak-kakaknya belum tampak karena terhalang jadwal pesawat.

Ruhadi Rarundra, kerabat yang selama ini merawat Ratna, mengungkapkan sebelumnya tidak ada tanda-tanda bahwa novelis yang menderita kelumpuhan sejak usia 11 tahun itu bakal terkena stroke. Meski selama ini sering sesak nafas, namun Ratna tidak pernah dirawat di rumah sakit. Hanya saja, pada Selasa (1/12) lalu Ratna terserang flu.

Lalu Rabu pagi merasa kedinginan dan sedikit pusing. Itu terjadi sekitar pukul 09.00. Dan tiba-tiba saja tangan kanan Ratna mengalami tremor atau kejang. ''Saya begitu khawatir dan langsung saya lari ke RSSA sambil mendorong kursi roda. Saat itu tremor pada tangan Mbak Ratna sudah tak terkendali," kata laki-laki yang akrab disapa Siro itu.

Untungnya, jarak rumah Ratna di kawasan Jl Diponegoro 3 tak jauh dari RSSA. ''Mau naik taksi saya pikir terlalu lama. Karena butuh naik dan turun. Maka saya putuskan untuk lari saja," tambah dia.

Begitu tiba di RSSA, Siro mengaku masih menggunakan Jamkesda. Namun karena Jamkesda khusus untuk pasien kelas III, maka langsung diputus dan pindah ke Pavilliun. ''Mbak Ratna sempat dirawat di unit stroke. Baru pindah ke kamar 26 pagi tadi (kemarin pagi)," bebernya.

Hingga kemarin siang, belum ada tanda-tanda kondisi Ratna pulih. Namun, menurut Siro, perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah itu akan diserap dengan obat. Jika tak memungkinkan dengan obat, maka alternatif terakhir adalah operasi pembedahan. ''Kata dokter yang merawat begitu. Jadi kami tetap menunggu perkembangan selanjutnya," tandas Siro. (nen/war)


jawa Pos Radar Malang, Jum'at, 04 Desember 2009

detikcom : Apriana Chrisnawati Siap 24 Jam untuk TKI di Hong Kong

title : Apriana Chrisnawati Siap 24 Jam untuk TKI di Hong Kong
summary : Tanyakan tentang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hong Kong pada Apriana Chrisnawati. Maka dengan sangat detail dan bersemangat gadis berkacamata ini akan menjawabnya. (read more)